
Hari berlalu begitu cepat dan Ellena masih seperti sebelumnya, duduk merenung didalam kamar padahal hari ini adalah hari pelaksanaan pernikahannya.
Dengan baju pengantin yang begitu indah, dia duduk menghadap cerimin dengan wajah yang muram menatap bayangannya. Gaun putih yang indah
membentang, kilatan pada mutiara-mutiara yang menghiasi tile-tile luaran, menggambarkan betapa harganya begitu melangit. Tapi itu tidak ada artinya untuk Ellena.
“Kak Ellena.”
Ellena menoleh ketika seseorang memanggil namanya. Untuk sesaat Arabella terperangah saat melihat calon kakak iparnya untuk pertama kali. Tak ada kata yang bisa gadis itu ucapkan selain decaatankekaguman yang melangit.
“Udah dimulai ya?”
Suara lembut Ellena meleburkan lamuan Arabella. “Iya, aku mau jemput kak El masuk ke Aula pernikahan.”
“Ya udah yuk!” Ellena meraih tangan Arabella, sebeleum melangkah keluar namun langkah keduanya terhenti saat seorang pria dengan jas lengkap berwarna navi memblokir jalan keluar. Pria dengan air mata tersenyum haru melihat adik yang dulunya hanya sebesar genggamannya kini benar-benar akan menjadi seorang istri.
“Kak Vano.”
Ellena melepaskan genggamannya pada Arabella kemudian merentangkan tangan menyambut kedatangan Elvano. Sedikit memalukan namun pria itu tidak bisa menahan rasa harunya, ia melangkah lalu memeluk adik satu-satunya yang akan memulai hidup baru. Air matanya tak terbendung lagi
“Masih marah?”
“Ngapain?” Balas Ellena. “Marah nggak ada gunanya juga kok. Pada akhirnya Lena menikah juga kan.”
Elvano melepas pelukannya, menatap mata adiknya yang indah. “Mau nangis.”
“Udah capek.” Balasnya dengan senyuman memaksa.
“Mau tau alasan kenapa kakak nggak pernah nentang rencana papa sama mama ngejodohin kamu, kenapa kakak nggak pernah mempermasalahkan siapa laki-laki yang akan menikahimu.?”
Ellena menggeleng.
“Karena orangnya adalah Raja. Kakak percaya padanya, dia pasti akan menjaga dan melindungimu El. Jadi jangan pernah berfikir bahwa kau gadis tidak beruntung, karena menikah diusia mu yang mudah yakinlah dibalik semua yang terjadi Tuhan sudah mengatur segalanya untukmu.” Kata-kata Elvano berhasil membuat mata Ellena menganak .
“Hentikan! Jangan bicara lagi kak. Aku tidak mau tampil jelek didepan semua orang karena makeup Lena luntur.”
Elvano terkekeh. “Kakak pikir kamu tidak mau jelek didepan calon suamimu El. Secara Raja itu ganteng, banyak yang mau sama dia.
“Kalau itu biarin. Mau Lena jelek atau nggak. Lena nggak peduli.”
Elvano menyapu setets air mata adiknya yang berhasil jatuh lalu berkata. “Berbahagialah adik kecilku.”
•••
Berulang kali Ellena menghembuskan nafasnya didepan pintu Aula, gadis itu gugup sangat gugup. Entah tiba-tiba suhu diruangan itu berubah seperti di kutub utara.
“Kak El gugup ya? Perasaan kak Ellena adalah wanita tangguh yang berhasil menaklukkan arena balap tapi kebapa sekarang berbanding terbalik?”
“Aku?… Aku gugup?” Suaranya terputus-putus saat mengatakan itu.
“Bella, kamu nggak papa kan?”
“He? Kak.” Bahkan Wajah Arabella tiba-tiba berubah pucat pasih.
“Kamu sakit? Duduk dulu yuk!”
Arabella menggelang pelan. “Nggak, aku tidak papa. Bella kuga heran kenapa tiba-tiba gugup begini, padahal kak El yang mau nikah.”
Arabella mengerang frustasi, sejujurnya sejak tadi gadis itu merasakan ke-khawatiran berlebih. ini semua karena Raja sering membuat masalah jika itu menyangkut sebuah pernikahan. Bagaimana jika saat pintu terbuka kakaknya tidak ada didepan Altar, atau laki-laki itu kabur sebelum acara dimulai? Ellena pasti menanggung rasa malu.
