The Escapade

The Escapade
Episode 17


“Kenapa diam saja?” tanya Wira.


  “Aku lapar.”


Wira tidak tahu harus menangis atau tertawa. Sudah hampir siang dan mereka juga sudah datang ke banyak tempat, energi Heaven pasti sudah banyak terkuras.


 


Wira menahan senyumnya sebisanya saat dia berkata, “Di depan ada sungai, kita istirahat di sana.”


Wira bisa tahan untuk tidak makan berhari-hari tapi tidak dengan Heaven. Apalagi basis energinya yang masih tidak stabil, itu tidak akan banyak membantu.


Heaven merebahkan diri di bawah pohon dekat sungai, dia lapar dan tidak sanggup lagi berjalan. Kakinya sudah gemetar sejak tadi!


Dia sangat kelelahan dan juga kelaparan. Heaven menutup matanya dan hampir tertidur ketika merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Itu bukan Wira, aurnya berbeda.


Heaven membuka matanya dan berdiri dengan waspada saat sudah memastikan bahwa itu bukan Wira.


Kakinya lemas tapi dia tetap memaksakan dirinya untuk berdiri ketika matanya menajam sepergi elang.


Tubuhnya gemetar karena rasa lapar dan gelisah saat merasakan energi asing mengelilinginya, seolah dia sedang di kuliti hidup-hidup. Jantungnya berdegup kencang dan dia dapat merasakan darahnya mengalir dengar deras ke seluruh tubuhnya.


Dia merasakan tekanan yang sangat kuat dan insting bertahan hidupnya dapat merasakan adanya bahaya besar yang mendekatinya. Dia akan mati sebentar lagi!


Tiba-tiba Wira sudah berdiri di depannya dan dengan tenang berkata, “Hentikan, Feyang.”


Dan energi itu hilang seketika seperti tidak itu pernah ada.


Heaven jatuh karena lututnya lemas dan dadanya naik turun dengan cepat.


“Kau tidak apa-apa?” Wira membantunya berdiri.


Seseorang sedang duduk di salah satu cabang pohon, rambut hijaunya menjuntai ke bawah dan dia tersenyum. Ada burung putih yang bertengger di bahu kanannya seolah dia adalah pohon.


“Hallo semua!”


Dia melompat dan mendarat di tanah dengan ringan. Burung itu terbang ke atas dan hinggap di dahan pohon lain.


“Kau menakutinya.”


“Oh maaf, aku merasakan sedikit auramu ada padanya. Ternyata lumayan untuk seorang tanpa pondasi energi,” katanya menatap Heaven dengan kagum.


Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman saat dia dengan senang berkata, “Aku Feyang, dan kau ...?”


“Heaven.” Dia masih berusaha mengatur napasnya yang berantakan karena hal barusan.


...


Mereka saat ini sedang menuju hutan bambu, tempat kediaman Feyang.


Paviliun tanpa dinding itu hanya memiliki tirai bambu di semua sisinya dan membuat angin dengan leluasa berhembus, membuat aroma teh yang khas itu menyebar dengan cepat.


“Jadi kau berniat untuk membuka formasi untuk membantunya keluar dari sini?”


Wira mengangguk pelan sebagai jawaban.


Feyang kemudian melirik Heaven dengan tatapannya yang penuh arti, kemudian menyodorkan satu cangkir untuk Heaven.


“Teh ini berwarna biru,” komentarnya pelan.


Dia lalu menyesap sedikit dan itu terasa enak, tidak pahit tapi tidak juga manis. Ada rasa tersendiri yang membuatnya nyaman untuk di minum.


“Nah, Heaven, kenapa kau tidak tinggal di sini saja? Bukankah di sini hebat, kau juga bisa berkunjung ke sini kapan saja. Aku akan selalu menerimamu.”


Heaven menggeleng, “Tidak, tidak bisa.”


“Kenapa tidak? Apa yang tidak ada di tempat ini?” tanya Feyang.


Dia ingin Heaven tinggal di sini, bersama mereka dan menemani Wira. Tapi jawaban dari Heaven membuatnya tertegun.


Feyang melirik Wira sebentar kemudian membuang napas perlahan.


