
Selamat menikmati bacaan
****___****
"Senang sekali aku kebetulan di rumah waktu kau datang. Kalau tidak, alangkah sayangnya," Irene berkata dengan rasa syukur di wajahnya.
"Tapi nanti Dinda akan datang lebih sering, Ren," kata Johan.
"Oh, ya? Betul begitu Din?"
Dinda mengangguk malu. "Aku mau belajar kungfu sama ayah."
"Wah ...," Irene menoleh pada Johan. "Betul Mas?"
"Tentu saja betul. Mestinya kau belajar juga, Ren. Sama-sama Dinda, ya?"
"Nggak ah. Malas." Irene menggeleng lalu berpaling kepada Dinda. "Kau pasti ingin membela diri, Din. Apakah banyak cowok iseng yang suka mengganggu? Bagus juga. Dengan demikian kau bisa menghajar mereka supaya kapok."
Dinda cuma tersenyum. Ia memang ingin punya kemampuan membela diri tapi terhadap siapa adalah rahasia yang ingin disimpannya. Terutama ayahnya tak boleh tahu.
Setelah puas ngobrol bertiga, Johan menawari Dinda untuk memulai latihan yang paling dasar. Dengan antusias Dinda menyetujui. Irene meminjaminya pakaian santai, celana pendek dengan baju kaos. Dengan pakaian itu Dinda mengikuti instruksi ayahnya, latihan pernapasan. "Ini sangat penting bagi kondisi aktivitas yang tinggi, kita membutuhkan oksigen yang cukup. Sedang kebutuhan akan oksigen itu kita dapatkan lewat pernapasan, yaitu udara yang kita hirup. Kalau kita tidak tahu cara bernapas dengan baik, maka udara yang masuk tidak cukup banyak. Akibatnya oksigen yang kita butuhkan tidak cukup pula. Bila tak melakukan kegiatan maka itu tidak begitu jadi masalah. Lain halnya bila kita melakukan sesuatu yang melelahkan, maka kita akan tersengal-sengal karena kebutuhan oksigen begitu mendesak. Maka tak ada gunanya pula pintar kungfu bila napas cepat putus. Dalam sekejap kita akan loyo. Jadi jangan berpikir bahwa bernapas itu merupakan sesuatu yang alamiah karena sudah keharusan dan dorongan tubuh untuk bertahan hidup hingga tak perlu dilatih atau dipelajari lagi. Itu pikiran yang salah sama sekali."
Dinda senang tak menyangka bahwa belajar bernapas dengan baik ternyata apa yang sudah dipahaminya itu tidak cukup dilakukan sekali itu saja. "Kau harus melatihnya setiap pagi. Hiduplah udara pagi yang masih bersih. Untuk itu biasakan bangun pagi."
Setelah beristirahat secukupnya, Dinda diantar pulang oleh Johan. Dinda akan menelepon Johan di bengkelnya untuk menentukan hari-hari latihan. Mereka sepakat bahwa disaat awal sebaiknya jangan setiap hari melainkan cukup seminggu dua kali. Bila sudah lancar baru menambah porsinya.
"Bagaimana bila ibu tak mengizinkan, Din?" tanya Johan dalam perjalanan. Ia merasa sedikit pesimis dalam hal itu.
"Aku sudah mendapatkan akal, Yah. Aku akan mengatakan bahwa aku belajar bahasa Inggris sama Tante. Jangan sekali-kali beritahu bahwa aku belajar kungfu. Ia pasti takkan mengizinkan."
Johan tersenyum geli. "Jadi mau bohong ya?"
"Berbohong untuk kebaikan kan nggak apa-apa, Yah. Ayolah. Jangan munafik Ayah."
Johan tidak tersinggung. Ia malah tertawa. "Baiklah. Kita berbohong untuk kebaikan."
Johan merasa senang ketika ia tidak melihat kendaraan Bram di muka rumah. Berati Bram belum pulang. Dengan demikian ia tidak perlu menghadapi pertanyaan dua orang. Cukup dari ibunya saja. Ternyata Lilis mengajukan bertubi-tubi bagaikan menginterogasi.
"Ko tumben dia menjemput mu disekolah?"
"Ya, memang tumben Bu. Aku pun mengatakan begitu kepadanya. Rupanya ia kebetulan lewat disitu lalu ingat padaku."
"Oh, jadi kebetulan saja ingatnya ya?"
