
Senja baru saja bersiap-siap untuk datang menggantikan terik siang, ketika Suhita tiba di penginapan seperti yang disebut oleh pelayan kedai. Hita melihat ada seorang prajurit yang duduk di depan penginapan. Meskipun tanpa memakai seragam, tentu saja Hita kenal karena memang mereka pernah bertemu saat di bangunan tua kemarin.
"Lantas, mengapa Kencana Sari tidak meninggalkan jejak apa pun? Atau mungkin isian gelangnya sudah habis?" Suhita menghentikan kudanya, meminta pelayan penginapan untuk mengurus makan dan minumnya.
Tidak lama kemudian, Suhita telah berada di dekat prajurit yang bertugas mengawasi keadaan. Awalnya prajurit itu bersikap cuek, seolah tidak mengenali siapa Suhita.
"Siapa yang mengajarimu? Baiknya sudahi pura-puramu itu. Cepat bawa aku menemui Jenderal Muda," ucap Suhita pelan.
Dengan santai, Suhita duduk di samping si prajurit. Meskipun pandangan Suhita lurus ke depan, nyatanya masih tetap membuat prajurit itu kesulitan bernapas. Dia tidak bisa memilih, melanggar tugas yang diberikan Jenderal Muda atau melawan putusan Raja bilamana Suhita menggunakan lencana emas sebagai perintah.
"Urusanmu di sini sudah selesai, 'kan? Ayo sekarang kita masuk. Aku ingin bertemu dengan pelayanku," dengan penekanan suara yang setengah memaksa, Suhita meminta prajurit untuk bergegas tanpa banyak menimbang lagi.
Bagikan ayam potong terpapar penyakit, prajurit itu tertunduk lesu menuruti permintaan Suhita. Biarkan nanti Tabib Dewa yang berurusan dengan Jenderal Muda. Karena prajurit itu akan membawa Suhita ke tempat pelayannya. Lagi pula, si prajurit meyakini jika Jenderal Muda sekalipun akan sungkan bila berhadapan dengan Tabib Dewa.
"Wow, selera yang sangat bagus!" puji Suhita.
Prajurit tidak menanggapi, dia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang barang satu kali pun. Pastinya kalimat Suhita hanyalah sindiran, karena pada kenyataannya kamar yang mereka pilih merupakan kelas terendah yang disiapkan oleh penginapan.
"Sekarang, kau boleh pergi. Kembalilah bertugas," ucap Suhita ketika mereka tiba di depan kamar Kencana Sari.
"Ba-baik, Tabib. Saya mohon diri," setelah membungkukkan badan beberapa kali, prajurit itu segera berlalu. Dia terbebas dari satu tekanan, tinggal menunggu masalah lain yang datang saat Jenderal Muda tahu atas tindakan yang ia lakukan.
Tok! Tok! Tok! Suhita mengetuk daun pintu berulang kali.
"Sari, kau ada di dalam?" ucap Suhita kemudian.
Tidak ada jawaban, tapi Suhita yakin jika ada orang di dalam kamar tersebut. Jika benar Kencana Sari, berani sekali dia tidak menjawab salam Suhita.
Suhita menempelkan jari telunjuknya pada lubang kunci, dengan mengalirkan tenaga dalam Tapak Naga Es, Suhita membuat kunci itu mencair. Menetes bersama titik es yang basah.
KREEEKKK !!! Dengan sendirinya daun pintu terbuka saat Suhita melangkahkan kaki, memasuki kamar yang gelap. Bahkan tidak sempat untuk sekadar menyalakan pelita, apa yang Kencana Sari lakukan sampai sesibuk itu.
"Ah?!" Suhita terkejut karena mendapati Kencana Sari terbaring di atas ranjang.
Suhita segera menutup pintu dengan rapat, menyalakan pelita sebagai penerangan, barulah dia menghampiri Kencana Sari, memastikan apa yang telah terjadi pada pelayannya.
Tep! Tep! Tep! Suhita membuka totokan di syaraf pelayannya. Pantas saja Sari tidak membukakan pintu, kiranya dia hanya berupa tahanan yang tidak berdaya.
"Tabib ... gawat! Tabib, gawat!" seru Kencana Sari saat kembali miliki kemampuan bicara.
"Ssssttt !!! Tidak perlu buru-buru, kembalikan kondisi terbaikmu. Setelah itu, bukankah kau bisa bercerita dengan leluasa?" Suhita tersenyum lebar seraya memberikan sebutir pil pada Kencana Sari.
