
Mulai hari itu, Perguruan Pedang Perak menutup diri selama 5 pemimpin mereka berlatih ilmu yang di dapat dari dalam bilah Pedang Perak.
Masing-masing mencoba untuk memahami semua kata yang di tulis dalam lontar lempeng kuningan yang mereka pelajari. Kelimanya berlatih di bukit kecil yang ada di belakang Perguruan Pedang Perak.
Sedangkan Arya Pethak dan kawan-kawan nya demi membantu kelancaran pelatihan mereka selama 1 purnama berdiam di dalam Perguruan Pedang Perak. Oleh Rara Pujawati, Jalak Biru, Wironegoro, Kayuwangi dan Tunggul Wulung mereka di mohon bantuannya untuk menjaga perguruan itu selama mereka berlatih. Meski awalnya Arya Pethak sedikit keberatan karena ingin cepat pulang ke Kadiri, namun dia juga tidak tega melihat permohonan kelima orang itu. Maka dengan di temani oleh Sekarwangi, Paramita dan Klungsur, dia menjaga keamanan Perguruan Pedang Perak.
Seorang empu terkenal di datangkan dari Desa Karangrejo, untuk menempa kembali Pedang Perak dan Pedang Setan yang patah. Mereka berusaha keras untuk menyambung kembali bilah pedang pusaka nya.
Di samping itu, Arya Pethak juga mempelajari ilmu yang di dapat dari dalam bilah Pedang Setan. Tahap demi tahap di lalui Arya Pethak sembari menunggu masa pelatihan Rara Pujawati dan kawan-kawan nya selesai.
**
Dewi Ular Siluman yang luka parah setelah pertarungan sengit dengan Arya Pethak tempo hari berhasil menyembuhkan luka nya di bawah bantuan adik seperguruan nya yang bernama Dewi Kembang Kenanga.
Untung saja Anjani, murid Dewi Ular Siluman tepat waktu menyelamatkan nyawa gurunya saat bertarung dengan Arya Pethak. Terlambat sedikit saja, sudah pasti dia tewas di tangan murid Mpu Prawira.
Dewi Ular Siluman melepaskan nafas panjang usai pernafasan nya kembali lancar dan jalur darah nya tidak tersumbat lagi.
"Guru,
Apa guru sudah benar benar sembuh?", tanya Anjani sambil menatap wajah tua Dewi Ular Siluman yang bernama asli Nyi Gitarja.
"Aku sudah sembuh Anjani..
Saat nya aku mencari pendekar muda itu untuk membalaskan kekalahan ku tempo hari", jawab Dewi Ular Siluman sambil mengepal erat.
"Duh Guru..
Bukan aku merendahkan kemampuan beladiri guru, tapi tempo hari dia membuat guru babak belur hingga nyaris tak bernyawa. Untung saja Bibi Guru Kembang Kenanga bersedia memberikan ramuan Sambung Nyawa pada guru. Jika tidak, pasti guru sudah tewas di tangan pendekar muda itu", Anjani menggeleng perlahan sembari menatap ke Dewi Ular Siluman.
"Tutup mulut mu!
Pokok nya aku harus balas dendam Anjani. Akan ku siksa pemuda tengik itu hingga dia memohon agar aku membunuh nya", Dewi Ular Siluman mendelik tajam ke arah Anjani. Perempuan muda itu hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tau bahwa Dewi Ular Siluman adalah orang yang keras kepala. Sekali memiliki keinginan harus tercapai.
"Kalau guru memaksa, aku tidak menghalangi. Namun sebaiknya guru meminta bantuan kepada orang lain untuk mengeroyok pendekar muda itu.
Jika guru berangkat sendiri, takutnya malah guru yang celaka", ujar Anjani sambil menatap ke arah Nyi Gitarja alias Dewi Ular Siluman.
"Hemmmmmmm...
Ucapan mu benar juga, Anjani. Tapi aku mau minta bantuan siapa? Wara Sukesi (nama asli Dewi Kembang Kenanga) pasti tidak mau ikut campur dalam urusan ini. Adik seperguruan ku itu lebih suka melatih ilmu kanuragan nya.
Ah aku tahu. Sebaiknya aku minta bantuan pada Si Mata Malaikat. Dia berhutang budi pada ku waktu aku menyelamatkan nyawa nya dari tangan Si Tapak Kilat. Jika dia bisa membalas dendam pada kekalahan nya, pasti dia akan bersedia bekerja sama dengan ku hehehehe", Dewi Ular Siluman terkekeh kecil sambil membayangkan bahwa dia dan Si Mata Malaikat bisa menghajar Arya Pethak.
