Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 23


Tetapi sekarang ia merenungkannya. Cocokkah situasi yang dihadapinya dengan nasihat yang diberikan ayahnya itu?


Bayangkan, ia diteror oleh Bram lewat perlakuan yang samar, tidak kentara, dan hanya bisa dirasakan oleh dirinya sendiri. Sesuatu yang tidak meninggalkan bekas secara fisik. Tak pula ada saksi. Tentu saja ada maksudnya. Mustahil orang bersusah payah tanpa maksud. Pendapat Della paling bisa diterima. Bram ingin mendorongnya pergi. Bukankah orang yang merasa takut selalu ingin lari menjauh? Bram tahu, ia bisa tinggal dirumah ayahnya atau rumah Della. Tetapi kenapa? Mustahil kalau sebabnya hanya karena Bram ingin leluasa berduaan dengan ibunya. Selama ini ia toh tidak pernah mengganggu malah sebaliknya ia selalu menghindar. Pasti itu tidak cukup bagi Bram ia keluar dari rumah barulah lelaki itu puas. Apakah Bram ingin menguasai rumah? Tapi itu rasanya tidak mungkin. Rumah itu ada surat-suratnya, jadi tak mungkin dikuasai begitu saja. Tiba-tiba Dinda bergidik ketika pikiran yang amat jelek muncul. Ah, tidak. Della sudah menganjurkan, agar ia berusahalah berpikir positif. Bila pikiran selalu berawal jelek, dan kemudian dikuasai melulu kejelekan, maka itu berarti ia sudah mendekati ketidaksadaran. Betapa mengerikan.


****


Biasanya, bila Dinda berangkat ke sekolah jam setengah tujuh pagi, ibunya belum bangun. Sementara Bram belum kembali dari kegiatan rutinnya, yaitu jogging di Senayan. Ia pergi pagi-pagi kesana dengan mobil. Setelah Bram pergi, barulah Dinda bangun dan mulai dengan latihan-latihannya. Ia punya waktu cukup banyak dan aman untuk berlatih sendiri. Sedang Bi Imah tak memusingkan apa yang dilihatnya. Ia sudah cukup sering melihat Johan berlatih dulu, saat lelaki itu masih menjadi majikannya. Ketika itu sering diajak ikut serta berlatih pernapasan. "Biar bibi tetap sehat," begitu alasan Johan. Padahal ia sudah merasa sehat tanpa melakukan gerakan-gerakan yang melelahkan itu. Tentu ia pernah mencoba, tapi sesudahnya ia merasa bosan dan malas padahal manfaatnya belum terasa.


Sementara itu Lilis menikmati hidupnya bermalas-malasan sambil mereguk kasih sayang suami. Ketika masih menjadi istri Johan, lelaki itu sering kali setengah memaksanya untuk bangun lebih pagi supaya tubuhnya lebih sehat. Bahkan memaksa juga untuk ikut latihan pernapasan. Ia benci sekali dipaksa-paksa seperti itu. Memang dulu dan sekarang sama saja statusnya, yaitu ibu rumah tangga. Tetapi sekarang Bram tak pernah mengatur jadwal kegiatannya. Mau bangun jam berapa juga terserah. Ia pun tak perlu menyiapkan sarapan di waktu pagi, karena Bram selalu sarapan bubur ayam di Senayan sebelum pulang. Kadang-kadang Bram membawa rantang untuk membelikan Lilis bubur. Seringkali Bram berangkat ke tempat kerjanya pada saat ia masih tidur nyenyak. Pada saat itu Bram mencium dahinya. "Aku pergi dulu, Sayang?" bisiknya. Oh, betapa menyenangkan hidup ini bagi Lilis.


Kepribadiannya yang malas membuat ia segan menanyakan perihal surat saham yang dijanjikan Bram untuk diperlihatkan kepadanya. Ia percaya sepenuhnya. Buat apa capek-capek mempelajari sesuatu yang tak dipahaminya sama sekali. Apalagi nampaknya ia harus mulai dari bawah. Apa yang dimaksud properti, izin-izin apa yang diperlukan, berapa harga tanah di wilayah ini dan wilayah itu, bagaimana cara pendekatan kepada aparat dan bagaimana pula kepada penduduk yang tanahnya diincar, serta seribu satu permasalahan lainnya.


