The Escapade

The Escapade
Episode 31


“Tapi semua barang sudah di kemas, Tuan.” Kepala pelayan, Womry Gone, berkata dengan hati-hati ketika dia melirik bawahannya yang tidak berani bicara.


“Berhenti melakukan hal konyol, Ayah.” Heaven turun dan langsung duduk di meja makan. Begitu pula Wira.


Pagi-pagi buta para pelayan sudah mengetuk pintu kamar mereka dan memberikan satu set pakaian yang sudah disiapkan sehari sebelumnya oleh Paul. Dan itu sudah cukup beruntung baginya karena mereka ingin memakainya.


“Hal konyol apa? Ini semua bentuk perhatianku!”


Heaven hanya menghela napas sementara Wira tetap tersenyum seperti biasanya.


“Dan lagi ....” Paul menyipitkan matanya saat melihat bagaimana penampilan kedua anaknya dalam balutan seragam baru itu. Kemudian melanjutkan, “Kemana pita milikmu?”


Heaven melotot saat dia menyemprotkan air yang baru diminumnya.


“Aku tidak akan memakai itu! Aku ini laki-laki!”


“Kau pikir para hakim itu bukan laki-laki?!”


“Mereka kasim! Kau mengerti, kasim!”


Heaven mendengus saat melihat wajah sedih ayahnya kemudian melirik Wira.


Matanya kemudian jatuh pada benda yang menggantung di bawah lehernya. Pita dari tali sutra berwarna putih, Heaven tidak habis pikir bagaimana Wira mau memakai benda seperti itu.


Dia tidak peduli lagi, meski Paul menolak menyentuh makanannya dan terus dengan drama sedihnya Heaven tetap tidak mau memakai pita miliknya.


Dia ini laki-laki! Dia lebih memilih mati daripada memakai benda seperti itu.


Setelah selesai makan mereka berangkat menuju halaman bagian timur Akademi.


Paul keras kepala dan tetap meminta mereka membawa beberapa tas yang sudah disiapkan olehnya sebelumnya. Karena lelah bertengkar, jadi Heaven memilih untuk menyimpan miliknya ke dalam cicin penyimpanannya.


 ...


“Hivi!”


Heaven bergidik saat mendengar bagaimana gadis itu memanggilnya.


“Wah, pakaian yang bagus. Sayang sekali harus dipakai untuk masuk ke pulau mematikan itu,” komentarnya saat melihat penampilan mereka.


“Benar, sayang sekali harus dipakai untuk hari kematianmu.” Itu Sandor.


Matanya menatap Heaven dari kepala hingga kakinya kemudian tersenyum mengejek.


“Apa maksutmu, di sana dilarang membunuh sesama murid!”


Sandor tidak memperdulikan gadis itu dan berlalu bergitu saja saat melihat Heaven tidak bereaksi sama sekali.


“Dasar sampah,” ucapnya sebelum pergi.


Paula memarahinya tetapi tidak ada yang peduli, itu hanya membuat mereka semakin banyak menarik penonton.


“Kau harus berhati-hati, Hivi.” Dia memperingatkannya dan Heaven mengangguk sebagai jawaban.


“Ngomong-ngomong, pitamu bagus.” Heaven hampir muntah darah mendengar itu, tetapi Wira tersenyum dan mengangguk pelan sebagai isyarat terima kasih.


Heaven tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia berhenti menatap mereka berdua yang kini mengobrol tentang pakaian baru mereka.


Saat ini, mereka sedang mengantri untuk mengambil token sebelum dikirim melalui formasi pemindah.


“Token ini akan merekam berapa banyak poin kalian saat kalian memasukan hasil buruan kedalamnya,” terang Trioner.


Dia berdiri di atas podium bersama beberapa tetua lainnya yang akan menjadi pengawas ujian kali ini.


“Minimal batas poin adalah lima ratus dan tidak memiliki batas maksimum, bagi siapapun yang memiliki poin akhir paling tinggi akan mendapatkan hadiah.”


Setelah mengatakan itu, semua peserta mulai ricuh dan tampak bersemangat.


Trioner melanjutkan. “Tetapi pulau tengkorak bukanlah tempat dimana kalian bisa bersenang-senang, ada beberapa tempat berbahaya yang tidak boleh kalian masuki. Di dalam token kalian sudah tersedia peta dan lingkaran merah adalah wilayah terlarang pulau tengkorak.


Juga, akan ada senior yang akan membimbing kalian di masing-masing tim. Tugas mereka hanya mengawasi di lapangan dan tidak akan ikut campur dalam perebutan hasil buruan, jadi jangan terlalu bergantung.


