Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Usir


"Di coba sajalah. Masalah di tolak atau tidaknya pikirkan saja nanti." Ucap Hendrik.


"Pikirkan saja nanti, maksud Kak Hendrik apa?" tanya Maria sambil membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah Hendrik.


"Mungkin kamu salah dengar." Jawab Hendrik yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Sekarang Kakak gantian yang mandi." Sambung Hendrik mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Maria dengan wajah kuatir.


"Tidak apa - apa." Jawab Hendrik.


"Ok." Ucap Maria dengan singkat.


"Oh ya Kak Hendrik, mau makan apa?" tanya Maria sebelum Hendrik menutup pintu kamar mandi.


"Apa saja Aku suka." Jawab Hendrik.


"Ok." Jawab Maria singkat


Hendrik masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Maria menghubungi pelayan hotel untuk memesan dua porsi makanan dan dua gelas minuman. Setelah selesai Maria meletakkan gagang telepon kemudian berjalan ke arah lemari untuk memasukkan semua pakaian miliknya ke dalam koper sambil memasukkan pakaian kotor ke dalam kantong plastik.


Setelah selesai Maria memunguti satu persatu pakaian milik Hendrik yang berserakan di lantai untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik bersamaan Hendrik membuka pintu kamar mandi dan melihat apa yang dilakukan oleh Maria.


'Senang banget seperti sepasang suami istri, suaminya sakit maka istri memberikan perhatian dan menemaniku tidur.' Ucap Hendrik dalam hati.


'Pakaian kotor biasanya pelayan yang memungutinya kemudian mencucinya tapi kini dilakukan sama gadis yang Aku cintai. Tapi apakah dia mencintaiku?' tanya Hendrik dalam hati sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu kamar mandi sambil masih menatap ke arah Maria.


'Aku pernah melihat mansionnya sangat besar dan megah, jika aku mengatakan aku jatuh cinta padamu? apakah dia akan menerimaku?apakah dia dan keluarganya akan menolakku dan menghinaku habis - habisan." Ucap Hendrik dalam hati.


"Kak Hendrik kok malah bengong? Pakai baju nanti masuk angin." ucap Maria dengan nada lembut.


Hendrik hanya tersenyum kemudian berjalan ke arah koper umtuk mengambil satu stell pakaian. Setelah di ambil Hendrik berjalan ke arah kamar mandi untuk memakai pakaian.


Biasanya Hendrik memakai pakaian di kamar namun sekarang dirinya bersama Maria dan Hendrik menghargai Maria di mana Maria pasti malu jika melihat dirinya berganti pakaian di depannya.


Ketika Hendrik masuk ke dalam kamar mandi tiba - tiba dirinya teringat dengan masa lalunya yang sangat pahit. Dulu Hendrik berasal dari keluarga miskin di mana ayahnya Hendrik bekerja sebagai kuli panggul sedangkan ibunya buruh cuci.


xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx


Awal mulanya waktu itu dirinya berumur tujuh belas tahun Hendrik sedang mencari lowongan kerja tapi semua lamaran di tolaknya karena dirinya hanya lulusan SMA. Hingga tanpa sengaja dirinya melihat Daddy Aberto di serang oleh segerombolan preman yang lumayan banyak.


Hendrik yang melihat perkelahian yang tidak seimbang langsung membantu Daddy Aberto sedangkan orang - orang yang disekitarnya hanya melihatnya bahkan parahnya lagi Mereka merekam apa yang dilakukan oleh Daddy Aberto melawan para preman tanpa berani memberikan bantuan.


Daddy Aberto dan Hendrik menyerang dan menghindari pukulan para preman hingga tiba - tiba datang beberapa orang bertubuh tegap membantu mereka hingga segerombolan preman babak belur.


"Maaf Tuan Muda kami terlambat datang." ucap mereka dengan serempak.


"Tidak apa - apa santai saja." Jawab Daddy Aberto.


"Oh ya siapa namamu?" tanya Daddy Aberto.


"Saya Hendrik, Tuan Muda." Jawab Hendrik.


Daddy Aberto melihat Hendrik membawa amplop coklat berukuran besar dan daddy Aberto bisa menebak apa isi amplop coklat tersebut.


"Kamu mau melamar kerja?" tanya Daddy Aberto basa basi.


"Benar, Tuan Muda." jawab Hendrik.


"Apakah sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Daddy Aberto.


"Belum Tuan Mu..." ucapan Hendrik terpotong oleh pria paruh baya yang berjalan mendekati Daddy Aberto.


"Putraku Aberto, kamu baik - baik saja?" tanya pria paruh baya itu dengan wajah kuatir.


"Baik - baik saja Daddy dan untung saja tadi Aku di bantu oleh Hendrik. Daddy, apakah Hendrik boleh bekerja dengan kita?" tanya Daddy Aberto sambil menatap ke arah Hendrik dengan wajah penuh harap.


