
Cukup banyak persyaratan yang diajukan. Tapi sepertinya kedua orang tua Diah Pitaloka menyanggupi. Mereka akan menuruti keinginan sang anak kesayangan sejauh masih dalam batasan kemakluman. Dan nampaknya hal itu yang membuat Kemuning terpaksa kembali menjadi Diah Pitaloka, yang tidak lagi bisa bebas berjalan di tengah pasar. Tentu saja dia akan risih pada tindakan orang-orang yang mengetahui latar belakang keluarganya. Penjilat akan bermunculan bagaikan pacat di musim hujan.
"Aku sangat kagum padamu. Aku merasa kau adalah seorang yang paling hebat yang pernah aku kenal. Mengapa? Karena kau mampu kalahkan egomu, kau mampu menang dan taklukkan dirimu sendiri. Bahkan aku tidak bisa sepertimu," Suhita memuji sahabatnya.
"Hita, kau terlalu berlebihan. Kau tahu, aku merasa tertekan. Aku terpaksa melakukan ini semua. Jika bukan karena kedua orang tuaku, aku lebih senang hidup bebas, terbang layaknya burung di angkasa luas."
"Satu hal yang tidak kau tahu. Pada dasarnya burung-burung yang kau lihat tertawa bebas, mereka sangat merindukan malam untuk bisa kembali ke sangkar," Suhita tersenyum, menguatkan Kemuning yang dia anggap telah mengambil keputusan yang tepat.
Kedua orang tua Kemuning sepakat, mereka tidak akan pernah melarang Kemuning untuk terus belajar bela diri. Mereka juga tidak akan ikut campur dalam urusan hati. Kemuning bebas memilih dan menentukan siapa pria yang dekat dengannya. Tidak akan pernah memaksa lagi untuk menikah cepat. Sudah, itu saja. Bahkan Kemuning merasa jika hidupnya menjadi bebas.
Cukup lama Suhita dan Diah Pitaloka bercerita. Sementara Jenderal Muda tetap di posisinya, berdiri di luar wisma.
"Ampun, Jenderal. Tuan Besar ingin bertemu dengan Jenderal," seorang pelayan datang, membungkuk hormat menyampaikan pesan dari majikannya.
Raka Jaya mengangguk, dia menyuruh pelayan itu berangkat lebih dulu. Dia akan menyusul.
Manggar Wangi, ayah Diah Pitaloka ingin bicara. Sebenarnya Raka Jaya sangat penasaran, tapi dia bersikap seolah tidak begitu terpancing. Lebih dulu, Raka Jaya menemui Diah Pitaloka dan Suhita.
"Jika butuh sesuatu atau butuh bantuanku, jangan sungkan. Aku ada di wisma utama," ucap Raka Jaya.
"Baik, terima kasih. Tapi ... hei, bukankah ini rumah Pitaloka, mengapa Jenderal menawarinya sesuatu?" Suhita mengangkat alisnya, jelas dia hanya menggoda Raka Jaya.
Dan benar saja, Raka Jaya jadi salah tingkah. Dalam hati dia benar-benar mengutuk Suhita. Tidak seharusnya bercanda demikian.
"Aku bicara padamu, Tabib Dewa. Dan sekalian, aku pamit. Permisi!" Raka Jaya bergegas pergi.
Suhita tersenyum geli. Ternyata di balik pakaian dinas dan juga tubuh yang gagah, di sana ada jiwa yang lemah. Bisa jadi keputusan dan tindakan yang Raka Jaya terapkan merupakan yang terbaik. Akan tetapi menghadapi perempuan, dia kalah jauh jika dibandingkan Danur Cakra. Insting Suhita mengatakan jika akan menjadi jalan yang sulit bagi Raka Jaya untuk mendapatkan hati Diah Pitaloka. Terlebih jika Danur Cakra kembali datang. Ketika Raka Jaya siapkan teknik, saat itu Danur Cakra sudah bertindak.
"Emmm ... Hita. Kau akan lama di sini 'kan Paling tidak dalam beberapa hari ke depan, sampai aku terbiasa dengan semuanya ini. Aku mohon, temani aku ..." ujar Diah Pitaloka memelas.