Dia kemudian mengangkat tangannya dan formasi teleportasi segera diaktifkan.


Sebuah cahaya muncul menjulang seperti pilar yang mengarah ke langit. Mereka sudah berada di atas kapal terbang milik Akademi dan segera berangkat.


Kapal itu sangat cepat hingga menyamai kecepatan kilatan guntur!


Beberapa saat kemudian kapal telah berhenti dan mengambang di udara.


Mereka kemudian keluar dan berkumpul di geladak kapal saat seorang senior memanggil mereka melalui token.


“Semua sudah berkumpul. Baiklah, perhatikan semuanya!” Itu Riander, dia mengangkat tangannya saat meminta perhatian dari para junior itu.


“Kita sudah sampai di Pulau Tengkorak, saatnya membuat tim.”


Mereka menjadi sangat bersemangat, sebagian melirik ke bawah kapal dan melihat sebuah daratan di bawah mereka. Itu berada di tengah-tengah lautan yang luas, selain itu tidak ada bedanya dengan daratan lain yang pernah mereka temui.


“Satu tim terdiri dari lima orang dan akan ada sepuluh tim berbeda,” kata Riander saat dia melihat catatan di tangannya.


Tidak mengejutkan jika yang tersisa untuk ujian akhir ternyata hanya lima puluh orang, tetapi jumlah itu sudah cukup banyak dari tahun sebelumnya.


“Jumlahnya dua kali lipat dari kita saat itu,” kata Amber saat berjinjit melihat catatan di tangan Riander.


Dia tersenyum lebar saat Riander meliriknya sebentar kemudian pergi untuk membuat pengaturan.


Setelah semua persiapan selesai, mereka turun dari kapal menuju pulau dan mulai menjelajah untuk berburu.


Setiap tim telah memiliki satu mentor untuk melindungi dan membimbing mereka. Mereka lalu berpencar ke berbagai arah untuk menemukan buruan masing-masing.


Heaven dan yang lainnya juga pergi tapi beberapa orang tiba-tiba menghadang mereka. Liammenjadi gemetar saat melihat senjata di tangan mereka.


“Heh, tidak kusangka sampah sepertimu juga berani datang kemari,” kata Sandor Moa dengan sombong. Ada banyak nada penghinaan di dalam suaranya.


“Kenapa? Pulau ini juga bukan milikmu,” kata Heaven menatapnya dengan aneh.


Sandor menyipitkan matanya saat dia menatap Heaven. Bayangan rasa sakit dari pukulan ayahnya beberapa hari yang lalu tiba-tiba melintas dan rasa sakitnya tiba-tiba datang lagi dalam bentuk yang lebih menyakitkan.


Karena sampah ini!


Hanya karena sampah seperti ini dia dipukuli hingga hampir mati oleh ayahnya sendiri!


Ada kilatan cahaya yang dingin dimatanya saat dia melihat Heaven dengan tatapan yang tajam.


“Hey! Kalian masih di sini?” Amber menekan pinggangnya dengan marah.


“Waktu terus berjalan, cepat jalan atau aku akan membuat kalian tidak bisa berjalan!” katanya dengan kesal.


Bagaimana bisa mereka mengganggu tim Riander!


Dia bahkan tidak akan membiarkan seekor semut pun menggigitnya, jadi bagaimana bisa dia diam saja ketika seseorang mulai membuat Riander merasa tidak bahagia?


Dia kesal tetapi tim-nya malah tertawa dan mengejeknya dengan banyak penghinaan.


“Hehe, Senior, bagaimana caramu untuk membuat kami tidak bisa berjalan lagi?” tanya salah satu dari mereka dengan senyum nakal di wajahnya.


“Bukan kau, Senior, tapi kami yang akan membuatmu tidak bisa berdiri lagi,” kata yang lain saat matanya menatap Amber dari ujung kepala hingga kakinya.


Amber menjadi marah dan seluruh wajahnya menjadi merah padam.


Mereka menghinanya!


Mereka merendahkannya di depan Riander dan itu adalah hal yang sangat memalukan. Itu sangat memalukan hingga rasanya Amber ingin membunuh mereka dan membuang mayatnya ke laut untuk memberi makan ikan.


“Jadi bagaimana, Senior? Haruskan kita mendiskusikan cara untuk---”


Riander mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya hingga dia tidak bisa bicara lagi selain mengeluarkan suara tercekik yang tajam.


Bersambung ...