Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 48: Surat Kepastian!


Mendengar nama Livia, tanpa menunggu bawahannya menyelesaikan ucapannya, Raja langsung mengernyitkan dahinya dan memerintahkan bawahannya untuk melakukan eksekusi kepada Livia!


"Maaf, Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud lancang menolak titah yang Anda berikan. Namun selain Livia, ada beberapa nama yang menurut hamba harus Anda dengarkan sebelum membuat sebuah keputusan."


"Katakan padaku!"


"Baiklah, Yang Mulia. Pertama adalah anak dari Pemimpin area Pemukiman Desa, Jaka Nasiri. Kedua adalah Maya Revina, salah satu warga desa yang masih hidup setelah tragedi Morway, dan Daya Adi Madanu yang dikabarkan telah dikeluarkan dari area Kerajaan."


Mendengar ucapan bawahannya, mata Raja terbuka lebar tidak percaya akan hal yang ia dengar.


"Mereka ingin menjadi pendekar?"


"Benar, Yang Mulia."


Dengan posisi kepala yang ditopang oleh tangannya,


Raja Zake George terlihat sedang memikirkan sesuatu. Raja melihat ke arah istrinya yang sedang duduk di sampingnya kemudian membelai wajah istrinya dengan lembut. Ratu Ajeng menerima tangan Raja Zake dengan kedua tangannya, Ratu Ajeng memejamkan matanya dengan tangan Raja Zake yang masih berada di wajahnya.


"Apa yang harus kulakukan, kembang kecilku?" Raja Zake bertanya kepada Ratu Ajeng dengan suara yang sangat lembut.


Dengan kedua tangan yang masih memegang tangan milik Raja Zake, Ratu Ajeng membuka matanya lalu berkata,


"Sebagai seorang pendamping, dibandingkan berdiri di samping, saya lebih memilih berdiri di belakangmu. Sehingga saya dapat menyokong, mendorong dan berjalan tepat di mana kamu melangkah, sayang. Saya akan menerima segala keinginanmu."


Mendengar jawaban Ratu Ajeng, Raja Zake tersenyum dan merintahkan bawahannya untuk melakukan apa yang Raja Zake katakan. Bawahan Raja Zake pun memohon untuk pamit dan meninggalkan Raja dan Ratu berdua di ruangan Takhta.


*Esok hari di tempat Daya dan teman-temannya berada.


Mereka semua kecuali Jaka sedang menunggu di kamar penginapan dekat Serikat Perhubungan. Rasa cemas dan khawatir terukir di wajah mereka bertiga, terutama pada wajah Livia. Setelah tiga hari berlalu, Livia baru menyadari bahwa keputusan ini adalah keputusan yang salah. Livia tidak ingin mengorbankan orang lain demi kepentingannya,


"Sepertinya keputusan yang kita buat itu salah deh, teman-teman." Livia berkata dengan raut wajah yang sangat khawatir.


Melihat kekhawatiran Livia yang begitu besar, Maya mencoba menenangkan Livia,


"Tenang saja, Livia. Jaka sedang berjaga di luar, jika ada beberapa orang mencurigakan datang ke tempat ini, kita akan langsung pergi dari sini!"


"Sudah terlambat untuk menyesali hari kemarin, kita bersama akan menghadapi hari ini untuk membuat hari esok yang lebih baik!" Ucapan Daya membuat Maya dan Livia terkaget, mereka mengira Daya tidak memiliki rasa takut sedikitpun tenang eksekusi. Namun ketika Maya dan Livia melihat ke arah Daya, ternyata Dayalah yang paling terlihat ketakutan. Badannya bergetar hebat dengan keringat dingin yang mengucur deras membasahi bajunya. Livia dan Maya hanya melihat Daya dengan tatapan kasihan.


"Sembilan puluh persen untuk melakukan eksekusi dan pengejaran, sedangkan sepuluh untuk memberikan status dan hak Livia kembali!"


"Kenapa hanya sepuluh persen?" tanya Daya bingung.


"Menurutku tidak ada alasan jelas sejauh aku berpikir yang mendorong Raja memberikan hak Livia kembali!"


