
"Saya yang melakukannya, Gusti Mapatih...
Dia menggunakan ilmu sirep untuk melumpuhkan para penjaga dan orang-orang yang ada di dalam Puri Agung ini. Tadi dia sudah mengakui bahwa dia ingin membawa Gusti Pangeran Sanggramawijaya untuk di jadikan sandera. Karena dia bersikeras untuk bertarung dan tidak mau menyerahkan diri, terpaksa saya membunuh nya", ujar Lembu Sora seraya menghormat pada Mapatih Kebo Anengah Sang Apanji Aragani.
"Sudah sepantasnya bajingan ini mampus, Lembu Sora. Kau benar benar pahlawan sejati", puji Mapatih Kebo Anengah sembari tersenyum tipis.
"Hamba tidak mungkin bisa mengalahkan nya tanpa bantuan dari Kebo Anabrang dan Pendekar Arya Pethak, Gusti Mapatih", mendengar ucapan Lembu Sora, Mapatih Kebo Anengah Sang Apanji Aragani langsung menatap ke arah Arya Pethak dan Kebo Anabrang.
"Kalian juga berjasa besar dalam upaya penyelamatan ini. Aku akan minta Gusti Prabu Kertanegara untuk memberikan hadiah besar kepada kalian berdua", sambung Mapatih Kebo Anengah yang membuat Kebo Anabrang dan Arya Pethak menghormat pada sang warangka praja Singhasari segera.
Usai memerintahkan kepada para prajurit untuk menyingkirkan mayat Mahesa Rangkah dan para pengikutnya, Mapatih Kebo Anengah meninggalkan Puri Agung Dyah Lembu Tal.
Malam itu usai upaya penculikan Raden Wijaya terulang lagi, suasana Puri Agung menjadi tegang. Penjagaan menjadi ketat dengan ratusan prajurit di kerahkan oleh pihak Istana Kotaraja Singhasari untuk mencegah terjadinya peristiwa yang sama terulang kembali.
Malam segera berganti pagi.
2 hari sudah Arya Pethak dan kawan-kawan tinggal di Puri Agung Dyah Lembu Tal. Meski tidak ada kejadian susulan seperti tempo hari, namun suasana masih cukup tegang.
Ratusan prajurit masih di siagakan untuk berjaga jaga. Beberapa perwira rendah dan menengah silih berganti menjaga kediaman Dyah Lembu Tal itu sesuai pengaturan dari Mapatih Kebo Anengah.
Kemarin Arya Pethak, Kebo Anabrang dan Lembu Sora di panggil ke istana Kotaraja Singhasari oleh Maharaja Kertanegara.
Atas jasanya kepada Kerajaan Singhasari, Lembu Sora memperoleh hak kepemilikan atas tanah tempat kelahirannya. Dia di bebaskan dari pajak bumi dan semua hasil bumi menjadi milik Lembu Sora. Jabatan nya pun di naikkan menjadi Mantri setingkat Demung yang mengurusi urusan persenjataan para prajurit Singhasari.
Kebo Anabrang mendapatkan anugerah kepangkatan sebagai Juru Prajurit di Kotaraja Singhasari. Dia berhak memimpin 500 prajurit di bawah pimpinan nya serta mendapatkan tanah seluas 300 depa sebagai tempat nya membangun rumah di barat Puri Agung Dyah Lembu Tal untuk mempermudah tugas nya.
Sedangkan Arya Pethak yang menolak hadiah tanah, memperoleh ganti nya dengan 500 kepeng emas, 10 lembar kain sutra halus dari China dan 1 lencana perak bergambar burung garuda yang mengijinkan nya masuk ke istana manapun tanpa pemeriksaan. Mereka semua menerima hadiah besar itu dengan penuh kegembiraan.
Klungsur sedang duduk di depan serambi balai tamu saat Arya Pethak dan Anjani serta Nay Kemuning berjalan kearahnya. Nirmala menyusul di belakang mereka.
"Ndoro,
Kita pulang saja ke Kadiri yuk. Aku tidak kerasan di tempat ini. Terlalu ramai dan selalu ada yang punya alasan untuk membuat kekacauan.
