Mengikuti Takdirnya

Mengikuti Takdirnya
Prolog


Malam pukul 02.00. Hujan deras di luar rumah. Seorang gadis terbangun dan mengambil wudhu ke kamar mandi. Meletakkan sajadah, memakai mukena lalu melaksanakan shalat tahajud.


Mbak Rani pun pergi ke kamar Fitri, apakah Fitri terbangun dan melaksanakan shalat sunahnya? Ternyata benar apa yang di duga nya. Tak sia sia Mbak Rani menjelaskan tentang shalat sunnah.


Pada rakaat terakhir, Fitri mengucap salam sambil menengok ke kanan dan kiri secara bergantian. Air matanya sudah mengalir, ada apa dengannya?


Fitri mengangkat tangan nya ke atas. Mencurahkan segala isi hatinya yang menderita sakit.


'Ya allah... Tunjukkan lah cahaya mu kepada ku. Begitu banyak masalah yang tidak ku sanggupi. Namun, kau meyakinkan ku bahwa aku dapat menahannya. Berikan aku kekuatan untuk menopang beban beban itu ya Allah...'


'Hanya kepadamu aku meminta pertolongan'


Fitri menceritakan semua apa yang terjadi dengan episode nya yang sudah beribu ribu angka. Berkeluh kesah dan mengadu Kepada-Nya. Fitri pun menangis tersedu dan bersujud di atas sajadahnya.


Adzan subuh pun berkumandang. Fitri melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai ia mengingat kejadian yang membayangkan dirinya. Air mata pun mengalir kembali.


Tiba tiba saja. Fitri terdiam, seperti terkejut seakan akan ada yang menusuknya dari belakang. Seperti malaikat maut yang mencabut nyawanya. Ada apa sebenarnya?


Fitri pingsan dia atas sajadah. Pingsan kah? Meninggalkah? Tertidur kah?


Pukul 05.40 Mbak Rani pergi menuju kamar Fitri. Apakah Fitri sudah bersiap siap untuk sekolah? kini Fitri duduk di bangku SMA kelas 3. Namun, apa yang di lihatnya.


"Fitri... kamu..."


Mbak Rani terkejut melihat seorang gadis terlelap di atas sajadah seperti yang tidak di sengaja. Maka mbak Rani pun panik dengan wajah Fitri yang amat pucat.


"Subhanallah... Fitri.. Kamu kenapa Fit.. Fitri" mbak Rani menggoyangkan goyangkan tubuhnya agar Fitri segera bangun, namun Fitri tidak terbangun juga.


Mbak Rani pun memanggil suaminya. Meminta untuk menggendong Fitri ke RS terdekat.


Sesampainya...


Fitri di bawa menuju ruang periksa. Berharap bahwa keadaannya baik baik saja. Namun, ada dokter yang memanggil si 2 pendorong Fitri untuk membantu rak yang cukup besar yang terjatuh.


Ada pula 2 orang yang melihat keadaan mereka yang sedang mendorong pasien kecelakaan. Mereka pun berhenti mendorong dan membantu mendirikan rak.


Pasien yang baru saja datang itu lumayan mirip dengan Fitri. Namun bedanya, Fitri tidak memiliki luka di bagian kepala seperti pasien di sampingnya.


Keduanya memiliki hidung mancung, dan bibir tipis. Warna kulit mereka hampir sama. Putih. Fitri putih seperti artis bernama "Kimberly Ryder". Sedangkan si pasien di sampingnya, kulitnya kuning langsat seperti artis bernama "Cut Syifa"


(Halu Guys)


Sebuah kekeliruan pun terjadi di rumah sakit ini. 2 pendorong brankar Fitri, mendorong pasien yang ada di sampingnya. Sementara 2 pendorong tadi yang mendorong pasien yang mirip dengan Fitri mendorong Fitri.


***


Mbak Rani dan suaminya, Pak Ahmad. Sedang menunggu pemeriksaan Fitri yang kini terbaring di atas brankar dan tepatnya, dia bukanlah Fitri, melainkan, dia bernama Siena.


Fitri yang asli pun di kira Siena. Namun.. Ada kisah Siena yang asli.


Siena Karliana Putri, usianya sama seperti Fitri. Ia ternyata tidak punya lagi keluarga, ia tinggal di rumah peninggalan almarhum/mah. Ia anak satu satu nya dan tidak mempunyai saudara, tidak mempunyai nenek/kakek lagi.


Semua kerabat dan saudara serta teman sudah meninggalkan Siena. Ia bahkan selalu menjadi bulian di sekolahnya karena tidak punya siapa siapa di sampingnya dan orang miskin.


