
Pernahkah kalian diganggu oleh orang lain baik secara fisik maupun mental? Setiap orang memiliki kadar kesabaran yang berbeda. Ada yang sabar ketika mendapatkan ujian, ada yang sabar saat keluarga yang dicintainya meninggal bahkan ada yang tetap sabar saat orang lain menginjak-injak perasaan serta harga dirinya. Namun, kesabaran pun memiliki batas. Jika perlakuan orang lain melebihinya, maka kesedihan dan kemarahan yang akan menguasai perasaan dan jiwa. Kemarahan dan kesedihan ini terjadi karena kita tidak melakukan apapun atau kita tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya.
Daya tidak suka diganggu oleh orang lain, Daya tidak suka dihina oleh orang lain dan pastinya Daya juga marah jika dilukai oleh orang lain. Kemarahan menguasai tubuhnya dan ucapan keluar dari mulutnya. Sekarang Daya tidak tau apa yang harus dia lakukan. Jika dibiarkan mereka akan merajalela tapi untuk menghentikan mereka Daya pun tak punya kuasa. Saat kata-kata itu keluar dari bibirnya, Daya langsung memikirkan konsekuensi yang akan ia terima.
Puluhan pasang mata melihat ke arahnya, wajah Jaka tampak memerah dengan tangan yang mengepal seakan ingin memukulnya. Daya ketakutan dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Saat pandangan mereka bertemu, mata Daya yang bulat seperti ikan melihat mata tajam milik Jaka. Walau hanya melihat mata milik Jaka, Daya sudah merasakan ketakutan yang menyelimuti hatinya. Tiba-tiba Tuan Abdi datang dengan membawa senjata di pundaknya melangkah mendekati mereka.
"Sedang apa kalian huh?" tanya Tuan Abdi
Jaka yang kaget langsung merangkul Daya dan berkata,
"Ah, tidak ada tuan. Kami hanya sedang mengobrol. Bukankah begitu Daya?" ucap Jaka sembari menggoyang tubuh Daya untuk berbohong kepada Tuan Abdi.
"I-iya tuan ... Saya sedang mengobrol dengan Jaka," jawab Daya terpaksa berbohong karena takut kepada Jaka.
"Hmm ..." Tuan Abdi mengeluarkan nafas melalui hidungnya. "Baiklah, sekarang adalah hari kedua kalian belajar di pondok ini. Hari ini kalian akan belajar menggunakan senjata!" ucap Tuan Abdi tegas.
Semua murid tampak kecewa dengan ucapan Tuan Abdi dan berkata,
"Heee ... Kapan kami akan belajar elemen?" protes salah satu remaja karena Tuan Abdi belum mengajarkan mereka tentang elemen.
"Kapan kalian akan melalukan itu, aku yang akan menentukan! Tugas kalian hanya mengikuti apa yang aku perintahkan!" ucap Tuan Abdi tegas sembari melihat ke arah anak muridnya.
Tuan Abdi menyuruh murid-muridnya untuk duduk memanjang seperti kemarin dan memperhatikannya saat berbicara.
"Sebelum kita memulai pembelajaran, apakah di antara kalian ada yang ingin menanyakan sesuatu?" tanya Tuan Abdi berdiri di hadapan para muridnya.
"Tuan, apakah manusia bisa hidup abadi?" tanya seorang remaja sembari mengangkat tangannya.
"Kalian ini hidup di dunia nyata, bukan di dunia fantasi. Tidak ada yang namanya keabadian yang dimiliki oleh manusia!" ucap Tuan Abdi serius.
Di sela-sela ucapan Tuan Abdi. Jaka bertanya kepada temannya.
Jaka: "Hei ... Kenapa kau memperhatikan bocah itu (Daya) terus menerus?"
Teman Jaka: "Aku benci sekali dengan wajahnya. Wajahnya bulat, kulitnya coklat, matanya juga bulat seperti ikan ditambah rambutnya yang berwarna hitam berbentuk seperti batok kelapa menambah kebencian ku padanya. Kau akan memukulnya lagi bukan?"
Jaka: "Sudahlah, aku sudah tidak peduli padanya."
Teman Jaka: "Hei, kau ini keturunan kerajaan. Wajah mu oval, rambutmu putih bervolume naik ke atas dan matamu bewarna biru keemasan. Kau tampan, sedangkan dia seperti orang yang baru saja keluar dari area pemakaman. Jadi kau tau apa yang orang kerajaan lakukan bukan?
Jaka: "Baiklah, haha."