Suhita menghela napas dalam, kemudian menghembuskan dengan perlahan, "malam ini aku akan bermalam. Tapi maaf, aku tidak bisa terus menemanimu. Kau tahu, hidupku ialah untuk banyak orang."
Diah Pitaloka cemberut, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia tahu bagaimana Suhita banyak dibutuhkan orang. Lagi pula, sangat mudah untuk menemui Suhita. Pusat pengobatan di Soka Jajar, akan menerima siapa pun orang yang datang.
Malam harinya, Diah Pitaloka mengajak Suhita untuk berjalan mengelilingi kediamannya yang sangat luas. Ada kolam yang besar, taman yang luas, serta tempat berpacu kuda. Sungguh tempat yang menjadi idaman semua orang.
Saat mereka sedang asik bercengkrama, Kencana Sari datang dengan membawa pesan dari seorang pelayan. Katanya ada seseorang yang ingin bertemu. Seorang pria tampan, tapi sayangnya pelayan tadi lupa namanya.
"Apa mungkin dia?" Diah Pitaloka lekas bangkit dengan wajah berbinar.
"Dia siapa? Kau miliki janji dengan seseorang?" tanya Suhita.
Kemuning tertawa kecil, kemudian menggeleng. Dia tidak punya janji dengan siapa-siapa. Lagi pula, tidak banyak temannya di kota ini.
"Aku melihat, sinar wajahmu begitu gembira. Ah, pasti ada sesuatu."
"Ihhh, benarkah? Hita, kau tahu. Aku sangat berharap Cakra yang datang menemuiku. Ayo kita ke sana," dengan hati yang berbunga, Diah Pitaloka lekas bangkit dan buru-buru melangkah penuh semangat.
Suhita terbelalak, sungguh tidak diduga jika dalam benak Diah Pitaloka kiranya begitu tertanam nama Danur Cakra. Padahal, sama-sama mereka tahu bagaimana Cakra belakangan ini.
"Ayo, Sari. Kita ikuti dia. Mengapa aku tidak merasakan jika yang datang ialah Cakra. Pasti anak itu akan kecewa," Suhita diikuti Kencana Sari bergegas menyusul langkah Diah Pitaloka.
Dan memang benar apa yang diduga oleh Suhita. Ketika mereka tiba di wisma utama, tidak ada Cakra di sana. Seorang pemuda tampan yang nampak juga berasal dari keluarga bangsawan.
Tapi tunggu dulu, mengapa Suhita merasakan aura yang tidak asing terpancar dari diri pria itu? Apa mungkin mereka pernah bertemu, tapi di mana? Suhita sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Selamat malam, maaf jika aku mengganggu waktu istirahat kalian," dengan membungkuk memberi salam, terlihat jika dia merupakan seorang yang berbudi pekerti luhur.
Tentu saja Diah Pitaloka tidak bisa mengelak. Tidak peduli bagaimana pun situasi hatinya, tetap saja dia harus bersikap sopan pada seorang tamu. Kecuali jika ingin mencoreng nama baik keluarganya di depan umum.
"Aku yakin, kau tidak mengenalku. Tapi mungkin kau masih ingat pada kakak keduaku. Aku hanya berharap dengan kedatanganku bisa kembali menjalin hubungan baik antara keluarga kita yang sempat renggang."
Diah Pitaloka menatap lekat. Dia sekarang bisa menduga jika pria yang datang merupakan putra ketiga dari keluarga bangsawan Cokro. Dengan memaksakan diri, Diah Pitaloka tersenyum seraya berbasa-basi meminta maaf atas kesalahan yang pernah dia lakukan.
"Perkenalkan namaku Adisatya, adik kandung Kakang Biyakta. Atas nama keluarga Cokro, aku sengaja datang untuk memohon maaf. Atas segala kesalahan keluarga kami, terutama Kakang Biyakta. Selama kau hilang, dia benar-benar terpukul karena rasa bersalah. Sekali lagi, aku memohon untuk kau sudi menerima permintaan maaf Kakang Biyakta," Adisatya menjatuhkan lututnya, menyatukan kedua tangan di atas kepala. Memohon.
