Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 8


Didepan semua orang Hanin memeluk putrinya, dengan tawa dan tangis bersamaan dia berbisik. “Putriku adalah wanita yang paling hebat. Jadilah istri yang baik untuk suamimu sayang. Jika suatu saat nanti seseorang datang memintamu meninggalkannya bahkan berlutut ingat akan janjimu pada Tuhan. Kau terikat dengan sebuah janji yang tidak mudah lepas.”


Hanin melepaskan pelukannnya kemudian kembali mengusap pipi putrinya yang basah. “Sekali kamu sudah menjadi seorang istri, Ellena tetap putri mama, bunga keluarga Hazelt. Saat ini bunga itu tidak hanya mekar disatu rumah sayang, sekarang kamu memiliki rumah baru , rumah yang selamanya tempat mu bersandar. Kau mengerti kan Ellena?”


Ellena mengangguk, entah sejak kapan Hanin begitu puitis mungkin ini adalah ketulusan seorang ibu yang haru melepas putrinya karena menikah.


Tak terlalu lama perbincangan itu, Ellena mengintip ayahnya yang sedang asik berbicang dengan Raja. Keduanya tampak serius bahkan Adams sesekali menunduk berusaha menahan tangisnya.


Melihat Raja menjuh , menyapa para tamu undangan Ellena perlahan melangkah mendekat ke ayahnya dengan gaun rumit. Gadis itu menyentuh pelan pundak Adams membuat pria cukup berumur itu tersentak lalu menoleh.


“Papa…”


“El, ada apa? Kamu mencari suami mu kan dia ada…”


Tiba-tiba Ellena meluk ayahnya hangat membuat pria itu terdiam. “Papa nangis? Apa karena Lena?”


“Nggak El, papa…”


“Tau nggak pa, alasan Lena setuju menerima perjodohan ini dan menikah dengan laki-laki pilihan papa?”


Adams menggeleng pelan.


“Itu karena Ellena mau papa bahagia. Lena sayang banget sama papa, apapun akan Lena lakuin demi buat papa bahagia.” Susah payah Ellena menahannya Lagi-lagi air mata gadis itu keluar dengan sendirinya, bahkan Ellena sudah tidak perduli jika riasannya rusak.


Adams melepas pelukannya, kemudian mengusap air mata yang mengalir dipipi putrinya. “Lalu bagaimana dengan mu? Tidak adil jika hanya memikirkan kebahagiaan papa sedangkan kamu tidak El.”


Bohong jika Ellena bahagia, bohong jika Ellena mengingkan semua ini. Tidak.


Untuk sesaat Ellena terdiam kemudian mengembangkan senyuman lepas seperti biasnya. “Kenapa bertanya seperti itu? Apa karena air mata ini? Lena menangis karena terharu aja pa. Untuk pertama kalinya keluarga kita berkumpul disini. Nenek, bibi, paman, Kia, Arjuna, Naga. semua berkumpul ditempat ini mendoakan Ellena. Seandainya Lena tahu jika pernikahan ini membawa mereka kembali, sudah sejak lama Lena meminta ayah menikahkanku.” Ucapan Lena berhasil membuat Adams tertawa, pria itu menyeka air matanya kemudian mengecup kening putrinya. “Jangan mengkhawatirkan apapun lagi ayah. Ini lebih dari kebahagiaan untuk Ellena.”


Ellena tertewa miris, bahagia? Kebahagiaan seperti apa jika menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak dicintai? Laki-laki yang menatapmu dinging bahkan tidak ingin disentuh olehnya, apa seperti ini gambaran pernikahan. Padahal Ellena sangat mendambakan pernikahan penuh cinta dan kehangatan, namun semua berbading terbalik dengan ekspektasinya.


•••


“Pergi kekamar kalian! Besok pagi kita sarapan bersama.” Titah Julian, Ellena sendiri sudah lelah apalagi dengan gaun juga high heels yang sudah ia pakai berjam-jam.


Disilan sepasang pengantin baru itu, didepan sebuah ranjang besar yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar merah dengan aroma lebih wangi dari sekedar bunga.


“Hanya ada satu tempat tidur, bagaimana ini?” Ellena memutar badannya menatap Raja, sorot mata laki-laki itupun menatap Ellena.


“Apanya yang bagaimana? Gue tidur di kasur.” Ucapnya.


“Terus aku bagaimana?”


“Ya mana gue tau lo mau tidur dimana? Kasur ini milik gue.”


“Tapi ini juga kamar aku, lihat!” Ellena mengambil selembar kertas yang sengaja pihak hotel siapkan sebagai ucapan kebahagiaan atas pernikahan mereka. “Itu juga.” Ellena kembali menunjuk handuk yang sengaja dibentuk menyerupai angsa yang ada ditengah kasur, nama Ellena juga ada disana. “Jadi ini juga kamar aku.”


