The Escapade

The Escapade
EPISODE 78!


  “Yah, sekarang aku yang ditinggal.” Dia mengangkat kedua bahunya tidak berdaya.


   “Sudahlah, ayo pulang,” kata Heaven.


Wira mengangguk sedikit, dia selalu merasa ada getaran aneh di hatinya setiap kali dia mendengar kata pulang. Itu seperti kita punya sesuatu yang sangat penting yang bisa menjadi tempat ternyaman untuk kembali setelah berperang dengan dunia.


Tiga hari kemudian...


Erina berjalan menyusuri lorong ruang kelasnya. Matahari pagi itu tidak menyengat tetapi cukup terik, beberapa helai daun dari pohon yang berjejer di samping kiri lorong beterbangan kala angin bertiup.


Erina menarik napasnya dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan, dia harus menguatkan dirinya sendiri sebelum masuk karena anak-anak itu pasti tetap keras kepala dan tidak mau kembali ke kelas.


Dua minggu telah berlalu dan sikap anak-anak di kelasnya tidak memiliki perubahan sama sekali padanya. Bukannya menjadi lebih baik, mereka malah semakin menjadi.


Meski begitu, Erina tidak marah. Sebaliknya tekadnya untuk membantu mereka belajar semakin besar, sebesar rasa benci mereka padanya.


Setelah beberapa kali tarikan napas, dia membuka pintu. Tapi saat pintu di geser ke samping, Erina tercengang. Semua kursi murid telah terisi dan mereka ... mereka tampak sangat patuh.


Semua murid diam-diam melirik saat Erina memasuki ruangan itu, tidak ada yang berani bicara ataupun bergerak. Kemudian pandangan mereka beralih pada seornag gadis dengan senyum cerah di wajahnya.


Erina awalnya tidak percaya pada apa yang dia lihat, tetapi sejurus kemudian dia tersenyum lembut.


   “Aku senang kalian datang hari ini.”


Hening.


   “Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi tapi apapun itu, itu bagus.” Dia menarik napas sebentar kemudian melanjutkan, “Aku harap kita semua bisa saling mengenal dengan lebih baik lagi, Aku berjanji akan mengajari kalian semua yang ku bisa.”


Erina mungkin tidak tahu, tetapi seisi kelas tahu apa yang telah terjadi malam sebelumnya. Itu adalah teror nyata yang mungkin jika mereka mengadukannya pada Master Kota, akan dijatuhi hukuman berat pada pelaku.


Tetapi itu tidak akan pernah terjadi. Paula akan membunuh mereka semua sebelum mereka sampai ke gedung pengaduan.


Sementara Paula duduk dan tersenyum manis di tempatnya. Hari ini dia memakai jepit rambut merah muda yang dipasang pada sanggul kecil di belakang rambutnya yang digerai.


   “Eum, ada beberapa pemberitahuan yang harus ku beritahu sebelumnya,” ucap Erina ketika dia memeriksa perkamen di tangannya.


Matanya kemudian beralih pada siswa dan berkata, “Mulai besok, kelas akan diliburkan!”


Mata semua orang di kelas itu berbinar cerah dan juga heran, terutama Paula. Malam sebelumnya dia dengan susah payah mengejutkan semua orang atas kedatangannya ke setiap rumah.


Paula datang seperti badai yang akan menyapu bersih mereka, dia bahkan harus adu mulut dengan Sandor sebelum akhirnya bisa membuat keempat belas murid itu datang kembali ke kelas.


Tapi apa yang terjadi sekarang?


Akademi ingin membiarkan kelas kosong? Tidak mungkin!


Paula menggerutu dalam hatinya.


Erina melanjutkan. “Tenang saja, ini hanya beberapa hari dan juga kalian tidak benar-benar libur. Kalian akan mempersiapkan diri dan membantu dalam festival musim panen dua hari lagi.”


   “Festival?” Wira berbisik pada Heaven untuk bertanya tentang apa itu festival, lalu Heaven menjelaskannya dengan suara lirih.


   “Itu acara yang sangat besar, akan ada makanan di mana-mana dan musik di sepanjang siang dan malam,” katanya. “Dan tentu saja, akan ada anggur juga.” Heaven terkikik kecil seperti seorang anak kecil yang kegirangan.


   “Kalian mengerti, kan?” tanya Erina ragu-ragu setelah dia menjelaskan.


   “Ya, bu!”


   “Bagus!”


   “Tapi sebelum itu ... ada hal yang harus kalian lakukan.”


...


   “Benar, itu akan lebih efektif daripada kalian berlatih sendiri. Itu akan memotivasi kalian,” ucapnya.


Erina ingin menciptakan metode persaingan antarmurid, dia pikir itu akan menjadi ide bagus agar setiap siswanya memiliki motivasi tinggi setiap hari.