Aku sudah kangen sama bapak ku yang tukang rawat kuda di istana Kepatihan", ujar Klungsur sembari menatap ke arah langit biru yang sebagian tertutup mendung tebal berwarna hitam tanpa memandang ke arah Arya Pethak. Bibirnya manyun seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Pasang tampang jelek begitu, siapa yang mau berteman dengan mu?
Rubah wajahmu seperti sedia kala sekarang kalau tidak aku tidak akan memberi tahu mu berita penting", ucap Arya Pethak sambil tersenyum menggoda Klungsur.
"Memang Ndoro Pethak punya berita penting apa? Dapat hadiah lagi dari Gusti Maharaja Kertanegara?", kali ini Klungsur menoleh ke arah Arya Pethak dan para gadis cantik. Wajahnya masih tetap lesu tak bersemangat.
"Ah malas bicara dengan mu Sur, wajah mu seperti orang kebelet buang air besar begitu", Arya Pethak membuang muka.
"Aduh Ndoro Pethak pakai ngambek segala..
Ini Klungsur sudah senyum ini lihat Ndoro", Klungsur memaksakan wajah nya untuk tersenyum. Namun bukannya terlihat sedap dipandang mata malah terlihat seperti wajah orang yang aneh. Arya Pethak dan semua gadis tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata melihat wajah Klungsur.
"Yah malah ketawa lagi..
Ah semuanya benar-benar menyebalkan. Aku tidak akan bicara lagi dengan kalian", omel Klungsur setelah mendengar kawan kawan nya tertawa.
"Habis wajah mu mirip sekali dengan wajah keledai Sur hahahaha..
Anjani , coba kau ceritakan pada Klungsur tentang apa yang aku minta dari Gusti Lembu Tal tadi malam?", Arya Pethak mengalihkan pandangannya pada Anjani.
"Ehhemmmmmmm...
Begini Sur, Kakang Pethak semalam sudah minta ijin sama Gusti Lembu Tal bahwa pagi ini akan pulang ke Kadiri. Dan beliau sudah memberikan izin kepada Kakang Pethak dan kita semua", ujar Anjani yang langsung membuat Klungsur terlonjak dari tempat duduknya. Saking senangnya, kepala Klungsur sampai membentur tiang serambi karena tindakan konyolnya yang melompat kegirangan usai mendengar ucapan Anjani.
"Aduh biyung..
Kog bisa sih apes begini?", Klungsur langsung mengelus kepala nya yang benjol sebesar telur burung dara.
"Bo'abo'..
Ba'na benar benar bikin malu sengko. Seperti anak kecil yang dapat gula-gula saja", omel Nirmala yang melihat Klungsur mengelus kepala nya yang benjol.
"Kau ini, melihat calon suami menderita malah di maki..
Mana rasa kasih sayang mu pada ku Nirmala? Aku mulai berpikir untuk membatalkan rencana menikahi mu bila kau terus begini", gerutu Klungsur dengan bersungut-sungut.
Mendengar itu, Nirmala langsung mengeluarkan celurit nya dan segera mengalungkan nya ke leher Klungsur.
"Coba saja kalau berani, tak celurit leher sengko", ujar Nirmala dengan nada suara penuh ancaman.
"Iya iya bercanda Nirmala", ucap Klungsur dengan cepat.
'Dasar perempuan Songeneb, dikit dikit main celurit. Oh Dewa, apakah aku akan mati muda di tangan calon istri ku sendiri?', batin Klungsur dalam hati.
"Sudah cukup bercanda nya..
Kita tidak bisa melibatkan diri terlalu dalam di politik Istana Singhasari ini, Sur. Hari ini juga kita pulang ke Kadiri", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis. Klungsur langsung tersenyum lebar mendengar nya.
Setelah matahari sepenggal naik, Arya Pethak dan kawan-kawan nya berpamitan kepada Dyah Lembu Tal dan Raden Wijaya.
"Selamat jalan, Paman Pethak..
Semoga para Dewa selalu melindungi paman dan bibi semua nya", ujar Raden Wijaya sambil memeluk tubuh Arya Pethak.
"Terimakasih Raden..
Paman doakan semoga kelak Raden Wijaya menjadi Raja yang adil dan bijaksana", ucap Arya Pethak sambil menepuk bahu Raden Wijaya.
