
Didalam mobil Hanin mengelus rambut putrinya dengan lembut, tersenyum penuh bahagia. Tapi tidak dengan Ellena dia meremas gaunnya yang indah, berusaha menahan tangis dari tadi tercekak ditenggerokan.
Dia tidak bicara pada ibu atau ayahnya sejak tadi. Dan sejak turun dari mobil dia tidak mengatakan apapun. Dia bahkan melewati Elvano yang baru saja ingin menyapanya.
“El gimana ka…”
Hanin menyentuh lembut pundak putranya.
“Jangan ganggu adikmu dulu.”
Gadis itu semakin mempercepat langkahnya menuju lantai atas dimana kamarnya berada. Membanting pintu sekeras mungkin hingga ketiga orang itu saling menatap satu sama lain
“Ada apa ma? Semua baik-baik aja kan. Muka Ellena berubah jadi kotak.” Tanya Elvano menatap ayah dan ibunya secara bergantian namun keduanya memilih diam.
“Ada apa?”
“El akan menikah.
“Apa?” Pria itu kaget sangat kaget sampai kedua bola matanya hampir meloncat keluar. “Serius ma? Raja menerima perjodohan ini.”
Hanin mengangguk. “Pernikahan adikmu akan dilaksankan minggu ini. Jadi, untuk kalian berdua…” Hanin menatap tajam ke dua pria dihadapannya. “Batalkan semua kerja kantor kalian. Tidak ada yang boleh bekerja hari itu juga, tidak hanya bekerja kata bisnis tidak boleh keluar dari mulut kalian!”
“Minggu depan? Tapi ma…”
“Nggak ada tapi-tapian! Kalau kalian berdua ada janji batalkan! Inin sudah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat!”
“Iya mama.”
“Dan untuk kamu Elvano, carilah pendamping nak! Mama tahu kamu masih belum melupakan mendiang istrimu, tapi hidup terus berjalan sayang kamu butuh pendamping Vano.”
Elvano terdiam menunduk.
“Vano…”
“Iya maa, Vano akan berusaha.”
“Katakan jika kamu menemukan gadis yang cocok untukmu, papa akan segera melamarkannya untukmu.” Ucap Adams seraya merangkul putranya.
“Papa sekarang kau dipihak siapa? Mama atau aku?” Bisik Elvano.
“Tentu aku dipihak istriku.”
•••
Sedikit ragu Elvano mulai mendekati pintu kamar adiknya, mengetuk pelan lalu memutar knok pintu. Didalam sana ia menemukan Ellena sedang tengkurap diatas kasur, meenutupi tubuhnya dengan selimut warna pink.
“El..”
“Kakak jahat.” Teriak gadis itu dengan isak tangis yang sudah pecah.
“Apa salahku? Aku tidak ada dilokasi kejadian tadi El.”
Ellena sesegukan berusaha mengatur nafasnya. “Kakak bilang kalau cowok itu pasti menolak, tapi… hikss… hiks… tapi kenapa dia setuju?”
“Raja beneran setuju?”
Ellena mengangguk.
“Kok bisa?”
“Mana aku tau? Kenyataanya seperti itu dia menerima remahan rengginan dibanding serbuk berlian. Akhh… kenapa memilih aku?”
“Mungkin karena enak.” Ucapnya random. Berusaha menghibur adiknya.
“KAKAK…” Geram Ellana
“Sumpah kakak nggak tau kalau dia akan setuju menikah dengan mu El. Ini diluar ekspetasi kakak. Bagaimana bisa? Selama ini Raja menolak semua gadis, siapapun yang mendekat pasti berakhir dengan penolakan. Ini sungguh aneh.”
“Sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan.”
Elvano melangkah ke arah Ellena, duduk dikursi berbentuk tangan adiknya. “Ya mau gimana lagi, jalani saja.”
“Ishhh…”
“Ya mau bagaimana lagi, tanggal pernikahan sudah ditentukan.”
Ellena terdiam, kembali meratapi nasibnya yang malang. “Apa aku kabur aja kak?”
“Mau kabur kemana Ellena? Kota ini dikepung oleh tuan Adams bapak kita, terlebih kau calon menantu tuan Julian Argantara bukan hanya kota, negara ini ada digenggamannya. Kalau kamu kabur, calon mertuamu hanya akan menjentikkan jari dia akan menemukanmu El. Jangan ngadi-ngadi deh.”
Ellena yang baru saja ingin bersua membalas kata-kata Elvano kembali diam. “Apa? Mau keluar negri? Emang kamu berani? Paham bahasa mereka?”
Ellena menggeleng. “Kan? Lagi pula sia-sia saja Ellena. Satu saja artikel Yang grup Athena keluarkan dan disana ada wajah mu, se Asia tenggara akan tau kamu menantu Julian Argantara.”
Ellena terdiam penuh kepiluan menatap kakaknya.
“Terima saja nasibmu, lagi pula pernikahan enak kok. Apa lagi calon suami mu kaya, calon pewaris, ganteng. Kurang apa coba? Kamu hanya perlu tinggal dirumah melayaninya.”
Ellena mengehai nafasnya yang terasa sesak, kehadiran duda tua ini semakin membuat dada Ellena memanas. “Keluar!!!”
“Kenapa? Kakak datang mau ngehibur kamu El.”
“Keluar!”
“Tap…”
“KAKAK, KELUAR!” Teriak Ellena
“Okey maaf! Kakak minta maaf. Duduk dulu ya!” Bujuk Elvano.
“Nggak, kakak keluar!”
“El…”
Ellena yang masih emosional menarik paksa Elvano keluar dari kamar, mendorong tubuh kakaknya yang enggan pergi dari sana.
