Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Malam Yang Terlewatkan ll


"Jika di sini hanyalah Kemuning seorang, lantas di mana Hita?!" Danur Cakra coba untuk mencari tahu. Dan dia berhasil menangkap sinyal aura, kalau posisi Suhita cukup jauh dari tempat itu.


Danur Cakra sangat yakin, Suhita tidak akan membiarkan dengan begitu saja ada orang yang membawa Kemuning kabur. Bisa dipastikan kalau saat ini Suhita mengalami kesulitan yang sama. Atau jangan-jangan ...


"Anjing kurap! Kalian telah melakukan satu salah yang amat besar. Akan ku pastikan kalian menyesal!" dengan mata menyala merah berapi-api, Danur Cakra berkata kencang, bersiap melakukan pembantaian.


"Jangan besar mulut! Kau buronan kerajaan, sungguh sangat dinanti untuk bisa sekalian meringkusmu!" balas Harimurti tanpa gentar.


Danur Cakra menambah intensitas serangannya, membuat kerusakan semakin besar pada hutan. Dengan kemampuan naga kresna dia memburu batang leher Harimurti. Bertarung, bukan sekadar raih kemenangan. Bagi Cakra saat ini mengalahkan ialah prioritas. Saat orang lain kalah yang berarti tewas, saat itulah kepuasan hati baru bisa dicapai.


Wuuusss !!! BAAAMMM !!! enam orang prajurit sekaligus meregang nyawa setelah tubuh mereka diterobos oleh bayangan naga, naga yang haus darah.


Harimurti terbelalak, dari cerita orang-orang dia pernah mendengar bagaimana kehebatan pukulan tenaga dalam Pendekar Naga Kresna. Tapi untuk menyaksikan dan berhadapan langsung, rasanya baru kali ini. Terus terang saja, Harimurti tidak mampu untuk membaca dan menyelami bagaimana dalamnya batas kemampuan yang Naga Kresna simpan. Dan dia sadar, jika dia bukanlah lawan yang sepadan. Mungkin dibutuhkan beberapa orang bahkan setengah lusin orang dengan kemampuan yang setara dirinya, barulah Harimurti akan mampu untuk mengimbangi olah kanuragan mengerikan yang Cakra kuasai. Dan sayang, Naga Kresna merupakan sosok aliran sesat yang wajib untuk ditiadakan. Sebagai prajurit tidak ada alasan bagi Harimurti untuk bersuara gentar.


"Karena gadis ini dia menyerangku, dan aku harus bisa manfaatkan gadis ini pula untuk bisa menyerangnya," batin Harimurti.


Dengan cepat Harimurti melompat dan meraih Kemuning, dia berpura-pura hendak membawa Kemuning kabur. Dan tentu saja Danur Cakra tidak membiarkan begitu saja. Tidak kalah cepat, Cakra pun telah berada di dekat tubuh Kemuning yang tidak sadarkan diri.


Sebelum Harimurti tiba, tangan Danur Cakra telah lebih dulu mencengkeram pakaian Kemuning, lalu mengangkat tubuh gadis cantik itu ke arahnya. Di luar dugaan, kiranya apa yang dilakukan oleh Harimurti hanyalah tipuan belaka. Dia tidak benar-benar hendak membawa tubuh Kemuning, melainkan hanya memanfaatkan kelengahan Danur Cakra yang berfokus pada keselamatan Kemuning.


Bukannya coba untuk merebut, alih-alih menangkap justru Harimurti mendorong tubuh Kemuning pada Danur Cakra. Memaksa Cakra untuk eksta hati-hati supaya Kemuning tidak terlepas dan membentur bebatuan. Sedikit celah yang ada, benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Harimurti.


Dengan tangan kiri Harimurti mendorong tubuh Kemuning, sementara tangan kanannya tanpa terlihat telah menghunus sebilah keris yang terselip di pinggangnya. Hampir bersamaan dengan arah tubuh Kemuning roboh, ujung keris pusaka langit milik Harimurti meluncur dengan deras, menikam ke arah Cakra ataupun Kemuning. Random, yang jelas salah satu dari mereka pasti akan menjadi korban, keputusan hanya Cakra yang menentukan.


"Hump!" sepersekian detik Cakra bisa melihat itu, tentu saja dia coba untuk menghindar. Akan tetapi kecepatan tinggi yang Harimurti sertakan juga dengan adanya Kemuning yang mempersulit ruang gerak, membuat Cakra tidak bisa melakukan gerakannya dengan sempurna. Juga sangat tidak mungkin dia membiarkan tubuh Kemuning yang terluka.


