
Selamat membaca...
Apa yang harus dilakukan seorang anak bila ia sangat yakin bahwa ibunya telah melakukan kesalahan yang bodoh?
Pertanyaan itu menghantui pikiran Dinda sejak upacara pemberkatan di gereja dan terus berlangsung selama resepsi perkawinan ibunya, Lilis Kurniati dengan Bram Prayoga. Ketika sepasang mempelai mengucapkan janji-janji sakral pernikahan, dan keduanya duduk bersanding, terus menerus mata Dinda mencermati wajah keduanya, berganti-ganti dari yang satu kepada yang lain. Ia melihat wajah ibunya yang berseri-seri, cantik mempesona oleh riasan wajah yang tebal.
Kulit Lilis yang putih kelihatan jadi semakin putih, kontras dengan pemerah pipinya. Dalam usianya yang 37 Lilis masih cantik meskipun tubuhnya lebih gemuk hingga pipinya sedikit tembem. Karena tubuhnya agak pendek, posturnya jadi kelihatan kurang proporsional. Sementara itu pasangannya, Bram bertubuh tinggi besar, dengan perut agak membuncit. Wajah lelaki itu persegi dan tulang rahang menonjol di dekat telinga. Mulut Bram besar dengan kumis tipis di atas bibir yang tebal. Kulitnya sawo matang.
Di mata Dinda, kedua orang itu benar-benar tidak serasi. Meskipun Lilis sudah mengenakan sepatu hak tinggi, tetapi tetap saja tampak cebol saat berdampingan dengan Bram. Kepala Lilis bahkan tak mencapai pundak Bram. Semakin lama memandangi mereka, Dinda menjadi sebal sekaligus geli. Mereka kelihatan seperti badut. Ia ingin sekali tertawa mencemooh mereka. Sayang tak bisa. Nanti dikira sinting. Dan lihatlah wajah ibunya yang menampakkan kebahagiaan selangit. Apa Lilis mengira telah berhasil mendapatkan orang hebat? Sementara lelaki besar di samping Lilis itu terus-menerus meliriknya dengan tatapan cinta. Huh, gombal! Pasti ibunya sudah dijejali oleh rayuan gombal dan ungkapan cinta. Goblok sekali!
Sebagai pelajar SMP kelas tiga, Dinda merasa banyak tahu perihal cinta, yang tulus maupun yang gombal, dari lusinan novel drama percintaan yang telah dilahapnya. Ia sangat suka membaca, terutama kisah drama yang bercerita tentang kehidupan realistis dengan konflik dan problem berikut solusinya. Sudah tentu ada percintaannya. Hidup akan hambar tanpa cinta. Dari kisah-kisah itu ia juga belajar hal-hal baru, yang mungkin dan bisa terjadi. Karena berpengalaman dalam memilih buku yang mau dibelinya, ia tahu mana kisah yang menawarkan mimpi dan mana yang ceritanya berbelit-belit absurd hingga sulit dipahami. Kedua jenis kisah itulah yang tak akan dipilihnya.
Jadi Dinda banyak belajar tentang kehidupan dari novel. Ibunya suka menertawakan teorinya. Ibunya pun melecehkan koleksi novelnya dan menolak ikut membaca. Bagi ibunya, membaca membuang waktu. Tapi tidak dengan tidur! Karena itu tak mengherankan bila ibunya bertambah gemuk. Dulu Lilis langsing, hingga tampak mungil. Ya, terus saja melar begitu, maka sepuluh tahun lagi potongan tubuh ibunya akan seperti bola. Bram itu pun besar kemungkinan akan menjadi gembrot. Sekarang saja bakat gendut sudah kelihatan. Maka yang satu menjadi bola kecil, sedang yang lainnya bola besar.
