
Ellena menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar ketika Raja lebih dulu masuk, laki-laki itu menoleh penuh tanya. “Kenapa?”
Ellene menggeleng pelan, mau tidak mau Raja kembali melangkah keluar medekati sang istri yang masih mematung, Raja menunduk menjajarkan tingginya dengan Ellena. “Lo tenang aja gue nggak ngelakuin apapun yang lo ngga suka. Gue nggak akan maksa lo, gue juga nggak akan nyentuh lo tanpa izin.” Ucap laki-laki itu cukup berhasil membuat Ellena bernafas legah. “Udah jangan dipikirin, kita kesini karena lo takut dirimah mati lampu.” Raja merentangkan tangan menarik pergelangan Ellena untuk masuk.
“Lo bersihin diri dulu, gue pesan makanan.”
Ellena menurut, gadis itu langsung berlari kekamar mandi. Menenggelamkan tubuhnya diatas buthup dengan air hangat, gadis itu terpejam menikmati aromaterapi dari lilin. Beberapa menit berlalu Ellena membersihkan dirinya, dia keluar dari kamar mandi . Namun, sebelum itu dia berusaha menata jantungnya yang berdetak tidak karuan.
Tepat Ellena keluar Raja yang tengah duduk diatas sofa memangku sebuah mackbook, laki-laki itu mengadah dengan sebuah senyuman, dia menyingkirkan mackbook lalu melepaskan kacamata yang membuatanya terlihat sangat tampan, Ellena benar-benar dibuat tersihir olehnya.
“Kenapa diam? Sini!” Panggilnya sambil mengulurkan tangan kanan menyambut Ellena. Menariknya untuk duduk diatas sofa, Ellena duduk sedikit menjauh membuat Raja tersenyum. “Lo ganti baju! Tadi mama datang kesini dan kasi ini buat lo.” Ellena sedikit terkejud, ia menerima paperback yang Raja sodorkan untuknya.
“Mama? Dia disini? Kenapa tidak menemuiku?”
“Katanya buru-buru, lain kali dia kerumah.”
“Ya udah gantu baju dulu.” Ellena kembali berlari menuju kamar mandi, setelah membuka pakaian yang Hanin berikan, gadis itu tak mampu bahkan untuk sekedar berkedip. Bibirnya menganga tidak percaya, bagaimana bisa dia memakai baju se seksi ini didepan Raja. Gaun tidur berbahan satin dengan motif renda dibagian dadanya, belahan dadanya akan terliat sangat jelas jika ia memakainya. Ellena kembali meraih paperback itu, berharap masih ada baju yang layak pakai.
“Mama.” Jerit Ellena kesal.
Gadis itu perlahan keluar dari kamar mandi, mengintip apa yang sedang suaminya lakukan namun kali ini Ellena sedikit tidak beruntung saat Raja tiba-tiba menatapnya. “Ngapain? Lo nggak lapar?”
Untuk sesaat Ellena masih bersembunyi sampai pada akhirnya perlahan gadis itu keluar dengan gaun pink yang sangat kontraks dengan kulitnya yang putih. Raja sedikit kaget, ia mengakat tangan kiri lalu menutup bibirnya.
“Ouhh… Gaun yang cantik.” Gumamnya sedikit gugup.
‘Cantik apanya’ Batin Ellena kemudian langsung berlari meraih jaket Raja diatas sofa.
Keheningan kembali menggelentung dan kali ini sedikit menegangkan, sesekali Raja melirik istrinya yang tengah duduk menikmati siaran televisi. Jantungnya berdegub kencang, aroma wangi dan gerakan Ellena mengikat rambut membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Jiwanya bergejolak, dia segera mengalihkan pandangannya kembali ke mackbook miliknya meski saat ini konsentrasinya benar-benar buyar.
“El.” Panggilnya tanpa menoleh ke arah Ellena
“Lo mau makan?”
“Kan udah tadi.”
“Mau cemilan?” Ellena melirik kumpulan snacak tepat disampaing Raja.
Raja menurungkan pandangannya pada bibir kecil Ellena, nafas laki-laki itu seperti tertahan menahan sesuatu yang sangat berat.
“Kenapa?”
Deg
Bahkan suara Ellena terdengar sangat merdu, seperti tarikan maghnet Raja semakin mendekat hingga jarak diatara mereka begitu dekat.
“Selama ini gue udah belajar ngendaliin diri gue El, tapi kali ini gue nggak bisa.” Katanya Pelan. Ellena menelan sliva saat sadar apa yang laki-laki itu maksud.
Untuk sesaat Ellena terdiam lalu tersenyum, dia mengulurkan tangannya merapikan rambut tebal suaminya yang menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya benar-benar luar biasa secara visual, mata yang tajam namun kali ini menatap Ellena begitu sendu, alisnya, bulu mata hidung dan bibirnya.. benar-benar perpaduan yang selalu Ellena sukai.
Deg
Tangn Ellena tidak sadar mendarat telat dibibir Raja yang basah. Raja yang hanya bisa menatapnya, menurunkan tatapannya pada tangan Ellena yang menyentuh bibirnya.
“Apa aku membuat kesalahan?”
Raja menyusupkan tangan kebarnya yang dingin ke lehernya, memaksa gadis itu untuk melihatnya juga. “Hemm…” Setelah bergumam Raja melakukan apa yang Tidak Ellena pikirkan
Cup!!!
Sebuah kecupan singkat Raja berikan dibibir Ellena. Berfikir ini akan berakhir, secara mendadak saat Ellena terbungkam, Raja menundukkan wajahnya sekali lagi hingga Ellena memejamkan mata dengan pasrah. Mendaratkan ciuman diatas bibir milik istrinya mengulum begitu lembut, sunggu ini bukan ciuman pertama mereka namun Ellena masih bingung merespon setiap luma***n suaminya.
Ellena meremuk ujing baju Raja, saat laki-laki itu menurunkan kecupan itu pada leher dan sada bagian atas Ellena yang sangat putih, hingga nafas keduanya menjadi berat. Tangan kekar dipenuhi urat-urat seksi milik laki-laki itu, manarik turun tali gaun tidur istrinya dan sekali lagi Raja memberi kecupan, kali ini meninggalkan jejak kemerahan.
Ia membawa kembali tubuhnya sedikit lebih naik lalu medaratkam kembali ciumannya pada bibir Ellena, namun saat keduanya mulai tenggelam sebuah ketukan terdengar dari luar kamar.
Tok
Tok
Tok