Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 54: Adi vs Monster Tagula (1/4).


Jantung para calon pendekar berdegup kencang menunggu nama mereka terpanggil, tradisi Seda kali ini bisa dibilang spesial, karena ini adalah kali pertama keluarga kerajaan datang menghadirinya. Karena keluarga kerajaan melihat, para calon pendekar berkata di dalam hatinya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik. Mereka tidak ingin terlihat buruk dan lemah di hadapan sang Raja. Waktu yang ditunggu telah tiba, Evan mulai memanggil dengan lantang nama calon pendekar yang akan melakukan pertarungan,


"Kepada orang dan teman sependekarnya yang say panggil, supaya memasuki arena pertandingan! Nama calon pendekar pertama yang akan memasuki arena adalah Adi Seh Rahma!" Usai Evan mengungkapkan nama orang pertama yang akan memulai pertandingan, para penonton bergemuruh bertepuk tangan.


Terlihat ada lima orang yang berdiri dari bangku penonton dan pergi menuju arena pertandingan. Mereka beranggotakan tiga perempuan dan dua lelaki. Semua wanita mengenakan busur panah lengkap dengan anaknya di punggung, sedangkan dua lelaki membawa pedang di pinggangnya. Tepuk tangan para penonton terdengar keras mengiringi langkah kaki kelima calon pendekar itu. Saat kelima calon pendekar itu masih berjalan, Daya yang duduk di tengah Livia dan Maya bertanya,


"Kenapa rata-rata senjata yang digunakan oleh perempuan adalah busur dan lelaki adalah sebilah pedang? Jika itu karena jarak, bukankah masih ada senjata lain yang mengandalkan jarak lebih jauh sebagai keuntungan utamanya selain panah? Begitupula dengan pedang?" Daya memandang Maya yang duduk di sebelah kanannya dan Livia yang duduk di sebelah kirinya.


"Terkadang ada saat di mana senjata itu melambangkan gender dari penggunanya, Daya. Dalam keluarga kakek Eko, mereka memiliki semacam tradisi turun temurun. Jika ada seorang bayi yang lahir dan ia adalah seorang perempuan, maka harus menggunakan busur panah sebagai senjata utamanya. Begitupula dengan lelaki yang akan menggunakan pedang!" jawab Livia memandang ke arah Daya.


"Benar, Daya. Tapi bukan berarti si perempuan tidak boleh mempelajari senjata lainnya, namun senjata yang harus dikuasai pertama kali adalah busur panah!" timpal Maya.


"Selain karena tradisi, faktor keselamatan si perempuan juga ikut mengambil peran. Pada dasarnya perempuan itu memiliki daya tahan tubuh yang lemah, sehingga para perempuan memilih menggunakan tipe serangan jarak jauh!"


"Ohhh ... oke."


***


Kelima calon pendekar dan juru pisah telah berdiri di atas arena pertandingan, juru pisah terlihat berjalan lalu berdiri di sebuah tuas besar yang memiliki panjang lebih tinggi dari tubuhnya. Si juru pisah mengambil ancang-ancang kemudian menendang tuas yang terlihat seperti besi tua itu menggunakan tulang keringnya. Saat tuas itu berbalik, pemandangan para penonton langsung terhalang oleh besi besar yang mengitari bangku penonton.


Bagi orang biasa, mereka hanya melihat juruji besar itu hanya sebagai penghalang. Namun bagi orang yang mau berpikir, mereka bisa mengetahui bahwa jeruji besi besar itu ada bukan tanpa alasan.


Beberapa penonton yang melihat jeruji besi besar itu terkaget, mereka tidak mengira akan ada sebuah jeruji besi yang membatasi penglihatan mereka.


Beberapa orang di sana terlihat kesal dan marah,


"Hoi ... kenapa ada besi di sini!?"


"Benar! Kalau seperti ini kami tidak akan bisa melihat jalannya pertandingan!"


Mendengar ucapan beberapa penonton yang berteriak, Raja Zake terlihat mengernyitkan alisnya. Melihat Raja yang akan marah, Evan sebagai juru pisah langsung berkata dengan nada yang sangat lantang,


"Jeruji besi itu bertujuan untuk melindungi kalian, wahai orang yang tak punya akal! Saya tahu jeruji itu membatasi penglihatan kalian, tetapi setidaknya kalian bisa terlindung dari monster dan serangan meleset para calon pendekar! Jika kalian tidak ingin terganggu oleh besi itu, silahkan turun ke arena pertandingan!"


