Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Pertapaan Giri Lawu


"Bocah bau kencur keparat!


Berani sekali kau mencoba menakuti hah", teriak Ronggo Geni dengan penuh amarah.


Tanpa memperdulikan omongan Ronggo Geni, Arya Pethak segera menoleh ke arah Senopati Dandang Mangore.


"Mohon ampun Gusti Senopati jika hamba bertindak lancang.


Siapapun yang terlibat dalam Kelompok Kelabang Ireng adalah musuh hamba", ujar Arya Pethak sambil menghormat pada Senopati Dandang Mangore.


"Apa maksud mu, Arya Pethak? Aku tidak mengerti", tanya Senopati Dandang Mangore sambil menatap heran kearah Arya Pethak.


"Para bajingan itu telah memusnahkan desa tempat tinggal kedua orang tua hamba yang hingga kini hamba tidak tahu siapa nama mereka", tanpa menoleh ke arah Ronggo Geni, Arya Pethak menunjuk ke wajah kakek tua berambut merah itu. Pemuda tampan itu segera menyarungkan kembali Pedang Setan di punggungnya.


Mendengar jawaban itu baik Senopati Dandang Mangore maupun Ronggo Geni terkejut bukan main.


Ronggo Geni langsung menatap wajah tampan Arya Pethak. Kalau di perhatikan dengan seksama maka Arya Pethak mirip dengan Mapanji Kertapati yang di bunuh oleh Kumaradewa, Sang Kelabang Ireng di desa Mondoluku sekitar 17 tahun yang lalu. Hanya Arya Pethak sedikit lebih putih daripada lelaki itu.


"Jadi jadi kau adalah putra Mapanji Kertapati dari Padepokan Padas Lintang di Mondoluku?


Bajingan itu sudah membunuh Kakang Songgolangit. Kau akan ku bunuh bocah tengik untuk membayar hutang nyawa saudara ku", ujar Ronggo Geni sambil gemeretuk gigi nya menahan marah.


Phuihhhh...


"Mau membunuh ku? Buktikan jangan cuma bisa main ancam saja. Hari ini ku pastikan bahwa markas Kelompok Kelabang Ireng di Kurawan akan rata dengan tanah", perkataan berapi-api Arya Pethak membuat Ronggo Geni marah besar.


"Kurang ajar!


Ku robek mulut mu bocah tengik!", teriak Ronggo Geni yang segera melesat cepat kearah Arya Pethak.


Tangan kanan Ronggo Geni mengincar wajah tampan Arya Pethak dengan cakar tangannya yang berkuku tajam layaknya cakar hewan buas.


Shrakkhh..


Arya Pethak berkelit ke samping hingga cakaran kuku Ronggo Geni hanya menyambar udara sejengkal dari wajah Arya Pethak. Ronggo Geni memutar tubuh dan mengarahkan siku tangan kiri nya kearah punggung. Arya Pethak langsung berguling ke tanah. Namun Ronggo Geni memburunya dengan hantaman dengkul kaki kanan nya. Dia mengincar dagu Arya Pethak.


Namun pemuda tampan itu segera berguling ke depan. Lalu mengayunkan kaki kanan nya ke arah pinggang Ronggo Geni yang pertahanan nya terbuka.


Bhuuukkkhhh..


Ougghhh!


Ronggo Geni terhuyung huyung mundur sambil memegang pinggang nya yang seperti di hantam balok kayu besar.


Senopati Dandang Mangore yang sedari tadi mengamati situasi langsung melesat cepat kearah Ronggo Geni yang sedang kesakitan. Satu pukulan keras mengarah ke arah dada Ronggo Geni namun kakek tua itu segera menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menahannya.


Dhiiieeeessshh..


Ronggo Geni terdorong mundur. Sesepuh Kelompok Kelabang Ireng itu menggeram keras lalu melesat cepat kearah Senopati Dandang Mangore usai menghentak pada tanah yang dia pijak.


Cakar tangan kanannya mengayun ke arah kepala Senopati Dandang Mangore.


Arya Pethak yang baru saja bangkit langsung menerjang maju ke arah Ronggo Geni sembari membuat tendangan melingkar ke arah kepala Ronggo Geni.


Whuuthhh


Ronggo Geni tarik cakar tangan kanannya. Di bermaksud menyambar tubuh Arya Pethak namun satu tendangan keras dari Senopati Dandang Mangore membuat nya harus merubah gerakan tubuhnya menjadi bertahan.


Dhassssss...


