Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Laptop


"Tuan." Panggil wakil CEO yang melihat dari tadi Hendrik diam saja.


"Ehem ....Bukan. Mereka bertiga adalah .." ucapan Hendrik terpotong oleh Daven.


"Kami adalah ponakannya dan kami di ajak paman untuk melihat - lihat perusahaan barunya." Jawab Daven yang menjawab pertanyaanwakil CEO.


"Bukankah anak kecil lebih suka main di rumah kenapa main di perusahaan?" tanya wakil CEO penasaran.


"Kami bosan paman, karena itulah kami meminta paman kami untuk mengajak kami jalan - jalan di perusahaan." Jawab Daven yang terpaksa berbohong terus.


Wakil CEO hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti tanpa curiga sedikitpun sedangkan Paman Hendrik ingin rasanya tertawa karena baru kali ini dirinya terpaksa berbohong sama seperti ketiga anak kembar yang juga terpaksa berbohong.


"Kalian bertiga selain kembar kalian bertiga juga sangat tampan." Puji wakil CEO.


"Terima kasih atas pujian paman." Jawab David sambil tersenyum.


"Siapkan laporan keuangan selama tiga bulan." ucap Hendrik mengalihkan pembicaraan.


"Baik tuan." Jawab wakil CEO dengan nada sopan.


Ting


Pintu lift terbuka mereka berlima keluar dari ruangan persegi empat dan mereka berjalan ke arah ruangan kerja milik CEO. Ke tiga anak kembar duduk di sofa sedangkan Hendrik duduk di kursi kebesaran milik ke tiga anak kembar genius tersebut.


"Tuan, mau minum apa?" tanya wakil CEO dengan sopan.


"Aku ingin kopi pahit. Tu... eh anak - anak ingin minum apa?" tanya Hendrik karena mendapatkan kode tatapan dari Dave, Daven dan David.


Dave, Daven dan David yang tahu kalau Hendrik ingin menyebut Tuan muda kecil langsung menatap Hendrik agar tidak membocorkan rahasianya. Sedangkan Hendrik yang mengerti arti tatapan langsung meralat perkataannya.


"Kami ingin susu coklat hangat." Jawab ke tiga anak kembar dengan serempak.


"Siapkan kopi pahit dan tiga susu coklat hangat dan jangan lupa laporan keuangan selama tiga bulan." ucap Hendrik.


"Baik tuan. Ada yang lainnya?" tanya wakil CEO.


"Tidak ada. Tinggalkan kami. Jawab Hendrik.


"Baik tuan." Jawab wakil CEO dengan nada masih sopan.


Wakil CEO itupun pergi meninggalkan mereka berempat.


"Paman aku pinjam laptopnya." pinta Dave dan Daven serempak sambil berjalan ke arah Hendrik.


Hendrik menaruhnya di meja kemudian ke dua anak kembar genius mulai mengutak atik laptopnya. Jari jemari yang lincah menekan tombol keyboard membuat jiwa kepo Hendrik duduk di samping mereka.


tok


tok


tok


"Masuk." Jawab Hendrik.


Ke dua bocah itupun langsung berhenti mengutak atik laptopnya dan berpura - pura mengobrol dengan saudara - saudaranya.


ceklek


Tiga orang masuk ke dalam ruang kerja CEO ada yang membawa nampan berisi satu cangkir kopi pahit dan tiga cangkir susu coklat hangat dan dua orang lagi membawa beberapa dokumen laporan selama tiga bulan.


"Tuan ini laporan keuangan selama tiga bulan dan minumannya." ucap wakil CEO dengan nada masih sopan sambil meletakkan secangkir kopi dan 3 gelas yang berisi susu coklat hangat di atas meja dekat sofa.


"Baik, oh ya tolong bawakan satu laptop lagi." ucap Hendrik.


"Baik tuan." Jawab wakil CEO dengan wajah bingung.


"Aku mengerti kenapa paman bingung karena dua laptopnya kami pakai untuk acara tugas di sekolah jadi Paman Kami membutuhkan laptop." Ucap Daven yang bisa membaca raut wajah seseorang.


"Baik tuan sebentar lagi akan saya antarkan laptopnya." ucap wakil CEO.


Wakil CEO itupun pergi meninggalkan mereka dengan penuh tanda tanya karena salah satu anak kembar dari mereka bisa menebak apa yang dipikirkannya.


"Paman butuh bantuan?" tanya Daven.


"Boleh." Ucap Hendrik sambil memberikan satu laporan keuangan ke Daven.


Daven duduk berhadapan dengan Paman Hendrik hanya di batasi oleh meja. Daven dengan serius membaca lembaran laporan keuangan setelah selesai membaca laporan Daven berdiri dan berjalan ke arah meja sofa dan duduk di sofa.


Jari jemari yang lincah mengutak atik laptop hingga lima belas menit kemudian Daven menghentikan kegiatannya.


"Paman laporan yang diberikan sama yang di laptop berbeda." ucap Daven.


Paman Hendrik langsung menghentikan kegiatannya dan langsung berdiri. Paman Hendrik berjalan ke arah Daven dan duduk di sampingnya. Paman Hendrik melihat layar laptop yang ditunjuk oleh Tuan Muda Kecil Daven.


"Paman akan menandainya. Tuan Muda Kecil Daven hebat cepat sekali mengetahui kalau laporannya tidak sesuai." Puji Paman Hendrik.