Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Siluman Penebar Racun


Suhita memandang berkeliling, mencari-cari sesuatu yang mungkin tersembunyi di balik akar dan tanaman menjalar. Sesekali siulan burung kecil terdengar di telinga, seolah memanggil dan menggoda Suhita dari jauh.


"Hmmm ... harusnya ada di sekitar sini," gumam Suhita.


Sebelum Suhita kembali mengambil peta, terlebih dahulu dia mengerahkan tenaga dalam sebagai benteng perlindungan supaya tidak ada yang bisa mencuri peta dari tangannya. Tentunya perhitungan yang sangat matang menyertai setiap tindakan yang Tabib Dewa lakukan. Ceroboh bukanlah ciri khasnya.


Hsssttt! Hssssttt! desis hewan melata terdengar mendekat. Suhita melirik ke arah seekor ular king kobra berwarna kehitaman.  Lidah ular tersebut terjulur, mengukur kemampuan jarak lompatannya untuk menjangkau Suhita.


"Pergilah, aku tidak bermaksud mengganggu istirahat siangmu," ucap Suhita dengan santai. Perlahan dia kembali menyimpan peta di tangannya ke dalam cincin mustika.


King kobra sebesar lengan orang dewasa itu, bukannya menjauh malah bersiap untuk menyerang. Kepalanya terangkat tinggi, lehernya menggembung besar, dan pada detik berikutnya tubuhnya meluncur dengan kecepatan tinggi.


Bruk! Belum juga dia berhasil menjangkau Suhita, lebih dulu tubuhnya jatuh terhempas  dengan keras. Kemampuan king kobra tidak cukup kuat untuk menembus lingkar energi pelindung yang Suhita ciptakan.


Tidak puas sampai di situ, king kobra kembali bangkit. Hewan melata dengan bisa sangat berbahaya tersebut tidak patah arang. Dia kembali melancarkan serangannya pada Suhita, meskipun selalu gagal.


"Maaf ..." ucap Suhita lirih. Tidak berselang lama, tangannya mengibas ke arah tubuh king kobra. Seketika hewan melata itu terhempas jauh dan hilang dari pandangan.


Suhita menghela napas panjang, sebelum kemudian dia menuju ke satu sisi tebing dan menemukan apa yang dia cari di sana. Suhita mengambil batu berbentuk bintang tersebut sebagai kunci untuk membuka pintu pada dinding tebing.


Sungguh rapi tata letak kunci berikut pintu pada tebing itu, sulit untuk diketahui bila tanpa bantuan buku petunjuk. Beruntung Suhita bisa memahami semuanya dengan baik, hingga dia berhasil mengatasi tanpa kesulitan yang berarti.


Setelah pintu berhasil terbuka, Suhita bergegas masuk sebelum pintu tersebut kembali tertutup dengan sendirinya. Menuruni banyak anak tangga, hingga kemudian mengantarkan Suhita tiba layaknya di dunia lain.


"Hrrrr!!! Siapa gerangan dirimu, beraninya datang tanpa permisi," suara mengaung menggetarkan hati menyambut kedatangan Suhita.


Mata Suhita bergerak ke segala penjuru, mencoba mencari arah sumberdaya suara. Lokasi yang berbentuk gua dengan dinding batu di sisi kiri dan kanan, membuat suara terpantul ke berbagai penjuru. Sejenak Suhita memejamkan mata, mengalirkan kekuatan tenaga dalam. Kendati dirinya merupakan seorang juru sembuh, tapi bicara kemampuan tentunya tidak bisa boleh diremehkan begitu saja.


Saat kembali terbuka, mata Suhita telah dilapisi kekuatan besar. Bagian dari  Kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga yang biasa Mahesa gunakan untuk mendeteksi keberadaan siluman dan mahluk sejenisnya. Mata Naga, dengan kemampuan ini Suhita bisa dengan mudah membaca ilusi maupun bayangan semu, permainan ilmu sihir para siluman.


Pandangan mata Suhita tertuju pada sesosok mahluk di dalam satu kolam air. Sejenis kadal. Ya, kadal hijau. Binatang beracun yang selama ini ada dalam kisah buku dongeng.