Ronggo Geni terdorong mundur nyaris 2 tombak ke belakang. Matanya geram menatap ke arah Senopati Dandang Mangore dan Arya Pethak yang menggabungkan kekuatan mereka.


'Kalau Dandang Mangore saja aku masih sanggup menghadapi nya, tapi anak Kertapati itu sepertinya tidak bisa diremehkan.


Aku tidak boleh gegabah', batin Ronggo Geni sambil menatap ke arah Arya Pethak yang sudah berdiri tegak. Matanya menatap tajam ke arah dua lawan di depan nya.


Ronggo Geni segera memusatkan seluruh tenaga dalam nya. Mengadu kepandaian ilmu silat dengan kedua lawannya hanya akan menguras tenaga nya. Dia tidak mau mengambil resiko lebih lama mengadu ilmu silat.


Kuku jari tangan Ronggo Geni perlahan memanjang setelah asap tipis berwarna hitam muncul dari kedua telapak tangan.


"Ilmu Jari Iblis Neraka..


Bedebah itu rupanya tidak main-main lagi", gumam Senopati Dandang Mangore. Tangan kanan Senopati Dandang Mangore segera terkepal kuat. Mata pria bertubuh kekar itu menutup sebentar, lalu muncul asap putih tipis disertai angin dingin yang menderu-deru di sekitar tangan kanan sang senopati Kurawan.


Mendengar itu, Arya Pethak segera merapal mantra Ajian Lembu Sekilan. Dia yang tidak mengenal keampuhan ilmu itu merasa perlu membuat pertahanan diri yang lebih baik. Dia kembali mencabut Pedang Setan dari punggungnya.


Usai kuku jari jemari tangannya memanjang dan menyala terang seperti api yang merah kekuningan, Ronggo Geni mendengus keras. Dengan memijak tanah dengan keras, Ronggo Geni melesat cepat kearah Arya Pethak sambil mengayunkan Cakar Iblis Neraka ke dada Arya Pethak. Cepatnya gerakan Ronggo Geni membuat Cakar Iblis Neraka menghajarnya dada Arya Pethak.


Shrraaaakkkkhhhh...


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan keras terdengar namun mata Ronggo Geni melotot lebar saat tangan kanan Arya Pethak yang memegang Pedang Setan mengayun kearah kaki.


Shreeeeettttthhh..


Sesepuh Kelompok Kelabang Ireng itu melompat ke atas menghindari sabetan pedang Arya Pethak.


Namun Senopati Dandang Mangore yang sudah bersiap langsung melompat ke atas tubuh Arya Pethak sambil menghantamkan tangan kanannya yang berwarna biru kemerahan karena Ajian Api Langit nya.


Tidak ada pilihan bagi Ronggo Geni selain membenturkan Ajian Cakar Iblis Neraka dengan tangan kanan Senopati Dandang Mangore.


Blllaaammmmmmmm!!


Baik Senopati Dandang Mangore maupun Ronggo Geni sama-sama terpental ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Pun Arya Pethak juga ikut terdorong lebih dari 2 tombak ke belakang akibat gelombang kejut yang tercipta dari benturan dua ilmu kanuragan tingkat tinggi itu.


Huooooggghhhh


Senopati Dandang Mangore muntah darah segar. Perwira andalan prajurit Kurawan itu terluka dalam cukup parah. Dia langsung duduk bersila dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Di sisi lain, keadaan Ronggo Geni pun tak lebih baik. Kakek tua berambut merah itu menghantam tanah dengan keras lalu muntah darah kehitaman. Walaupun tenaga dalam nya sedikit lebih tinggi dari Senopati Dandang Mangore namun karena daya serang Ajian Cakar Iblis Neraka baru saja berbenturan dengan dengan Ajian Lembu Sekilan Arya Pethak hingga tidak bisa mencapai titik puncak saat menghadang Ajian Api Langit dari Senopati Dandang Mangore.


Darah kehitaman terus mengalir dari sudut bibir Ronggo Geni. Meskipun demikian, kakek tua itu segera berdiri dari tempat jatuhnya dan menatap Senopati Dandang Mangore dan Arya Pethak dengan penuh kebencian.


"Ayo majulah kalian. Aku masih sanggup untuk meladeni adu kesaktian", ucap Ronggo Geni sambil mengusap darah yang keluar dari mulutnya.


Arya Pethak melirik ke arah Senopati Dandang Mangore yang memucat wajahnya. Tak ada pilihan lain kecuali menghadapi Ronggo Geni, salah satu dari 4 pimpinan wilayah Kelompok Kelabang Ireng seorang diri.


