Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka
Resi Mpu Dharma


Tunggul Manik mendengus keras sembari mengusap darah yang meleleh di sudut bibirnya.


"Siapa kau? Mengapa ikut campur urusan ku?", Tunggul Manik menatap tajam ke arah bayangan putih yang tak lain adalah Arya Pethak.


"Aku Arya Pethak, hanya seorang pengelana yang lewat tapi tidak suka melihat penindasan terhadap orang tua.


Enyahlah dari sini jika tidak ingin aku hajar", ujar Arya Pethak yang menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.


"Kau menghajar kami?


Hahahaha....


Benar benar bodoh. Tua bangka keparat itu saja dengan murid nya tak sanggup mengalahkan kami, apalagi cuma kau yang seorang diri? Lucu sekali. Kau juga bisa menjatuhkan ku karena kau main belakang, kalau sama sama siap, kau tidak akan bisa bertarung lebih dari dua kurus, pemuda tengik!", Tunggul Manik mendengus dingin.


"Kalau begitu kenapa tidak kau jatuhkan aku dalam dua jurus sekarang?


Aku ingin sekali melihatnya ", Arya Pethak tersenyum mengejek.


"Keparat!


Bosan hidup kau rupanya. Aku akan menghajar mu!!!", usai berkata demikian, Tunggul Manik langsung melesat ke arah Arya Pethak.


Whhhuuuggghhhh!!


Kurang dari sejengkal pukulan keras Tunggul Manik mendarat, tubuh Arya Pethak mendadak lenyap dari pandangan bersama angin yang berhembus pelan.


Mata Tunggul Manik membeliak lebar melihat lawannya menghilang. Dengan cepat ia memutar bola matanya mencari keberadaan Arya Pethak.


"Tunggul Manik, di belakang mu!!"


Teriakan Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh membuat Tunggul Manik dengan cepat memutar tubuhnya dan kembali melayangkan pukulan keras kearah Arya Pethak yang tersenyum tipis melihat pergerakan Tunggul Manik.


Whhhuuuuuttttthhhh!!


Lagi-lagi tubuh Arya Pethak menghilang dari pandangan mata Tunggul Manik. Semua orang terkejut melihat kemampuan ilmu kanuragan Arya Pethak yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Ilmu yang merepotkan uhuk uhuukkkk", ujar Resi Mpu Dharma yang di dengar oleh Lembu Bungkul dan Rara Maheswari.


"Apa maksud ucapan guru? Ilmu apa itu?", tanya Rara Maheswari pada gurunya yang sedang batuk batuk kecil.


"Itu adalah Ajian Halimun..


Di dunia persilatan Tanah Jawadwipa, tidak ada yang menguasai ilmu itu. Seingat ku, itu adalah ajian dari negeri kulon uhuukkkk uhuukkkk", jawab Mpu Dharma sambil terus menerus batuk kecil.


"Dinda Maheswari,


Cukup pertanyaan mu. Lihat guru terus batuk batuk. Sebaiknya biarkan guru menata nafasnya agar luka dalam nya tidak semakin parah", sahut Lembu Bungkul dengan cepat. Mendengar ucapan itu, Rara Maheswari langsung terdiam dan kembali menatap ke arah pertarungan Arya Pethak dan Tunggul Manik yang terlihat berat sebelah.


Hoshh hosshhhh...


Tunggul Manik ngos-ngosan mengatur nafasnya. Tak satupun pukulan dan serangannya yang bisa mengenai tubuh Arya Pethak. Dia segera melirik ke arah Ki Daranjana dan dua kawannya.


"Ki Daranjana


Bantu aku mencincang si keparat ini", teriak Tunggul Manik sambil mengacungkan pedangnya ke arah Arya Pethak yang masih berdiri tegak di depan Resi Mpu Dharma dan dua muridnya.


"Benar benar tidak berguna..


Ganden, Sarupati..


Kita kepung keparat ini bersama sama agar cepat selesai. Ayo", ajak Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh yang membuat dua orang kawan Tunggul Manik langsung melesat cepat kearah Arya Pethak.


"Oh mau main keroyokan ya? Mau mengandalkan jumlah untuk menekan ku?


Aku tidak akan sungkan lagi", ucap Arya Pethak sambil mencabut Pedang Setan yang berada di punggungnya.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Dua sabetan pedang Ganden dan Sarupati langsung bergerak menuju ke arah leher dan kaki Arya Pethak. Namun sayangnya begitu serangan cepat itu sampai, tubuh Arya Pethak kembali lenyap hingga serangan Ganden dan Sarupati hanya membabat udara kosong.