Sekarang Suhita bisa menyimpulkan atas apa yang sedang terjadi. Kolam kecil tempat kadal hijau itu berendam pasti merupakan simbol dari sumber mata air yang mengalir ke sebagian besar Kota Binar Embun. Pantas saja, banyak sumur-sumur yang tercemar racun. Kiranya sosok kadal hijau ini mencemari pusat mata air. Ini tidak bisa dibiarkan.


"Kau menyapaku, lalu mengapa tidak datang menyambut?" ucap Suhita pada kadal hijau.


Kadal hijau nampak sedikit terkejut. Dia tidak menduga jika Suhita berhasil menemukan keberadaannya dengan waktu yang sangat singkat bahkan tanpa melangkahkan kaki. Dengan begitu bisa dipastikan kalau kemampuan yang dimiliki wanita muda tersebut berada di atas rata-rata. Kadal hijau meningkatkan kewaspadaan.


"Aku mohon, keluarlah dari tempat itu. Apa kau tahu, perbuatan yang kau lakukan telah mencelakai banyak orang?" perkataan Suhita masih terdengar lembut, mencoba bicara baik-baik.


"Hrrrr! Kepa*rat! Siapa gerangan wanita muda ini? Mungkinkah dia seorang utusan khayangan?" batin Kadal hijau. Namun sejauh ini, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Kadal hijau.


"Ayo, keluarlah! Aku harap kau mau bekerjasama," sekali lagi Suhita bicara. 


Meskipun untuk kali ini nada bicara dan suara Suhita masih tetap pelan, tapi Suhita telah menyertakan tenaga dalam ketika dia melepaskan kata. Hal yang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah Suhita melakukannya. Tapi sikap dan perilaku Kadal hijau yang sudah kelewat batas, membuat Suhita harus bersikap tegas.


Sebagai siluman berilmu tinggi, tentunya Kadal hijau paham akan keadaan yang terjadi. Meskipun tidak bau ramuan obat, pasti sosok gadis muda yang datang merupakan seorang yang sedang mengatasi wabah racun di Kota Binar Embun.


CLIIINGGG !!!


Menghilanglah sosok kadal kecil di dalam air. Dengan satu gerakan, sekarang dia telah kembali pada wujud semula. Siluman Kadal hijau.


Tanpa terduga, Suhita bergerak cepat melompat ke arah Kadal hijau. Membuat Kadal hijau terpaksa menjatuhkan tubuhnya, bergulir di atas lantai.


Suhita tersenyum, sekarang mereka telah bertukar tempat. Serangan mendadak yang Suhita lakukan hanyalah tipuan semata, tujuannya tidak lain yakni untuk berada di dekat sumber mata air. Hingga Suhita bisa menaruh mustika anti racun ke dalam mata air.


Selama ini, Kadal hijau melingkarkan tubuhnya untuk tidur pada mata air. Hingga racun-racun yang ada pada celah sisiknya terus menerus mengalir ke dalam mata air kemudian mengalir menuju peradaban manusia. Membuat banyak orang jadi keracunan setelah minum air yang bercampur racun.


Sejatinya, habitat Kadal hijau tidaklah di dalam air. Meskipun Kadal hijau yang ini adalah siluman, tetap saja mereka tidak untuk selalu mengeluarkan racun secara terus menerus. Rasanya sangat aneh saja dengan tindakan yang dilakukan oleh Kadal hijau sekarang. Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Ada untungnya juga, Suhita tidak lagi bersama Danur Cakra. Karena jika ada pria itu, sudah pasti dia sudah mengamuk tanpa coba untuk bicara, mengorek berbagai informasi.


"Mengapa kau menyakiti dirimu sendiri? Setelah cairan racun dalam tubuhmu habis maka setidaknya butuh dua ratus tahun untuk kau bisa kembali pada kondisimu seperti sekarang," ucap Suhita.


"Hhhrrr! Apa pedulimu, manusia licik!" bentak Kadal hijau dengan murka.


"Bahkan manusia yang terkenal licik pun tidak akan melakukannya. Sungguh, aku sangat salut padamu! Asalkan orang lain menderita, nyawa pun kau pertaruhkan."


"HHHRRR!!!! Biar kau rasakan bagaimana racunku secara langsung. Apa kau masih bisa bicara?" Kadal hijau memasang kuda-kuda untuk menyerang.


