
Tora diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Dia terlihat tidak biasa.”
“Apakah anda tidak mempercayainya?”
Jika Paul tidak percaya lalu mengapa dia mengangkatnya sebagai anak? Tora tidak pernah bisa menebak isi pikiran Paul.
Di satu sisi dia adalah orang yang kejam dan berdarah dingin, di saat bersamaan dia akan menjadi begitu lemah dan tidak berdaya di hadapan keluarganya seperti dia adalah orang yang berbeda.
Paul menggelengkan kepalanya sambil mencibir, “Kau sudah mengikutiku begitu lama tetapi tetap tidak senapas denganku.”
Kata-katanya menjadi sedingin es dan membuat Tora menggigil seolah dia sudah jatuh kedalam jurang es yang dalam.
“Sepertinya masih banyak yang harus kau pelajari,” suaranya menjadi lebih dingin dari sebelumnya. “Pergi ke Winshten dan belajarlah dari Clif.”
Tora menelan ludahnya saat darahnya tiba-tiba berdesir.
“Mengerti!” jawabnya dengan semangat sebelum hilang di antara kegelapan malam.
Di saat bersamaan
Heaven merasa sesak saat butir-butir besar keringat berjatuhan dari wajahnya. Dia sedang melatih dirinya sendiri dan mencoba memasuki lautan spiritnya. Tetapi tampaknya itu tidak berhasil dan malah membuatnya merasakan sakit yang luar biasa.
Dia berteriak dengan keras saat rasa sakit itu tidak bisa lagi ditahannya dan menyebabkan kegemparan di Markas Gerbang Utara.
Paul segera berlari saat mendengar itu, para pelayan perempuan berdiri di luar pintu saat mereka menyaksikan bagaimana Wira menetralkan energi berlebih di tubuh Heaven.
“Apa yang terjadi?” suaranya seperti guntur saat bertanya dan membuat kerumunan semakin mundur.
“Bukan masalah besar, Heaven hanya terlalu berlebihan mengeluarkan energinya dan itu menjadi lepas kendali.”
Wira menjelaskan lagi, ”Element Apinya baru saja bangkit jadi itu butuh waktu untuk---“
“Api?” Paul berteriak kemudian tertawa dengan sangat keras hingga tenggorokannya sakit.
“Bagus! Jadi dia sudah memiliki dua elemnt. Peluang naik tingkatan akan semakin besar."
“Bukan dua, tapi tiga.”
Kata-kata Wira mengejutkan semua orang. Memiliki dua element sudah cukup bagus, dan hanya sedikit orang yang bisa lebih dari itu.
Wira mengangguk dan berkata lagi, “Jika dia berlatih dengan giat dan memiliki keberuntungan yang bagus, mungkin bisa menguasai empat element.”
Jantung semua orang seperti berhenti berdetak dan napas mereka menjadi sesak sesaat.
Dia bilang empat element? Itu adalah bakat langka yang seratus tahun sekali pun belum tentu ada! Dan bakat itu sekarang adalah anaknya!
Paul segera mengusir mereka dan menyuruh bawahannya untuk menutup mulut siapapun yang ada di sana. Ini pasti akan menggemparkan seluruh akademi dan akan mengundang banyak masalah bagi Heaven.
Masalah tentang Dunia Kecil Wira sudah cukup membuatnya terkejut, dan sekarang timbul lagi berkah baru di keluarganya.
Masalah ini tidak boleh tersebar jika tidak, Paul tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
“Baiklah, masalah ini cukup kita yang tahu.”
Jantungnya masih berdebar dengan kencang. Untunglah dia tidak memiliki penyakit jantung, jika tidak dia pasti akan cepat mati!
Wira mengangguk mengerti. Dia tidak peduli tentang masalah yang akan datang tapi siapapun yang berniat menyakiti saudaranya tidak akan bisa hidup untuk detik berikutnya!
“Sudah, istirahatlah. Kita akan bahas ini lagi besok pagi.
“Baik, Ayah.”
Dia ingin meledak karena kebahagiaan! Bertambah satu lagi anggota keluarganya, dia pikir dia harus menunggu Heaven menikah dan punya anak tapi rencana langit ternyata lebih cepat!
Ini kejutan yang menyenangkan!
Dia tidur dengan nyenyak malam ini sampai pagi.
Wira dan Heaven sedang menikmati sarapan mereka di meja makan. Wira tidak bisa diganggu dan dia tidak membiarkan pelayan wanita manapun menyentuh poci tehnya. Itu sangat berharga jadi dia ingin menikmatinya sendiri.
“Kalian bangun pagi sekali.” Paul segera bergabung dengan mereka.
“Selamat pagi, Ayah.”
Paul merasa dia akan terbang! Dia kemudian melirik Heaven dan mencibir, “Kau seharusnya belajar dari Wira.”
Heaven memutar bola matanya dan tidak berniat berdebat sama sekali, dia tetap menikmati makanannya dengan tenang.
“Oh ya, Wira, Apa nama belakangmu? Kau tahu, seperti klan atau semacamnya.”
Wajah Wira tidak memiliki ekspresi apa-apa dan dia dengan datar menjawab, “Tidak ada.”
Paul menyatukan tangannya dan dengan gembira berkata, “Bagus, Mulai sekarang namamu Wira Falamir!”
Wira hanya mengangguk sebagai jawaban.
Dia melirik Heaven lagi dan dia tampak tidak peduli pada tatapan ayahnya. Paul segera mengerucutkan bibirnya dan menggerutu dalam hati karena sikap dingin Heaven terhadapnya
Saat kecil Heaven sangat manja dan bahkan tidak bisa jauh darinya, tetapi waktu telah berubah dan tidak seperti sepuluh tahun yang lalu. Tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan perhatian Heaven lagi.
Setelah sarapan Paul mengantar Heaven dan Wira menuju Aula untuk mendaftarkan diri mengikuti ujian kenaikan tingkat.
Di Aula Utama Akademi Atas Awan.
Banyak murid junior yang sudah berkumpul dan berbaris untuk mendaftarkan diri mereka. Namun sebelum itu mereka akan diuji dengan batu spirit untuk melihat bakat dan akar kualitas spirit mereka.
Akademi tidak menerima murid dengan kualitas rendah, mereka sangat ketat dalam pemilihan dan hanya memilih bibit-bibit unggul untuk dirawat.
“Belum mendaftar saja sudah diuji, merepotkan sekali,” keluh Heaven.
“Hivi!” Teriakan itu berasal dari kerumunan.
“Hivi, kau juga ikut? Wah ini pasti akan menyenangkan!” Itu Paula Clearn, putri kedua Pulcra Clearn.
Dia berlari dan menghampiri keduanya, ada banyak bintang saat matanya menatap Heaven dan Wira.
“Berhenti memanggilku begitu, sialan!”
“Itu manis tahu!” dia menjulurkan lidahnya dan mengejek, “Hivi!”
“Tutup mulutnya!” Heaven tidak tahan lagi dan segera memukul kepala gadis itu.
Paula kemudian menatap Wira dan beralih pada Heaven seakan bertanya 'siapa dia?'
Dia bergumam dengan lirik, “Dia cantik.”
“Dia pria, dasar bodoh.”
“Ck, aku tahu. Dia lebih tampan darimu, wlee!”
Heaven kembali meneriakinya untuk mengomelinya tetapi dia tidak peduli dan menutup telinganya erat-erat.