Legenda Daya

Legenda Daya
Eps 58: Aura.


Pintu yang menjadi penghubung antara bangku penonton, arena pertandingan dan pintu keluar itu telah terbuka. Lewat pintu itu juga beberapa orang berbaju putih datang dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa Abi, mereka adalah tabib terpercaya dari kerajaan.


Terhitung ada sekitar delapan tabib yang empat diantaranya membawa sebuah tandu untuk mengangkat tubuh Abi dan empat lainnya membawa kotak pada masing-masing tangannya.


Keempat tabib yang membawa kotak itu langsung berjongkok dan memberikan pertolongan pertama kepada Abi. Seperti mencuci kakinya dan mengikat pangkal paha tepat di mana kaki Abi telah terpotong. Setelah melakukan pertolongan pertama, empat tabib mencoba mengangkat tubuh lemah Abi dan meletakkannya secara perlahan di atas tandu.


Terlihat Abi masih hidup dan menghirup nafas, namun pergerakan diafragmanya sangat lemah dan terkesan lambat. Di samping para tabib terdapat keempat teman Abi yang mencoba membantu tabib menyelamatkan nyawa Abi, keempat temannya itu memperhatikan dengan raut wajah yang sangat sedih dan takut.


Raut wajah Adi tertekuk kuat dengan bibir tak henti-hentinya bergetar melihat kondisi temannya yang kritis, begitupula dengan Cahya, Disa dan Haira yang tak kalah takutnya. Mereka takut kehilangan teman sekaligus orang yang sangat berjasa dalam hidup mereka.


Saat mereka masih sibuk menyelamatkan nyawa Abi, monster Tagula yang masih kesulitan memotong besi milik si juru pisah itu terlihat mengalihkan pandangannya ke arah para tabib dan keempat temannya Abi. Evan telah merasakan adanya hawa membunuh yang besar dari si monster Tagula.


Benar saja, dalam hitungan detik secara tiba-tiba monster itu bergerak dengan kecepatan yang sangat mengerikan mendekati para tabib dan keempat temannya Abi.


*Husss ....


Suara kepakan sayap dan gerakan monster Tagula terdengar begitu cepat, monster itu dapat bergerak mendekati para tabib yang jaraknya berpuluh-puluh meter hanya dalam kurun waktu seperkian detik.


Saat jarak monster Tagula hanya beberapa meter dari tubuh Adi, monster Tagula bersiap untuk menyerang semua teman Abi dan para tabib dengan menggunakan kaki depannya yang sangat kuat dan tajam.


Dalam detik-detik terakhir, Adi dapat melihat pergerakan monster Tagula, namun ia tak kuasa untuk melakukan apapun untuk melindungi teman-temannya.


Adi tak mampu untuk menggerakkan badannya, Adi tak mampu memberitahu teman-temannya dan Adi tak mampu melindungi mereka saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa monster Tagula sedang bergerak ke arah mereka.


Bahkan saking cepatnya mosnter Tagula bergerak, otak dan pikiran Adi belum mengetahui bahwa yang sedang bergerak ke arah dirinya adalah seekor monster yang ingin membunuhnya beserta teman-temannya.


*Duaggg ....


Dengan kecepatan yang melebihi mosnter Tagula, Evan si juru pisah itu bergerak dan menghantam kepala monster Tagula menggunakan batangan besi berwarna merah. Saat itu jarak monster Tagula dan Adi hanya tinggal beberapa cm lagi, memerlukan waktu beberapa detik untuk otak Adi mencerna semua ini.


Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,


Adi berteriak histeris dan melompat ke belakang ketakutan saat posisi wajahnya sangat dekat dengat kepala monster Tagula.


"Huahhh ...!"


"Tenang saja, monster ini telah mati!" Evan mencoba menenangkan Adi dan teman-temannya yang tampak masih merasakan getaran ketakutan itu.


Semua penonton awalnya terdiam, mereka masih mencerta apa yang sebenarnya terjadi, semua berjalan begitu cepat. Saat telah mengetahui bahwa monster Tagula telah ditumbangkan, para penonton berteriak meriah. Mereka bersorak dan mengakui kehebatan dari pendekar dengan Tier Emperor.


Para tabib itu mempercepat gerakannya dan membawa Abi beserta teman-temannya ke tempat aman untuk merawat luka yang diderita Abi beserta temannya.


"Kalian melihat warna merah pada besi milik juru pisah itu, bukan?" tanya Daya.