Suhita tersenyum tipis, dia menunjukkan beberapa butir kapsul pada Kadal hijau, "kau lihat, benda ini pun mampu untuk membuat kau merasakan bagaimana ganasnya racun seperti apa yang kau punya."


"Bagaimana mungkin, seorang manusia mampu membuat ini semua. Siapa gadis ini sebenarnya?" perlahan Kadal hijau menarik kuda-kudanya, hatinya gundah, diselimuti berjuta pertanyaan.


Banyak sudah cerita bahkan saksi nyata, akan kebenaran kutukan yang terjadi setelah menentang kehendak khayangan. Terkadang para Dewa menggunakan tubuh manusia untuk bisa turun ke mayapada menuntaskan tugas. Sebagai siluman, tentunya Kadal hijau juga dibekali rasa takut. Bagaimana dengan pertapaan yang dia lakukan selama ratusan tahun jika tiba-tiba dirinya dikutuk menjadi anak katak? Semuanya akan jadi sia-sia. Kadal hijau tentu tidak ingin itu terjadi.


"Hhrrrr !!! Wahai manusia, siapa kau sebenarnya?!" tanya Kadal hijau kemudian.


Suhita melirik pada mustika anti racun yang ia taruh di dalam sumber mata air. Rencananya berjalan lancar, Kadal hijau mau diajak bicara. Setidaknya dia bisa mengulur waktu agar mustika tersebut bisa bekerja secara maksimal.


"Namaku Suhita. Kebetulan aku menjadi juru sembuh dan menangani orang-orang yang keracunan akibat perbuatan yang kau lakukan. Aku tahu, ada alasannya hingga kau melakukan tindakan tidak terpuji seperti ini," jawab Suhita.


"Harusnya kau tidak usah ikut campur. Takutnya kau sendiri yang akan menyesal," mendapati gerak-gerik Suhita yang sengaja mengulur-ulur waktu, membuat Kadal hijau berinisiatif untuk segera melakukan serangan jarak jauh.


Wuuusss !!! Hentakan tenaga dalam Kadal hijau lepaskan, membentuk energi berwarna hijau gelap berusaha menelan tubuh Suhita.


Suhita telah lebih dari siap. Dia telah berjaga-jaga, bahkan tanpa Kadal hijau menyadari, embun serta titik basah di celah dinding semuanya telah berubah menjadi puluhan anak panah kristal es. Ketika serangan Kadal hijau mendekat, serentak anak-anak panah itu berhamburan menghalau.


BRAAAMMM !!! Benturan keras terjadi, dua energi beradu di udara. Namun dari sekian banyak kristal es yang terbentur, tidak semuanya hancur bersama energi milik Kadal hijau. Masih banyak kristal es yang berhasil menembus benturan dan menyerang balik Kadal hijau.


"Kepa*rat!" Kadal hijau mengumpat. Jika saja dia tidak cepat, pastinya bagian tubuhnya akan tertancap, tercabik, oleh tombak kristal es.


"Tapak Naga?! Siapa sebenarnya gadis ini?!" Kadal hijau semakin terhenyak. Kemampuan yang dimiliki tabib muda di hadapannya sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Bahkan begitu mengerikan.


"Kau sangat keras kepala, begitu bebal. Akankah harus jalan kekerasan untuk bisa membuka matamu?"


Suhita tidak punya pilihan lain. Meskipun seribu cara dia coba untuk bicara, nampaknya Kadal hijau lebih suka cara seperti layaknya seorang pendekar. Baiklah, dengan begitu ia akan melihat dan menyaksikan bagaimana kemampuan yang tersimpan di balik tubuh indah Tabib Dewa.


Tujuan utama Suhita sudah tercapai. Sumber mata air beracun telah dia temukan. Bahkan Suhita sudah berhasil menggunakan mustika anti racun untuk menetralisir air. Tinggal menunggu waktu saja, maka sumber mata air tersebut akan kembali seperti sedia kala.


Berbicara kemampuan bertarung, memang Suhita bukanlah seorang pendekar yang menguasai banyak kemampuan olah kanuragan. Dia bukan Danur Cakra yang kuasai jurus tangan kosong, dengan mudah gunakan berbagai jurus tipuan yang tidak terduga oleh lawan. Tidak pula seperti Raka Jaya yang sangat piawai gunakan pedang. Sejak kecil, Suhita hanya mempelajari satu jurus yakni Tarian Naga. Jurus yang mendasari ia menguasai kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Namun di sisi lain, bicara kekuatan tenaga dalam Suhita merupakan yang terbaik dari dua saudaranya yang lain. Jadi, tubuhnya akan sulit untuk disentuh, apalagi untuk dilukai.


