Pembunuhan Sang Kekasih

Pembunuhan Sang Kekasih
Bab 20


Tetapi Dinda menyadari, bahwa ia sendiri pun merasa tidak enak untuk mengucapkannya. Bicara kepada Della punya kesan berbeda. Tapi ibunya adalah orang yang akan terkena efek langsung dari pengaduannya mengenai Bram, apalagi mengungkap pemikiran dan kesimpulannya. Ia pun menyadari, bila suatu pemikiran atau prasangka buruk diungkapkan dengan kata-kata, maka bisa terkesan sebagai fitnah. Maka ia memutuskan untuk diam.


Tetapi sikap diamnya membuat Lilis penasaran. "Ayolah katakan, Din. Kenapa kau sampai berpikir jelek tentang Om Bram? Apakah dia...?"


"Lho, siapa bilang aku berpikir jelek tentang Om Bram? Itu Ibu sendiri yang bilang."


"Tapi..."


"Ah, ibu. Aku tadi cuma bilang bahwa Tante Irene itu perempuan sedang Om Bram itu lelaki, pantas saja kalau aku lebih suka dekat dengan sesama perempuan daripada dengan lelaki yang masih asing."


"Oh, begitu." Lilis merasa tak kepalang lega. Kemudian ia teringat pada ucapan Dinda yang lain. "Lantas kenapa kau tidak suka kepadanya?"


"Ah, ibu cerewet sekali. Kan sudah kukatakan bahwa instingku yang bilang begitu. Mana mungkin ada penjelasannya. Insting ya insting."


"Tanpa ada sebabnya?"


Dinda cuma mengangkat bahu.


"Seingatku dulu kau tak pernah bicara soal insting ketika ayahmu nyeleweng. Tak muncullah instingmu mengenai apa yang akan diperbuat ayahmu?"


Dinda mengangkat bahu lagi.


Lilis menatap Dinda dengan penasaran. "Kenapa aku punya perasaan bahwa kau menyembunyikan sesuatu?" katanya.


Dinda tertawa dan balas menatap ibunya. "Apakah ibu juga punya insting?" ia membalas.


"Kenapa ibu tidak membicarakannya dengan Om Bram supaya tidak bingung?"


Lilis tertegun. Anjuran seperti itu adalah sesuatu yang mustahil. Mana mungkin ia membicarakan persoalan itu dengan Bram, bila dialah pokok persoalannya? Bram bisa tersinggung. Ia menyayangi Bram. Pastilah Dinda mengejeknya, karena tahu betul ia takkan melakukan hal itu.


Tetapi Dinda tidak memahami tatapan ibunya. Ia malah tertawa karena telah memenangkan perdebatan. Sesungguhnya ia juga jengkel karena menganggap pendekatan yang dilakukan ibunya itu merupakan taktik membujuk agar ia akrab dengan Bram. Apakah ibunya mengira ia bisa dirayu dengan baju bagus? Demikian pula pernyataan ibunya yang ingin dekat dan akrab dengannya seperti dulu. Itu tentu merupakan salah satu jalan menuju arah yang sama. Bila sudah akrab maka proses pembusukan mulai. Justru dengan sedikit menjauh seperti yang dilakukannya selama ini ia merasa lebih gampang menghindar. Bila ingin menghindari Bram maka ia pun harus menghindari ibunya juga. Sesungguhnya ia pun jadi kesepian dengan cara seperti itu, tapi untunglah ia sudah lebih dekat dengan ayahnya dan Irene. Mereka bisa jadi pengganti. Tetapi tentu saja itu tidak berarti bahwa ia telah mengkhianati ibunya.


Perbincangan antara ibu dan anak itu berakhir begitu saja. Masing-masing kembali pada kegiatan nya sendiri-sendiri. Tetapi bagi Lilis, kesan perbincangan itu menghasilkan efek yang mendalam. Ia merasa sulit mendekati Dinda lagi dan sedih karenanya. Lalu terasa bahwa Bram lah satu-satunya orang di dunia ini pada siapa ia bergantung dan bersandar. Memang seharusnya seperti itulah makna suami bagi istrinya. Jadi ia pun harus berupaya semaksimal mungkin untuk menyenangkan dan membahagiakan sang suami. Sampai saat itu Bram tak pernah menanyakan hasil pemikirannya mengenai idenya tempo hari. Tapi Lilis tahu, bahwa Bram berharap ia menyetujui. Ia yakin bahwa persetujuannya akan membuat Bram tambah menyayangi. Ya, ia sudah mengambil keputusan!