Lalu? Bagaimana Siena bisa sekolah? Seorang bapak kepala guru sangat baik hati kepada Siena. Ia sangat turut berduka atas meninggalnya pak Hendra dan bu Indri.


Bapak kepala sekolah bahkan terus menerus menawarkan Siena tinggal bersama dengan keluarganya agar Siena dapat bermain dengan anak anak nya dan merasakan kehangatan yang ada di sana. Namun, Siena tidak ingin merepotkan Nya. Ia cukup bersyukur dengan bisa sekolah.


Namun sayang, di sekolahnya tidak ada yang ingin berteman dengannya. Selalu di hina, di jauhi, di lecehkan, di usili, di bodohi, dll itu. Sungguh malang hidup Siena.


Bapak kepala sekolah yang bernama Daniel Azier. Mendapatkan informasi mengenai Siena yang tertabrak mobil dengan ulah teman musuhnya, Melinda. Bahkan pak Daniel tidak tau bahwa Melinda sekejam itu dengan Siena.


Oh ya, Siena memakai kerudung.


Pak Daniel berlari dengan gelisah akan kondisi Siena. Setelah sampai di sebuah ruangan. Dokter pun keluar dan menjumpai Pak Daniel.


"Maaf... Anda siapa?" tanya dokter


"Saya... Wali orang tua nya" jawab pak Daniel


"Pasien Siena ... Mengalami penyakit... Difteri" ujar dokter


"Difteri? Penyakit apa itu?" tanya pak Daniel


"Biar saya jelaskan di ruangan saya. Mari" dokter pun berjalan terlebih dahulu, pak Daniel pun mengikuti jejaknya.


"Penyakit difteri adalah infeksi yang menyerang pada hidung atau saluran pernapasan atas. Bahkan terkadang menginfeksi kulit. Penyakit difteri juga bisa menular dan bisa di kategori kan infeksi yang serius karena berpotensi mengancam nyawa" tutur dokter menjelaskan penyakit Fitri yang kini Fitri di kira Siena


"Astagfirullah al-adzim.. Kalo boleh tau, di sebabkan oleh apa ya dok?" tanya pak Daniel


"Di sebabkan oleh bakteri Corynebacterium" jawab Dokter


"Apa... Saya boleh melihat kondisi Siena sekarang?" tanya pak Daniel


"Ya. Boleh"


Pak Daniel pun melangkah kan kaki nya menuju ruang Siena (Fitri) di rawat . Membuka pintu perlahan dan berjalan menuju brankar, tepatnya Fitri terbaring


"Siena" panggil pak Daniel


Fitri yang mendengar suara "Siena" pun membuka mata. Dan melihat seorang pria yang berada di sampingnya


"Anda siapa? Jangan macam macam sama saya!" ucap Fitri


"Kamu? Kamu Siena kan?" tanya pak Daniel


"Bukan! Saya bukan Siena. Nama saya Fitri" jawab Fitri


"Fitri? Sejak kapan nama kamu Fitri? Kamu Siena! Ini pak Daniel, masa kamu gak ingat sih?" ujar pak Daniel


"Maksud bapak apa ya?" tanya Fitri


"Siena.. Kamu mengalami kecelakaan. Dan.. itu semua sudah di rencana kan sama Melinda. Kata dokter... Kamu punya penyakit difteri. Kenapa kamu menyembunyikan itu semua dari bapak?" tanya pak Daniel


"Maaf pak... Saya bukan Siena! Saya Fitri, anak almarhum pak Hendra dan almarhumah bu Indah. Saya gak kecelakaan " ucap Fitri


"Kamu salah Siena. Nama kamu Siena, anak almarhum pak Hendra dan almarhumah bu Indri. Kamu kecelakaan" ucap pak Daniel


"Apaan sih maksud bapak? Jangan sok tau sama identitas saya!" ujar Fitri


Fitri pun bergegas pergi meninggalkan pak Daniel di sana. Pak Daniel pun memanggilnya dan mengejarnya.


"Siena!!"


Fitri pun melihat ruangan yang terbuka, tepatnya ada Siena yang asli di sana yang mirip dengan Fitri. Di sana, ada mbak Rani dan pak Ahmad yang menangis dengan memegang tangan Siena.


Ternyata, Siena tidak bernyawa. Ada apa sebenarnya? Sehingga Fitri bingung.


"Fitri...." suara jeritan terdengar dari mulut mbak Rani.


.


.


.


• Bersambung...