Arya Pethak muncul di belakang Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh dengan Pedang Setan telah terhunus dari sarungnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedangnya kearah leher Ki Daranjana.


Whhhuuuuuttttthhhh!!


Angin dingin berdesir kencang kearah leher Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh. Kakek tua itu menyadari bahaya mengancam nyawa, langsung berguling ke tanah sambil menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah kehitaman ke arah Arya Pethak.


Whuuussshh!!


Sinar merah kehitaman yang merupakan perwujudan dari Ajian Geni Neraka menerabas cepat kearah Arya Pethak.


Namun kabut putih dan angin dingin berdesir lembut membuat tubuh Arya Pethak kembali lenyap dan muncul di hadapan Ganden yang lengah. Dengan cepat Arya Pethak membabatkan Pedang Setan kearah Ganden. Pendekar bertubuh gempal itu sama sekali tidak siap saat Pedang Setan Arya Pethak menebas leher nya.


Chhrrrraaaaaassss..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Darah muncrat keluar dari luka menganga lebar di leher Ganden. Dia roboh bersimbah darah. Melihat kawan nya tewas, Tunggul Manik meradang.


"Pengecut bangsat!


Kalau kau jantan, hadapi kami. Jangan main petak umpet seperti seorang pengecut!", teriak Tunggul Manik dengan keras.


"Kau bilang aku pengecut? Terus kalian yang main keroyokan disebut apa?", Arya Pethak yang tiba-tiba muncul di hadapan Tunggul Manik tersenyum tipis.


"Mampus kau bajingan!", Tunggul Manik dengan cepat membabatkan pedang nya ke arah Arya Pethak namun belum sempat pedang menyentuh kulit murid Perguruan Gunung Ciremai itu, sang pemuda tampan sudah menghilang.


Jllleeeeeppppphhh!!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!!


Sarupati langsung menjerit keras saat merasakan sesuatu yang dingin menembus dadanya dari belakang. Melihat itu tangan Sarupati segera memegang bilah Pedang Setan dan berteriak lantang.


"Daranjana!!


Antar dia ke neraka bersama ku!", teriak Sarupati segera. Mendengar itu Ki Daranjana langsung menghantamkan tangan kanannya yang berwarna merah kehitaman ke arah Sarupati.


Whuuutt!!


Selarik sinar merah kehitaman melesat cepat kearah tubuh Sarupati dan Arya Pethak.


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan dahsyat terdengar. Asap tebal menutupi seluruh tubuh Sarupati dan Arya Pethak. Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh tersenyum lebar juga dengan Tunggul Manik yang merasa lega karena Ajian Geni Neraka dari Setan Pencabut Roh telak menghajar tubuh mereka berdua. Tak seorangpun yang pernah selamat dari ajian itu.


Klungsur yang gelisah mondar mandir di depan Anjani yang juga tengah khawatir dengan keselamatan Arya Pethak. Nay Kemuning pun terlihat menggigit kuku nya, dan raut wajah cemas juga nampak di wajahnya.


"Ini sudah cukup lama. Anjani, Ndoro Pethak sudah pergi cukup lama. Aku akan menyusul nya", ujar Klungsur sambil meraih gagang Gada Galih Asem nya.


"Hentikan Sur..


Kepandaian silat mu di bawah ku. Biarkan aku yang pergi menyusul Kakang Pethak", sahut Anjani sambil beranjak dari tempat duduknya.


Saat ledakan dahsyat kembali terdengar, Anjani langsung melesat cepat kearah sumber suara.


"Teh, abdi ikut!", Nay Kemuning ikut melesat ke arah sumber suara, menyusul Anjani yang lebih dulu berangkat. Dua orang gadis cantik itu segera menghilang dari balik rimbun pepohonan hutan yang lebat.


Senyum lebar di wajah Tunggul Manik dan Ki Daranjana langsung lenyap dari muka mereka masing-masing saat melihat pemandangan yang terjadi di depan mata mereka.


Arya Pethak masih berdiri tegak sembari menarik Pedang Setan yang menancap di punggung Sarupati. Kawan Tunggul Manik itu gosong tubuhnya sedangkan Arya Pethak di liputi oleh sinar kuning keemasan yang melindungi seluruh tubuh nya.


"Ba-bagaimana mungkin? Ka-kau masih hidup?", Tunggul Manik mengucek matanya seakan tak percaya dengan apa yang tengah terjadi.


"Tentu saja!