"Apa? Guru hendak ke Gunung Wilis meminta bantuan kepada kakek tua mesum itu?
Tidak tidak tidak..
Aku tidak mau. Dia selalu menggoda ku untuk menemaninya tidur. Aku tidak mau Guru", potong Anjani sambil menggoyangkan telapak tangan nya kearah Dewi Ular Siluman.
"Kau tenang saja, Anjani..
Kalau sampai dia macam macam dengan mu, akan ku potong ***********. Walaupun ilmu kami setara, tapi dia tidak bisa menahan Ajian Tapak Nagagini ku hehehehe..
Sudah jangan banyak bicara. Sekarang juga ayo kita berangkat", ajak Dewi Ular Siluman sambil melangkah keluar dari tempat kediamannya di padepokan milik Dewi Kembang Kenanga. Anjani mau tidak mau mengikuti langkah sang guru untuk menemui Si Mata Malaikat yang bernama asli Jaran Dawuk. Sebuah tongkat besi hitam kini menjadi pengganti tongkat kayu berukir ular yang telah di hancurkan oleh Arya Pethak tempo hari.
Usai berpamitan kepada Dewi Kembang Kenanga, Dewi Ular Siluman dan Anjani segera melesat cepat kearah selatan, ke lereng Gunung Wilis tempat tinggal Jaran Dawuk yang lebih dikenal sebagai Si Mata Malaikat di dunia persilatan. Seorang pendekar golongan hitam yang terkenal suka memperkosa perempuan muda, namun sangat di takuti karena Ajian Soca Dewa nya yang bisa menghanguskan tubuh seorang pendekar dengan sinar mata nya yang berwarna merah darah.
Dewi Ular Siluman dan Anjani terus bergerak cepat dengan mengandalkan kecepatan dari ilmu meringankan tubuh mereka.
Setelah satu hari satu malam mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di lereng Gunung Wilis yang merupakan gunung pembatas antara wilayah Kurawan dan Anjuk Ladang. Mereka terus bergerak menuju ke sebuah rumah kayu yang ada di salah satu lereng Utara. Rumah kayu itu sudah nampak dari kejauhan.
"Itu rumah Si Mata Malaikat, Anjani..
Ayo kita kesana", ujar Dewi Ular Siluman pada Anjani yang mengekor di belakangnya. Dua perempuan beda usia itu segera melesat cepat kearah sebuah rumah kecil yang di bangun pada diantara beberapa pohon nangka dan mangga.
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan sekitar mata menghitam mirip orang kurang tidur baru saja hendak keluar dari rumah kayu itu sambil membawa jun air. Kedatangan Dewi Ular Siluman dan Anjani cukup mengagetkan nya.
"Setan alas!
Bikin aku jantungan saja. Kau ingin aku bikin jadi ketela gosong, Gitarja?", maki lelaki tua bertubuh gempal itu segera. Tubuh tua nya masih terlihat berotot karena dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam selutut.
"Kutu busuk!
Hehehehe masih suka main ancam kau rupanya? Chuuiiiiiiihhhh...
Aku kemari bukan mencari ribut dengan mu Jaran Dawuk. Aku kemari untuk mengajak mu bekerja sama dalam balas dendam melawan si Tapak Kilat", ujar Dewi Ular Siluman sambil menyeringai lebar. Si lelaki tua bertubuh gempal itu nampak terkejut beberapa saat kemudian.
"Apa maksud dari perkataan mu ini, Gitarja?
Kau sudah tahu dimana letak persembunyian si keparat itu berada?", si lelaki tua yang tidak lain adalah Si Mata Malaikat itu menatap tajam ke arah Dewi Ular Siluman. Ada sorot mata penuh kebencian disana.
"Kalau soal itu sih belum. Tapi ada satu orang yang tahu pasti tentang keberadaan Prawira, Jaran Dawuk.
Kalau kau bersedia bekerja sama dengan ku, secepatnya akan menemukan kediaman Si Tapak Kilat", ucap Dewi Ular Siluman sambil tersenyum lebar.
"Siapa yang tahu, Gitarja?
Cepat katakan. Jangan banyak berbelit belit", Si Mata Malaikat meletakkan jun bambu pada sebelah pintu rumah kayu nya kemudian berjalan mendekati Dewi Ular Siluman dan Anjani.
"Kutu busuk!
Siapa yang bilang berbelit belit ha? Jaga mulutmu jika tidak ingin mampus di tangan ku", Dewi Ular Siluman menggeram keras.
"Hehehehe...
Kau sedang datang bulan ya Gitarja? Tidak bisa diajak bercanda sedikit saja..