Pertarungan sengit antara pasukan Kurawan dan anggota Kelompok Kelabang Ireng terus berlangsung sengit.


Darah mulai tergenang di mana-mana. Mayat mayat entah dari pihak prajurit Kurawan ataupun anggota Kelompok Kelabang Ireng tergeletak di dalam dan di luar pagar markas Kelompok Kelabang Ireng di barat Sungai Ular. Belum lagi jerit kesakitan yang terdengar dari mulut orang yang terluka. Semua semakin menambah miris melihat itu semua.


Ronggo Geni segera menangkupkan kedua tangan nya di depan dada. Seluruh tubuh nya mengeluarkan asap tipis kehitaman. Perlahan muncul cahaya merah menyala seperti api dari beberapa bagian tubuh Ronggo Geni yang makin lama makin menyebar ke seluruh tubuh Ronggo Geni hingga terlihat seperti mahkluk halus seperti banaspati.


Itu adalah Ajian Iblis Api yang merupakan ilmu kanuragan andalan Ronggo Geni.


Arya Pethak terperanjat melihat ilmu kedigdayaan lawan. Segera dia menyarungkan lagi Pedang Setan ke punggungnya. Melawan Ronggo Geni yang sekarang, dia harus menggunakan semua kemampuan dan senjata pusaka yang dimilikinya. Usai menahan nafas sejenak, pemuda tampan itu segera mengheningkan cipta dengan tangan tertangkup di depan dada. Sinar kuning kemerahan keluar dari tubuh Arya Pethak pertanda Keris Mpu Gandring keluar dari tubuh nya.


Dengan menggunakan semua Ajian di tubuhnya, Arya Pethak siap menghadapi Ronggo Geni, salah satu dedengkot dunia persilatan golongan hitam yang banyak menebar ketakutan pada masyarakat Kerajaan Singhasari.


Mata Ronggo Geni melotot lebar melihat keris pusaka di tangan kanan Arya Pethak. Rasa serakah ingin memiliki senjata pusaka itu membuat Ronggo Geni melesat cepat kearah Arya Pethak.


Tangan kanan Ronggo Geni segera mengibaskan sebentuk api memanjang kearah putra angkat Mpu Prawira itu.


Whuuthhh..


Tak mau celaka, Ronggo Geni berjumpalitan menghindari sinar kuning kemerahan dari Keris Mpu Gandring.


Chhiiiuuuuuuuuu...


Blllaaammmmmmmm!


Usai menghindari sinar Keris Mpu Gandring, Ronggo Geni segera menghantamkan tangan kanan dan kiri nya ke arah Arya Pethak bertubi-tubi.


Whuuussshh whuuussshh whuuussshh!!


Bllaaaaaaaarrrrrr bllarrrrrrr..


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan beruntun terdengar. Namun Arya Pethak bergerak lincah menghindari serangan Ronggo Geni sambil sesekali melontarkan serangan dari Keris Mpu Gandring.


Jual beli serangan membuat tempat itu penuh dengan lobang menganga lebar akibat ledakan dahsyat yang kerap terdengar.


Gajah Wiru yang baru menebas batang leher seorang anggota Kelompok Kelabang Ireng tertegun melihat pertarungan antara Arya Pethak dan Ronggo Geni.


"Saudara Pethak benar benar hebat", gumam Gajah Wiru sambil menatap pertarungan sengit itu dari kejauhan.


Seorang anggota Kelompok Kelabang Ireng yang melihat Gajah Wiru lengah, melesat cepat kearah pemuda itu sembari mengayunkan golok nya kearah leher Gajah Wiru.


Desiran angin dingin mengancam nyawa membuat Gajah Wiru tersadar dari kekagumannya. Pendekar Pedang Merah itu dengan cepat berkelit lalu melayangkan tendangan keras kearah punggung lawan nya.


Mereka bertarung dengan sengit.


Arya Pethak melesat cepat kearah Ronggo Geni sembari menghantamkan tangan kiri nya yang dilambari Ajian Tapak Brajamusti. Sesepuh Kelompok Kelabang Ireng itu sudah tidak punya ruang untuk bergerak, memilih menghantamkan tangan kanannya ke arah tangan kiri Arya Pethak yang berwarna biru terang.


Blllaaammmmmmmm!!


Dua orang berilmu tinggi itu terpental jauh ke belakang. Meski Ajian Lembu Sekilan melindungi tubuh nya, namun Arya Pethak jatuh ke tanah dengan keras.


Darah menetes dari sudut bibir pemuda tampan itu. Dia segera bangkit dari tempat jatuhnya.


