
Nirmala langsung melayangkan pukulan keras kearah kepala Klungsur.
Teplakkkk!!
"Ba'na nar benar gak ada akhlak.. Masa waktu majikan bercinta malah di buat ruh taruhan ta'iye?
Kalau sampai Ro Ndoro Pethak tahu bagaimana perasaannya? Ba'na apa ndak bisa mikir?", omel Nirmala sambil mendelik tajam ke arah Klungsur.
"Kan kalau kamu gak bilang dia gak tahu, Nir..", jawab Klungsur dengan nada kalem.
"Iya ndak tahu sekarang, kalau nanti keceplosan bilang, apa ndak jadi masalah?
Cem macem lagi ngomong tak celurit sampeyan", Nirmala semakin kesal dengan sikap ngeyel Klungsur.
"Ya jangan marah dong Nir.. Aku kan cuma bercanda saja", Klungsur mencoba menenangkan hati Nirmala.
"Bercanda nya jelek, Kang..
Sengko harus berpikir ulang untuk menikah dengan ba'na", ujar Nirmala langsung melengos pergi masuk ke dalam rumah. Klungsur semakin merasa tidak nyaman dengan sikap nya sendiri. Dia menatap Nirmala yang menghilang di balik pintu rumah Mpu Prawira.
Sementara itu, pertunjukan semakin malam semakin seru. Hentakan gendang dan lincah penari tledek semakin membuat suasana semakin meriah.
Arya Pethak masih asyik melihat pertunjukan saat pinggangnya di colek Sekarwangi. Pria yang baru saja menikah itu langsung menoleh ke arah nya.
"Ada apa Sekar? Ada sesuatu yang penting?", Arya Pethak menatap wajah cantik Sekarwangi yang sedang senyum senyum manis.
"Kakang Pethak harus menentukan sekarang. Siapa yang menjadi istri pertama, kedua dan ketiga?
Kalau tidak, pasti kami akan berebut waktu untuk bersama Kakang", ujar Sekarwangi yang di sambut anggukan kepala dari Nay Kemuning dan Anjani.
Hemmmmmmm..
"Bagaimana kalau kalian saja yang mengaturnya? Aku tinggal terima beres saja", Arya Pethak tersenyum penuh arti.
Mendengar jawaban itu, Sekarwangi, Anjani dan Nay Kemuning saling berpandangan sejenak. Nay Kemuning kemudian angkat bicara.
"Karena Nay yang paling terakhir mengenal Akang Pethak, Nay jadi istri ketiga saja.
Masalah pembagian waktu Nay serahkan kepada Kakang Pethak. Yang penting adil dengan kita bertiga", ucap Nay Kemuning sambil tersenyum manis.
Mendengar perkataan itu, Anjani pun lebih ikut bicara.
"Aku jadi yang kedua saja. Lagipula aku sedang datang bulan. Jadi aku juga tidak bisa menemani Kakang Pethak untuk 4 hari ke depan", senyum terukir di wajah cantik Anjani.
"Baiklah kalau itu mau kalian. Aku jadi istri pertama, jadi aku akan mengatur waktu bersama dengan Kakang Pethak dengan seadil mungkin.
Tapi malam ini semuanya harus menemani Kakang Pethak", ujar Sekarwangi sambil tersenyum simpul menatap ke arah suami dan dua madu nya.
Mendengar perkataan Sekarwangi, Arya Pethak dan Anjani serta Nay Kemuning senyum senyum simpul.
Dan begitulah malam itu berangsur larut. Arya Pethak menggiring ketiga orang istri nya ke dalam kamar tidur nya yang sudah di siapkan sebelumnya setelah tontonan berakhir.
Diatas ranjang di taburkan bunga mawar dan melati yang membuat ruang tidur itu berbau harum. Arya Pethak segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan ketiga istrinya melepas hiasan kepala mereka sebelum menyusul sang suami ke pembaringan.
Di malam pertama mereka, Sekarwangi tidur dengan berbantal lengan kiri Arya Pethak, Nay Kemuning tidur di kanan Arya Pethak sedangkan Anjani yang paling jauh namun tangan Arya Pethak masih memegang jemari tangan Anjani.
Malam berlalu dengan cepat. Suara kokok ayam jantan bersahutan dari kandang belakang rumah Mpu Prawira menandakan bahwa pagi telah tiba. Perlahan dari langit timur, sang surya mulai menampakkan diri di seluruh permukaan jagat raya. Kicau burung kepodang dan prenjak bersahutan di atas ranting pepohonan yang tumbuh subur di lereng Bukit Kahayunan.
