
Ucapan itu menyenangkan Lilis. Ia tersenyum. "Ah, ada juga gunanya bicara denganmu. Tapi ingat, jangan bilang pada Dinda."
"Tentu. Aku kan sudah berjanji. Tapi jangan lupa sampaikan salam ku padanya dan tanyakan kapan mau main lagi kesini."
"Baik."
Lilis berlalu dengan perasaan senang dan lebih percaya diri. Ketika bertemu dengan Bram sore itu ia segera menyampaikan niatnya. Bram memeluknya dengan sikap berterima kasih. "Aku akan berusaha sendiri dulu, Lis. Bila tidak berhasil juga, barulah aku akan menerima bantuan mu."
"Jangan begitu, Mas. Kau jangan memberikan kesempatan pada orang itu untuk menganiayamu lagi. Sudahlah. Berikan saja cek ini kepadanya."
"Kalau begitu, aku menerimanya sebagai pinjaman, Lis. Begitu aku menerima pembayaran uangmu ku ganti ya?"
"Baik." Lilis merasa senang dan terhibur oleh janji Bram itu. Uangnya akan diganti dan tidak akan hilang begitu saja. Karena senangnya ia ingat pada janjinya untuk menyampaikan salam Della kepada Dinda.
Dengan terkejut Dinda teringat bahwa ia hampir melupakan bibinya itu karena kesibukannya belakangan ini. Latihan-latihan kungfu itu membuatnya capek dan lebih suka beristirahat daripada keluyuran keluar rumah. Ia memang bisa telepon tapi sulit melakukannya tanpa didengar ibunya atau pembantu. Berbicara dengan Della berarti mengungkapkan hal-hal yang mau ia rahasiakan dari orang lain.
****
Begitu Bustaman, suami Della, pulang ke rumah, Della segera menceritakan permasalahan yang dibawa Lilis tadi. "Bayangkan, Pa. Baru nikah beberapa bulan sudah terlibat utang."
"Jangan begitu, Ma. Mana ada sih pengusaha yang tidak terlibat utang piutang? Itu wajar saja."
"Tapi penagihnya main gebuk. Katanya Bram sampai babak belur dianiaya."
"Aduh, kasihan. Apa dia baik-baik saja?"
"Ya, dia baik."
"Kelihatan kau pun tidak menyukainya," kata Bustaman sambil tersenyum. "Apakah karena terpengaruh cerita Dinda?"
"Entahlah. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Bagaimana pun , aku lebih berpihak kepada keponakan ku sendiri. Tapi mengenai masalah Lilis itu aku tidak mau ikut campur."
"Toh kau membuatnya jengkel."
"Ya. Spontan saja omongan ku keluar. Aku menyesal sesudahnya. Kupikir dia bukan minta pendapat melainkan membutuhkan dukungan."
"Atau sekedar informasi untuk apa ia menggunakan uangnya. Tentu saja ia tahu bahwa milikmu masih utuh, sedangkan miliknya tak akan utuh lagi. Tapi niatnya itu harus dipuji, Ma. Ia bermaksud membela suaminya. Coba kalau kau berada ditempatnya, apakah kau tidak akan melakukan hal yang sama?"
"Oh tentu saja. Tapi kau tidak punya utang kan?"
Bustaman tersenyum. "Untung saja, tidak."
"Bicara mengenai profesi Bram itu, apakah dia semacam calo tanah?"
"Mungkin istilah kasarnya begitu."
"Jelek dong ya?"
"Kenapa?"
"Orang seperti itu tentu berusaha membeli tanah yang diincar pengembang dengan harga semurah mungkin lalu menjualnya kembali semahal mungkin. Atau dia mendapat komisi dari pengembang bila berhasil mendapatkan tanah yang diincar dengan harga murah. Kabarnya begitu. Aku mendengarnya dari teman yang mengalami nasib tergusur. Calo-calo itu bisa lebih jahat daripada pengembang yang memakai jasa mereka. Mereka punya banyak kaki tangan yang umumnya kaum preman."
"Wah, tak disangka kau banyak tahu, ya Ma."
"Tentu dong. Apa kau pikir aku cuma ibu rumah tangga yang masalahnya cuma seputar dapur saja?"