Livia dan Daya menundukkan pandangannya setelah mendengar jawaban Maya.


Di lain sisi Jaka sedang mengamati orang yang masuk dan keluar di depan gerbang desa Thalas. Jaka beranggapan bahwa orang dari Kerajaan akan datang melalui gerbang.


"Tsk ... sudah tiga hari semenjak surat itu diberikan, kenapa belum juga ada tanda orang-orang dari Kerajaan itu datang!" batin Jaka berdecak kesal.


Sudah tiga hari sejak Jaka menunggu kedatangan orang-orang dari Kerajaan tiba, namun Jaka tidak kunjung menjumpainya, membuat waktu tidurnya sedikit terganggu. Bagi Jaka yang telah menjadi pendekar melihat kedatangan pesuruh Kerajaan ke desa adalah suatu hal yang sangat jelas. Jika yang datang adalah seorang pria kurus dengan tas besar di punggung, berarti itu adalah surat Kerajaan. Namun jika yang datang adalah dua orang berbadan gemuk dengan penampilan serba hitam dan senjata sabit di bahunya, berarti mereka adalah orang yang ditugaskan untuk mengeksekusi Livia.


Dengan pikiran yang jenuh Jaka terus melihat ke arah gerbang desa dengan seksama. Sebagian suara dalam diri Jaka berkata ingin menyudahi pengamatan ini dan kembali ke tempat penginapan untuk tidur siang, namun sebagian yang lain menolak dengan beranggapan bagaimana jika yang datang adalah dua orang berbadan besar dengan pakaian serba hitam dan senjata sabit di punggungnya? Maka mereka sudah terlambat untuk melarikan diri.


Rasa kantuk menghantui Jaka, matanya menjadi sangat berat dan merasakan sebuah kenikmatan yang tiada tara saat ia menutup kedua matanya. Karena tidak sanggup menahan rasa kantuk, Jaka tertidur di atas gentong air kecil. Beberapa menit telah berlalu, dari kejauhan tampak sekelebat bayangan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Sepertinya bayangan itu bertujuan untuk masuk ke desa Thalas. Bayangan itu langsung melewati gerbang, karena pergerakan bayangan yang sangat cepat, membuat penjaga tidak mengetahui bahwa ada orang yang melewati gerbang.


Bayangan itu langsung bergerak dengan cepat pergi menuju penginapan tempat Livia, Daya dan Maya berada. Bayangan itu masuk ke dalam penginapan sederhana itu lalu bergerak menuju pintu kamar tempat di mana Daya dan temannya berada. Bayangan itu dengan sangat cepat mengetuk pintu lalu menjatuhkan sebuah surat di atas lantai depan pintu.


*Tok tok tok tok tok ....


Mendengar suara pintunya terketuk, Maya yang mengira itu adalah Jaka langsung membukakan pintu. Ketika pintu telah terbuka, Maya merasa bingung karena ia tidak bisa melihat siapa orang yang mengetuk pintunya. Setelah mata Maya melihat ke kanan dan kiri, Maya mendapati sebuah surat berada tepat di bawah pintu kamarnya. Maya mengambil surat itu, saat Maya ingin melihat siapa pengirimnya, betapa terkejutnya Maya melihat surat itu memiliki lambang Kerajaan Naga Hijau di atasnya.


Badan Maya terdiam kaku dan tangannya bergetar dengan sangat hebat setelah melihat surat dengan lambang Kerajaan. Mengetahui itu, Maya langsung cepat-cepat menuju kamar tempat Daya dan Livia berada untuk memberitahu kepada mereka bahwa surat balasan dari Raja telah sampai. Dalam hati Maya tidak henti-hentinya berdoa yang terbaik untuk mereka semua. Maya tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika hidup melawan sebuah kerajaan yang besar.


Dengan terburu-buru Maya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Daya dan Livia yang berada di ruangan itu terkejut dengan kedatangan Maya yang sangat tergesa-gesa.


"Suratnya sudah datang!" pekik Maya dengan nafas yang memburu.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.