Kesibukan mulai terjadi di kediaman keluarga Mpu Prawira. Para perempuan termasuk Nyi Ratih dan Nirmala sudah sibuk di dapur rumah untuk mempersiapkan hidangan bagi para tamu jauh yang masih tinggal di rumah Mpu Prawira. Sedangkan beberapa orang lelaki sibuk membongkar tarub dan panggung pelaminan.
Arya Pethak menggeliat dari tidurnya. Perlahan mata pria muda itu membuka dan melihat Dewi Sekarwangi masih tertidur pulas sembari melingkarkan tangannya di dada sang suami. Sedangkan di sisi kanan Nay Kemuning pun masih nyenyak tidur. Hanya terlihat Anjani yang sedang berganti baju di sebelah ranjang. Anjani yang menyadari bahwa Arya Pethak sudah bangun, tersenyum manis pada nya.
"Sudah bangun Kakang?"
"Hemmmmmmm...
Kau bangun pagi sekali Anjani. Aku masih mengantuk", ujar Arya Pethak sambil tersenyum tipis.
"Di luar sudah ramai Kakang..
Sepertinya para tamu jauh mau pulang, jadi kita harus menemani mereka sekarang", Anjani tersenyum penuh arti sembari memasang tusuk konde ke gelungan rambutnya.
Pergerakan Arya Pethak membuat Dewi Sekarwangi dan Nay Kemuning ikut terbangun dari tidurnya. Sekarwangi menguap lebar sedangkan Nay Kemuning mengucek matanya.
"Aduh hampura Akang, Nay kesiangan..
Sebaiknya Nay bergegas mandi dulu nya", Nay Kemuning segera bergegas turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke arah tempat mandi di belakang rumah Mpu Prawira. Sedangkan Sekarwangi tersenyum tipis lalu mencium pipi sang suami sebelum menyusul Nay Kemuning.
Pagi itu mereka duduk bersama di ruang tengah rumah Mpu Prawira sembari menikmati makanan yang di suguhkan. Hadir Patih Pranaraja dan beberapa orang sanak keluarga Mpu Prawira dan Nyi Ratih.
"Selanjutnya apa rencana mu, Mantu ku? Apa kamu ingin tetap tinggal di sini atau kamu ingin tinggal di Kepatihan?", tanya Patih Pranaraja sambil menatap ke arah Arya Pethak yang duduk bersila di antara Anjani, Nay Kemuning dan Sekarwangi.
"Selepas sepekan tinggal di sini, saya berencana untuk mengantar Nay Kemuning ke Kadipaten Wengker Kanjeng Romo untuk menemui kakeknya yang konon masih hidup..
Itu sudah janji saya dengan Guru Ki Buyut Mangun Tapa dari Gunung Ciremai tempo hari", jawab Arya Pethak segera. Mendengar itu Nay Kemuning tersenyum penuh kegembiraan.
"Kadipaten Wengker ya...
Daerah Wengker itu daerah yang berbahaya, Putra Mantu. Banyak rampok dan begal berkeliaran di siang bolong. Kau harus berhati hati Pethak. Apa perlu aku siapkan prajurit Kadiri untuk mengawal kalian?", tawar Patih Pranaraja.
"Terimakasih atas perhatiannya, Kanjeng Romo Patih tapi Pethak yakin kalau kami bisa sampai dengan selamat ", jawab Arya Pethak sembari menghaturkan sembah pada Patih Pranaraja.
"Klungsur juga yakin", Klungsur membeo di belakang Arya Pethak.
"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusan mu, Arya Pethak. Aku titip Sekarwangi pada mu..
Sekarwangi, sekarang kau sudah resmi menjadi istri Arya Pethak. Kau harus jadi istri yang baik, jangan suka membantah perkataan suami mu. Kau mengerti?
Walaupun kau adalah putri Kepatihan Kadiri, segala hak atas diri mu ada di tangan suami mu. Belajar lah untuk menghargai setiap keputusan yang diambil oleh nya", Patih Pranaraja menoleh ke arah Sekarwangi.
"Sekarwangi mengerti Kanjeng Romo. Sekarwangi akan patuh kepada Kakang Pethak", Si Ragil Kuning itu segera menyembah pada Patih Pranaraja.
"Syukurlah jika kamu mengerti..
Adhi Mpu Prawira, aku tidak bisa berlama-lama di tempat mu ini Adhi. Ada tugas yang mesti aku jalankan. Aku mohon pamit pulang ke Kadiri", ujar Patih Pranaraja sambil membungkukkan badannya pada Mpu Prawira.
"Aku mengerti Kakang..
Aku berterimakasih banyak kepada Kakang Pranaraja atas kesediaannya untuk menjadikan putra ku sebagai menantu. Ku doakan semoga perjalanan pulang Kakang Pranaraja ke Kadiri selamat sampai tujuan", ujar Mpu Prawira sembari tersenyum simpul.
