Mengikuti Takdirnya

Mengikuti Takdirnya
Solusi


Salsa menghampiri wanita bergamis merah dan berhijab hitam. Salsa menghentikan langkah si wanita itu dengan berdiri di hadapan wanita. Namun, wanita itu bukanlah wanita yang ia cari.


"Kakak bisa berhent..."


"Maaf Kak, salah orang" ujar Salsa


Wanita itu pun pergi ke arah yang di tujui. Salsa pun berjalan menuju taman kecil umum. Dan terlihat lah wanita yang ia cari sedang risau dan gelisah. Salsa pun menghampiri dan mengucap salam terlebih dahulu.


"Assalamualaikum" salam Salsa


"Waa.. Wa'alaikumsalam" jawab Fitri seraya menghapus air matanya


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Salsa meminta izin


"Emm.. Boleh kok" jawab Fitri tersenyum


"Kakak.. Siapa? Asal dari mana? Kok, sekarang belum pulang?" tanya Salsa


"kak. Kakak pasti punya masalah ya? Kakak cerita aja sama aku. Aku, adik nya abang Reihan yang tadi di rumah. Tepatnya, saat itu, aku melihat kakak keluar dari rumah dengan menggunakan... Em.. Hehe Gamis aku dan hijab aku" sahut Salsa


"Oh... Jadi, ini punya kamu ya? Maaf ya, aku pakai tanpa izin. Karena, abang kamu yang suruh" ucap Fitri


"Udah kak gak apa apa. Aku punya banyak kok. Dan, aku emang jarang pakai gamis ini. Jadi, kakak boleh pakai dan bawa pulang gamis ini, juga kerudung nya" ujar Salsa


"Makasih ya"


"Bye the way... Nama kakak siapa?" tanya Salsa


"Fitri" jawab Fitri


"Kenalin, aku Salsa" sahut Salsa seraya menebarkan tangan kanannya untuk bersalam kenal


Fitri menjabat tangan Salsa dan tersenyum


"Kalo boleh tau, kakak dari mana?" tanya Salsa


"Boleh nih cerita?" tanya Fitri


"Ya boleh dong. Anggap aja, aku adik kandung kakak" ujar Salsa


"Aku. Aku berasal dari... Jakarta di sebelah utara sana. Desa *******. Tante Rena dan Om Ahmad, mengira.. Kalo aku udah meninggal. Padahal, yang meninggal itu bukan aku yang asli, melainkan, dia yang mirip sama wajah ku. Saat itu, aku tertabrak mobil, saat sedang menyebrang dan berjalan entah kemana, dan... Tidak ada tujuan. Ada orang yang dekat dengan orang yang mirip denganku, aku menyamar menjadi si dia. Tapi, aku menolak. Karena, aku tidak ingin membodohi para teman dan orang orang yang di sekelilingnya. Saat, semua sudah terjadi dalam penabrakan. Aku... Berada di sebuah kamar, dan, rasanya masih... Pusing, sehingga, aku bermimpi bertemu dengan pangeran. Setelah itu, tiba tiba, aku sadar dan melihat ke samping dan di situ, ada sebuah gamis dan hijab, juga ada tulisan. Tulisan nya menyuruh untuk pakai gamis dan kerudung ini, karena saat itu, aku memakai piyama. Begitu deh. Aku gak tau harus kemana" tutur Fitri menjelaskan


"Dalam kisah kakak tadi, kok gak bersangkutan sama orang tua? Kakak? dan Adik?" tanya Salsa


"Aku, anak satu satunya dari almarhum almarhumah yang sudah di panggil oleh sang pencipta. Jadi, gak ada siapa siapa lagi untuk ku jadikan rumah" jawab Fitri


"Maaf ya kak, aku gak tau. Jadi, kakak tinggal sama adiknya orang tua kakak?" tanya Salsa


"Iya" jawab Fitri


"Terus... Kakak masih sekolah?" tanya Salsa


"Masih. Sekarang, kelas 2 SMA" jawab Fitri


"Oh... Berarti, aku sama kakak beda 2 tahun dong" ujar Salsa


"Oh ya?" tanya Fitri


"Iya. Umur aku 15" jawab Salsa


"Gak ada gambaran" jawab Fitri


Fitri memandang pohon yang berada di depannya. Sementara Salsa memandang Fitri yang amat kasihan dan, Salsa sangat mengetahui rasa yang di rasakan oleh Fitri.


"Ah... Gimana kalo kakak nyamar aja. Jadi, kakak aku. Gimana?" tanya Salsa


"Kamu...? Hhh... Identitas kamu udah tercatat di kartu keluarga. Ya, gak mungkin dong tiba tiba punya kakak? Kan aneh" sahut Fitri


"Heheh... Iya ya?"


"Ya udah, kakak ke rumah aku aja lagi. Kita tanya solusi ke bunda gimana? Biar kakak bisa bertahan di dunia ini tanpa bunuh diri dan gelisah mikirin duniawi. Gimana?"


Salsa menggendong tangan Fitri seperti persahabatan malah seperti persaudaraan. Mereka sampai di teras dan, di sana ada sang wanita yang sedang menjahit pakaian. Ia adalah Bu Zahra.


"Assalamualaikum" salam mereka


"Wa'alaikumsalam" jawab Bu Zahra


"Eh... Ternyata kamu jalan sama Salsa. Pantes aja, di kamar udah gak ada" sahut bu Zahra kepada Fitri


"Iya tante"


Salsa dan Fitri pun duduk di kursi bambu yang kosong.


"Bunda... Kak Fitri, udah gak punya keluarga lagi. Cuman ada adik orangtua nya kak Fitri. Mereka menganggap kak Fitri udah meninggal, padahal, yang meninggal itu bukan ka Fitri, mereka salah orang. Jadi, aku minta solusi dari bunda. Gimana caranya Kak Fitri tinggal, dan, aku pengen, kak Fitri tinggal di rumah ini " tutur Salsa


"Subhanallah... Emang, siapa orang yang meninggal itu?" tanya Bu Zahra


"Namanya Siena. Emang bener, kalo dia mirip sama wajah aku. Dan, gak tau kenapa, aku bisa mirip sama dia. Dan, ada yang bilang, kalo ayah menikah dua kali saat mengandungku" jawab Fitri


"Ya udah gini aja. Kamu, pura pura jadi calon menantu tante gimana?" tanya Bu Zahra


"Calon..? Menantu?" tanya Fitri lalu menoleh ke Salsa


"Sama siapa?" tanya Fitri


"Sama Reihan lah. Laki laki yang ngobatin luka kamu" jawab Bu Zahra


"..."


"Nggak. Jangan deh tante. Umur aku masih 17. Jadi, masa iya langsung ada calonnya. Kan, umur wanita menikah di perbolehkan umur 20 tahun ke atas, dan laki laki 25 tahun" ujar Fitri


"Kata siapa?" tanya bu Zahra


"Kata... Teman teman aku" jawab Fitri


"Ya udah, kalo kamu gak mau. Kamu jadi ponakan tante dari Medan. Gimana?" tanya Bu Zahra


"Kalo jadi ponakan tante.. Ya udah. Mau kok. Cuman, aku gak bisa bahasa Medan. Gimana?" tanya Fitri


"Ya gakpapa lah... Ceritanya, kamu asal dari Jakarta, tapi pindah ke Medan di usia 10 tahun" jawab Zahra


"Oke"


Kini, Fitri sepakat untuk tinggal di Jakarta sebelah barat. Memulai hidup barunya dengan menyamar menjadi orang lain. Apakah, akan berhasil dan selamanya? Atau justru kacau berlipat ganda dengan penuh fitnah?