
Dua jam kemudian, mereka sampai di akademi.
Hari masih cukup pagi saat itu tapi Aula utama akademi telah dipenuhi banyak sekali orang. Mulai dari orang tua ataupun murid-murid lainnya yang ingin melihat kedatangan kembali para calon junior mereka.
Paul juga ada di sana, meski Hydra telah memperingatkannya untuk dengan cepat menyelesaikan masalah di perbatasan timur akademi, dia tetap datang.
Kedua anaknya akan kembali dari ujian akhir jadi bagaimana bisa dia tidak datang untuk menyambut mereka.
Saat itu Pual bahkan mengejek Hydra dengan mengatakan bahwa dia tidak mungkin tidak datang saat puteranya kembali, dia tidak seperti Hydra yang tidak peduli pada anak-anaknya. Hal itu membuatnya hampir benar-benar dipukuli oleh kepala akademi atas awan.
“Hey, aku di sini!” Paul melambaikan tangannya ketika dia melihat Heaven dan yang lainnya keluar dari kapal.
“Pantas saja anakmu tidak suka padamu,” kekeh Pulcra yang ada di sebelahnya saat melihat bagaimana tingkah sahabatnya itu.
Paul hanya mencebik dan tidak peduli, dia terus melambaikan tangannya pada mereka. Tapi saat matanya melihat siapa yang ada di belakang Heaven, ekspresi paul langsung jatuh.
Dia menyipitkan matanya, meski tidak terlalu mirip tapi dia yakin siapa yang ada di belakang anak-anaknya itu.
“David.”
Paul semakin menyipitkan matanya dengan heran. Jika tidak melihat bagaimana aura yang dia pancarkan dan luka di sepanjang matanya, Paul hampir tidak mengenali bahwa itu adalah David. Salah satu seniornya saat masih menjadi tentara di bawah bendera kerajaan angin.
“Ayah!” Paula berlari saat dia melihat Pulcra dan segera memeluknya.
Paul yang melihat ini segera mencebik, dia menatap Heaven dan Wira saat kedua tangannya terbuka seolah-olah mereka akan berpelukan.
“Bermimpilah!” sembur Heaven.
Wajah Paul langsung berubah sedih dalam sepersekian detik, dia makin mencebikkan bibirnya saat dia menurunkan tangannya dengan cara yang sangat dramatis.
Heaven dengan cepat melambaikan tangannya. “Hentikan drama konyolmu itu, Ayah. Aku sangat lapar sekarang.”
“Dia ayahmu?” tanya David tiba-tiba, ada raut tidak percaya di wajahnya yang kaku.
Heaven hanya mengangguk sebagai jawaban, dan segera berlalu dari hadapan mereka untuk pulang dan makan. Dia benar-benar kelaparan setelah mengalami hal-hal buruk itu di pulau tengkorak.
...
Mereka sedang mengelilingi meja makan di rumah kediaman Falamir, Liam dan Bella juga ada di sana. Mereka setuju untuk bergabung setelah Paula memaksa Bella untuk ikut, dan tentu saja saat Bella setuju maka Liam hanya bisa ikut tanpa memiliki pilihan lain.
“Selamat makan!”
Heaven makan dengan lahap, masakan rumah benar-benar luar biasa. Meski Wira telah memasak banyak hidangan saat mereka di pulau itu sebelumnya, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan suasana hangat yang tercipta saat kau mengelilingi meja makan bersama keluarga.
“Jadi, dia anakmu?”
Paul menoleh pada David, rambutnya telah di potong menjadi sangat pendek mengikuti tren yang sedang populer akhir-akhir ini dan itu terlihat sangat cocok dengannya.
“Ya, begitulah.”
“Kau sudah menikah?”
Paul hampir memuntahkan lagi air yang baru saja sampai ke perutnya. Menikah? Apakah David baru saja mengatakan bahwa dia menikah?
Dia tidak akan pernah menikahi siapapun kecuali wanita itu!
Paul tidak menjawab, dia hanya menatap tajam pada David dan itu sudah cukup menjadi jawaban yang sangat jelas di mata David. Dia telah mengenalnya sangat lama, saat itu Paul masih remaja ketika mereka bertemu di barak pelatihan tentara.