Usai berkata demikian, Arya Pethak segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan Raden Wijaya dan Dyah Lembu Tal sebelum melompat ke atas kuda nya menyusul Klungsur, Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala yang sudah lebih dulu naik ke atas kuda.
Mereka segera memacu kuda mereka meninggalkan Puri Agung Dyah Lembu Tal menuju ke arah barat daya.
Dua hari sebelumnya, salah satu murid Mahesa Rangkah yang berhasil meloloskan diri dari maut menghubungi adik seperguruan Mahesa Rangkah di Padepokan Gunung Arjuna untuk meminta bantuan nya membalas dendam kematian guru nya.
Apalagi mendengar cerita kalau orang yang mengalahkan Mahesa Rangkah adalah pendekar muda yang memiliki ilmu kedigdayaan Ajian Lembu Sekilan, tekat lelaki tua yang bernama Gorawangsa itu semakin besar.
Mereka segera menyiapkan diri untuk membalas dendam dengan mengatur rencana di tapal batas kota Singhasari sebelah barat laut, di sebuah rumah yang merupakan bekas kediaman Mahesa Rangkah sebelumnya.
Pagi hari itu, saat Gorawangsa dan Jalak Awu sedang berbincang dengan santai di serambi rumah besar itu, seorang lelaki muda berbaju hijau tua berlari cepat kearah mereka.
"Guru.. Guru..
Pendekar muda berbaju putih itu sudah meninggalkan Puri Agung Dyah Lembu Tal. Mereka menuju ke arah barat daya.
Seperti nya mereka menuju ke arah Kadiri lewat jalur selatan Guru", ujar si lelaki muda bertubuh ceking yang merupakan salah satu murid Padepokan Gunung Arjuna. Dia dan dua kawan nya memang di tugaskan oleh Gorawangsa untuk mengamati situasi Puri Agung Dyah Lembu Tal selama dua hari ini.
Mendengar laporan dari murid nya, Gorawangsa langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Hahahaha..
Akhirnya tikus kecil itu keluar juga dari sarangnya. Dengan begini, kita tidak perlu repot-repot mencari cara untuk menyerang masuk ke dalam Puri Agung.
Kalian semua, ayo kita kejar mereka!", teriak Gorawangsa sembari melesat cepat kearah kuda kuda yang tertambat di geladakan.
Sebanyak 18 murid Padepokan Gunung Arjuna dan Jalak Awu langsung mengikuti langkah Gorawangsa.
Sementara kelompok Padepokan Gunung Arjuna mulai bergerak, rombongan Arya Pethak dan kawan-kawan sudah keluar dari batas Kotaraja Singhasari. Mereka melintasi jalur selatan Gunung Kawi.
Hijau nya lahan persawahan di selatan Kotaraja Singhasari menjadi pemandangan yang indah perjalanan Arya Pethak dan kawan-kawan nya. Semilir angin dingin dari selatan semakin membuat suasana begitu menyenangkan.
Menjelang tengah hari, rombongan Arya Pethak telah memasuki Desa Siganggeng yang ada di tepi jalur menuju Kadiri lewat selatan.
Sepasang pendekar berbaju biru tua tengah berjalan menuju ke arah tengah Desa Siganggeng. Usia mereka masih muda, sekitar 2 setengah dasawarsa terlihat dari roman muka dan badan mereka. Yang lelaki terlihat gagah dengan ikat bahu dari kain berwarna ungu kehitaman, juga ikat kepala dengan warna senada. Kumis nya tipis dengan mata yang bening dan jernih. Sebuah pedang tersandang di punggungnya. Yang perempuan juga terlihat cantik meski tanpa riasan wajah. Dengan pakaian senada, si perempuan itu terlihat serasi dengan si lelaki dengan mengenakan pedang di pinggangnya.
Mereka segera masuk ke dalam sebuah warung makan terlihat cukup ramai di pinggir jalan raya menuju ke wilayah Kadiri.
"Ada yang bisa aku bantu, Kisanak?", tanya seorang pelayan dengan ramah pada mereka.
"Maaf Kisanak,
Kami hanya punya ini. Apa ini bisa di tukar dengan makanan?", tanya si pendekar muda sambil mengeluarkan 4 kepeng perunggu dari kantong kain lusuh miliknya.
