Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Keputusan 'Bijak'


Hingga ujung jalan yang berkelok, tiada ditemukan adanya sesuatu yang bergerak. Jalan yang berdebu itu sepertinya belum terinjak sejak pagi tadi. Tidak manusia ataupun hewan, membuat suasana sepanjang jalan begitu lengang dan sunyi.


Setelah sekian lama diam membeku, pada akhirnya debu di jalan tersebut berterbangan ketika muncul dua ekor kuda yang dipacu dengan kecepatan tinggi. Kuda yang berlari kencang menuju ke kelokan jalan di mana terdapat gubuk reot di sana.


"Apa kita salah tempat?" tanya seorang penunggang kuda pada temannya.


Di halaman gubuk reot itu, hanya ada mereka berdua. Saling bertukar pandang dari atas kuda masing-masing.


Kedua orang itu adalah anak buah Kartantra, asisten Tabib Asih Cangkar Kemuning. Sementara, Kartanta sendiri belum ikut datang karena dia yang memutuskan untuk kembali ke penginapan dan menyusul dua utusan yang bertugas mengambil surat perjanjian.


Kartanta berjanji akan secepatnya menyusul dan meminta kedua rekannya untuk menjelaskan duduk perkara yang mereka hadapi. Surat perjanjian dan sisa uang pembayaran masih dalam perjalanan.


"Huuuhhh ... mengapa semuanya jadi kacau seperti ini? Mungkinkah Kakang Tantra salah memilih pembunuh bayaran?!"


"Aku yakin, ada yang tidak beres! Jangan-jangan para pembunuh bayaran itu tidak berhasil melakukan tugas. Atau mereka sengaja mempermainkan kita!"


WUUUSSS! Sekelebat bayangan melayang cepat dan seketika telah berdiri di hadapan dua penunggang kuda itu. Cadar membalut wajah pendekar yang datang, hingga dua orang asisten Tabib Asih itu tidak bisa melihat wajahnya.


"Mengapa lama sekali?!" tanya pendekar bercadar.


Setelah beberapa kali saling bertukar pandang, dua orang anak buah Kartantra turun dari atas panggung kuda mereka serentak memberikan hormat pada orang yang datang. Kecepatan gerakan orang itu, sudah cukup menjelaskan jika dia memiliki kemampuan yang sangat tinggi.


"Begitulah, Tuan. Kami harapkan pengertiannya ... jika sesuai dengan perjanjian yang telah sama-sama kita sepakati maka kami tidak mungkin ingkar janji," setelah menjelaskan semuanya, asisten Tabib Asih itu melakukan seperti yang diarahkan oleh Kartanta.


"Baiklah, aku tidak keberatan. Akan tetapi, sambil menunggu kedatangan rekanmu itu, apa tidak sebaiknya kalian ceritakan alasan di balik rencana pembunuhan tabib yang bahkan masih ingusan itu. Aku rasa, kalian terlalu berlebihan. Karena kenyataannya tabib kecil itu bukanlah apa-apa," ujar pendekar bercadar.


Sedikit aneh jika mendengar pertanyaan itu. Bahkan kedua anak buah Kartantra hampir tidak percaya jika pendekar bercadar itu merupakan orang yang mereka sewa. Namun, tidak pula mereka miliki alasan untuk tidak menjawab. Karena memang hanya kedua belah pihak yang telah mengikat janji jika mereka akan bertemu di tempat itu. Akhirnya, sedikit demi sedikit kedua asisten Tabib Asih bercerita.


Kartanta berangkat memang atas izin Tabib Asih Cangkar Kemuning bahkan satu kantong uang emas pun dia peroleh dari pemberian guru mereka. Di balik semua itu, Tabib Asih bahkan tidak mengetahui secara pasti siapa dan apa rencana yang bakal dijalankan oleh Kartanta.


"Hingga akhirnya, Kakang Tantra memilih kelompok kalian untuk melakukan tugas ini. Nama besar pembunuh Pring gading membuat 150 kepeng emas sebagai kesepakatan. Sungguh, kalian beruntung jika mampu selesaikan dengan mudah," dengan senyum asisten Tabib Asih itu memuji pendekar bercadar yang dia kira merupakan rekan mereka.


Pendekar bercadar itu tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk ke arah wajah dua asisten Tabib Asih. Dengan gelengan kepala yang mengejek, membuat rekan Kartanta itu tidak habis pikir.