“Jika kau ingin keluar dari sini, bawa juga dia!” Perkataannya membuat Wira melotot.


“Apa maksutmu?” tanya Wira tidak senang.


“Aku sudah melihatmu tumbuh, aku juga melihat bagaimana tempat ini dibuat, aku melihat semuanya.”


“Aku juga melihat semua penderitaanmu,” katanya menatap Wira, manik mata abu-abu miliknya tampak semakin redup saat mengingat semua itu di kepalanya.


Wira tidak mengatakan apa-apa. Feyang adalah pelayan setia ibunya, saat ibunya di usir dari rumah karena mengandung dirinya, Feyang sudah beberapa kali hampir mati karena melindungi ibunya.


Sampai pada suatu waktu mereka menemukan air terjun itu, dan gua itu. Pada akhirnya ibunya mengorbankan banyak hal untuk buat dunia kaca ini. Tempat di mana agar dirinya bisa tumbuh dengan baik dan tidak di temukan oleh orang-orang itu.


Ada kilatan kebencian yang dalam saat dia mengingat perkataan ibunya tentang orang- orang itu. Dia membenci mereka! Dia benci bagaimana ibunya begitu menderita karena mereka! Bagaimana bisa ibunya menderita hanya karena cinta?!


“Kau sudah mencoba sebisamu tetapi tetap gagal, tapi kau harus keluar dari sini jika ingin membalaskan dendam ini.”


“Aku ...,” dia ragu-ragu untuk mengatakannya. “Aku akan membantumu,” katanya setelah beberapa saat diam.


Wira tidak tau harus mengatakan apa. Dia ingin, tapi dia tidak bisa. Dia tidak bia meninggalkan mereka semua, dia tidak bisa meninggalkan dunia kaca ini begitu saja.


Wira menarik napas dan menghembuskannya perlahan saat merasakan adrenalinya dipacu. Dia bisa merasakan darahnya mengalir dengan sangat deras di dalam tubuhnya!


Semua yang memiliki hubungan dengan rencana besok sudah dikunjungi, jadi mereka istirahat lebih awal untuk hari selanjutnya.


Keesokan harinya ...


Mereka sarapan di meja makan di luar ruangan, aroma bambu dan angin yang segar membuat suasana sangat luar biasa. Di tambah dengan wangi dari masakan yang Wira buat.


Feyang menyantap makanannya dengan sangat hati-hati seolah-olah dia takut ada rasa yang tidak dia rasakan dengan baik.


Wajahnya berseri dan ada rona kebahagiaan di matanya.


“Sudah sangat lama aku tidak makan masakanmu,” katanya setelah menghabiskan seporsi ikan bakar yang paling besar.


Heaven juga makan dengan lahap, dia akan butuh banyak energi untuk hari ini.


“Yah, kalau dipikir-pikir memang sudah lama, kan.”


“Benar, masakanmu luar biasa seperti biasanya!”


Heaven tidak berbicara dan terus makan, dia tidak mau menganggu mereka berdua dan dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.


...


“Baiklah, sudah saatnya pergi.”


Mereka bertiga berangkat, Wira dan Feyang terbang dengan bantuan angin yang dikendalikan Heaven.


“Kau lumayan juga,” puji Feyang.


Heaven mendongak dengan bangga, bagaimanapun hanya kemampuan yang bisa dia tunjukan.


Meski dia yakin levelnya masih sangat jauh di bawah Wira ataupun Feyang. Heaven jadi penasaran, kedua orang ini sudah berada di level apa?


Tak butut waktu lama, mereka akhirnya sampai di tempat yang sudah di sepakati.


Di depan Pohon Kehidupan, tujuh pemegang batu formasi sudah berkumpul.


Tcesni sebagai penjaga Pohon Kehidupan, Charles penjaga Dunia Bawah Tanah, Freya penjaga Hutan Bunga Anggrek, Shilpy penjaga Dunia Bawah Air; Feyang penjaga Hutan Bambu, Tiamat penjaga Hutan Binatang Buas dan Zmey penjaga Dunia atas.


Mereka tidak terlihat akrab sama sekali, bahkan ada beberapa yang menatap bermusuhan.


“Yo, Tiamat! Lama tidak berjumpa ya.”