Ronggo Geni pun tak lebih baik. Dedengkot dunia persilatan itu terpelanting jauh ke belakang dan menghantam dinding pagar markas Kelompok Kelabang Ireng. Kakek tua itu muntah darah kehitaman. Beberapa tubuhnya tidak lagi mengeluarkan sinar merah menyala seperti api.


Dia berusaha bangkit. Meski sedikit sempoyongan, dia berhasil berdiri. Arya Pethak yang melihat lawan bisa berdiri langsung melesat cepat sambil menusukkan Keris Mpu Gandring kearah Ronggo Geni. Sinar kuning kemerahan melesat cepat kearah Ronggo Geni.


Chhiiiuuuuuuuuu...


Ronggo Geni mencoba untuk menahan sinar kuning kemerahan dari Keris Mpu Gandring. Namun dia salah perhitungan kali ini.


Dhhhhuuuaaaaaarrrrrrr!!


Ledakan dahsyat terdengar. Tubuh Ronggo Geni hancur berantakan menjadi beberapa bagian. Dedengkot dunia persilatan itu tewas mengenaskan di tangan Arya Pethak.


Melihat lawan nya tewas Arya Pethak segera menyimpan Keris Mpu Gandring di dalam tubuhnya.


Zzzrrrrrrrrttttthhhhh!


Keris pusaka itu kembali ke dalam tubuh Arya Pethak. Pemuda tampan itu langsung limbung. Saat hendak menyentuh tanah, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah Arya Pethak.


"Hemmmmmmm...


Pemuda yang hebat. Layak untuk dijadikan sebagai murid ku", ujar si bayangan putih itu yang segera melesat cepat kearah selatan dengan membawa Arya Pethak.


Sebelum jauh, sebuah daun lontar melesat cepat kearah Senopati Dandang Mangore yang berusaha bangkit dari tempat duduknya.


Shreeeeettttthhh..


Dengan lihai, Senopati Dandang Mangore menangkap daun lontar itu segera. Selarik tulisan tertera di sana.


'Jangan khawatir. Dia aman bersama ku'


Demikian bunyi tulisan di atas daun lontar itu. Senopati Dandang Mangore mengenali tulisan itu. Dia tersenyum tipis.


Siang itu markas Kelompok Kelabang Ireng di Kurawan musnah di tangan para prajurit Kurawan. Senopati Dandang Mangore memerintahkan kepada para prajurit untuk membakar tempat itu. Asap tebal mengepul dari atap bangunan dan dinding kayu yang terbakar.


Sekarwangi dan Paramita yang mencari Arya Pethak langsung di hentikan oleh Senopati Dandang Mangore.


"Kawan mu akan baik baik saja, Nisanak..


Kau tidak perlu khawatir", ujar Senopati Dandang Mangore sambil tersenyum tipis.


"Darimana Gusti Senopati tahu kalau Kakang Pethak baik-baik saja?", tanya Sekarwangi yang terlihat begitu cemas dengan hilangnya Arya Pethak.


"Sudah kalian jangan banyak tanya. Tunggu saja di Kadipaten Kurawan.


Aku yakin sepekan lagi dia sudah kembali bersama kalian", jawab Senopati Dandang Mangore yang melangkah menuju ke arah Sungai Ular, meninggalkan bekas markas Kelompok Kelabang Ireng yang terbakar api.


Sekarwangi, Paramita, Gajah Wiru dan Klungsur tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti langkah sang perwira tinggi prajurit Kurawan itu. Mereka hanya berdoa semoga Arya Pethak baik-baik saja.


Bayangan putih itu terus melesat cepat layaknya terbang diantara pepohonan yang tumbuh lebat di kawasan lereng timur Gunung Lawu.


Di sebuah pertapaan yang dihuni oleh beberapa orang, si bayangan putih itu menghentikan gerakannya dan melayang turun. Beberapa orang yang menghuni tempat itu segera mendekati si bayangan putih.


"Kakang Resi Jathayu,


Siapa orang yang kau bawa ini?", tanya seorang lelaki sepuh pada si bayangan putih yang ternyata adalah seorang lelaki tua berambut putih dan berjenggot panjang. Kakek tua itu adalah Resi Jathayu, pimpinan Pertapaan Giri Lawu.


Resi Jathayu tersenyum tipis sembari meletakkan tubuh Arya Pethak yang pingsan di lantai sanggar pamujan. Lalu tersenyum pada kakek tua yang bertanya kepada nya.


"Dia akan menjadi murid ku"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙, dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