Crasss! keris milik Harimurti berhasil menusuk perut Danur Cakra. Meskipun Cakra telah menjatuhkan tubuhnya untuk menghindar, tapi nyatanya pusaka langit tersebut tetap memberikan luka yang lumayan.


Harimurti tidak puas, dia tidak ingin hanya melukai sedikit dan berniat untuk menambah bahkan hendak mencelakai Danur Cakra. Padahal jika ingin kabur, saat itulah waktu yang tepat. Jelas Danur Cakra tidak akan bisa menyusulnya lagi.


DAARRR !!! Malang tidak bisa ditolak, untuk tidak dapat diraih. Harimurti harus mengubur impiannya, ketika saat berikutnya dadanya menerima satu pukulan super keras.


Tangan Danur Cakra terjulur, merobek dada Harimurti hingga membuat tulang punggung pasukan khusus kerajaan itu patah. Dan tanpa suara, dia kehilangan kesempatan untuk tetap bernapas.


Reeettt! Danur Cakra memelintir jantung Harimurti hingga hancur. Setelah itu baru dia mendorong tubuh tak bernyawa tersebut.


"Fuuiiihhh!" Danur Cakra meludahi Harimurti yang tidak lagi bernyawa.


Cakra menotok beberapa syaraf di perutnya, menghentikan aliran darah supaya tidak banyak keluar. Setelah itu dia menggunakan kain untuk mengikat luka tersebut. Aman, setidaknya Cakra tidak akan kehilangan nyawa karena kurang darah.


Cakra membopong Kemuning, membawa gadis pujaan hatinya ke tempat yang lebih aman dan nyaman. Membaringkan Kemuning, membiarkan Kemuning melanjutkan mimpi.


Cakra tidak mungkin membawa Kemuning untuk mencari Suhita, ditambah lagi dengan luka di perutnya, takutnya nanti lebih banyak pendekar yang ditemui. Cakra tidak mau ambil resiko. Dia memilih untuk meninggalkan Kemuning, karena yakin gadis itu telah di tempat yang aman.


°°°


Tidak terdengar suara benturan tenaga dalam, ataupun suara denting senjata tajam yang beradu. Itu artinya, tidak lagi terjadi pertarungan di depan sana. Danur Cakra menambah kecepatan lari cepatnya, tubuhnya melesat di antara celah dahan pohon, menuju ke tempat Suhita berada.


Mereka sangat beruntung, karena sedari kecil dibekali dengan kemampuan yang serupa. Baik Cakra ataupun Hita, mereka akan memiliki kontak batin khusus yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain. Ya, meskipun pada akhirnya Danur Cakra tidak tergolong pendekar yang mempelajari kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga, tapi dia tidak pernah melupakan akses pada sang adik tercinta.


Danur Cakra hinggap di sebuah dahan pohon. Dia menebarkan pandangan ke seantero lokasi, kabut yang amat tebal membuat jarak pandang begitu terbatas. Hingga kemudian Cakra berhasil menangkap satu pergerakan di bawah sana, sesosok manusia. Tanpa menunggu, Cakra langsung melompat mendekat.


"Ckckck! Aku adalah manusia paling beruntung di muka bumi!" desis Lintang Dalu. Di hadapannya, terbaring dua sosok gadis cantik yang tergeletak tidak berdaya. Yang tidak mungkin bisa menolak atas apa pun yang akan Lintang Dalu lakukan.


Tindakan di luar akal sehat, Lintang Dalu berencana menga*gahi Tabib Dewa dan pelayannya secara bersamaan. Melakukan **** bertiga, meskipun keduanya tertidur tidak peduli, yang penting Lintang Dalu bisa mencapai kepuasan yang diinginkan.


Dengan lembut, tangan Lintang Dalu membelai pipi dan juga bibir indah kedua mangsanya secara bersamaan. Tangan kanannya merasakan betapa lembut dan ranumnya wajah Suhita, sementara tangan kiri bergerak pada wajah Kencana Sari.


Napas Lintang Dalu naik turun, kerongkongannya tidak henti-hentinya menjadi kering kendati terus dibasahi oleh aliran air liur. Sensasi yang amat langka.


"Asik sekali, mengapa tidak bagi-bagi?!"