Suhita menghela napas lega karena tidak terjadi suatu apa pun pada Kencana Sari, itu sudah lebih dari cukup. Sementara jika bicara Kemuning, Suhita bisa menebak di mana dia sekarang. Pasti Raka Jaya sudah membawanya kembali ke Kota Raja. Suhita juga tahu bagaimana Kemuning menjadi incaran banyak pendekar, jelas latar belakang Kemuning yang merupakan putri bangsawan menjadi alasan kuat.
"Tabib, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Kencana Sari.
"Ya, kita harus menyusul ke Kota Raja. Paling tidak, aku ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri jika Kemuning baik-baik di sana," jawab Suhita dengan penuh keyakinan.
Kencana Sari mengangguk, tentu saja dia akan selalu setuju dengan apa pun keputusan Suhita. Selain Kencana Sari adalah pelayan, dia juga menaruh kepercayaan besar jika Hita telah mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan.
"Emmm, tapi maaf sebelumnya. Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi merupakan sebuah ganjalan jika tidak ku sampaikan," Kencana Sari bicara dengan ragu-ragu.
"Tidak perlu sungkan, katakan saja. Kau tahu, aku membutuhkan ucapan pedas untuk perbaiki langkah," Suhita tersenyum, ia akan memasang telinga apa pun yang akan dikatakan.
"Bukan tentang dirimu, tapi ini mengenai Kemuning. Dan apa Tabib percaya jika aku katakan kalau Jenderal Muda menaruh hati pada Kemuning?"
Suhita mengerutkan dahi, butuh beberapa waktu untuk dia bisa mencerna perkataan Kencana Sari. Sambil berusaha untuk percaya, Suhita meminta Kencana Sari untuk melanjutkan bicara, mengungkap beberapa alasan yang mendasari dugaannya.
Kencana Sari dan Kemuning tengah tertidur lelap, mereka tidak menyadari saat Suhita pergi. Yang dia rasakan, ketika tiba-tiba ada seseorang yang datang dan langsung menotok syaraf mereka. Hingga tubuh keduanya tidak bisa digerakkan.
Meskipun coba untuk melakukan teknik melepas totok yang pernah dipelajari dari Suhita, tapi kemampuan Kencana Sari tidak cukup kuat untuk mengalahkan tingginya kekuatan si penotok.
Akan tetapi meskipun tidak mampu bangun dengan itu membuat Kencana Sari sepenuhnya tersadar. Dia bisa mendengar dan melihat apa yang terjadi, hingga Kencana Sari mengetahui kalau orang yang menotoknya tidak lain ialah Raka Jaya. Awalnya Kencana Sari tidak percaya, tapi kenyataannya memang demikian. Raka Jaya datang dengan maksud tersendiri, dan itu berkaitan dengan Kemuning.
Tidak ada yang menyadari kalau Kencana Sari telah bangun dari pingsannya, dan saat di bawa dalam kereta, Kencana Sari bisa mendengar seluruh pembicaraan Raka Jaya dan tumenggung kepercayaannya. Beberapa rahasia tentunya terbuka saat itu. Mungkin termasuk terlambat untuk tahu, membuat Kencana Sari hampir tidak percaya jika Kemuning yang ia kenal ternyata seorang bangsawan berdarah biru. Kencana Sari mendengar dengan jelas, dan dari pembicaraan tersebut mengarahkan jika ada indikasi rencana Raka Jaya untuk membuat Kemuning jatuh ke pelukannya. Memang tidak seratus persen begitu, hanya saja kemungkinannya sangat besar. Lagi pula, siapa orangnya yang tidak tertarik pada kecantikan yang Kemuning miliki. Raka Jaya juga seorang Jenderal yang baik hati, bersanding dengan putri bangsawan, harusnya mereka akan menjadi pasangan yang serasi.
"Tidak ada yang salah. Setiap orang tentu miliki hak yang sama. Dengan usaha, pastinya akan berjuang untuk bisa mencapai segala maksud. Hanya saja, mengapa kau harus dibuat tidak sadarkan diri?" tanya Suhita ketika Kencana Sari selesai memaparkan cerita.
Kencana Sari mengangkat bahu, "mungkin Jenderal Muda takut kalau-kalau aku akan menjadi kompor, memanas-manasi Kemuning, atau bisa juga dia beranggapan jika aku terlibat dalam tindakan Kemuning yang tidak mau kembali ke rumah."
"Itu mustahil. Aku kenal betul siapa Jenderal Muda, dia melakukan sesuatu pasti dengan landasan hukum yang kuat. Dia seorang Jenderal, tindakannya selalu dalam koridor. Salah paham, karena mata kita saja yang salah mengartikan."
