Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 7: Satu Langkah Kecil Yang Berarti.


Banyak orang yang bertanya pada dirinya tentang arti kebahagiaan. Jawaban mereka pun berbeda-beda tergantung bagaimana ia memandang dunia. Ada yang merasa bahagia jika ia mempunyai harta yang melimpah, ada yang bahagia ketika memiliki banyak istri yang cantik dan lain sebagainya. Begitupula dengan Daya, kebahagiaan Daya saat ini adalah mengetahui bahwa ia bisa belajar ilmu bela diri. Kesenangan tiada tara Daya rasakan ketika Anthony memberitahu bahwa Daya dapat belajar ilmu bela diri tanpa harus memikirkan tentang uang. Karna jika harus membayar, dapat dipastikan Daya tak akan sanggup untuk memenuhinya.


Mereka berdua masih berada di tepi sungai, Daya berterima kasih kepada Anthony puluhan bahkan ribuan kali. Lalu akhirnya Anthony berkata ia ingin kembali ke dalam pondok.


"Apa kau masih ingin disini?" tanya Anthony.


"Ah ... iya tuan, saya masih ingin melihat sungai ini" jawab Daya dengan pandangan melihat aliran sungai yang tenang.


"Kalau begitu aku masuk duluan," ucap Anthony meninggalkan Daya.


Akhirnya Anthony masuk kedalam pondok, ketika Anthony melewati pintu besar, Anthony dikejutkan dengan keberadaan dua temannya yang kemungkinan sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Alardo berada di sebelah pintu, bersender di dinding dan melipatkan tangannya di atas dada. Sedangkan Abercio duduk di kursi dengan mengangkat satu kakinya.


Alardo: "Apa maksudmu memberitahu tentang Rianna ke bocah yang baru saja kau kenal?"


Abercio: "Bukankah kau sendiri yang berkata kita harus melupakan tentang Rianna? Namun apa yang kau lakukan sekarang?"


Anthony: "Memang benar aku berkata seperti itu dahulu, namun itulah yang menjadi pedang bermata dua untuk kita, itulah yang menyebabkan kita seperti sekarang! Saling menyalahkan dirinya sendiri dan merasa ini adalah kesalahannya!


"Kita tidak menerima masa lalu, kita tidak menerima kesalahan yang kita lakukan dan kita hanya ingin melupakannya. Banyak orang yang ingin melupakan masa lalu dan hanya sedikit orang yang belajar dari masa lalu.


"Aku minta maaf karena dulu aku berkata seperti itu, dan sekarang aku mohon kepada kalian. Terimalah masa lalu dan mari melangkah bersama menuju apa yang kita impikan. Jangan biarkan masa lalu menjadi pengekangan yang membatasi pergerakan kita. Memang benar masa lalu kita sangatlah kotor, namun masa depan kita masih bersih, jadi jangan merusaknya! Aku yakin inilah yang diinginkan Rianna, Yaitu kekompakan tim ...!" ujar Anthony dengan nada serius.


Alardo dan Abercio terdiam, mereka teringat saat-saat bersama Rianna. Alardo terjatuh dari posisi berdirinya dan Abercio menurunkan satu kakinya. Serpihan-serpihan kecil memori mulai muncul, terbayang senyum Rianna ketika mereka masih bersama, terkenang indahnya rambut Rianna yang panjang berwarna hitam menari-nari dalam pelukan. Memori menjelma menjadi sebilah pedang yang menyayat ulu hati mereka, rasa sakit yang tak terbayang mereka rasakan. Wajah mereka memerah, perasaan mereka bercampur aduk. Dan kemudian, tenggorokan mereka seakan tercekik saat mereka harus menelan fakta bahwa mereka telah membuat kesalahan yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.


"A-a- aku ...." Belum sempat Alardo menyelesaikan perkataannya, mata Alardo menitihkan air mata.


Alardo tak sanggup berkata apa-apa kecuali menumpahkan perasaannya kedalam sebuah air mata. Air mata yang tak tertahankan keluar dari kedua bola matanya, mata indahnya memerah, pipi halusnya berubah kemerahan tenggelam dalam tangisnya. Melihat tangisan temannya, Abercio ikut terbawa suana dan menangis tersedu-sedu. Perasaan mereka sangat hancur dan tubuh serta pikiran mereka lemah mengingat semua itu.