“El, jangan nangis dong! Biar kakak temenin ya!” Bujukan Elvano tidak berhasil ketika pintu kamar adiknya tertup kasar.
Tok
Tok
Tok
Tok
Tok
“Pergi!”
Elvano menghelai nafasnya panjang, sepertinya kali ini laki-laki itu membiarkan adiknya menyendiri untuk sementara waktu.
•••
Sepertinya perjodohan ini tidak membuat Ellena berlarut-larut dalam kesedihan, buktinya gadis itu masih menyempatkan diri ikut kumpul dengan geng motornya.
“El, lo sakit?” Bagas menepuk punggung Ellena pelan, kemudian laki-laki itu ikut didekat Ellena duduk tanpa meminta izin dulu. Laki-laki itu adalah satu-satunya anggota AEROX yang memperlakukan Ellena seperti saudara perempuannya.
Aksel yang sejak tadi diam-diam terus mengawasi Ellena ikut khawatir dengan sikap gadis itu hari ini. Lebih bayak diam dan murung.
“Nggak.”
“Lo ada masalah?”
Ellena menggelang. “Lagi nggak mood doang kok Gas.”
Bagas diam, laki-laki itu memilih memainkan ponselnya hingga suatu artikal membuatnya melonjak kaget. “Gila ini benneran?” Semua mata menatapnya penuh tanya. “Raja, Raja Oliver mau nikah.” Teriaknya. Refleks semua anggota menatap layar ponselnya kecuali Ellena, gadis itu hanya menatap Bagas penasaran.
“Wah, setelah menolak Jenifer Willian. Akhirnya dia menikah juga.” Sahut salah seorang dari mereka.
“Lo semua tau cowok itu?” Tanya Ellena lebih penasaran. Seterkanal itukah calon suaminya sampai semua anggota AEROX mengenal namanya.
“Siapa yang nggak tau Raja Oliver dinegara ini? Cowok paling populer juga calon penguasa Athena.” Balas Bagas masih fokus ke ponselnya. “Sultan nih bos. Newdaily aja imput berita ini. Kayaknya kali ini nggak boong deh.”
“Gue jadi penasaran siapa gadis yang berhasil menaklukkan hati seorang Raja? Jenifer model yang baru-baru memenangkan piala diajang bergensi dia tolak.”
“Speak bidadari tu.”
Ellena tersenyum tipis, ada sebuh kebanggan terbesit di benak gadis itu.
“El, napa lo? Senyum-senyum sendiri?”
Senyuman gadis itu seketika memudar. “Nggak…”
“Gue udah bilang, jangan bahas sesuatu nggak penting di tempat ini.” Suara Aksel berhasil membungkam semua mulut anggotanya. “Gue nggak mau dengar lagi kalian nyebut nama cowok itu.” Lanjutnya.
“Siap ketua.” Ucap mereka bersamaan.
Aksel berlalu, meninggalkan kursinya lalu masuk kedalam bengkel yang akan membawanya menuju markas AEROX. Ellena yang masih penasaran tentang hubungan Raja dan Aksel menarik paksa tangan Bagas menjauh dari tempat itu.
“Apa gue satu-satunya yang nggak tau apa-apa disini?” Tanya Ellena
“Apa-an El?
“Tentang Hubungan Aksel sama Raja.”
Bagas terdiam sejenak berfikir, mengingat kejadian ini sudah lama dan sebelum Ellena bergabung di AEROX
“Gas?”
“Serius lo nggak tau?”
Ellena menggeleng.
“Jadi selama lo jadi wakil Aksel dia nggak cerita apa-apa?”
“Nggak.”
“Kasian banget lo.”
“Bagas lo nguji gue ya.”
“Okey. Ini karena Mia.
Ellena mengerutkan keningnya penuh tanya. Mia Alexandra J gadis yang selama ini membenci Ellena tanpa mengetahu sebabnya, atau mungkin karena Ellena yang terpilih menjadi wakil kakaknya.
Bagas menarik napas panjang, menatap Ellena serius. “Selama ini Mia suka sama Raja, walau dia tau kalau laki-laki yang dia suka udah punya pacar.”
“Pacar? Cowok sialan itu punya pacar?”
Kali ini Ellena tidak bisa menyembunyikan rasa terkejud berlebihan didepan Bagas. ‘Terus ngapain dia mau nikah sama gue?’ Batinnya
“Tapi udah putus berita ini sempat gempar di Athena El. Lo kan kuliah disana El kok nggak tau?” Ucap Bagas frustasi, laki-laki itu mengakui jika Ellena memang cantik juga keren tapi kalau difikir-fikir gadis itu sedikit lemot juga.
“Jadi cowok yang anak-anak bicarakan waktu itu adalah Raja? Gue nggak tau. Lanjut.”
“Karena berita itu Mia seneng pada akhirnya dia bisa ngungkapin perasaannya juga. Tapi, Mia mendapat penolakan dan hari itu kita hampir kehilangan dia. Sejak saat itu Aksel samgat membenci Raja.
Ellena terdiam dalam waktu yang lama, kepalanya pusing hatinya tidak tenang. Sebaiknya untuk saat ini merahasiakan hubungannya dengan Raja adalah jalan terbaik Ellena.
“El”
“El”
“Ellena.” Teriakan Bagas tidak hanya meleburkan lamuan Ellena tapi juga menarik perhatian Aksel yang baru saja keluar.
“Ha? Kenapa?”
“Lo yang kenapa? Gue jadi takut sama lo El. Kesambet?”
“Nggak. Gue cabut ya! Kepala gue pasing denger lo ngoceh.”
“Ha? Balik, terus gimana motor gue? Lo janji mau bantuin.”
Gadis itu tetap berjalan tanpa menghiraukan teriakan Bagas dibelakang.