Liam mengangkat tangannya tinggi saat dia bertanya, “Bu, bisakah kami memilih sendiri.”


   “Oh, kenapa? Ya, kurasa itu tidak masalah.”


Liam menghela napas lega ketika mendengarnya, sementara Paula menyengol Bella di sebelahnya dengan sikunya dan tersenyum nakal.


   “Aku akan bersamanya!”


Semua orang menoleh saat Sandor berteriak cukup keras sambil menunjuk Paula yan duduk di meja satu tingkat di bawahnya dan memilihnya sebagai rekan latihan.


Sementara semua orang terkejut, Paula menyipitkan matanya saat dia berbalik dan menatap Sandor sambil berkata, “Baik, aku tidak keberatan.”


Dia masih kesal dengan kekalahannya saat di Bloody rose ketika itu. Pertarungan berkedok latihan kelihatannya cukup bagus untuk membalas dendam pada anak keras kepala ini.


Saat ini, keduanya sama-sama memiliki senyum aneh di wajah mereka dan udara di sekitar terasa mencekam, membuat yang lainnya menggigil.


Heaven yang duduk di sebelah kiri Paula meliriknya sebentar dan dahinya berlipat heran. Biasanya gadis itu yang selalu memperingatkan Heaven agar menjaga jarak dari Sandor, tetapi hari ini dia bahkan terlihat sangat puas dengan keputusan pemilihan rekan latihan ini.


Tidak terlalu memikirkannya, dia menggosok matanya yang mulai terasa berat. Kelas terlalu membosankan untuk seseorang yang biasanya bermain di luar seperti Heaven, tapi jika dia tidak belajar maka Wira pasti akan meningkatkan sistem latihan mereka dan dia akan menyiksanya atas nama pelatihan.


Huft


Erina bertepuk tangan untuk meminta perhatian seisi kelas ketika mereka mulai ricuh tentang rekan latihan.


   “Semuanya! Dengar, siapapun rekan yang kalian pilih itu akan berlanjut sampai ujian kenaikan tingkat berikutnya. Juga, dua hari lagi adalah hari festival dan hari libur kalian dan setelah itu kalian akan berlatih lebih keras untuk seleksi Sumur Midly tahun ini.”


Semua orang terlihat kecewa dan suara-suara keberatan mulai bersahutan.


   “Tidak, tidak. Tidak ada gunanya mengeluh padaku, jadi bekerja keraslah dan semangat!”


   “Semangat apanya! Kami baru masuk dan sudah harus libur lagi,” protes Ansel sambil merapikan rambutnya yang hitam mengkilat.


   “Heh, Bodoh! Kalau begitu kau jangan ikut, belajar saja di sini.” Laga melempar pena bulu merak miliknya ke arah Ansel sambil tertawa.


Sementara itu,


Paul sedang di ruangannya. Menyadarkan kepalanya di daun jendela dan tampak bosan. Dia memainkan selembar daun di tangannya. Biasanya, Paul selalu sibuk dengan keluhan-keluhan yang disampaikan banyak orang padanya tentang kelakuan nakal puteranya, tapi sekarang segalanya menjadi sepi untuknya.


Tidak ada lagi yang mengeluh tentang Heaven, sebaliknya, cukup banyak orang yang secara mengejutkan menyampaikan rasa kagum mereka padanya tentang puteranya, terutama karena perkembangan Heaven yang sangat bagus dan hampir menyamai anak-anak mereka.


Dia tentu tidak keberatan dengan hal itu, malah Paul merasa sangat bangga. Tapi sekarang Hevaen benar-benar tidak pernah membuat onar lagi, dia terus berlatih dan berlatih bersama Wira. Itu membuatnya kesepian.


   “Apa yang akan kulakukan sekarang?” dia bertanya pada dirinya sendiri sambil terus menggoyang-goyangkan selembar dauh kuning di tangannya.


   “Kau menjadi lembek sekarang, ya,” kata David yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu dan bersandar di sana.


Paul menoleh sebentar sambil mendengus pelan. “Kau hanya belum merasakannya saja, saat kau punya anak suatu hari nanti kau juga akan tahu,” balas Paul sambil mencebik.


David hanya terkekeh pelan mendengarnya, tetapi Paul dengan cepat berkata lagi dengan suara melengking. “Kau ... kau tidak punya penyakit atau semacamnya, kan?” tanya Paul curiga.


   “Hah?”


   “Oh, astaga. Bajingan ini!” David melempar sebuah belati tajam yang tergantung di pinggangnya pada Paul ketika dia mengerti arti dari perkataanya.


   “Aku sehat, dasar tolol!”


Bersambung ....