Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Curiga


Tidak berapa lama pintu lift terbuka Hendrik dan Maria keluar dari kotak persegi empat tersebut bersamaan ponselnya berdering. Hendrik mengambil ponselnya dari saku jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Tuan Muda Kecil Dave telepon." Ucap Hendrik.


"Angkat saja siapa tahu penting." Ucap Maria.


Hendrik hanya menganggukkan kepalanya kemudian menggeser tombol berwarna hijau lalu ditempelkan ke telinganya. Hendrik dan Maria berjalan berdampingan menuju ke arah parkiran mobil di mana Hendrik berbicara dengan Dave lewat telepon.


("Selamat Siang Tuan Muda Kecil." Ucap Hendrik).


("Sudah sore Paman." Jawab Dave dengan nada dingin).


("Maaf Tuan Muda Kecil, maksud saya selamat sore." Ucap Hendrik meralat ucapannya).


("Paman dan Tante Maria jangan naik mobil lebih baik Paman dan Tante naik taksi menuju ke bandara." Ucap Dave tanpa memperdulikan ucapan Hendrik).


("Memang kenapa Tuan Muda Kecil?" Tanya Hendrik dengan wajah bingung sambil menghentikan langkahnya begitu pula dengan Maria).


("Nanti Aku akan cerita tapi sekarang Paman dan Tante Maria pergi dari mobil itu dan naik taksi." Jawab Dave).


("Jangan melakukan gerakan yang mencurigakan karena Paman dan Tante Maria diikuti oleh seseorang yang bersembunyi di pojok lorong sebelah kanan dengan memakai pakaian serba hitam." Sambung Dave).


Hendrik melirik sekilas apa yang tadi dikatakan Dave dan ternyata memang benar ada seorang pria bersembunyi dengan memakai pakaian serba hitam. Hendrik memeluk pinggang Maria dengan menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya memegang ponsel. Hendrik menundukkan kepalanya kemudian mengarahkan mulutnya tepat di telinga Maria.


('Kita naik taksi.' Bisik Hendrik).


Bulu kuduk Maria langsung berdiri membuat Maria hanya menganggukkan kepalanya kemudian Mereka berjalan keluar dari parkiran mobil. Pria yang mengikutinya bingung melihat Hendrik dan Maria tidak jadi naik mobil.


("Paman, bilang saja agak keras bicaranya ke Tante Maria dengan mengatakan kalau ada yang ketinggalan agar orang itu tidak curiga." Ucap Daven sambil mengambil ponsel milik Kakak kembarnya).


("Oke." Jawab Maria yang mengerti kenapa Hendrik berbicara agak keras).


'Tuan Muda Kecil Dave, Tuan Muda Kecil Daven dan Tuan Muda Kecil David sangat pintar. Semoga saja anak kami juga sama pintarnya dengan mereka.' Ucap Hendrik dalam hati.


("Semoga saja Paman dan terima kasih atas pujiannya." Ucap Daven).


("Tuan Muda Kecil bisa membaca pikiranku?" Tanya Hendrik dengan wajah terkejut).


("Tentu saja bisa." Jawab Daven).


Hendrik langsung terdiam hingga dirinya dan Maria berada di dalam lobby. Hendrik langsung menghentikan taksi yang kebetulan lewat kemudian naik taksi bersama Maria. Sedangkan pria tersebut yang ingin menghubungi seseorang tiba - tiba mulutnya di bekap oleh seseorang.


Pria tersebut berusaha untuk memberontak namun dua orang pria lainnya menahan tangannya agar diam hingga akhirnya pria tersebut tidak sadarkan diri. Pria itupun langsung di gotong untuk di masukkan ke dalam mobil milik Hendrik sedangkan orang yang tadi membekap mulut pria tersebut mengambil sesuatu dari dalam kantongnya lalu menempelkan benda kecil tersebut ke stir kemudi.


"Tugas sudah selesai sekarang kita pergi dari sini." Ucap pria tersebut.


"Baik Tuan." Jawab ke duanya dengan serempak.


Ketiganya langsung pergi dari tempat tersebut bersamaan kedatangan tiga pria lainnya berjalan ke arah mobil milik Hendrik. Ke dua pria tersebut menggotong seorang pemuda tampan untuk dimasukkan ke dalam mobil sedangkan pria satunya membuka pintu mobil.


"Tugas sudah selesai sekarang kita pergi dari sini." Ucap pria tersebut.


"Baik Tuan." Jawab ke duanya dengan serempak.


Ketiga pria itupun pergi meninggalkan tempat area parkir sedangkan dari tempat yang berbeda di mana Dave, Daven dan Edward berada di kantin melihat semua kejadian tersebut sambil tersenyum puas. Alona yang baru saja datang habis dari toilet duduk di sebelah suaminya dengan tatapan bingung.


"Kok Daddy dan ke tiga ponakanku yang tampan tersenyum? Ada apa?" Tanya Alona dengan nada curiga.