Lintang Dalu tersentak, entah kapan datangnya tiba-tiba satu suara begitu dekat di telinganya. Lintang Dalu mengangkat wajah, coba untuk menoleh pada orang yang bicara. Akan tetapi sebelum dia berhasil, Lintang Dalu mendapati adanya kaki yang menghantam ke arah wajahnya. Dengan cepat dia menggunakan kedua tangan untuk menahan sapuan tersebut supaya tidak telak menghantam.


"Penjahat kela*min! Kau tiba di malam yang teramat naas. Sampai-sampai kau akan berusaha untuk mengakhiri hidupmu sendiri, sungguh aku sangat kasihan!"


Lintang Dalu buru-buru bangkit. Dia mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, dan nampaknya dia belum sadar jika sedang berhadapan dengan Pendekar Naga Kresna. Barulah setelah beberapa saat lamanya, bulu kuduknya berdiri. Rasanya sangat mustahil ternyata Pendekar Naga Kresna begitu mudah mengalahkan Harimurti dan pasukan elit yang lain, dan sekarang malah sudah menyusul dirinya. Bisa ditebak, meskipun coba melawan dia tidak akan mampu menang. Untuk lari juga tidak bisa. Lintang Dalu hanya bisa berpura-pura tenang.


"Apa kau ingin mencoba, bagaimana saat kau begitu membutuhkan bantuan Tabib Dewa? Kau tahu bagaimana rasanya sakit, sakit yang amat sangat. Di mana kau lebih memilih mati daripada harus menahannya," dengan seringai menebar aroma kematian, Danur Cakra melangkah mendekat.


Jelas, yang akan dilakukan Danur Cakra tidaklah untuk mencelakai Lintang Dalu. Akan tetapi lebih dari itu, ucapannya menjelaskan jika hanya akan memberi rasa sakit. Menyiksa dengan kejam, hingga membuat lawan putus asa dan memilih untuk bunuh diri.


"Jangan kau pikir aku takut! Penjahat sepertimu, bukanlah lawan sepadan untukku!" jawab Lintang Dalu.


Danur Cakra tertawa terbahak, dia mentertawakan bualan yang terdengar, sementara sangat jelas raut wajah yang begitu ketakutan. Suara tawa Cakra begitu mengerikan, layaknya suara terompet malaikat maut yang datang menghampiri. Mental Lintang Dalu sudah kena, bagaimanapun juga dia coba untuk tutupi.


Belum sempat Lintang Dalu berkedip, tiba-tiba Danur Cakra sudah berdiri tepat di depan wajahnya. Sontak Lintang Dalu melompat mundur, tapi anehnya sebelum ia berhasil menginjak tanah, tubuhnya sudah lebih dulu menabrak Danur Cakra lagi. Gerakannya sangat cepat, bagaimana mungkin Lintang Dalu punya harapan untuk bisa mengimbangi. Putus asa, Lintang Dalu segera memasang kuda-kuda untuk melakukan serangan.


"Hiaaattt !!!" Lintang Dalu menyabetkan pedangnya ke segenap arah. Namun hanya gelapnya kabut yang ia serang. Lawannya entah di mana.


Lintang Dalu tidak ubah hanyalah seorang anak ingusan yang belajar berjalan, tapi coba untuk mengejar kecepatan lari kuda pacu. Tentu saja hanya melakukan tindakan sia-sia.


Danur Cakra kembali muncul, Lintang Dalu tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menusukkan ujung pedangnya ke arah dada Cakra.


Tep! Kraaakk! Justru pergelangan tangan Lintang Dalu yang patah. Membuat pasukan elit bawahan Raka Jaya itu menjerit kesakitan, meringis sejadi-jadi.


Sementara, Danur Cakra melepaskan beberapa tamparan ke wajah yang sama sekali tidak bisa dihindari. Memang pukulan yang Cakra lepaskan hanyalah pukulan biasa tanpa iringan tenaga dalam, tapi justru sakitnya terasa lebih pedih. Darah mengalir dari bibirnya yang pecah.


Tep! Kraaakk! Sebelah lagi tangan Lintang Dalu dipatahkan. Hingga sekarang dia sama sekali tidak bisa berpegang. Menjadi jompo di usia yang produktif.


"Haaaaaahhhh ... aaahhh !!! Bunuh saja aku sekalian!" teriak Lintang Dalu.