"Yap." Livia dan Maya menganggukkan kepalanya.


"Itu bukanlah warna biasa, melainkan energi Arbitrium yang menyelimuti besi milik si juru pisah itu!"


"Ya, aku juga sudah beranggapan seperti itu. Kekuatan kaki depan milik monster belalang itu sangatlah kuat, namun anehnya tidak dapat mematahkan besi biasa milik si juru pisah! Apa lagi kalau bukan energi Arbitrium!" tangkas Maya yang terlihat sangat senang karena penilaiannya ternyata benar.


"Apa yang membedakan energi biasa dengan energi Arbitrium, Daya? Daya bisa menggunakan Arbitrium?" tanya Livia memandang wajah Daya dengan tatapan yang menggemaskan.


"Ya, saya bisa menggunakan energi Arbitrium. Energi Arbitrium bisa untuk dua hal kalau saya tidak salah. Pertama untuk menguatkan dan yang kedua untuk menakutkan. Jika kita menggunakan energi Arbitrium, maka elemen yang kita gunakan akan semakin kuat. Tidak seperti energi biasa, warna dari energi Arbitrium itu bisa dilihat oleh seseorang.


"Jika kita mengalirkan energi Arbitrium ke seluruh badan kita atau ke sebuah benda, maka badan dan benda itu akan mengeluarkan semacam aura yang menjadi armor yang melindungi tubuh kita!" jelas Daya sembari mengingat apa yang dikatakan oleh Tuan Abdi.


"Aura terbagi lagi menjadi dua! Pertama adalah aura yang dihasilkan oleh energi Arbitrium, dan yang kedua adalah aura yang dihasilkan oleh perasaan kita. Gampangnya aura yang dihasilkan oleh energi Arbitrium itu mengeluarkan warna, sedangkan aura


perasaan tidak!" timpal Maya.


"Lantas apa gunanya aura, Maya?" tanya Livia dengan wajah penasaran. Baru kali ini ia mendengar tentang aura.


"Pada dasarnya aura berguna untuk menakut-nakuti atau memperingatkan lawan. Namun bebeda untuk aura Arbitrium, selain untuk menakut-nakuti, aura Arbitrium juga berguna untuk melindungi diri, seperti yang telah disinggung sebelumnya.


"Jika kau merasakan hawa negatif, hawa membunuh, dan hawa mencekam dari seseorang atau monster, maka ia sedang menggunakan auranya. Semakin kuat seseorang atau monster dalam menggunakan aura, maka semakin kuat dan tebal juga hawa yang dihasilkan. Namun terkadang ada seseorang atau monster yang hanya hebat dalam menggendalikan aura, namun lemah dalam bertarung!


"Misalnya ketika ada musuh yang mendekat, mereka akan mengeluarkan aura membunuhnya dengan sangat kuat agar bisa menakut-nakuti si musuh. Karena dia tahu, jika ia bertarung, ia akan kalah.


"Lalu ada juga yang lemah dalam aura namun kuat dalam pertarungan! Seperti Evan si juru pisah itu!" Maya menghentikan omongannya lalu melihat ke arah Evan. Setelah beberapa detik melihat ke arah Evan, Maya kembali berkata,


"Saat diberitahunya Evan adalah pendekar dengan tier Emperor, semua orang tidak percaya dan tidak yakin akan fakta yang diberitahu Raja. Itu semua karena aura milik Evan sangatlah lemah, belum lagi wajahnya yang lucu. Namun lihat! Dia sangat kuat dalam bertarung!


"Selain Evan, ada juga tipe orang yang kuat dalam aura dan kuat dalam pertarungan. Sebut saja si pendekat dengan Tier Celestial Dragon itu. Apakah kalian bisa merasakannya? Sebuah aura dan tekanan yang sangat kuat mengelilingi pendekar dengan tier Celestial Dragon itu?" tanya Maya memalingkan pandangannya meliat ke arah si pendekar terkuat itu.


"I-iya, dengan melihatnnya saja Livia merasa takut," jawab Livia mencoba memalingkan pandangannya dari si pendekar terkuat itu. Daya hanya mengangguk-angguk, ia juga baru tahu tentang aura.


"Apapun yang terjadi ingatlah hal ini; selemah apapun lawanamu, sebodoh apapun perilakunya dan seaneh apapun penampilannya, jangan pernah meremehkannya!" Maya memandang wajah Livia dan Daya dengan tatapan tajam. Daya dan Livia mengangguk-angguk.


\=\=♡\=\=


To Be Continued.