“Pokoknya ini kamar gue, kasur gue, bahkan hotel ini atas nama gue juga. Mau apa lo?”


“Hem…” Ellena menggeleng. “Iya senmuanya punya kamu, tapi bukankah Seharusnya kau sebagai pria sejati mengutamakan seorang gadis. Aku dikasur dan kamu di lantai.”


“Oke, malam ini kita seranjang.”


“Apa? Kamu gila. Aku tidak mau, mana bisa begitu?”


“Karena lo nggak mauc, jadi lo tidur di sopa.”


Ellena mengehelai nafasnya panjang, kali ini gadis itu mengalah lebih baim tider di shopa dibanding tidur dnegan laki-laki kepras kepala itu. Dan Untuk pertama kalinya seorang Ellena Roselyn kalah dalam berdebat. Ellena mendekat, menarik satu bantal dari atas ranjang menunju sofa kecil namun kemudian…


Ceklek…


“Kak El mau kemana?” Arabella yang entah sejak kapan membuka pintu membuat Raja yang terkejut langsung menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya, Ellena yang masih terkejud hanya bisa mematung saat Raja merangkulnya. “Kok bawa bantal?”


“Hey, kau bocah tengil. Apa tidak bisa mengetuk pintu dulu? Bagaimana jika kami sedang melakukannya, tontonan ini tidak boleh dilihat anak dibawah umur sepertimu.” Protes Raja, laki-laki itu harus waspada pada rubah kecil dihadapannya. Bisa-bisa dia menjadi intel Julian dan melaporkan semua yang Arabella lihat malam ini.


“Cihh… apa kalian akan melakukannya dengan pintu terbuka? Yang ada bukan hanya Bella yang lihat, semua pengunjung hotel ini akan juga akan singgah melihat kalian.”


Ellena berdegik ngeri mendengar pembicaraan flugar kedua saudara ini.


”Terus ngapain kesini? Bukannya tidur.”


Bella langsung menyodorkan sebuah paper back pada kakaknya.


“Lanjutkan aktifitas kalian, dan untuk mu kakak…” Arabella menggantung ucapnya sedikit khawatir, bagaimana jika rumor mengatakan jika kakaknya itu gay? Ahhhh… Tidak. Arabella cepat-cepat menggelengkan kepalnya.


“Kenapa? Apa yang kau pikirkan.”


“Jadilah laki-laki tangguh kak, jangan sampai kakak ipar mengalahkanmu.”


Kepala Raja seakan ingin pecah begitupun Ellena, gadis itu tidak sepolos wajahnya. Dia tahu apa yang Arabella maksud hingga membuat Wajahnya memerah merasakan suhu kamarnya semaki panas.


“Kakkk… kau! Arabella.”


Gadis itu keluar tanpa menghiraukan teriakan penuh amarah kakaknya. Saking asiknya tertawa gadis itu sampai tidak melihat kedepan dan menabrak seseorang.


Bruk…


.


.


.


Terdiam…


.


.


.


Tubuh Arabella yang mungil menabrak dada bidang yang hangat seperti datang dari langit dia tidak tahu sudah sejauh mana langkahnya hingga bisa bertemu dengan pria ini.


Dalam hidup, Arabella pernah tertarik pada seorang laki-laki. Tapi, dia tidak pernah melihat paras serupawan ini sebelumnya. Ternyata benar tentang keindah laki-laki itu benar ada.


“Maaf.”


Demi apapun, suara yang keluar dari bibir berisi juga memerah membuat Arabella semakin diam.


Deg


Deg


Deg


Bahkan untuk pertama kalinya jantungnya berdegub tidak karuan pada seorang pria yang dia lihat untuk pertama kalinya.


“Ya Tuhan tampannya ciptaan-Mu ini.” Gumamnya.


“Anda tidak apa-apa kan?”


Tidak hanya parsanya bahkan suaranya sangat luar biasa.


“Hey..”


“Aku tidak papa.”


Arabella mencoba mengumpulkan puing-puing kesadaran yang berhamburan.


“Syukurlah.”


Entah ini mimpi dari mana, Arabella terkejut pada pandangan menabjukan ini. Pria berparas tampan dengan tubuh yang tinggi berlalu cepat, seperti terburu-buru menghampiri seseorang yang sudah menunggunya didepan sebuah kamar.


Dalam hidup, Arabella tidak pernah percaya pada cinta pandangan pertama tapi… sepertinya kali ini gadis itu mempercayainya. Dia menyukai laki-laki yang baru pertama kali ia lihat


“Selamat datang tuan Aksel.”





Raja Oliver



Ellena



Akselio



Arabella