
Edward mengatakan hal itu karena wanita yang pertama wajahnya bukan Violet dan yang satunya wajahnya rusak. Sedangkan Dave, Daven dan David menatap ke dua wanita itu dan memperhatikan gerak gerik ke dua wanita tersebut.
("Bebaskan mereka." Ucap Edward).
("Baik Tuan Muda." Jawab orang kepercayaannya sambil menekan kembali tombol kamera agar terlihat wajahnya bukan wajah ke dua wanita tersebut).
("Tunggu!" Teriak Dave, Daven dan David dengan serempak ketika melihat wajah ke dua wanita tersebut berganti ke wajah orang kepercayaan Edward).
("Ada apa Tuan Muda Kecil?" Tanya orang kepercayaan Edward).
Orang kepercayaan Edward mengenal ketiga anak kembar tersebut karena orang kepercayaan Edward pernah bertemu beberapa kali ketika dirinya menemui Edward untuk menjalankan misi. Di mana saat itu ketiga anak kembarnya sedang bermain bersama anak kembarnya Edward.
("Coba Paman tanya sekali lagi ke mereka, apakah mengenal Tante Violet?" Tanya Dave).
("Sambil bertanya sorotkan wajah ke dua wanita itu karena kami ingin melihatnya." Sambung Daven).
("Tapi wajah yang satunya rusak." Ucap orang kepercayaan Edward).
("Tidak apa - apa Paman, kami ingin melihatnya lagi." Jawab David).
("Baik Tuan Muda Kecil." Jawab orang kepercayaan Edward dengan patuh).
Orang kepercayaan Edward kembali menekan tombol kamera dan kini ketiga anak kembar dan Edward melihat wajah ke dua wanita tersebut di mana bukan lagi wajah orang kepercayaan Edward yang tampak di layar kamera.
("Apa salah satu dari kalian bernama Violet?" Tanya orang kepercayaan Edward).
("Aku tidak mengenalnya jadi bebaskan Aku." Jawab wanita yang namanya bukan Violet dengan wajah judes).
("Memang siapa Violet? Aku tidak mengenalnya." Jawab Violet).
Mereka berbicara bersamaan namun ucapan mereka berdua berbeda sedangkan Dave, Daven dan David memperhatikan gerak gerik ke dua wanita tersebut.
("Paman, wajahnya yang rusak adalah Tante Violet." Ucap Dave).
("Tangkap Tante Violet yang wajahnya rusak." Sambung Daven).
("Wanita itu sangat licik jadi Paman hati - hati." Sambung David).
("Baik Tuan Muda Kecil." Jawab orang kepercayaan Edward).
("Aku bukan Violet, anak kecil itu berbohong!" Teriak Violet sambil berusaha memberontak agar bisa melepaskan diri).
("Bebaskan mereka berdua dan bawa wanita yang wajahnya rusak!" Perintah orang kepercayaan Edward).
("Baik Tuan." Jawab anak buahnya dengan serempak).
("Maaf Tuan Muda dan Tuan Muda Kecil, kami akan mengurus wanita ini." Ucap orang kepercayaan Edward).
Tanpa menjawab Edward memutuskan sambungan komunikasi sedangkan Violet menginjak kaki anak buah Edward yang sedang memegang tangannya.
"Akhhhhhhh .... Si*l." Ucap pria tersebut sambil melepaskan tangannya yang memegang tangan Violet kemudian memegangi kakinya.
"Kita bawa wanita ini keluar." Ucap orang kepercayaan Edward.
"Baik Tuan." Jawab anak buahnya.
Violet di bawa keluar dari ruangan tersebut sedangkan pria paruh baya dan wanita satunya lagi di lepas. Pria paruh baya yang sangat kesal dengan teman ranjangnya menarik tangan wanita tersebut kemudian melakukan hubungan suami istri secara paksa. Namun sebelumnya menarik paksa pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun.
"Akhhhhhhh ... Sakit!" Teriak wanita tersebut ketika tubuhnya disatukan secara paksa.
"Bukankah ini yang kamu mau?" Tanya pria paruh baya tersebut sambil menggoyangkan pinggulnya secara berulang kali.
Wanita tersebut tidak menjawab hanya berteriak kesakitan sedangkan pria paruh baya tersebut tidak memperdulikannya. Hingga setengah jam kemudian pria tersebut sudah selesai melakukan hubungan suami istri.
"Sekarang terimalah ajalmu karena kamu sudah membuat wajahku rusak." Ucap pria paruh baya tersebut sambil mengarahkan ke dua tangannya ke arah leher wanita tersebut.
Tanpa melepaskan wortel impornya, pria paruh baya tersebut mencekik wanita tersebut membuat wanita tersebut berusaha memberontak namun tenaganya kalah jauh. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata melotot.
"Itulah akibatnya karena merusak wajahku." Ucap pria tersebut sambil mengangkat tubuhnya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping.
Pria tersebut turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Sedangkan di tempat yang berbeda di mana Violet di bawa ke arah parkiran mobil di mana tubuhnya di panggul seperti karung beras.
Tanpa mereka ketahui seorang penembak jitu mengarahkan sinar laser merah ke kening Violet kemudian menembaknya. Violet berteriak kesakitan dan langsung menghembuskan nafas terakhirnya membuat anak buah dan orang kepercayaan Edward sangat terkejut.
Mereka langsung menatap sekeliling dan tidak menemukan seorang yang mencurigakan membuat mereka saling menatap.
"Buang saja jasadnya ke jurang." ucap orang kepercayaan Edward.
Orang kepercayaan Edward selalu membuang jasad ke jurang untuk menghilangkan jejak dan Edward tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
xxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda di mana Dave menatap ke layar laptop untuk melihat apa yang dilakukan oleh anak buah Edward hingga dirinya melihat kening Violet bersinar merah dan tidak berapa lama Violet berteriak kesakitan setelah itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Tante Violet di tembak oleh penembak jitu." Ucap Dave.
Daddy Aberto, Mommy Davina, Edward, Daven dan David yang mendengar ucapan Dave sangat terkejut mendengarnya. Hal itu membuat Daddy Aberto dan Edward yang sedang mengobrol dekat ranjang Mommy Davina berjalan ke arah Dave.
"Penembak jitu? Apakah sudah tahu siapa yang menembaknya?" Tanya Daddy Aberto penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Sebentar Dad, Dave lagi mencari posisi penembak jitu." Ucap Dave sambil menatap layar laptopnya.
"Coba kamu besarkan gambar orang yang ada di atas pohon." Ucap Daddy Aberto sambil menunjuk gambar orang berpakaian serba hitan yang bersembunyi di rimbunan pohon.
"Baik Dad." Jawab Dave.
Dave mengutak atik laptopnya hingga beberapa saat Dave berhasil melihat dengan jelas wajah orang tersebut sedangkan Daddy Aberto dan Edward hanya menatap foto pria tersebut.
"Siapa pria itu?" Tanya Edward yang tidak mengenal pria tersebut.