"Hanya nasi dengan sedikit sayuran. Minum nya pun hanya air putih saja. Apa masih berminat untuk membeli makanan, kisanak?", jawab si pelayan warung makan itu sambil sedikit mengejek.
"Itu sudah cukup, Kisanak.
Kami akan menunggu makanan kami disini", ujar si lelaki itu sembari berdiri di depan meja. Pelayan warung makan itu segera berlalu menuju ke belakang.
"Maafkan aku, Nimas..
Aku belum bisa mengajak mu untuk makan enak sekarang. Guru tidak memberikan bekal perjalanan yang banyak untuk kita", ujar si lelaki itu dengan sedikit malu.
"Kau ini bicara apa Kakang? Yang penting kita masih bisa makan sekarang. Kakang jangan terlalu berkecil hati", si perempuan muda itu tersenyum tipis.
Semua pembicaraan antara mereka terdengar oleh telinga Arya Pethak yang berdiri di belakang mereka. Arya Pethak dan kawan-kawan nya langsung berhenti di depan rumah makan itu setelah Klungsur mengeluh perutnya keroncongan.
Setelah mendapatkan makanan, sepasang pendekar muda itu bergeser ke arah sebuah meja yang ada di sudut ruangan warung makan.
"Pelayan,
Aku pesan 4 potong ayam bakar, sebakul nasi dan satu porsi sayuran yang banyak.
Masalah duit kau tidak perlu khawatir", ujar Arya Pethak yang membuat sang pelayan segera beringsut mundur ke belakang untuk menyiapkan makanan pesanan Arya Pethak.
Klungsur dan yang lainnya kaget mendengar ucapan Arya Pethak.
"Buat apa Ndoro pesan makanan sebanyak itu? Ndoro Pethak lapar banget ya?".
"Bukan hanya untuk ku. Nanti kau juga tahu sendiri", ucap Arya Pethak sambil tersenyum simpul.
Setelah mendapatkan makanan nya, Arya Pethak segera membawa nampan berisi makanan itu kearah sepasang pendekar muda yang sedang duduk di pojok ruangan.
"Saudara ku,
Lama tak jumpa, kenapa kau makan tidak mengajak ku?", ucap Arya Pethak yang langsung membuat sepasang pendekar muda saling berpandangan karena mereka tidak mengenal Arya Pethak.
"Maaf Kisanak, seperti nya kisanak salah orang. Aku tidak mengenal Kisanak", ujar si lelaki muda itu segera.
"Kalau begitu perkenalkan nama ku Arya Pethak, dari Kadiri.
Siapa kalian ini?", Arya Pethak meletakkan nampan berisi makanan itu keatas meja makan.
"Aku Walang Sungsang dan ini istri ku, Niken Satyawati. Orang persilatan mengenali kami sebagai Sepasang Pedang Gunung Kawi", kata si lelaki bertubuh kekar yang mengaku bernama Walang Sungsang itu.
"Wah sepasang pendekar rupa nya, sungguh suatu keberuntungan. Karena kita sudah saling mengenal, ini adalah tanda niat baik ku berteman dengan kalian", ujar Arya Pethak sambil menyorongkan nampan yang berisi aneka makanan itu ke depan Niken Satyawati dan Walang Sungsang.
"Tapi ini..", belum sempat Walang Sungsang menyelesaikan omongannya, Arya Pethak sudah memotong nya.
"Jangan khawatir dengan pembayaran nya, aku yang traktir..
Klungsur, pesan kan aku ikan lele bakar. Aku tidak suka makan ayam bakar", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
Tak berapa lama kemudian Klungsur, Anjani, Nay Kemuning dan Nirmala ikut bergabung dengan mereka. Arya Pethak segera memperkenalkan kawan kawan nya satu persatu pada Walang Sungsang dan Niken Satyawati.
Mereka makan sembari mengobrol banyak hal. Tak terasa makanan mereka sudah habis. Saat Arya Pethak hendak berdiri dari tempat duduknya, dari arah pintu warung makan muncul puluhan orang berbaju hijau tua dengan seorang lelaki sepuh memimpin mereka.
Salah seorang diantara mereka langsung menunjuk ke arah Arya Pethak dan kawan-kawan nya yang sedang menikmati makanan di pojok ruangan warung makan.
"Guru, mereka ada disana"