Danur Cakra malah tertawa cekikikan, begitu senangnya ia melihat penderitaan lawan. Air mata yang mengalir di pipi Lintang Dalu, dianggap sebagai pemandangan indah yang melebihi keindahan pesona wisata.


Satu persatu nikmat yang dimiliki Lintang Dalu dicabut secara paksa, bahkan sebelah kakinya sudah pula dipatahkan, sebelah mata dipecahkan dan terakhir alat kela*min yang perlahan-lahan menerima sayatan nan pedih. Danur Cakra memang bukan manusia lagi, dia lebih dari pembunuh berdarah dingin, dia merupakan sosok tanpa hati nurani.


Rintihan, jerit, tangis dan lolongan Lintang Dalu tidak memberi iba, malah justru meningkatkan rasa gembira dan kepuasan. Salah siapa, beraninya coba memperko*sa Suhita. Itu artinya, juga menelan*jangi Cakra di muka umum.


Cakra membawa tubuh Lintang Dalu ke luar hutan, menuju sebuah sungai, lalu tubuh setengah mati itu dihanyutkan dengan sebuah rakit bambu. Ada beberapa koin emas yang juga disertakan sepucuk pesan, pada siapa pun yang menemukan untuk tidak membunuh Lintang Dalu. Bila perlu rawat dan obati, supaya penderitaan itu semakin lama dia derita.


°°°


Suhita meraba wajahnya, mengelap dengan dengan kain, coba membersihkan atas apa yang Cakra ceritakan. Mungkinkah orang itu tidak hanya menyentuh wajahnya, tapi juga bagian lain? Tentu saja Suhita dan Kencana Sari syok. Mereka bahkan belum punya kekasih, apalah lagi disentuh pria. Keluarga adalah pengecualian.


"Makanya, kalau ada yang ngomong, tolonglah di dengar. Jelas-jelas ini adalah kesalahan yang selalu kau perbuat, berulang kali. Ya, ini salahmu!" Danur Cakra menunjuk wajah Suhita. 


"Iya, iya. Ini adalah salahku, dan aku minta maaf karena tidak pernah mau mendengarkan apa katamu. Apa kau puas sekarang?" Suhita kesal juga lama-lama terus-terusan di pojokkan.


"Tuan, ini tidak sepenuhnya kesalahan Hita. Harusnya saya lebih bisa untuk diandalkan," Kencana Sari coba untuk membela Suhita.


"Ya, itu benar. Setidaknya kejujuran merupakan hal yang baik! Kalian berdua memang sama saja, payah!"


"TERSERAH! Apa pun itu, asal kau senang saja," Suhita mendongkol.


Harusnya dalam beberapa hari ke depan, Danur Cakra tidak dulu menggunakan kemampuan tenaga dalam yang berlebihan. Luka di perutnya cukup dalam, belum lagi senjata yang melukainya mengandung racun, harusnya dia istirahat total demi kesembuhan yang sempurna. Tapi rasanya itu tidak mungkin, terlalu banyak kegiatan aneh yang belakangan ini Cakra lakukan.


Suhita merenung, hatinya masih galau, belum bisa memutuskan. Di desa batu kemarin, Suhita mendapatkan satu sumberdaya yang sangat langka. Di mana khasiat dan kemampuan sumberdaya tersebut tentunya tidak bisa diremehkan. Mutiara Hati.


Seperti yang sudah diceritakan, Mutiara Hati merupakan satu sumberdaya yang terbagi menjadi dua bagian. Bentuknya seperti hati yang terpisah menjadi dua 💔 di mana satu bagian dan bagian lain saling melengkapi. Jika sumberdaya tersebut dikonsumsi oleh dua orang, maka kekuatannya akan semakin luar biasa. Dua orang yang mengkonsumsinya akan menjadi layaknya satu pilar, di mana tidak akan bisa dikalahkan jika hanya seorang saja.


Misalkan Suhita memutuskan untuk mengonsumsi Mutiara Hati bersama Danur Cakra,  maka selamanya mereka akan menjadi satu. Meskipun jasad mereka terpisah terbagi dalam dua nyawa, tapi bicara kematian mereka tidak bisa dipisah. Tidak akan ada orang yang bisa celakai Danur Cakra, kecuali dengan pula kalahkan Suhita.


Sangat menarik, untuk melenyapkan sosok siluman yang haus darah, maka diperlukan pengorbanan besar. Naga Kresna dan Tabib Dewa harus mati bersama-sama.


Keputusan Suhita kali ini, akan menentukan satu langkah besar.