Ayahnya Daddy Aberto yang bernama Tuan Abertos mengarahkan pandangannya ke arah Hendrik dan menatapnya dari atas sampai ke arah bawah.


"Pekerjaan apapun saya bisa Tuan Besar. Walau pekerjaan jadi office boy Saya juga bisa." Jawab Hendrik dengan jujur.


"Apakah kamu bisa mengendarai mobil?" tanya Tuan Abertos.


"Bisa Tuan Besar." Jawab Hendrik.


"Kalau begitu kamu akan kami kerjakan sebagai asisten putraku di perusahaan." ucap Tuan Abertos.


"Maaf Tuan Besar, setahuku kalau asisten itu selain sebagai sopir bisa membantu pekerjaan kantor." ucap Hendrik di mana Hendrik sedikit paham tentang pekerjaan sebagai seorang asisten.


"Ya benar." Jawab daddynya Daddy Aberto.


"Tapi saya tidak bisa melakukan pekerjaan kantor." ucap Hendrik dengan jujur.


"Tenang saja nanti anakku yang akan mengajarimu. Apakah kamu setuju Aberto?" tanya Tuan Abertos.


"Setuju Daddy." Jawab Daddy Aberto.


"Ok. Besok kamu datang ke perusahaan xxxxxxx jam delapan pagi." Ucap Tuan Abertos.


"Baik Tuan Besar. Besok pagi Saya akan datang." Jawab Hendrik sambil tersenyum bahagia karena tanpa di duga dirinya di terima kerja terlebih sebagai seorang asisten sekaligus sopir pribadi Daddy Aberto.


Tuan Abertos dan Daddy Aberto pamit ke Hendrik kemudian meninggalkan tempat itu begitu juga dengan Hendrik. Sebelum pulang Hendrik pergi ke rumah seorang gadis yang disukainya secara diam-diam sejak kelas satu SMA karena dirinya belum ada keberanian karena masih miskin dan belum bekerja dan kini dirinya besok sudah mulai bekerja.


Hendrik mengetuk pintu dan ternyata orang yang dicintainya yang membukakan pintu untuk dirinya membuat Hendrik tersenyum manis.


"Ada apa Hen?" tanya gadis itu dengan wajah malas.


'Huh ... tampan sih tampan tapi sayang miskin.' ucap gadis itu dalam hati.


"Aku boleh masuk?" tanya Hendrik tanpa menjawab pertanyaan gadis yang disukainnya.


"Masuklah." Jawab gadis itu dengan nada jutek.


Hendrik masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu begitu pula dengan gadis itu. Mereka duduk saling berhadapan dan tidak berapa lama ke dua orang tuanya datang menemani putri kesayangannya.


"Ada apa Hen?" tanya ulang gadis itu.


"Aku menyukaimu sejak kita masih kelas satu SMA dan sekarang aku sudah bekerja jadi aku memberanikan diri untuk melamarmu." ucap Hendrik tanpa basa basi mengingat gadis yang disukainya mengulangi perkataannya.


"Kamu bekerja sebagai apa?" tanya ibu dari gadis itu dengan wajah angkuh.


"Sebagai sopir." Jawab Hendrik tanpa mengatakan kalau dirinya sebagai asisten di perusahaan sekaligus sopir.


'Aku ingin tahu apa kalian masih merendahkan Aku atau tidak.' Sambung Hendrik dalam hati.


"Apa??? sopir!!" pekik ke tiganya dengan serempak


"Iya sebagai sopir di perusahaan xxxxxxx." Jawab Hendrik.


"Kalau kamu jadi manager xxxxxxx kami bersedia anak kami menikah denganmu tapi karena pekerjaan kamu sopir maka jujur kami sangat - sangat keberatan." ucap ibu dari gadis itu dengan nada ketus.


"Dasar anak tidak punya malu! Kamu tidak lihat kami dari keluarga terpandang! Masa putri semata wayang kami menikah dengan sopir mau taruh di mana muka kami!!!" bentak ayah dari gadis itu menghina Hendrik dengan suara menggelegar.


"Wajahmu memang tampan tapi sayang kamu dan keluargamu miskin yang ada nanti Aku hidup susah jika Aku menikah denganmu." hina gadis itu.


"Pakaianmu saja jelek bikin merusak pemandangan saja. Pergi sana!!! pakaianmu membuat sofa kami yang sangat mahal jadi banyak bakterinya." usir ibunya gadis itu dengan nada jijik dan menghina tanpa punya perasaan begitu pula dengan suami dan putrinya.


"Iya pergilah!" usir ayah dan gadis tersebut


Hendrik langsung pergi namun sebelum melangkah ke pintu Hendrik menghentikan langkahnya.


"Jika suatu saat nanti Aku kaya dan kamu mengemis cintaku jangan harap Aku mau menerimamu." ucap Hendrik sambil melanjutkan langkahnya.


"Dalam mimpi Aku mengemis cintamu, pergi sana!!!" usir gadis itu lagi dengan nada ketus.