Selama bertahun-tahun, mereka berdua telah membersihkan jalan untuk kerajaan angin dari kejahatan yang ada. Sudah tidak terbayang berapa banyak momen yang mereka lalui bersama di medan perang, begitupun nyawa yang telah melayang di tangan mereka berdua.
“Berhenti menatapku, Brengsek!” Paul menggertakkan giginya dengan keras.
David hanya terkekeh pelan kemudian kembali menyantap makanan di piringnya. Rambutnya telah dipotong dan dirapikan hingga menjadi pendek, kulit wajahnya yang gelap sekarang telah menjadi lebih bersih, memperlihatkan dengan jelas bekas luka di sepanjang matanya.
David lebih tua beberapa tahun dari Paul, tapi saat mereka bersama mereka lebih mirip seperti saudara. Terutama karena kesamaan fisik dengan otot-otot yang menonjol, juga garis tegas di wajah mereka.
“Ikut aku, aku ingin bicara denganmu,” kata David setelah dia menghabiskan isi piringnya.
Paul tidak menjawab, dia ikut bangkit setelah David pergi dan mengikutinya. Pulcra ada di sana tetapi dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya mendengarkan tanpa berniat ikut campur sama sekali, anak-anak mereka juga tidak terlihat tertarik atau lebih tepatnya tidak memiliki minat sama sekali terhadap masalah dua sejoli itu.
Dia tahu bagaimana hubungan yang terjalin di antara Paul dan David. Pikirannya kemudian melayang ke beberapa puluh tahun yang lalu saat pertama kali Paul datang ke Akademi Atas Awan.
Saat itu musim semi, bukan hanya bunga tetapi bahkan hati Paul juga telah mekar. Seorang gadis pelayang di Akademi telah berhasil memikatnya dengan pesonanya.
Paul benar-benar menyukainya hingga saat dia mendengar bahwa gadis itu telah kembali ke akademi, dia mengejarnya. Paul benar-benar mengejarnya meski di tengah pilihan antara pangkat jenderal tertinggi dan gadis itu.
Namun pada akhirnya, Paul telah membiarkan gadis itu memiliki seluruh hatinya. Paul melepaskan pangkatnya di antara para tentara dan pergi ke akademi demi cintanya.
Dia tidak bisa melepaskan identitasnya sebagai Si Banteng Merah, jadi Paul pikir dengan begitu maka akan lebih mudah mendapatkan cinta dari gadisnya.
Tapi takdir terkadang memang memiliki jalannya sendiri.
Sementara itu, di salah satu bungalo milik kediaman Falamir
David duduk di salah satu bangunan kecil di pinggir kolam ikan penuh teratai dan sebuah pohon wisteria di pinggirnya.
“Dia anakmu?”
Paul baru tiba di sana dan masih berdiri di belakang David, dia tidak mengeluarkan suara saat berjalan tetapi David bisa merasakan kedatangannya.
“Benar, Heaven dan Wira, keduanya adalah anakku,” kata Paul saat dia mengambil tempat duduk di depan David.
“Tidak, bukan.” David tidak mengalihkan pandangannya dari kolam tetapi kata-katanya barusan berhasil membuat Paul mendelik tak suka.
“Huh, apanya yang bukan, mereka anak-anakku!” katanya mencibir.
Tidak memperdulikan cibiran Paul, David kembali bertanya. “Di mana kau menemukannya?”
“Siapa?”
“Anakmu yang pirang itu. Tidakkah kau mengingat seseorang saat melihatnya?”
Paul diam, dia hampir mengerti situasinya sekarang. Paul menjadi agak bingung untuk beberapa saat, haruskan dia memberitu tahu tentang Heaven pada David atau menutupinya.
Pada akhirnya Paul menyerah, tidak ada gunanya menutupinya jadi dia membeberkan segalanya pada David.
“Lembah Surga.”
Dua kata sederhana itu berhasil membuat hati David hampir meleleh!
Lembah Surga!
Itu benar-benar anak yang dia buang lima belas tahun lalu!
Bersambung ...