"Sebenarnya tidak juga, Bu. Dia selalu ingat padaku. Tapi takut aku tidak suka kepadanya."
"Lantas, sebenarnya ku suka tau tidak kepadanya?"
Dinda merasa telah salah bicara. "Tentu saja aku suka Bu. Dia kan ayahku."
"Jangan lupa bahwa ia seorang yang tidak jujur."
"Ya. Aku tidak lupa Bu."
"Ia tidak merayuku, Bu. Aku memang ingin belajar bahasa Inggris lebih baik."
"Kau tidak perlu belajar sama dia. Ikut kursus saja."
"Ah, nggak. Aku lebih suka sama dia Bu. Boleh kan?"
Lilis cukup menyadari, ia tidak mungkin melarang. Seandainya ia melarang pun Dinda tak akan mematuhi. Jadi lebih baik tidak melarang daripada nanti tidak dipatuhi. Itu akan lebih menjengkelkan.
"Herannya, kenapa baru sekarang ia ingat padamu. Padahal sudah begitu lama ia tidak pernah menghubungi mu kan?"
"Kan sudah kubilang, bahwa ia ingat padaku Bu. Cuma baru sekarang ia memberanikan diri menemuiku."
"Ah, bohong. Pasti karena kau sudah punya ayah baru, maka ia takut tersisih."
"Aku tidak punya ayah baru, Bu. Seorang ayah itu cuma satu. Sama halnya dengan seorang ibu."
"Ia akan menghasutmu supaya membenci Bram."
"Tanpa dihasut pun aku tidak suka kepadanya, Bu." Dinda mulai jengkel.
"Kau sentimen. Belum kenal betul sudah tidak suka. Memangnya kau suka pada pacar ayahmu? Kalau dibandingkan, dia lebih brengsek. Tak bermoral. Bayangan. Masa kumpul kebo. Contoh apa yang diberikannya kepadamu? Kalau kau dekat-dekat mereka, bisa jadi kau ketularan."
Dinda mengingatkan diri untuk tidak terlibat pertengkaran dengan ibunya. Pada saat itu ia justru harus berbaik-baik supaya tidak dihalang-halangi nanti. "Percayalah padaku, Bu. Aku tidak akan ketularan," katanya dengan sungguh-sungguh. "Aku cuma ingin pintar berbahasa Inggris."
"Sudah ku katakan, ikut kursus jauh lebih baik."
"Kursus itu menyebalkan. Belum tentu hasilnya baik. Kalau sama Tante kan sambil santai. Nggak bayar lagi."
"Ya sudah. Terserah kamu. Pendeknya kau sudah cukup dewasa, jadi harus mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk."
"Ya, Bu. Beres."
Sebenarnya Lilis pun khawatir, kalau-kalau Dinda menjauh darinya untuk kemudian lebih mendekat kepada Johan. Justru pada saat itu, ketika Dinda terang-terangan menyatakan tidak sukanya kepada Bram, makan kemungkinan itu menjadi tambah besar. Maka ia harus menghindari permusuhan dengan Dinda, apalagi melarang ini-itu. Ia harus berupaya menekan kejengkelannya meskipun sudah memiliki Bram. Ia menginginkan dua-duanya. Mungkin selama ini ia terlalu yakin dengan perasaan memilikinya terhadap Dinda karena Johan tak pernah melakukan pendekatan. Ia mengira Johan tidak menghendaki Dinda karena sudah memiliki pacar yang tidak menyukai kehadiran Dinda. Dengan demikian Dinda tak punya tempat berlindung lain selain dirinya. Perkiraan inilah yang membuatnya cenderung otoriter terhadap Dinda. Ternyata perkiraan itu salah. Tiba-tiba saja pendekatan yang dilakukan Johan terasa sebagai ancaman.
"Baiklah Din," katanya. "Ibu cuma mengkhawatirkan pengaruh buruknya saja. Jangan salah paham bahwa Ibu bermaksud mengekangmu."
Dinda menyadari perubahan nada suara ibunya. "Percayalah padaku, Bu. Aku akan baik-baik saja."
"Ibu percaya padamu Din. Tapi mainan kamu berjanji?"
"Janji apa, Bu?"
"Kau jangan meninggalkan Ibu untuk pindah ke sana. Ingatlah, bahwa pada saat ia pergi kau selalu bersama Ibu."
****____****
to be continued 😂
Yeeeee,,, like n komen yukkkk
Vote n gift juga yukkkk