"Perhatikan, di hadapan kalian terdapat empat senjata dasar yang sering digunakan oleh pendekar untuk berburu monster. Ada pedang, panah, tombak dan perisai. Pilihlah senjata yang kalian sukai!" ucap Tuan Abdi sembari mengambil senjata dari pundaknya lalu mengangkatnya.
"Tapi kan Tuan Abdi cuma ada satu buah senjata, bagaimana mungkin kami bisa memilih nya?" ucap remaja heran dengan perkataan Tuan Abdi.
Para murid pun memilih senjata yang disukainya, mulai dari murid yang paling kanan hingga yang paling kiri. Jumlah murid Tuan Abdi sebanyak dua puluh orang, dari dua puluh itu mereka memilih: Pedang sebanyak sepuluh orang, panah sebanyak lima orang, tombak sebanyak dua orang dan tiga orang yang memilih perisai.
Sepuluh orang termasuk seluruh kelompok Jaka memilih pedang, semua wanita memilih panah, Daya dan seorang lelaki pendek memilih tombak dan tiga lelaki memilih perisai.
"Karena saya hanya sendiri, kalian akan dibagi secara kelompok sesuai senjata yang kalian pilih. Besok yang belajar hanya kelompok pedang, lusa yang belajar hanya kelompok panah, tulat yang belajar hanya kelompok tombak dan seterusnya!"
"Lah ... Jadi saat kelompok lain belajar kami harus ngapain?" tanya seorang remaja heran.
"Terserah kalian, bantuin mamak kalian nyuci baju pun gak apa," canda Tuan Abdi.
"Hahha, kau cuci pakaian dalam kau itu. Udah besar pakaian dalam masih di cuci in emak," sindir seseorang remaja.
Para murid pun tertawa dengan ucapan remaja itu.
"Baiklah, hari ini kalian tempah sendiri senjata kalian dan masuk lagi sesuai hari yang sudah ditetapkan. Kalian boleh bubar!" Tuan Abdi pun pergi meninggalkan para muridnya.
Para murid pun pulang kembali ke rumah mereka, hal yang ditakuti Daya pun menjadi kenyataan. Saat Daya ingin kembali masuk ke pondok, kelompok Jaka mulai mengerubungi Daya.
"Kenapa cepat sekali kau ingin pergi? Mau nanya aku ini" ucap Jaka sembari memegang bahu kanan menahan Daya untuk pulang.
Daya menoleh dan berkata,
"Apa yang kalian ingin tanyakan?" jawab Daya ketakutan.
"Kenapa kau memilih tombak? Pendekar lebih banyak memakai pedang dari pada tombak, kau tau itu?" tegas Jaka dengan tangannya yang masih berada di pundak Daya.
Daya melepaskan tangan Jaka dari pundaknya dan berkata,
"Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui!"
Saat mengucapkan kata itu Daya pun ditarik oleh teman-teman Jaka kembali ke tempat yang sepi. Tempat itu berjarak sekitar beberapa puluh meter dari pondok. Tempat yang sunyi dan dikelilingi oleh pohon besar yang lebat. Daya diikat di batang pohon lalu teman Jaka menyumpal mulutnya. Di saat itulah kelompok Jaka menjadikan tubuh Daya seperti tempat memukul. Pukulan serta tendangan mengarah ke badannya
Luka yang sudah sembuh kembali terbuka, pikiran akan hal buruk mulai menggema dan hanya derai air mata yang berbicara di saat Daya tak mampu untuk membela dirinya. Daya merasakan rasa sakit yang sulit untuk diungkapkan, pukulan dari empat orang silih berganti menghujani tubuh Daya. Selama beberapa menit Daya diperlakukan seperti itu hingga rasa sakit di area perutnya sudah tak lagi Daya rasakan, terasa seakan-akan menghilangkan begitu saja. Merekapun menghentikan pukulannya dan pergi meninggalkan Daya sendirian.
"****** kau!" ucap seorang teman Jaka.
Jaka tidak berkata apa-apa, Dia melonggarkan tali yang mengikat Daya lalu pergi meninggalkannya. Daya terjatuh dari pohon. Perasaan gelisah dan tidak nyaman menghampirinya ditambah rasa nyeri di seluruh badannya. Namun hanya bagian perut yang tidak Daya rasakan sakit. Memar dan luka terlihat di seluruh tubuhnya. Karena tubuhnya yang lemah, Daya terkulai lemas dan pingsan. Sudah beberapa jam Daya pingsan. Daya terbangun dan melihat matahari sudah tenggelam dan bulan pun ditampakkan. Daya mencoba untuk berdiri kembali pulang. Namun rasa sakit kian menghalangi seakan tidak mengizinkannya pergi kemana-mana.
\=\=♡\=\=
To Be Continued.