
"Masalah yang akan muncul setelahnya adalah mengenai dewa iblis, siap tidak siap aku harus bisa melawan dewa iblis dalam waktu sesingkat ini." ucap Yuan seraya meneguk teh bunga di dalam gelasnya.
"Tapi aku merasa ada yang janggal, bukankah aneh jika dewa iblis sampai saat ini belum menyerang?"
"Tujuh dewa iblis menyusun rencana untuk bersatu, tetapi anehnya salah satu dewa iblis yang ternyata berada di benua Jianling ini justru membangun kerjasama dengan putra mahkota."
"Menahklukkan benua Jianling dengan tangannya sendiri?" tebak Bai An.
"Benar, mungkin itu tujuannya membuat kerjasama dengan putra mahkota."
"Qiu Yue memang bodoh, dia tidak tahu jika dirinya hanya sebuah bidak bagi dewa iblis, jika suatu saat nanti sudah tidak dibutuhkan tentu dewa iblis akan membunuh Qiu Yue."
"Sebuah bidak tidak akan menjadi bidak lagi kalau sadar dia seorang bidak."
Bai An tertawa miris, ambisi memanglah dapat membutakan seseorang hingga melakukan apapaun guna mencapainya. Bagi Qiu Yue tahta itu sudah di depan mata, tidak ada lagi saigan berarti yang dapat membuatnya resah tetapi ia tetap memilih jalur sesat dengan bekerja sama dengan dewa iblis untuk mendapatkan tahta.
"Aku akan pergi ke Qiu Yue, memastikan hari ini ia tidak mengunjungi kaisar."
Efek yarrow emas baru bisa akan menyembuhkan total sampai esok pagi, maka dari itu Bai An meminta agar tidak ada yang mengunjungi kaisar sampai besok pagi. Takut Qiu Yue akan datang dan tidak bisa dicegah oleh penjaga, Bai An akan mendatangi Qiu Yue, mengobrol apapun dengan lelaki itu dan memastikan Qiu Yue tidak mengunjungi kaisar.
Meski Qiu Yue belum tentu tahu tentang yarrow emas yanh Bai An berikan tetapi wewangian itu bisa membuatnya curiga, jangan sampai karena itu ia justu cepat-cepat membunuh kaisar.
"Berhati-hatilah, jangan terlalu memancing amarah putra mahkota, jika kalian bertarung tetap dia berada di atasmu."
Bai An mengangguk paham, ia melangkahkan kakinya keluar dari kediamannya. Saat baru saja membuka pintu ia melihat romobongan permaisuri bersama dengan pelayan yang mengikutinya tengah berjalan ke arah dirinya.
Wanita itu adalah ibunya, seseorang yang telah mengandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari tetapi wanita itu juga bukanlah orang baik dalam kenangan Bai An.
"Sungguh sebuah kehormatan yang mulia ratu datang berkunjung," kalimat itu bukanlah kalimat sungkan tetapi sebuah sindiran.
Tentu Bai An tidak begitu bodoh untuk mengetahui niat ibunya datang, bukan untuk melepaskan rindu tetapi tentu untuk menghakiminya.
"Apa yang kau lakukan pada ayahmu?!" benar saja, bukan kalimat kerinduan setelah bertahun-tahun tidak melihat putranya justru tuduhan itu yang ia lontarkan.
Bai An terkekeh mendengarnya, "Tentu saja sebuah hal yang esok pagi akan membuat ibu terkejut."
Gurat marah nampak begitu jelas di wajah permaisuri, ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Bai An. Tidak tahu saja jika Bai An menyelamatkan kaisar alih-alih membunuhnya.
"Apakah kau lupa jika kaisar adalah ayahmu? Bagaimana bisa kau sejahat itu?"
Kali ini tawa lepas Bai An suguhkan, baginya kalimat itu adalah lawakan yang sangat lucu.
Permaisuri terdiam, tidak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan karena ingatannya sekarang melalanglang buana ke masa itu, masa dimana kaisar begitu kecewa dengan Bai An yang tidak bisa berkultivasi dengan baik.
Bai An melangkahkan kakinya mendekat ke arah permaisuri sehingga jarak mereka kini sangatlah dekat.
"Bukankah Ibu masih ingat bagaimana dulu perlakuan ayah padaku? Saat itu semuanya membenciku bahkan kedua orang tua yang awalnya aku sayangi, tidak ada yang membela sedangkan aku hanyalah seorang anak kecil yang semakin lama memyimpan dendam di hatinya ... Kurasa sebuah kematian saja tidak bisa menebus dosa seorang ayah pada anaknya ini."
"Ayahmu hanya terlalu kecewa karena kau memiliki meridian cacat, dia gelap mata dan menyiksamu." ucapan itu melirih, nadanya tidak sekeras yang tadi.
"Pantaskah dia kecewa? Bukan aku juga yang memilih dilahirkan dengan kondisi itu, jika tahu aku dilahirkan hanya itu disiska sepanjang hari, mengapa aku harus dilahirkan atau setidaknya akan lebih baik ibu membunuhku saja saat aku baru lahir."
"Han Bai An!"
"Aku sama seperti yang lainnya, seorang anak yang membutuhkan kasih sayang. Tidakkah Ibu memikirkanku sekali saja selama ini? Tidakkah Ibu sempat terlintas pertanyaan tentang bagaimana hidupku diluar selama ini, apakah aku masih hidup atau telah mati?" Bai An terkekeh sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tentu saja tidak, karena ibu tidak menganggapku! Tetapi yang masih aku pertanyakan adalah kenapa Ibu bisa seperti itu padaku, aku adalah yang dilahirkan oleh ibu. Kekuranganku ini bukan aku yang meminta, tetapi mengapa aku harus mendapatkan kebencian yang begitu besar dari semua orang alih-alih dukungan."
Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Bai An melangkahkan kakinya menjauh meninggalkan permaisuri yang air matanya mulai membasahi pipi.
"Kau salah, ibu sangat merindukanmu, ibu tidak membencimu dan setiap malam ibu memikirkanmu." ucapan itu tidaklah di dengar oleh Bai An, karena lelaki itu sudah berjalan cukup jauh.
Dayang kepala memberikan sebuah sapu tangan pada permaisuri.
"Aku adalah ibu yang sangat buruk dayang An, aku dengan bodohnya tidak menyadari jika luka di hati putraku sebesar itu."
"Tidak yang mulia, bukankah selama ini yang mulia juga selalu diam-diam mengirimkan orang untuk mencari pangeran? Permaisuri bukankah orang jahat."
"Tapi luka yang kuberikan pasti tidak akan dilupakan olehnya seumur hidup."
━━━━━ The Legend of Sword Lord ━━━━━
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
With love,
Khalisa🌹