Sudah cukup main-main nya. Waktunya untuk mengakhiri ini semua", ujar Arya Pethak sambil menyarungkan kembali Pedang Setan ke punggungnya.


'Gawat, pemuda ini memiliki Ajian Lembu Sekilan. Melawan nya saat ini hanya cari mati', batin Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh sambil memutar bola matanya mencari celah untuk melarikan diri.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Tunggul Manik meraung keras dan terpental ke belakang. Saat yang bersamaan, Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh melesat cepat kearah rimbun pepohonan untuk melarikan diri. Tapi kakek tua bertubuh gempal itu lupa bahwa Arya Pethak bisa lebih cepat dari gerakan tubuhnya.


Tiba tiba saja Arya Pethak muncul di hadapan nya dan segera mencekik lehernya dengan tangan kiri nya. Ki Daranjana meronta berusaha untuk melepaskan diri sambil menghantam dada Arya Pethak dengan Ajian Geni Neraka nya.


Blllaaammmmmmmm!!


Arya Pethak hanya menyeringai lebar saat Ajian Geni Neraka menghantam dada nya. Murid Mpu Prawira itu memejamkan mata sekejap kemudian sebuah sinar hijau kebiruan terlontar dari mulut nya yang terbuka. Rupanya dia menggunakan Ajian Serat Jiwa ajaran Resi Jathayu dari Pertapaan Giri Lawu.


Sinar hijau kebiruan itu langsung menjalar cepat kearah tubuh Ki Daranjana. Perlahan tapi pasti, daya hidup dan tenaga dalam Ki Daranjana alias Setan Pencabut Roh berpindah ke tubuh Arya Pethak.


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Jerit kesakitan terdengar dari mulut Ki Daranjana. Rasa sakit yang teramat sangat pada seluruh sendi-sendi tubuh bahkan sampai ke sumsum tulang tubuhnya.


Nay Kemuning dan Anjani yang tiba di tempat itu menatap ke arah Arya Pethak yang terus menghisap daya hidup dan tenaga dalam Setan Pencabut Roh. Anjani dan Nay Kemuning yang tidak pernah melihat pemandangan itu menatap ke arah Arya Pethak dengan menghela nafas panjang.


"Aku dengar Kakang Pethak memiliki sebuah ajian yang mampu mengambil daya hidup dan tenaga dalam seseorang. Semarah apapun Kakang Pethak, dia tidak pernah menggunakan ilmu ini. Rupanya dia juga bisa mencapai batas kesabaran nya", gumam Anjani sambil terus menatap ke arah Arya Pethak dan Ki Daranjana. Nay Kemuning pun tak bisa berkata apa-apa lagi.


Tubuh Ki Daranjana perlahan kurus kering hingga tinggal kulit yang kemudian berubah menjadi hitam. Arya Pethak dengan cepat menghantam dada Ki Daranjana hingga patahan tulang iganya terdengar jelas.


Dhhhaaasss!!!


Tubuh kurus kering Ki Daranjana melayang dan menyusruk tanah dengan keras. Dia tewas dengan mengerikan.


Arya Pethak segera menata nafasnya lalu menatap tajam ke Tunggul Manik yang masih hidup namun dengan keadaan yang mengenaskan. Seluruh tenaga dalam nya musnah akibat serangan terakhir Arya Pethak menghancurkan titik nadi utama tubuhnya. Perlahan Arya Pethak berjalan menuju ke arah Tunggul Manik.


"Am-ampuni aku pendekar!


A-aku mengaku salah. Ampuni nyawaku", Tunggul Manik bersujud kepada Arya Pethak.


"Aku hanya menegakkan keadilan untuk orang tua itu. Urusan hidup mati mu, kau minta saja pada nya", Arya Pethak menunjuk ke arah Resi Mpu Dharma yang masih tak berdaya karena luka dalam nya.


Tunggul Manik segera merangkak ke arah Resi Mpu Dharma yang sedang duduk bersila di apit oleh Lembu Bungkul dan Rara Maheswari.


"Guru, murid bersalah pada mu..


Ampuni aku. Mohon lepaskan aku guru", ujar Tunggul Manik sembari bersujud kepada Mpu Dharma.


"Sudah mencelakai guru, tapi masih berani meminta ampun? Dasar muka tebal. Mati saja kau!", sahut Rara Maheswari dengan lantang.


"Uhuukkkk uhuukkkk...


Aku tidak pernah mengaku punya murid murtad seperti mu, Tunggul Manik.