Kencana Sari mengangguk. Lagi pula, itu hanyalah dugaan pribadinya. Untuk memperjelas semuanya, tentunya sangat bijak keputusan Suhita untuk datang ke Kota Raja dan mendengarkan penjelasan langsung dari mulut Raka Jaya.
Tidak ada kabar apa pun yang menyebar. Sepertinya rencana Raka Jaya berjalan mulus. Namun keputusan Suhita sudah bulat, dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Bertemu langsung dengan Kemuning dan Raka Jaya, mendengar penjelasan dari keduanya.
Hujan mengguyur dengan derasnya, membuat genangan air menutupi jalan. Suhita dan Kencana Sari terpaksa mencari tempat berteduh. Mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan jika terus begini.
"Permisi ... Tuan, Nyonya ... kami mohon izin untuk berteduh!" seru Kencana Sari dengan suara keras, berteriak di depan pondok tua.
Sejatinya mereka tidak perlu masuk, karena beranda pondok diatapi cukup luas. Lebih dari cukup untuk menampung sekadar sepuluh orang. Namun meminta izin tentunya merupakan tindakan yang mudah untuk dilakukan.
Baru sebentar duduk di atas bangku bambu, sudut mata Suhita menangkap pergerakan pada tanah di sudut pelataran. Jelas bukan ular atau sejenis binatang lainnya, akan tetapi ini jauh lebih besar.
WUUSSS !!! Tidak lama berselang muncul sosok tubuh manusia, bertiga. Bisa keluar dari dalam tanah dengan menyisakan bekas lubang yang kecil, sungguh suatu kemampuan yang luar biasa.
"Ilmu Susur Bumi?!" desis Suhita dan Kencana Sari hampir bersamaan.
Dengan memperlihatkan kemampuan dari Ilmu Susur Bumi, sudah menegaskan jika mereka yang datang bukanlah berasal dari pendekar aliran putih. Bahkan Suhita ingat jika orang yang sama pernah datang padanya, saat itu mereka masih mengejar Mutiara Hati. Lalu sekarang, apa yang mereka inginkan?
Lagi-lagi, selalu saja muncul masalah yang menghadang membuat jalan yang terburu-buru menjadi terhambat. Suhita harus singkirkan duri penghambat sebelum dia melanjutkan perjalanan ke Kota Raja.
Kelompok Tikus Tanah. Tiga orang yang datang merupakan para pimpinannya, murid kesatu, dua dan tiga Ulo Nogo. Tokoh yang terkahir dikenal dengan kemampuan Ilmu Susur Bumi pada masa peperangan Kerajaan Utara dan Selatan.
Tikus Putih merupakan murid pertama, usianya berkisar kepala lima. Tikus Merah dan Tikus Hitam adalah adik seperguruan Tikus Putih, dengan rentang usia yang tidak berbeda jauh. Harusnya mereka sudah persiapkan hari pensiun, bukannya terus berkelana dengan menebar banyak berita hoax.
"Hehehe ... selamat sore, selamat berjumpa lagi, Tabib Dewa ..." ketiganya membungkuk ramah.
Suhita tersenyum manis, membalas salam mereka dengan sikap yang sopan. Siapa pun orangnya, pastinya akan diperlakukan sama oleh Suhita. Sudah ciri khas Tabib Dewa, meskipun keselamatannya pernah terancam oleh orang yang sama.
"Selamat sore, Tuan-tuan. Silakan," Suhita mempersilakan ketiganya untuk menempati bangku bambu yang masih kosong.
"Terima kasih, Tabib Dewa. Tapi kami tidak berlama-lama, kedatangan kami hanya ingin menanyakan sesuatu, perihal Pendekar Naga Kresna. Bukankah dia sahabat Tabib?" tanya Tikus Putih.
Suhita sudah menduga, tapi tetap saja dia terkejut mendengarnya. Kepandaian Kelompok Tikus Tanah mencari berita, lebih hebat dari tajamnya telinga kelelawar.
"Aku berteman dengan siapa pun. Meskipun aku tidak pernah inginkan punya musuh, tapi kalian tahu 'kan, aku selalu dapatkan banyak masalah. Dan mengenai Pendekar Naga Kresna yang kalian sebut, aku yakin jika kalian jauh lebih banyak tahu daripada aku," jawab Suhita dengan tenang.
"Ya, karena sumberdaya Tabib bahkan dikhianati oleh seorang yang sempat dipercaya. Meski demikian tentunya Tabib tahu bukan, di mana kira-kira keberadaan Pendekar Naga Kresna?" kejar Tikus Putih.
