Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 1


“Ayah minum dulu!”


Julian menerima segelas air hanyat dari Arabella lalu meminumnya hingga tandas. Bella hanya bisa menghelai nafas panjang melihat ayah dan kakaknya yang tak pernah akur, padahal gadis itu hanya pergi selama seminggu tapi sudah seperti ini. Bagaiman jika Arabella pergi sebulan?


“Apapun masalahnya jangan lakukan seperti tadi. Itu bahaya untuk kesehatan ayah sendiri.”


Julian sontak mengarahkan telunjuknya pada Raja. “Ini semua karena kakakmu, ayah sudah pusing melihat tingkahnya.”


Sesaat Raja mengangkat pandangannya pada Julian kemudian kembali tertunduk kaku dengan pandangan mata kearah lain. Enggan menatap mata penuh intimidasi yang dilayangkan ayahnya. “Dia menolak semua gadis yang ayah pilihkan untuknya dengan alasan tidak jelas. Dia mengatakan mata Putri tuan Wilson sangat tajam membuatnya takut, kemudian putri Nyonya Adira hidungnya pesek itu tidak cocok diwajah bukat gadis itu, Kenya putri tuan Arkana dan hari ini dia mempermasalahkan potongan rambut putri tuan Willian. Kau ben-… akhh!” Julian kembali meringis kesakitan ia memegang tengkunya yang menegang. Mendongakt berusaha menenangkan dirinya.


“Ayah hentikan! Jika kak Raja tidak ingin jangan dipaksa. Aku tidak mau hanya karena mengurusi calon bujang lapuk ini ayah sakit. Ayah sangat berharga”


Raja melirik adiknya tajam. “Apa? Bbbb… bujang lapuk? Kau?”


”Adikmu tidak salah, benar apa yang dia katakan. Jika kau seperti ini tidak ada yang akan mau menikahimu lagi.”


Arabella tersenyum kearah kakanya penuh kemenangan.


“Bagus. Raja juga tidak ada niat untuk menikah ayah. Jadi, hentikan! Semuanya percuma saja.”


“Lalu kamu ingin apa? Selamanya seperti ini? Berharap pada sesuatu yang sudah jelas ayah tidak menyetujuinya.” Raja dia seribu kata, tangannya terkepal dibawah sana, laki-laki itu tahu arah pembicaraan Julian saat ini.


“Ayah…”


“Diam kamu! Saat ini ayah berbicara didepanmu jadi dengarkan!”


Julian menghelani napas, menumpukkan sukunya pada paha. Pria paru baya itu menatap Raja. Hingga kemudian kalimat yang mengejutkan lolos dari mulut Julian.


”Ada anak temen ayah, Ellena. Lusa kita akan menemuinya” Lanjut Julian, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Julian yang langsung turun tangan menemui gadis yang akan dijodohkan dengannya.


“Ayah , stopit. Raja sudah bilang tidak akan mau menikah dangan gadis-gadis yang ayah pilih untuk Raja. Tidak akan pernah.”


Julian mengangguk pelan, memasukkan tangannya di kedua saku celana yang ia kenakan, kakinya menyilang santai, menatap lurus kearah putranya. “Lalu kau akan menikah dengan siapa? Wanita itu?”


Atmosefer diruangan itu seketika berubah mencekam, Raja mengangkat tatapannya penuh intimidasi pada sang ayah. Melihat kebungkaman putranya Julian tersenyum miris.


“Jadi, tebakan ayah benar? Kau masih berharap pada wanita yang sudah menghianatimu?”


“Ayah ini tidak ada hubungannya dengan siapapun. Aku tidak ingin menikah karena keinginan ku, lagi pula Raja masih fokus dengan perusahaan juga kuliah magisterku belum selesai.”


”Itu karena kesalahan mu sendiri yang selalu menunda pendidikanmu.” Julian melirik kearah Bella sakras. “Katakan, berapa umur kakakmu?”


”Tiga puluh.”


”Kamu dengar Raja. Ayah masih memakluminya tapi, mengenai gosib kamu seorang gay ayah tidak terima. Bahkan dewan direksi mengadakan rapat secara tiba-tiba karena masalah ini. Mereka tidak manginginkan calon pewaris yang memiliki kelainan seksual, itu akan memperburuk citra perusahaan.”


Raja menghelai nafasnya panjang, hanya karena laki-laki itu tidak memiliki kekasih diusia yang cukup matang bukan berarti dia penyuka sesama jenis.


“Ayah itu hanya gosib. Aku normal.”


“Raja tidak mau.”


“Jadi, benar gosib itu?”


Bella yang sejak tadi begitu antuasias menunggu jwaban kakaknya. “Tidak ayah, aku normal. Hanya tidak ingin menikah jangan memaksaku!”


“Itu artinya kak Raja benar-benar gay.” Gumam Arabella melemas.


“Diam Ellena.”


“Bagaimana aku tidak berfikri seperti itu, kakak tidak mau menikah, menolak semua gadis yang ayah jodohkan dan Selama ini kak Raja hanya bergaul dengan Leo dan om Edwar. Gimana kita nggak mikir kayak gitu.”


Raja mengerang, mengangkat telunjuknya pada Arabella. “Kau gadis nakal, sekarang berada dipihak siapa?”


“Tentu aku selalu dipihak ayah.”


”Sudah.” Ucap Julian. “Sebelumnya ayah sudah katakan, temui gadis bernama Ellena Roselyn. Ayah sudah memutuskan menjodohkan mu dengannya. Ini muttlak tidak ada penolakan.”


Raja kalah, laki-laki itu hanya bisa diam menerima semua keputusan Julian. Lain halnya dengan Arabella, gadis itu seolah memikirkan sesuatu yang sulit.


“Ellena, Ellena Roselyn Hazelt Kheil?”


Julian mengangguk saat nama itu terlontar di bibir Arabella.


”Ya, dia putri teman ayah. Kau mengenalnya Bella?”


Arabella menggeleng cepat dengan senyuman memaksa. “Tidak ayah, Bella hanya pernah dengar namanya.”


Gadis itu memalingkan wajahnya enggan menatap Raja yang sejak tadi menatapnya sakras, seolah menyedilik wajah gusar adiknya. Dari sekian banyak gadis di kota ini kenapa harus Ellena yang akan menjadi kandidat calon istri untuk kakaknya. Tak sekalipun hilang dibenak Arabella saat dia melabrak Ellena hanya karena kesalah pahaman kecil. Gadis itu sangat malu bahkan hanya sekedar mengingatnya saja.


Beberapa menit berperang dengan kepalanya sendiri Arabella bangun dari duduknya, menatap sang ayah dengan senyuman. “Karena ayah dan kakak sudah baik-kan, Bella mau pergi dulu.”


“He. mau kemana?” Tanya Raja tajam.


“Kekampus, Bella ada kuliah.“


“Bella, kau baru tiba setelah perjalan jauh. Apa kau tidak capek?”


Arabella menggeleng pelan. “Nggak, Bella nggak mau kaya kakak. Udah tua masih jadi mahasiswa.” Gadis itu melangkah keluar setelah melontarkan ejekan pada Raja.


“Dasar bocah tengil.”


Raja Oliver Argantara