Della tersenyum. Ia tentu tahu kebenaran ucapan Bustaman. Dalam hal itu suaminya tidak tercela. Justru karena dia seorang ibu rumah tangga, maka Bustaman bisa terus berkarier dengan nyaman dan anak-anak terurus dengan baik. Tapi sesungguhnya dia memilih jadi ibu rumah tangga bukan semata-mata demi kenyamanan perasaan Bustaman saja, tapi karena ia sendiri memang lebih suka begitu. Ia heran kenapa banyak perempuan tidak puas bila cuma jadi ibu rumah tangga saja. Padahal pekerjaan itu sama sekali tidak gampang. Bahkan bisa lebih sulit daripada kerja kantoran. Tugas seorang ibu rumah tangga bukan cuma mengurus keuangan rumah tangga, dapur dan kebersihan rumah tapi juga mengendalikan penghuninya. Untuk itu dibutuhkan ilmu dan keterampilan, seperti manajemen, psikolog, dedikasi, dan tanggung jawab. Dan untuk tugas itu ia sepenuhnya sendiri, tanpa diperintah siapa-siapa. Berbeda sekali dengan bekerja bagi orang lain tau di perusahaan milik orang lain. Rumah tangga adalah miliknya sendiri.
"Apa makna senyummu?" tanya Bustaman ingin tahu.
"Uh, mau tahu saja. Aku senang punya suami yang pekerjaannya halal."
"Apa kau menganggap pekerjaan Bram tidak halal?"
"Ya."
"Jangan katakan itu pada Lilis."
"Tentu saja tidak. Itu sepenuhnya pendapatku pribadi. Orang lain bisa saja berbeda. Tapi orang seperti Bram mendapat untung besar dari kemalangan orang lain. Semakin besar untungnya, semakin malang orang itu, Ya kan?"
"Betul juga. Tapi calo yang satu belum tentu sama kejinya dengan calo yang lain."
"Ngomong-ngomong soal kekejian, bukankah barusan kau mengatakan bahwa calo tanah biasanya punya anak buah untuk membantunya mengintimidasi penduduk?"
"Ya. Setahuku, biasanya begitu"
"Herannya kenapa Bram bisa begitu gampang digebuki orang?"
Bustaman termangu. Ia tak berpikir ke situ. "Mungkin saja orang yang menggebukinya itu lebih garang daripadanya," ia menyimpulkan.
"Barangkali sesama calo?"
"Bisa saja. Ah, apa pedulimu Ma?" Sebaiknya kita tidak ikut campur."
"Aku tidak peduli pada urusan Bram. Yang kupikirkan adalah Lilis karena dia saudaraku satu-satunya. Kasihan kalau dia sampai dikuras. Sekarang lima puluh juta. Nanti lima puluh juta lagi. Habis depositonya. Nanti perhiasannya. Dan kemudian rumahnya. Bukankah ada suami-suami yang memoroti harta istri mereka?"
Bustaman geleng-geleng kepala dengan wajah ngeri. "Tak kusangka pikiranmu begitu jelek, Ma. Kau benar-benar kena pengaruh Dinda yang super curiga."
Della tertawa. "Ya, mungkin aku terlalu berlebihan. Tentu aku tak ingin prasangka itu jadi kenyataan. Jangan sampai terjadi yang seperti itu."
"Kalau Bram itu memang seorang lelaki yang seperti gambaran mu, tentu ia akan mencari perempuan yang jauh lebih berharga daripada Lilis."
"Jadi dimatamu Lilis itu kurang berharta?" Della sedikit jengkel.
"Eh, bukan begitu ...."
"Buat seorang lelaki rakus dan mata duitan, harta Lilis itu lumayan banyak, lho." sahut Della, memotong ucapan suaminya. "Apalagi kalau dia memang sedang bokek. Yang penting kan kesempatan. Kebetulan Lilis bisa dirayu. Kalau dia terlalu memilih, bisa jadi dia takkan dapat apa-apa. Mengejar yang kakap, teri ditangan malah dilepas."
Bustaman tertawa mengakak. "Aduh, kau pintar sekali, Ma. Tapi juga kejam. Seburuk itukan si Bram?"
"Tentu saja aku tidak berharap begitu, Pa. Bukan kejam lho. Aku cuma mengandaikan. Kasihan kalau Lilis sampai terpedaya."
****____****
Terimakasih support like, komen, vote, n gift nya.
See u tomorrow.