"Kau mengaku sebagai Tabib, tapi kemampuan yang kau punya setara dengan pendekar tingkat tinggi. Tidak masuk akal!"


Suhita hanya menjawabnya dengan satu senyuman tipis. Dia tahu jika Kadal hijau mulai frustrasi, saat mendapati berbagai pola serangan yang dia lakukan semuanya menemui jalan buntu. Suhita begitu licin bagaikan belut, lincah layaknya burung srigunting.


"Tabib, coba kau terima satu ini!" teriak Kadal hijau dengan suara melengking.


Tidak bermaksud untuk pamer kekuatan, Suhita menyambut pukulan Kadal hijau. Keduanya sama-sama melompat di udara, meluncur saling mendekat dengan bola kekuatan di tangan masing-masing.


BAAAMMM !!!!


Tubuh Kadal hijau terdorong dengan sangat keras, sementara Suhita masih melaju dengan tekanan tenaga dalam menempel di dada Kadal hijau. Keduanya terus meluncur hingga dinding gua tertabrak oleh punggung Kadal hijau lalu kemudian jebol.


BRUUUKKK !!! Kadal hijau terjatuh berguling-guling di tanah. Keduanya telah kembali ke dunia nyata. Dinding yang semula jebol, secara ghaib kembali tertutup. Di dalam gua, di dasar mata air tinggallah mustika anti racun yang masih bekerja. Sementara sumber penyakitnya sudah terangkat ke luar.


Kadal hijau segera bangkit. Dia mengelus-elus dada dan punggungnya yang terasa amat nyeri. Raut ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Setelah apa yang terjadi, dia dipaksa untuk mengakui jika dirinya bukan lawan yang sepadan untuk Tabib Dewa.


WUUURRR !!! Kadal hijau menyemburkan cairan kental berwarna kehijauan. Lendir beracun tersebut jumlahnya sangat banyak. Begitu mustahil untuk Suhita bisa menghindar.


"Huppp!!" Suhita justru melompat mendekat. Tangan kanannya terangkat menyambut lendir hijau yang dimuntahkan Kadal hijau. Saatnya Mustika Kangguru beraksi. Seluruh lendir tersebut mendadak lenyap tanpa sisa.


Bugh! Desh! Dua tendangan sekaligus diterima oleh Kadal hijau. Membuat tubuhnya jatuh terlentang, memuntahkan darah segar.


"A-ampuun ..... ba-baiklah, akan aku beritahu apa yang terjadi. Asalkan kau ampuni nyawaku, apa pun yang kau inginkan pasti akan aku lakukan ..." dengan terbata-bata Kadal hijau memohon pengampunan.


Suhita menghela napas lega. Jika saja sejak awal Kadal hijau bisa diajak bicara secara baik-baik, pastinya tidak diperlukan pertarungan ini, hal yang paling tidak Suhita sukai.


Suhita berjalan mendekat, dia memberikan beberapa butir pil untuk menghentikan pendarahan sekaligus mengembalikan kekuatan. Membuat Kadal hijau jadi serba salah. Ternyata ada manusia yang sangat baik seperti ini. Hatinya sangat tulus dan lembut bagaikan bidadari.


Kadal hijau baru saja memulai cerita, mengapa dia sampai hati meracuni sumber mata air, "Aku terpaksa, jika tidak maka aku akan dicelakai."


"Memangnya ..." baru saja Suhita membuka suara, tiba-tiba ...


CRAAASSS!!!!


"Akkhhh ..." mata Kadal hijau terbelalak lebar, sebuah pisau menembus jantungnya, membungkam mulut Kadal hijau untuk selama-lamanya.


Suhita terkejut bukan kepalang, ia segera bangkit. Sungguh tidak terduga, ada orang yang sengaja mencelakai Kadal hijau. Menjaga supaya siluman tersebut tidak membongkar rahasia besar atas kejahatan berencana yang selama ini terjadi. Pasti, ada sosok penting di balik semuanya. Tapi siapa? Apa tujuannya?