"Ah, Kakang. Bangunlah ... aku tidak pantas menerimanya. Ini merupakan kesalahanku, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kakang Biyakta. Harusnya akulah yang datang memohon maaf," Diah Pitaloka mengangkat bahu Adisatya.
"Terima kasih atas ketulusan hatimu," Adisatya tersenyum lembut.
Diah Pitaloka balas tersenyum, kedua mata mereka bertemu pandang. Beberapa saat suasana menjadi canggung. Satu sama lain terlihat sungguh untuk memulai cerita.
"Ehemm ... ehemmm ..." terdengar suara batuk yang dibuat-buat, seiring dengan langkah seseorang yang memasuki ruangan.
Suasana kembali mencair, Jenderal Muda ialah orang yang datang. Entah kapan dia kembali dari istana, yang pasti sekarang sudah ada di dalam ruangan, bersama mereka.
Jenderal Muda banyak mengambil alih arah pembicaraan, membuat suasana semakin mengalir. Tapi dari sekian lama, obrolan mereka dengan cakupan yang luas.
Adisatya mengungkapkan betapa senang rasa hatinya. Terlebih lagi keluarganya yang tidak lagi terbebani karena rasa bersalah pada Diah Pitaloka. Dia juga berharap, Diah Pitaloka menerima dirinya sebagai seorang teman.
Sebaliknya, Diah Pitaloka menyambut semuanya dengan tangan terbuka. Memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan, tentunya Pitaloka sangat senang. Dia tidak berpikir jauh, apa lagi membaca gelagat tersembunyi pada diri Adisatya. Rasa-rasanya hati Pitaloka tidak lagi memiliki ruang untuk menyimpan nama lain, selain cinta pertamanya.
Raka Jaya mengantar Adisatya hingga depan pintu gerbang. Dia terus memandangi sampai kereta kuda yang ditunggangi Adisatya hilang di kelok jalan.
"Kau tidak terlihat begitu gembira. Apa ada masalah yang membuatmu pusing?" tanya Suhita dari belakang.
"Aku tidak mengerti, mengapa kau selalu menyudutkan aku dari waktu ke waktu. Hita, kau bahkan belum mendengar secuil pun penjelasan dari ku."
Suhita tersenyum, padahal semua yang Suhita lakukan berkaitan dengan Pitaloka. Dia sama sekali tidak mengungkit mengenai Kencana Sari yang sempat menjadi tawanan Raka Jaya. Tapi kiranya Raka Jaya yang mengaitkan sendiri. Itu menandakan jika Raka Jaya merasa jika dia memang telah melakukan kesalahan.
"Ya, kau berhutang padaku. Hampir saja pelayanku kehilangan nyawa karena perbuatanmu. Harusnya kau jangan terlalu mementingkan diri sendiri. Sekarang kau sudah berhasil dengan rencanamu, kau seorang pahlawan. Untung saja Pitaloka juga adalah teman baikku, jika tidak aku sudah pasti akan menuntutmu!" Suhita berlalu meninggalkan Raka Jaya yang masih berdiri mematung.
Raka Jaya hanya menggaruk kepalanya, dia tidak berusaha mengejar Suhita ataupun melakukan hal lain yang mungkin menjadi jalan keluar untuk buat pemikiran Hita berubah. Justru Raka Jaya nampak tidak lagi peduli akan hal itu. Dia tetap melangkah pada rencana sebelumnya, sebagai prajurit tentunya akan sangat berbahaya bila berani melanggar rencana yang telah ditetapkan sejak awal.
Suhita telah kembali ke dalam ruangan, tapi tidak menyusul Pitaloka ke kamar, Suhita masih terpikirkan aura yang dia rasakan dari sosok Adisatya. Suhita terus berusaha mengingat di mana dia pernah bertemu dengan orang yang sama. Kecurigaan Suhita semakin besar karena dia bisa merasakan jika Adisatya bukan sekadar putra bangsawan biasa, dia dibekali kemampuan olah kanuragan yang sangat tinggi. Dia merupakan seorang pendekar.