Dinda tidak pernah tahu apa yang tengah dipikirkan ibunya. Instingnya tidak terarah kesana. Ia mengkonsentrasikan dirinya semata-mata kepada Bram. Beberapa kali ia masih saja memergoki tatapan nakal Bram kepada dirinya, entah itu berupa tatapan yang mengarah kepada bagian tubuhnya yang tertentu atau pun tatapan mengandung cemooh. Bila dipergoki dan ia balas dengan sorot tajam dan marah ia bisa menangkap senyum tipis bermain di bibir Bram. Tetapi semua itu serba samar-samar. Mana mungkin hal-hal seperti itu, bisa dijadikan sebagai suatu bukti konkret mengenai kepribadian lelaki itu? Bisa saja lelaki itu mengelak dengan mengatakan bahwa dirinya cuma berkhayal. Bisakah dibuktikan bahwa tatapannya itu nakal atau pun mengandung cemooh? Bisa pulalah diyakinkan bahwa ia memang tersenyum setelah dipergoki?


Setelah pintu kamarnya dipasangi selot, Dinda tak pernah lagi melihat handel pintunya bergerak-gerak seolah ada yang mau membuka dari luar. Tetapi dalam hal itu ia memang tidak sampai terbangun oleh bunyi pelan. Belakangan ia memang gampang jatuh tertidur dan tidurnya pun nyenyak. Itu disebabkan karena ia merasa capek oleh latihan-latihan yang intensif. Tetapi ia tidak pernah tidur terlalu banyak, lebih daripada secukupnya. Seperti halnya makan, kalau sudah kenyang tubuh menolak untuk kemasukan makanan lagi, demikian pula halnya dengan tidur. Ia bangun pagi dengan perasaan segar dan hilang semua kantuk. Ia justru merasa pusing bila terus tiduran padahal tak mengantuk lagi.


Dinda memperkirakan, tentunya Bram tahu bahwa pintu kamarnya tak bisa dibuka lagi setelah sekali mencoba. Bram bisa saja menyelidiki penyebabnya ketika ia tak ada dirumah. Pintu kamarnya tak bisa dikunci dari luar. Jadi setelah tahu, buat apa Bram bersusah-payah mengutak atik handel pintunya di malam hari?


Pikiran itu menenangkan. Ia tak akan terganggu lagi di malam hari. Tidur yang cukup membuatnya lebih bersemangat dan optimis. Ditambah lagi dengan kondisi tubuhnya yang segar dan bertenaga, ia merasa tak perlu takut lagi terhadap Bram. Kadang-kadang malah muncul pikiran yang menantang. Bila Bram berani melakukan sesuatu, sebagai tindakan yang konkret dan jelas, apalagi bila ada saksinya, maka ibunya akan percaya seperti apa lelaki yang dinikahinya itu. Tetapi selama cuma berupa tatapan dan gangguan handel pintu di waktu malam, siapa yang akan percaya, kecuali Tante Della? Dinda sudah membayangkan berbagai tindakan balasannya bila Bram sampai berani mengganggunya.


Ia akan menendangnya dan meninju hidungnya. Ya, hidungnya. Katanya, hidung itu bagian peka dari wajah yang mudah sekali berdarah bila kena trauma. Rasakan nanti. Apa lelaki itu mengira ia seorang perempuan kecil yang lemah tak berdaya, hingga gampang dilecehkan? Tapi justru dengan anggapan seperti itu, ia bisa memberi surprise yang mengejutkan. Lelaki itu memang bertubuh besar dan tentunya juga bertenaga besar, tapi ia sendiri pun kelebihan.


Tetapi Bram tidak memperlihatkan gerak maju dalam bentuk tindakan nyata. Kemajuan yang jelas nampak adalah bertambahnya frekuensi gangguan tatapan dan ekspresi mencemooh. Bahkan bibir nya yang tebal itu pun ikut pula bermain, misalnya dimonyongkan seperti gerak mencium, atau mengeluarkan desah-desah menjijikan. Tak ada hari terlewatkan tanpa gangguan seperti itu.


****____****


Like n komen nya ya.