Sudah cepat katakan siapa orang yang tau tempat tinggal si keparat itu? Aku sudah tidak sabar ingin segera menghajar Si Tapak Kilat", Si Mata Malaikat nampak begitu dendam pada Mpu Prawira.
"Huh jangan sombong dulu kau Jaran Dawuk. Orang yang kita temui adalah murid Prawira. Kalau kau bisa mengalahkan murid Prawira tanpa bantuan ku, aku akan mengakui mu sebagai pendekar nomor satu di dunia persilatan", ujar Dewi Ular Siluman sambil tersenyum sinis pada Si Mata Malaikat.
"Huhhhh hanya murid Si Tapak Kilat, apa hebatnya dia?
Sekarang katakan, dimana aku bisa menemui murid Si Tapak Kilat, Gitarja?", tanya Jaran Dawuk sambil menatap tajam ke arah Dewi Ular Siluman. Dia tidak senang dengan senyuman sinis Nyi Gitarja yang seakan meremehkan kemampuan kanuragan nya.
"Terakhir aq bertemu dengan nya bersama para murid Perguruan Pedang Perak.
Jika saat ini mereka masih bersama, aku yakin dia ada di perguruan itu", jawab Dewi Ular Siluman sambil menyeringai lebar melihat umpan nya berhasil menjerat Jaran Dawuk.
"Kalau begitu jangan buang waktu..
Kita berangkat ke sana sekarang", ucap Jaran Dawuk sembari melangkah masuk ke dalam rumah kayu nya. Tak berapa lama kemudian dia kembali sambil menyandang sebuah golok di pinggangnya.
Mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu. Dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, mereka melesat cepat diantara pucuk pepohonan rimbun hingga terlihat seperti terbang.
Setelah melewati dua Pakuwon yang menjadi batas timur Kadipaten Kurawan, mereka terus bergerak menuju ke arah tepi Alas Pajaran tempat Perguruan Pedang Perak berada. Saat hari sudah malam, mereka sudah dekat dengan tempat yang mereka tuju.
Di sebuah hutan kecil yang ada selatan Desa Wilangan sebelum memasuki Alas Pajaran, mereka bermalam untuk beristirahat.
Malam segera berganti pagi. Suasana dingin menyelimuti kawasan sekitar Perguruan Pedang Perak berangsur menghangat saat sinar sang Surya perlahan mulai terbit di ufuk timur.
Arya Pethak yang sudah bangun sejak tadi pagi terlihat lebih segar usai membersihkan diri di sungai kecil yang tak jauh dari Perguruan Pedang Perak.
Arya Pethak terus melangkah menuju ke arah serambi utama yang selama satu purnama ini menjadi tempat tinggal nya bersama Sekarwangi, Paramita dan Klungsur.
"Wahhh, kau nampak segar sekali Kakang Pethak..
Baru selesai mandi ya?", sapa Sekarwangi dengan ramah.
"Iya Gusti Putri...
Sudah kebiasaan dari kecil kalau pagi harus cepat membersihkan diri", jawab Arya Pethak sambil memamerkan gigi nya yang rapi.
"Hehehe baguslah kalau begitu..
Oiya Kakang Pethak sekarang tunggu disini. Aku sudah masak sesuatu yang enak untuk Kakang. Tunggu sebentar ya, aku ambilkan ke dapur", ujar Sekarwangi sambil berlalu menuju ke arah dapur. Tak berapa lama dia kembali membawa beberapa potong getuk singkong yang masih hangat, lengkap dengan taburan parutan kelapa diatas pinggan.
Klungsur yang baru saja dari belakang langsung ikut bergabung dengan mereka, begitu pula dengan Paramita yang baru kembali setelah memetik beberapa bahan obat. Mereka sarapan pagi dengan gembira.
Saat mereka tengah asyik sarapan sambil mengobrol, terdengar suara keras yang membuat telinga berdenging sakit.
"Murid Si Tapak Kilat,
Keluar kau! Jangan bersembunyi di balik pagar! Kalau tidak keluar, akan ku ratakan perguruan ini dengan tanah!"
Mendengar ucapan itu, Arya Pethak segera melesat cepat kearah pintu gerbang Perguruan Pedang Perak karena suara lelaki itu jelas mencari dirinya. Sekarwangi, Paramita dan Klungsur langsung berlari mengejarnya.
Sesampainya di pintu gerbang perguruan, nampak seorang lelaki bertubuh gempal bertelanjang dada tengah mencekik leher seorang penjaga gerbang dengan tangan kanan nya. Si penjaga gerbang tampak meronta berusaha melepaskan diri namun tenaga nya kalah jauh dengan si lelaki bertubuh gempal itu. Sedangkan seorang temannya tersungkur tak bernyawa di sudut gapura.