Dinda tersenyum sendiri membayangkan khayalannya menjadi kenyataan. Tapi kemudian senyumnya lenyap ketika terpikir, bahwa kemungkinan sesuatu yang mengerikan keburu terjadi sebelum kedua orang itu menjadi bola-bola. Wajahnya menjadi murung. Ketika ia mengangkat kepala, kebetulan ia beradu pandang dengan mata Bram yang terarah kepadanya. Kembali ia melihat sesuatu di mata itu. Sesuatu yang melecehkan, merayu dan mengajak! Ia pun balas menatap dengan kebencian. Ia menyatakannya dengan terang-terangan, tanpa rasa takut sedikit pun kepada lelaki besar itu. Tetapi Yogi, ayah tirinya sekarang (uh, betapa bencinya ia dengan istilah itu), tersenyum kepadanya. Senyum bermakna apakah itu? Orang lain tentu akan menganggapnya sebagai senyum ramah kebapakan. Uh, apa sih kebapakan itu? Baginya, itu senyum yang mengancam. Awas kau! Pada suatu saat aku akan datang kepadamu dan ....
Pundaknya ditepuk seseorang. Dinda memekik kaget. Orang-orang menoleh kepadanya. Wajahnya menjadi kemerahan tersipu. "Kamu lagi ngapain, Dinda?" Della, bibinya atau adik ibunya, merangkul pundaknya lalu duduk di sebelahnya.
"Kok Tante ke sini? Nggak di depan saja, Tan?" Dinda merasa lebih enak dalam kesendirian. Ia tidak ingin berbaur dengan orang-orang yang dikenalnya karena merasa lain sendiri. Pada saat orang lain gembira, ia justru merasa sedih.
"Di depan ada banyak kerabat. Tante tidak diperlukan lagi di sana. Kau yang menyendiri di sini, seharusnya kau bergabung dengan teman-teman dan sepupumu. Mereka mencarimu tadi."
"Jangan begitu, Dinda. Kau terlalu peka."
"Orang yang tidak peka itu berkulit badak, Tante!"
Della tersenyum. Kejudesan Dinda tidak membuatnya tersinggung. Ia menyukai keponakannya itu. Sesuatu dalam diri Dinda tidak ada dalam diri kedua anaknya, yang usianya tidak terpaut jauh dari Dinda. Arni dan Beni remaja-remaja cuek yang tidak mau berpikir terlalu kritis. Yang seperti itu merupakan tanggung jawab orang tua. Karena itu, Dinda yang suka serius nampak jadi lebih tua dari umurnya. Della pun merasa dihargai karena Dinda sering menjadikannya tempat mengadu dan berbagi rasa. Apalagi setelah Bram hadir dalam kehidupan Lilis.
Della menyadari bahwa itu tidak sepatutnya. Mestinya anak lebih akrab dengan orang tua daripada dengan orang lain meskipun itu kerabatnya sendiri. Tetapi hal seperti itu memang tak bisa dipaksakan. Ia menyayangkan sikap Lilis yang tak mau berusaha agar bisa lebih dekat dengan Dinda. Padahal Dinda anak satu-satunya. Walaupun keakraban memang tak bisa dipaksakan, tetapi setidaknya bisa diusahakan. Bagi Lilis, seseorang yang bis dijadikan tempat bergantung lebih berharga daripada seseorang yang justru tergantung kepadanya. Agaknya Lilis melupakan, bahwa anak dan suami tak bisa di perbandingkan seperti itu. Masih ada faktor yang perlu diperhitungkan, yaitu kualitas keduanya. Seorang anak, berapa pun usianya, bisa jauh lebih berharga dan berarti dibanding seorang suami yang rendah kualitasnya. Anak bukan cuma tumpuan harapan di masa depan, tapi ia pu bisa dijadikan teman dalam suka dan duka. Sementara seorang suami yang brengsek cuma menyakiti hati. Mestinya Lilis sudah berpengalaman dengan Johan, ayah kandung Dinda.
Della sudah mengingatkan Lilis. Tapi Lilis beranggapan, sikap Dinda yang menjauhinya itu disebabkan karena iri hati. "Dinda tak setuju aku kawin dengan Bram, karena dia takut tak disayang lagi. Padahal sudah kujelaskan padanya bahwa itu takkan terjadi. Aku akan tetap menyayangi dia. Bahkan dia pun akan mendapat tambahan kasih sayang dari seorang ayah. Bukankah seharusnya dia senang?" Lilis menyanggah.
"Tapi dia tidak yakin, Kak. Instingnya berkata lain."
"Insting apaan? Yang mau kawin kan aku? Bukan dia."
"Tapi kalian hidup bertiga nanti. Bukan cuma kau dan dia. Bagaimana kalau tak ada kesesuaian?"
***___***
Mohon dukungan nya, Terimakasih.