Urusan kita sudah berakhir saat kau mengkhianati ku", ujar Resi Mpu Dharma sambil menutup mata nya.


Mendengar jawaban Mpu Dharma, Tunggul Manik langsung sadar bahwa kali ini dia tidak akan selamat. Perlahan ia merogoh pisau yang tersembunyi di balik bajunya. Kemudian dia melompat ke arah Mpu Dharma sambil mengayunkan pisau nya.


"Ayo mati bersama tua bangka!!"


Anjani yang melihat gelagat mencurigakan itu dengan cepat memotong pergerakan Tunggul Wulung. Dengkul kaki kanan Anjani dengan cepat menghajar rahang kiri Tunggul Manik dengan keras.


Brrraaaakkkkkkkk..


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Tunggul Manik terpental ke samping kanan dan diam tak bergerak lagi. Rupanya dengkulan Anjani membuat rahang nya patah dan itu sudah cukup untuk menghabisi nyawa sang murid murtad.


Kejadian ini berlangsung begitu cepat. Arya Pethak tersenyum simpul melihat sikap tanggap Anjani.


"Anjani, coba kau periksa kakek tua itu. Sepertinya dia terkena racun", ucap Arya Pethak yang langsung membuat Anjani melirik ke arah Mpu Dharma yang dari sudut bibirnya terus mengeluarkan darah kehitaman.


"Boleh aku memeriksa nya?", tanya Anjani pada Rara Maheswari. Perempuan itu segera menoleh ke arah Lembu Bungkul. Melihat anggukan kepala dari kakak nya, Rara Maheswari langsung mengangguk cepat.


Anjani langsung memeriksa denyut nadi di tangan Resi Mpu Dharma. Perempuan cantik itu mengernyitkan keningnya sebentar lalu menoleh ke arah Arya Pethak.


"Kakang Pethak,


Ini Racun Kumbang Api, seperti yang tertulis di dalam Kitab Lima Racun yang kau berikan padaku. Racun ini hanya bisa disembuhkan dengan Madu Gung Pratala, Daun Sambiloto dan Kunir Putih.


Apa Madu Gung Pratala nya masih ada Kakang? Setetes pun juga sudah cukup", ujar Anjani segera.


"Ada di barang bawaan kita. Tapi Kunir Putih dimana kita mendapatkan nya? Kalau daun Sambiloto mudah untuk dicari", Arya Pethak mengelus dagunya.


"Di tempat kami banyak Kunir Putih", sahut Lembu Bungkul segera.


"Kalau begitu jangan buang waktu lagi. Kita harus cepat menemukan Kunir Putih nya agar guru mu bisa tertolong secepatnya", ujar Anjani sambil beranjak dari tempat duduknya.


Mereka segera bergegas menuju ke arah rombongan orang-orang Kadipaten Kembang Kuning. Dengan bantuan kereta kuda, mereka membawa Resi Mpu Dharma menuju ke arah kota Kadipaten Matahun.


Sesampainya di Kota Matahun, rombongan itu segera menuju ke sebuah rumah besar yang berdiri megah di tepi jalan raya. Dua penjaga gerbang rumah besar itu langsung membungkukkan badannya pada Lembu Bungkul dan Rara Maheswari dan membuka pintu gapura.


Rombongan itu segera masuk ke dalam halaman rumah besar itu. Lembu Bungkul dan Rara Maheswari segera melompat turun dari kudanya dan berlari cepat kearah samping rumah besar itu segera. Tak berapa lama kemudian dia kembali sambil membawa satu rimpang kunyit yang berwarna putih dan menyerahkan benda itu pada Anjani.


Di bantu oleh para pengawal pribadi Raden Wira Ganggeng, mereka segera membawa Resi Mpu Dharma ke dalam serambi rumah besar itu.


Anjani dengan cepat menumbuk kunyit putih dan daun sambiloto menjadi satu, kemudian memerasnya. Beberapa tetes cairan keluar dan Anjani langsung mencampur nya dengan Madu Gung Pratala. Lembu Bungkul segera meminumkan obat penawar racun itu ke mulut Mpu Dharma.


Perlahan raut wajah Mpu Dharma memerah, tak sepucat tadi. Anjani menarik nafas lega, begitu juga dengan seluruh orang yang hadir di tempat itu. Saat mereka tengah menghilangkan beban di hati karena melihat keadaan Mpu Dharma yang membaik, sebuah suara mengagetkan semua orang.


"Lembu Bungkul,


Apa-apaan ini semua?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Menemani waktu sahur kalian ya kak 😁


Selamat malam semuanya.