Bukan hanya ancaman itu saja yang membuat dingin, tapi kenyataannya udara di sekitar tempat itu pun ikut dingin dan membeku. Membuat tulang sumsum bergetar.


Terlambat. Sudah terlambat bagi dua orang itu untuk menyadari jika itu adalah jebakan. Setelah seluruh keterangan mereka berikan, setelah segala rencana busuk Kartanta mereka jabarkan, barulah mereka sadar jika orang yang berdiri di hadapan mereka bukanlah anggota kelompok pembunuh bayaran Pring gading.


"Kurang ajar! Siapa kau, beraninya menjebak kami!" dengan suara yang bergetar karena emosi, seorang asisten Tabib Asih itu menunjuk.


"Hahaha! Pada saatnya nanti, kau juga akan tahu. Sekarang, baiknya kalian siapkan diri untuk hadapi sidang di pengadilan. Sampaikan salam maafku pada guru kalian. Jangan pernah kalian mencuci kain dengan air yang berlumpur, berharap putih yang diraih."


"Tutup mulutmu!" kedua asisten Tabib Asih bergerak cepat meraih gagang pedang pendek di pinggang mereka masing-masing. Setelah nasi menjadi bubur, mereka tidak mungkin bisa lari dengan begitu saja.


Cliing! Belum juga keduanya berhasil menarik separuh pedang dari dalam warangka, pendekar bercadar itu telah hilang dari pandangan. Dan saat kembali muncul, kedua tangannya telah terjulur dan menghadiahkan pukulan keras tepat di dada mereka.


Bruuukk! Aaakkhhh !!!


Dua orang itu terjungkal dengan keras. Mereka tidak menduga jika lawan yang mereka hadapi telah merancang serangan dengan begitu sempurna. Hingga tiada lagi yang bisa mereka lakukan ketika belenggu dingin membungkus sekujur tubuh keduanya.


°°°


"Aku harus segera bergegas! Ini tidak boleh terjadi," Kartanta menggebrak kudanya dengan sangat kencang. Secepatnya dia harus bisa mencapai Kota Giling Wesi. Rencananya telah gagal, sementara keempat rekannya tidak diketahui di mana. Kartanta harus persiapkan rencana baru, paling tidak itu akan membuat dia dan gurunya terbebas dari belenggu hukum.


"Sialan! Bagaimana mungkin pelindung Tabib kecil itu bisa atasi kekuatan penuh pembunuh bayaran Pring gading. Sangat tidak masuk akal. Apa mungkin dia adalah seorang pendekar nomor satu di Utara ini?" kepala Kartanta seperti mau meledak. Dia belum tahu, hal apa yang harus dia lakukan. Sementara kuda yang dia tunggangi terus melesat membawanya menuju kota Giling Wesi.


Gerbang perbatasan kota telah terlihat dari kejauhan. Mendadak Kartanta menarik tali kekang kudanya, membuat binatang yang tengah berlari kencang itu meringkik keras dengan kedua kaki depannya terangkat tinggi.


"Jika aku kembali ke kota, lalu tabib kecil itu membongkar segala rencana busukku di hadapan pimpinan Padepokan Giling Wesi dan Pendekar Tongkat Emas, apa yang terjadi padaku?!" Kartanta merenung dalam beberapa waktu.


Tidak lama kemudian, dia meraba saku belakangnya. Di sana dia masih mendapati adanya kantong berisi uang emas sebanyak 70 kepeng (uang yang hendak dia berikan pada pembunuh Pring gading). Belum lagi uang yang dia bawa sebagai bekal perjalanan, rasanya masih dalam kategori bijak jika Kartanta mengalihkan laju kudanya. Karena kembali ke Giling Wesi, sama saja dengan menyerahkan kepala.


"Guru ... maaf ..." Kartanta tersenyum menatap gerbang kota. Tanpa pikir panjang, dia menggebrak kudanya menuju arah yang berbeda. Menuju jalan pedesaan. Dengan pengalaman dan ilmu yang dia dapat selama menjadi asisten Tabib Asih, ditambah dengan uang yang menyertainya sekarang, Kartanta bisa hidup dengan penuh senyum di tempat barunya nanti. Dan dia sangat yakin, ini adalah satu keputusan yang sangat bijak.


Dan itulah mengapa, di dunia ini tidak ada orang yang bisa dipercaya.