"Sesuatu yang terlepas, tidak mungkin bisa kembali di dapatkan. Seperti layangan putus, ia akan jatuh di tempat yang jauh entah di mana. Tuan, bukan karena aku tidak ingin membantu kalian. Tapi aku tidak pernah tahu di mana Naga Kresna tinggal. Dia seorang pengembara, langit ialah atap rumahnya."
"Ohhh ... hehehe! Masa iya, Tabib Dewa sama sekali tidak tahu di mana markas mereka?" Tikus Tanah terus mendesak Suhita.
Mereka?! Itu artinya Danur Cakra telah memiliki kelompok. Benarkah, dia memimpin beberapa orang dari golongan aliran sesat? Rasanya dunia terlalu cepat berputar.
"Tuan-tuan, Tabib sudah mengatakan apa yang dia tahu. Kalian jangan memojokkan Tabib Dewa, seolah-olah menganggap Tabib bagian dari semua ini. Jaga bicara kalian!" Kencana Sari menunjuk lurus wajah Tikus Putih, dia tidak senang melihat kelakuan mereka.
Meskipun tiga Tikus Tanah segera meminta maaf, tetap saja hati Kencana Sari terlanjur dongkol. Mereka mengintimidasi Tabib Dewa karena kedekatan Tabib Dewa dengan Pendekar Naga Kresna.
"Tidak banyak yang tahu, tapi kami bisa buktikan jika memang Tabib Dewa dan Pendekar Naga Kresna, termasuk juga kau. Kalian menginap di penginapan yang sama, sebelum terjadinya prahara," Tikus Hitam balas menunjuk Kencana Sari.
Kencana Sari menyipitkan matanya, sejak awal dia sudah menduga jika kedatangan Tikus Tanah bukan sekadar untuk berbincang. Mereka adalah kelompok aliran sesat, membuat masalah tentunya merupakan suatu hobi.
"Lalu apa masalahnya? Sangat banyak tokoh dunia persilatan yang datang pada Tabib Dewa meminta bantuan, bahkan mereka rela mengawal Tabib saat mencari sumberdaya yang dibutuhkan. Dengar, aku tidak bodoh. Kalian hanya coba cari keuntungan dengan sedikit berita yang sama sekali tidak bakal dipercaya dunia persilatan. Basi! Baiknya kalian pergi, atau tindakan kalian yang justru akan menjerumuskan kalian saat dunia menatap nanar!" Kencana Sari mengibaskan tangan, mengusir Tikus Tanah.
"Tajam sekali mulutmu. Biar aku tahu, bagaimana pula kau gunakan tangan selain lidah!" dengan geram, Tikus Hitam melayangkan tamparan ke arah Kencana Sari.
Tep! Suhita menangkap tangan Tikus Hitam. Tidak bergerak, tenaga dalam Suhita jelas berada di atas Tikus Hitam.
"Yaaaatttt !!!" Tikus Hitam berontak, dia kembali melakukan serangan.
Sebelum Suhita, tentu Kencana Sari yang lebih dulu turun tangan. Sebagai anak buah, sekaligus ingin mempraktekkan bagaimana peningkatan kemampuannya sebagai tangan kanan Tabib.
Tikus Hitam dan Tikus Merah langsung mengetahui bagaimana tingkat kemampuan yang dimiliki oleh pelayan Tabib Dewa. Mereka menyesal karena telah terpancing emosi.
Bruuuk! Bruuuk! Tubuh keduanya terjatuh di atas tanah yang becek, membuat pakaian mereka kotor terkena lumpur.
Suhita hanya bisa menggelengkan kepalanya, dunia memang selalu menulis cerita menarik dari hari ke hari. Hita senang karena kemampuan Kencana Sari meningkat, tapi bukan pula menjadi alasan untuk selesaikan masalah dengan kekerasan.
"Berhenti!" Suhita berteriak lantang.
Tangan Suhita terangkat tinggi, dia menggunakan Tapak Naga Es untuk memperingatkan mereka. Seketika satu sinar menyilaukan menyapu tubuh ke tiga Tikus Tanah, membuat mereka terjerembab di antara mata pisau tajam yang terbentuk dari rintik air hujan.
Tanpa menunggu kalimat kedua, Tikus Tanah segera melarikan diri. Ilmu Susur Bumi menjadi solusi supaya tubuh mereka terhindar dari rajam mata pisau sebanyak air hujan. Mau tidak mau, harus mengakui bahwa Tabib Dewa sangat menakutkan. Diam seperti cupu, bergerak layaknya suhu.