“Kamu yang nguatin, kamu sendiri yang gugup.” Ellena menggenggam erat tangan adik iparnya. “Kamu bilang aku cantik kan.”
“Sangat.”
“Menurutmu apa kakakmu itu akan kabur dipesta pernikahan ini.”
Bella menoleh mentap senyuman Ellena. “Nggak, hari ini kakakku akan menika. Jika dia kabur, Kak Raja akan menjadi laki-laki paling bodoh karena meninggalkan istrinya secantik kak El.”
Kreekkk
Kemudian pintu Aula terbuka lebar tanpa sebuah aba-aba. Benar yang dikatakan Arabella, kecantikan Ellena berhasil membua semua tamu undangan terpukau dengan kecantikan yang luar biasa, garis hidung dan senyumanya, sidut bibir dengan kecantikan yang luar biasa, dengan mata bulan yang menawan manjadi saksi hari ini. Tak ada satupun yang tahu jika pernikahan ini terjadi karena sebuah perjodohan, langkah Ellena bersama gaun menjuntai panjang menyapu jalan yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar terlihat bagai kilaun berlian di malam yang gelap. Ellena terus berjalan dengan senyuman bahagia penuh kepalsua, mau bagaimana lagi. Menangis tidak ada gunanya, toh pada akhirnya dia akan tetap menikah. Setidaknya suaminya adalah pangeran tampan.
Saking sibuknya menganggumi kecantikan Ellena tak ada yang menyadari jika saat ini ada satu pria yang takkala terkesima dengan kecantikan seorang gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Pandangan pria itu bahkan tidak bisa untuk sekedar berkedip, dia terkunci pada sebuah pusaran yang berusaha ia lawan.
Kesadaran Raja baru kembali saat Ellena kini berdiri disampingnya. Memulai semua proses pernikahan hingga sebuah kata-kata yang keluar dari mulut mc acara ini membuat Ellena menahan nafas.
“Sekarang, mempelai pria boleh mencium pengantin wanita.”
Ia menatap kedua netra Raja. Bagaimana cara laki-laki itu menatapnya bukan seperti seorang suami yang baru mengucapkan ikrar janji suci melainkan dengan sorot mata dingin dan tak tersentuh. Namun Ellena tidak perduli, memang tidak ada yang menginginkannya kan.
“Raja, kiss your wife.” Bisik seseorang dibelakang.
Ellena merasakan jantungnya sedikit berdebar, tepat kerika Raja mendekatkan diri. Ellena hanya bisa terpejam saat Raja mengecup keningnya lembut. Suara gemuruh tepuk tamgan terdengar penuh kebahagiaan namun itu bertolak belakang dengan apa yang terjadi, Raja juga Ellena sama-sama tertekan.
“Sekali lagi selamat ya adikku Ellena. Jangan pikir kau sudah menikah akan bebas dari pandanganku. Tentu tidak” Ellena hanya membelasnya dengan senyuman. “Raja gue titip adik gue, dia itu suka makan jadi siap-siap aja kantong lo kering.” Lanjut Elvano, membuat seutas senyuman terrtarik diwajah Raja untuk pertama kalinya
“Kak Raja.” Kali ini Arabella menghambur dipeluka kakaknya. “Tumbuhlah menjadi pria sejati, jangan menyusahkan ku lagi. sekarang kakak sudah menikah.”
“Kapan aku menysahkanmu?”
“Tadi, nggak inget ap…” Raja membungkam mulut Arabella kuat. “Aaa…”
“Raja berhenti mengganggu adikmu! Ingat kamu sudah menikah.” Julian menepuk pundak putranya pelan. “Ayah senang melihatmu menikah hari ini. Sekarang kamu memiliki lebih besar tanggung jawab dari sebelumnya. Ellena, saat ini dia tanggung jawab penuhmu nak.”
Silih berganti seluruh keluarga mengucapkan selamat dan doa saat Ellena hendak kembali duduk sebuah tangan menariknya lalu memeluk hangat.
Hanin berdiri didepan putrinya, meletakkan kedua tangannya pada pipi Ellena yang dingin. “Ellena, boleh mama titip pesan untukmu?” Ellena tidak bisa menahan ini., bibirnya bergetar sekali karena menahan tangis sejak tadi hampir tumpah. Didepan semua orang Hanin memeluk putrinya, dengan tawa dan tangis bersamaan dia berbisik.