Dengan kemampuan Tapak Penakluk Naga yang menyatu sempurna di dalam dirinya, membuat Suhita memiliki mata yang jauh lebih bagus. Dia bisa tahu tingkat kemampuan para pendekar yang berjumpa meskipun terkadang membuat Suhita jadi risih. Ya, seperti saat sekarang ini.
Suhita terbelalak, dia mengingat sesuatu. Ya, aura tenaga dalam yang sama seperti yang Hita rasakan beberapa hari yang lalu. Apa mungkin, Adisatya tidak lain ialah rupa asli dari Jubah Ungu? Karena tanpa miliki bukti yang cukup, Suhita hanya menyimpan hanya untuk dirinya sendiri.
Dengan kata lain, kedatangan Jubah Ungu ke hutan beberapa hari yang lalu bukan untuk mengejar sumberdaya melainkan ikut serta mencari Diah Pitaloka, seperti yang juga dilakukan oleh Raka Jaya. Ya, sangat masuk akal.
Suhita menghela napas panjang, diam-diam hatinya merasa iri pada Diah Pitaloka. Begitu banyak pria tampan yang berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan perhatian Pitaloka. Sampai-sampai rela untuk pertaruhkan keselamatan, mengabaikan selembar nyawa yang mereka punya. Sementara sejauh ini, Suhita tidak merasakan hal demikian terjadi padanya. Padahal Hita merasa jika dia tidak kalah jauh dari Pitaloka. Wajahnya cantik, tubuhnya pun bagus.
"Heh, apa yang kau pikirkan?! Dasar gila!" Suhita menepuk jidatnya.
Baguslah, dengan demikian besok pagi Suhita bisa pulang dengan tenang. Tidak lagi ada yang perlu dikhawatirkan dari Diah Pitaloka. Suhita merasa sangat senang.
°°°
Waktu berlalu dengan cepat, Suhita meninggalkan Kota Raja dengan senyum. Kembali ke Soka Jajar dengan statusnya sebagai Tabib Dewa, seorang juru sembuh yang sangat mumpuni. Mengabdikan hidupnya untuk khalayak umum. Dan Suhita melakukannya dengan senang hati, menciptakan kebahagiaannya sendiri.
Kencana Sari, selain menekuni teknik pengobatan seperti yang Suhita ajarkan, dia juga terus melakukan latihan olah kanuragan. Sari bertekad untuk tumbuh menjadi pelindung yang bisa diandalkan. Suatu hari nanti, dia tidak akan membuat Suhita turun tangan dalam atasi masalah di jalan semisal melakukan perjalanan jauh.
Selain Kencana Sari, seorang lagi pelayan Suhita yang mengikrarkan diri sejak mereka kecil yakni Arya Winangun. Putra dari mantan pelayan Mahesa (Endang Kusuma Gandawati).
Arya Winangun pula telah mencapai kemampuan pada tahap yang sempurna, di Soka Jajar dia pula bertanggung jawab atas keamanan rumah pengobatan. Ya, meskipun tidak pernah terjadi hal-hal aneh di sana. Siapa pun, bagaimana pun, darimana pun tadinya mereka berasal, setelah menjejakkan kaki di wilayah Soka Jajar, akan menjadi orang yang berkepentingan. Sejenak akan mematuhi peraturan demi menghormati Tabib Dewa.
Singkat kata, Suhita berhasil menata hidupnya dengan baik. Juga bagaimana dia mengkoordinir para pelayan yang terlibat dalam kepentingan umum. Ya, Suhita sangat sukses untuk itu. Meskipun tidak dengan dunia percintaannya. Dalam meraih sesuatu, harus ada hal lain yang dikorbankan. Suhita memiliki kesibukannya sendiri, tidak banyak hal lain yang dipikirkan.
"Sari, besok pagi aku akan pergi ke Bukit Hijau. Kau persiapkan perbekalan dan segala sesuatunya. Cukup kita berdua saja," ucap Suhita di sela-sela kesibukannya meracik ramuan obat.
"Baik, Tabib," jawab Kencana Sari.
Sudah cukup lama mereka tidak pergi jauh, rasanya ada kerinduan dalam menempuh perjalanan. Karena cerita yang hadir akan sangat menarik dalam ingatan.