Selama beberapa menit mereka larut dalam kesedihan, saat ini mereka telah bisa menenangkan perasaan mereka. Mata mereka masih terlihat basah, hidung dan pipinya masih memerah.


Alardo: "Sepertinya kita harus berjuang dari awal lagi, ditambah untuk memenuhi janji Anthony kepada Daya. Bukan begitu ketua?"


Abercio: "Haha, benar. Ada banyak hal yang akan kita lakukan!" ucap Abercio dan Alardo pelan. Sesekali terdengan isakan dalam napas mereka.


Anthony: "Terima kasih teman-teman" ucap Anthony sembari tersenyum.


***


Setelah beberapa saat Daya melihat air sungai yang mengalir, kini Daya kembali masuk ke dalam pondok. Saat Daya memasuki pondok, Pak tua yang Daya sapa saat pagi hari memberikannya sepucuk surat pemberian Anthony. Daya pun menerima surat tersebut dan bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk melihat dan membaca isi surat tersebut. Surat tersebut berbunyi,


"Daya, kami akan melanjutkan perjalanan kami. Terima kasih, berkat bertemu dan berbicara denganmu, kami semua menyadari tentang kesalahan kami dimasa lalu. Kami telah menerima kesalahan kami dan akan melanjutkan perjalanan kami yang beberapa waktu sempat terhenti. Aku telah berbicara pada pemilik pondok ini dan ia telah menyetujui menerimamu di pondoknya. Jadilah lebih kuat Daya, dan kita akan bertemu lagi"


Daya tersenyum dan melipat serta memasukkan surat itu kembali ke tempatnya. Daya keluar dari kamar dan berniat untuk bertemu pak tua yang ia temui di pagi hari untuk bertanya soal latihannya. Sampailah Daya di depan pintu. Daya mencari pak tua itu, namun tak menemukan pak tua itu dimana pun ia mencarinya. Akhirnya setelah beberapa saat Daya berhasil menemukannya. Pak tua itu sedang duduk disebuah kursi kayu di halaman pondok. Daya mendekati Pak tua itu dan berkata,


"Permisi pak, apakah anda tau siapa pemilik dari pondok ini? Saya ingin bertanya tentang kapan latihan akan dimulai,"


Pak tua itu menoleh dan berkata,


"Apa kau sudah tau berapa harga per-bulan untuk berlatih disini bocah?" tanya Pak tua tersebut membalikkan pertanyaan.


"Ah ... Tuan Anthony berkata bahwasanya ia mengenal pemilik pondok ini dan telah memperbolehkan saya berlatih secara percuma," terang Daya.


"Oh ... ternyata bocah yang dibilang Tony itu kau ya, aku adalah pemilik pondok ini dan latihan kalian akan dimulai besok, jadi bersiaplah!"


Daya terkejut karena tidak mengira Pak tua dihadapannya adalah pemilik pondok ini.


"Pak tua ini berkata 'kalian'? jadi bukan cuma aku ya yang berlatih di sini ya?" pikir Daya dalam hati.


"Baik, Pak."


"Dan jangan panggil aku pak, panggil aku Abdi Mas!"


"Baik Tuan Abdi!" ucap Daya ramah dengan sedikit membungkukkan badannya.


Jam menunjukkan pukul 08:23, Daya bergegas keluar untuk pergi kembali ke gubuknya mengambil barang barang yang sekiranya masih Daya perlukan. Ketika Daya ingin pergi ternyata Ben dengan suka rela memberikan tumpangan kepada Daya. Setelah perjalanan cukup jauh sampailah Daya di gubuknya lalu menggambil barang barang yang berharga dan kembali ke pondok tempat ia sekarang berada. Karena ditemani oleh Ben, Daya dapat kembali dengan cepat. Jam menunjukkan pukul 13:20, karena kelelahan Daya memutuskan untuk tidur di dalam kamarnya sembari menunggu esok hari tiba.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.