Mendengar teriakan Evan, semua penonton terdiam. Beberapa penonton yang kesal tadi hanya terdiam bisu mendengar bentakan Evan.


"Dasar rakyat bodoh! Setidaknya berpikir dulu sebelum berbicara! Jika sampai Raja marah, bisa susah nantinya!" batin Evan di dalam hati setelah para penonton telah tenang.


Saat para penonton masih berfokus pada masalah jeruji besi, Daya berbeda dengan yang lain. Daya hanya terheran dengan energi berwarna putih yang mengaliri jeruji besi itu.


"Apa kalian bisa melihat aliran berwarna putih pada jeruji besi itu?" tanya Daya kepada Livia dan Maya tanpa memalingkan pandangannya dari jeruji besi.


"Tidak, kami tidak melihatnya, Daya." Livia memandang wajah Daya dengan tatapan bingung.


"Apakah itu energi Arbitrium?" tat Maya dengan nada tidak yakin.


"Tidak-tidak, saya yakin eliran itu bukan enerti Arbitrium! Saya tidak bisa merasakan energi Arbitrium pada besi besar itu!" Daya membantah ucapan Maya.


"Hmm ... kau benar, Daya. Energi Arbitrium setahuku bisa dilihat oleh semua orang, sedangkan energi diri itu tidak. Lantas energi apa itu?" tanya Maya terheran-heran.


"Saya tidak tahu, namun perasaan ini berbeda dari energi Arbitrium yang sering saya sering rasakan sebelumnya!"


"Selain energi Arbitrium, manusia bisa menghasilkan aura yang bisa dirasakan oleh orang lain. Biasanya aura dikeluarkan untuk menakuti lawannya, namun aura biasa tidak bisa menghasilkan warna, kecuali aura energi Arbitrium!" Maya masih terheran-heran dengan aliran yang dilihat oleh Daya.


"Emm ... energi tingkat tinggi?" Livia menerka energi yang dilihat Data dengan nada yang kurang yakin.


"Hmm ... untuk sekarang mungkin hanya itu kemungkinannya." Maya membenarkan ucapan Livia.


"Tingkat tinggi? Elemen ada tingkatannya, kah?" batin Daya.


Ketika Daya, Livia dan Maya masih berbincang, mereka mendengar suara decitan pintu yang terdengar begitu kuat. Setelah mereka melihat ke arah arena pertandingan, ternyata pintu yang menjadi pembatas antara arena pertandingan dan tempat disimpannya para monster tengah dibuka.Sebuah decitan dan suara rantai yang tertarik terdengar sangat kuat. Decitan itu membuat beberapa penonton menutup telinganya karena tidak tahan dan merasakan ngilu yang memukul gendang telinganya.


Saat pintu telah terbuka sempurna, terlihat debu dengan jumlah yang sangat banyak berterbangan terkena terpaan angin. Beberapa detik selanjutnya terdengar suara seperti sayap mengepak dengan kepakan yang sangat cepat dan terdengar desisan kuat dari dalam pintu yang gelap.


Kelima calon pendekar yang telah berdiri di atas arena pertandingan itu terlihat telah memasang kuda-kuda dan memegang senjata pada masing-masing tangannya.


*Sreeekk ....


Dengan gerakan yang sangat cepat, terlihat sekelebat bayangan monster bergerak dengan gerakan yang sangat cepat berusaha memotong leher kelima calon pendekar itu, tetapi untungnya mereka mampu menghindar dari serangan kejut yang monster itu berikan. Namun tanpa mereka duga, ternyata serangan itu mampu menggores kulit kelima calon pendekar itu.


Darah merah segar menetes melalui luka pada kulit mereka, ada yang dari pipi, lengan hingga leher. Kelima calon pendekar itu terkaget, mereka sangat yakin telah berhasil menghindari serangan monster itu.


Para penonton terdiam mencoba menyaksikan jalannya pertandingan, keluarga kerajaan tampak bosan, pendekar dengan Tier Celestial Dragon tidak memperdulikan jalannya pertandingan dan juru pisah berada tepat di pinggir arena. Mengetahui serangannya tidak berhasil memenggal kepala kelima calon pendekar itu, monster itu berdiri dengan tegap di pinggiran arena.


Ternyata monster itu adalah ....


\=\=♡\=\=


To Be Continued.