"Aku Arya Pethak, murid Si Tapak Kilat.
Lepaskan dia!", teriak Arya Pethak yang membuat si lelaki tua bertubuh gempal itu segera menoleh ke arahnya.
"Melepaskannya?!
Akan ku penuhi permintaan mu", ujar si lelaki tua bertubuh gempal sambil melayangkan tamparan ke arah kepala penjaga gerbang perguruan.
Brraaakkkk!!!
Si penjaga gerbang langsung tewas dengan kepala hancur berantakan. Si lelaki sepuh bertubuh gempal yang tak lain adalah Si Mata Malaikat menyeringai lebar sembari melemparkan mayat penjaga gerbang kearah Arya Pethak.
Bhhhuuuuuuggggh..
Mayat penjaga gerbang menghantam tanah di depan Arya Pethak dengan keras. Mata Arya Pethak langsung memerah karena marah besar.
"Dasar bajingan!
Kau berani sekali menghabisi nyawa seorang manusia seperti ini. Kau tidak layak untuk hidup lagi", ujar Arya Pethak sambil menatap tajam ke arah Si Mata Malaikat.
Hahahaha...
"Kau persis seperti Si Tapak Kilat. Sok membela yang lemah. Dewa sedang berpihak pada ku, hari ini kau akan ku jadikan tempat pembalasan dendam ku pada bajingan tua itu", maki Si Mata Malaikat sambil menyeringai lebar.
"Banyak omong!
Majulah kau. Pintu neraka sudah terbuka lebar untuk mu bangsat", teriak Arya Pethak sambil mulai menata nafas dan tenaga dalam nya.
Phuihhhh..
"Akan ku cabik cabik tubuh mu, pemuda tengik!", usai berkata demikian Si Mata Malaikat langsung melesat cepat kearah Arya Pethak yang sudah bersiap untuk menghadapi nya. Dia menggunakan ilmu beladiri yang di takuti di dunia persilatan, Ilmu Silat Malaikat Maut.
Tangan kanannya yang berbentuk cakar terayun cepat kearah Arya Pethak.
Shrraaaakkkkhhhh!!
Dengan cepat Arya Pethak berkelit, sembari hantamkan tangan kanannya ke arah perut Si Mata Malaikat. Kakek tua itu segera menyambut serangan itu dengan tapak tangan kiri nya.
Blllaaaaaarrr!!
Arya Pethak terdorong mundur beberapa langkah begitu juga dengan Si Mata Malaikat. Namun murid Mpu Prawira itu segera melesat cepat kearah Si Mata Malaikat dengan Ajian Langkah Dewa Angin nya. Gerakan ini sukar untuk diikuti oleh mata awam.
Satu tendangan keras kearah perut membuat Si Mata Malaikat harus berguling sambil menghantamkan tangan kanannya yang sudah di lapisi tenaga dalam tingkat tinggi.
Whuuussshh..
Serangkum angin dingin berdesir kencang kearah perut Arya Pethak. Dengan bantuan kaki kanan nya yang menjejak tanah dengan keras, tubuh Arya Pethak melenting tinggi ke udara menghindari serangan itu.
Usai bersalto sekali, Arya Pethak meluncur turun ke arah Si Mata Malaikat sambil menghantamkan tapak tangan kanan kiri nya kearah Si Mata Malaikat yang baru saja bangun.
Pendekar golongan hitam itu segera menyambut serangan Arya Pethak dengan kedua tapak tangannya.
Plakk plaaaakkkk..
Blaaammm blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan keras terdengar saat dua telapak tangan mereka beradu. Arya Pethak melenting tinggi kemudian mendarat sejauh dua tombak dari Si Mata Malaikat sedangkan kakek tua bertubuh gempal itu terdorong mundur beberapa tombak.
Tangan Si Mata Malaikat terasa linu. Ini membuktikan bahwa tenaga dalam nya tidak diatas Arya Pethak. Dengan cepat ia merapal Ajian Soca Dewa andalannya. Mata nya langsung memerah dan selarik sinar merah menyala berhawa panas langsung melesat cepat kearah Arya Pethak yang baru mendarat. Melihat itu, dengan cepat Arya Pethak yang tidak punya pilihan selain menghadapi, merapal Ajian Lembu Sekilan nya.
Shhhiiiuuuuuuutttt...
Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!
Melihat lawan tidak bisa menghindar dari sinar Ajian Soca Dewa, Si Mata Malaikat nampak menyeringai lebar.
"Mampus kau!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beri masukan ya kakak reader semua nya..
Biar PPP lebih greget ke depannya..