Ah, buat apa ia memahami hal-hal seperti itu kalau ia tidak bermaksud turun di lapangan? Sekedar mengikuti Bram? Jangan-jangan ia malah kelihatan seperti orang dungu, atau pelayan. Jadi cukuplah Bram saja yang begitu. Dan ia tinggal menikmati keuntungannya kelak.


Sebenarnya ia ingin sekali memberitahu Della perihal kenyamanan dan keberuntungannya itu. Berbeda daripada Della yang membiarkan uangnya dinikmati bank, dia memanfaatkannya untuk membantu suami sekaligus menikmati keuntungan lebih besar. Tetapi setiap kali keinginan memberitahu itu pupus bila teringat akan kemungkinan melihat reaksi Della. Padahal ia justru menghindari hal seperti itu. Tidak boleh ada yang menggangu keberuntungan dengan kecurigaan.


Pagi itu pun Lilis membuka matanya yang masih mengantuk ketika Bram mengecup dahinya. "Ratuku masih mengantuk ya?" kata Bram tertawa.


Lilis memfokuskan tatapannya. Bram sudah tampak rapi dengan kemeja warna hijau muda berlengan panjang dan celana hitam. Di mata Lilis, Bram kelihatan gagah dan tampan. "Kau sudah mau pergi, mas?"


"Ya. Sudahlah. Kau tak perlu bangun. Mimpi apa barusan?"


"Mimpi tentang dirimu."


"Oh ya? Ceritain dong." Bram duduk di tepi tempat tidur.


"Tidak banyak. Aku mimpi kau menciumku."


Bram tertawa. Ia membungkuk dan mencium Lilis. "Sekarang beneran. Bukan mimpi lagi. Ouh...., kau wangi ya? Baru bangun tidur, kok sudah wangi?"


"Hei, siapa yang pakai minyak wangi?"


"Tapi kau wangi. Aku suka sekali Lis. Suka sekali." Bram membungkuk lagi. Tapi Lilis mendorongnya sambil tertawa. "Jangan keterusan Mas. Nanti kau tak jadi pergi."


Bram berdiri. "Oh ya, Lis. Aku membuatkan kopi susu untukmu. Jangan minum sekarang. Masih panas sekali. Lagipula kau masih ingin tidur lagi, bukan? Nanti sajalah minumnya kalau kau benar-benar mau bangun."


Lilis menoleh dan secangkir kopi susu diatas meja kecil disamping kepalanya. Asap masih kelihatan mengepul. "Aduh, Terimakasih Mas," katanya dengan perasaan bahagia. "Kemarin teh manis. Sekarang kopi susu. Besok apa ya?"


"Besok maunya apa?" tanya Bram dengan senyum.


"Ah, aku cuma mau kamu."


"Iya deh. Besok kamu makan aku."


Lilis tertawa. "Pasti kau tak enak dimakan."


"Nah, aku pergi dulu ya. Baik-baik dirumah."


"Dinda sudah pergi?"


Bram tertegun sebentar. Tak biasanya Lilis menanyakan Dinda pada saat dimana ia tahu betul bahwa Dinda pasti sudah pergi. "Tentu saja sudah Lis. Ini kah sudah pukul delapan."


"Oh iya. Aku lupa tuh."


"Baiklah. Aku pergi. Jangan lupa diminum kopinya. Biar hilang semua kantuk mu."


Bram mencium Lilis lagi sebelum pergi. Setelah menutup pintu, ia bergumam, "Kau tak akan pernah bisa memakanku," senyumnya melebar. Kemudia ia menuruni tangga dengan langkah cepat dan ringan. Tak lama sesudah itu kedengaran mesin mobilnya dihidupkan lalu melaju pergi.


Di kamarnya, Lilis masih rebah di tempat tidur. Ia senang sekali menghabiskan beberapa waktu dengan melamun sebelum bangun dari tempat tidur. Kebiasaan seperti itu menyenangkan sekali, karena ia memiliki banyak pengalaman manis yang sangat berharga untuk dikenang kembali. Betapa manisnya Bram. Ia menoleh ke samping lalu meraih cangkir. Masih terlalu panas untuk dihirup. Rupanya Bram sengaja membuatnya seperti itu supaya ia mempunyai waktu untuk melamun lebih dulu sebelum meminumnya. Bram memang sudah tahu kebiasaannya. Bukankah jarang sekali suami yang begitu baik dan bersedia melayani istrinya? Biasanya malah terbalik. Suamilah yang selalu menuntut dilayani istrinya.


****____****


yang belum like cusss likeeee