"Aku pamit pulang Adhi Prawira", usai berkata demikian, Patih Pranaraja beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari dalam rumah. Mpu Prawira, Nyi Ratih, Arya Pethak, Sekarwangi, Nay Kemuning dan Anjani turut mengantar kepergian sang warangka praja Kadiri yang pulang dengan iringan para pengawalnya.
Pagi itu, satu persatu para sanak saudara dan tamu jauh mulai meninggalkan Bukit Kahayunan.
Sesuai dengan adat istiadat yang berlaku, bahwa seorang pengantin dilarang untuk bepergian sebelum sepasar hari atau 5 hari berlalu sejak hari pernikahan. Maka Arya Pethak dan ketiga istrinya pun tak diperbolehkan untuk berangkat ke Wengker sebelum batas hari yang di tentukan.
Selanjutnya mereka menjalani hari-hari penuh kebahagiaan di rumah Mpu Prawira sembari menunggu waktu untuk berangkat ke Kadipaten Wengker.
Dewi Sekarwangi yang memperoleh jatah malam pertama, tersenyum penuh arti melihat sang suami sedang duduk di tepi pembaringan mereka.
"Akhirnya yang aku tunggu datang juga Kakang. Hari ini aku akan sepenuhnya bersatu dengan mu sebagai suami istri yang berbagi jiwa dan raga", ujar Dewi Sekarwangi sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Apa kau sangat mencintai ku, Sekarwangi?", tanya Arya Pethak yang ikut merebahkan diri di samping sang istri.
"Tentu saja Kakang.. Kau adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai", balas Sekarwangi sembari memamerkan senyum manis nya.
Perlahan Arya Pethak mendekatkan mulutnya ke bibir Sekarwangi. Perempuan cantik itu segera menutup mata nya dan sedikit membuka mulutnya. Dengan lembut, Arya Pethak mulai mengecup bibir istri nya itu.
Saat yang bersamaan, tangan Arya Pethak mulai bergerilya menjelajahi seluruh tubuh Sekarwangi. Satu persatu pakaian mereka mulai lepas dari tubuh. Sekarwangi terus mengerang nikmat saat bibir Arya Pethak mulai turun ke lehernya yang jenjang. Gerakan ini langsung memancarkan birahi sang putri Patih Pranaraja.
Selanjutnya hanya terdengar suara nafas berat dan lenguhan panjang penuh kenikmatan di dalam kamar tidur Arya Pethak.
Arya Pethak menggelepar ambruk di atas tubuh Sekarwangi dengan peluh membasahi tubuh nya setelah melepaskan sejuta benih cinta ke dalam rahim Sekarwangi. Nafasnya ngos-ngosan sembari memeluk tubuh polos sang istri tercinta yang tidak memakai selembar benangpun menutupi tubuh.
Dewi Sekarwangi tersenyum puas meski bibir nya tampak memucat akibat rasa sakit yang dirasakan diantara tubuh bagian bawah nya.
"Kau tidak apa-apa Sekarwangi?", tanya Arya Pethak sambil mengatur nafasnya yang memburu.
"Aku tidak apa apa Kakang.. Kakang Pethak memang lelaki perkasa", sambut Sekarwangi sambil tersenyum penuh arti.
"Kalau begitu aku mau sekali lagi, Sekarwangi", ujar Arya Pethak sambil tersenyum simpul.
Dewi Sekarwangi melirik ke arah bagian bawah tubuh Arya Pethak. Melihat benda itu, Sekarwangi menghela nafas panjang.
'Padahal baru saja lemas. Kenapa sudah keras lagi?', batin Sekarwangi.
Perempuan cantik itu hanya bisa pasrah saja saat Arya Pethak kembali mencumbui nya dengan penuh kelembutan. Aroma cinta kembali menyebar di dalam kamar tidur Arya Pethak.
Hingga menjelang pagi, mereka berulang kali bercinta dengan penuh nafsu membara.
Kokok ayam jantan bersahutan menandakan pagi segera tiba di wilayah Bukit Kahayunan. Dewi Sekarwangi tersenyum simpul menatap wajah tampan Arya Pethak yang terlelap dalam tidurnya setelah semalaman suntuk bercinta dengan nya. Putri Patih Pranaraja itu segera memakai pakaian nya dan keluar dari kamar tidur Arya Pethak untuk membersihkan diri.
Klungsur yang tumben sekali bangun pagi melihat cara jalan Dewi Sekarwangi yang sedikit berbeda dari biasanya, tersenyum simpul sembari nyeletuk perlahan.
"Ada yang belah duren semalam nih"