
"Kirana tunggu!"
Dirga hendak mengejar Kirana, namun di cegah oleh sang ayah.
"Biarkan dia pergi, itu jauh lebih baik! sekarang kamu harus bertanggung jawab pada gadis yang sudah kau rusak!"
"Tapi Pa, aku tidak mencintainya!"
"Jika kau tidak mencintainya, kenapa kau merusaknya? Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang pengecut Dirga!" tegas Deni.
"Tapi Pa, belum tentu hanya anak kita yang menyentuhnya! mungkin, dia sudah sering melakukan nya dengan lelaki lain! jadi, jangan menyuruh anak kita untuk bertanggung jawab!" Mawar membela sang anak.
"Maaf Nyonya, saya bukan wanita sseperti itu! Tuan Dirga adalah orang yang sudah merenggut kesucian saya!" jawab Laras tegas, ia tak Terima dicap sebagai wanita gampangan.
"Apa kau memiliki bukti?" tantang Mawar.
"Saya memang tidak memiliki bukti, saya juga yakin, jika jejak noda darah saya yang ada di seprei Tuan Dirga pasti sudah di buang! Tapi, yang jelas, Tuan Dirga lah yang sudah merenggut kehormatan saya!" tegas Laras.
"Ayah, lebih baik kita pergi sekarang! percuma kita kesini, mereka tidak akan pernah mau bertanggung jawab!" ucap Laras sendu.
Cukup sudah dirinya dihina, biarlah ia menjadi samsak sang ayah. Bagaimanapun ia menjelaskan, orang-orang kaya itu pasti tidak akan pernah mau mengaku dan bertanggung jawab padanya.
"Kalian tidak boleh pergi! secepatnya kita akan adakan pernikahan!"
"Tapi Pa," ucap Dirga dan Mawar bersamaan.
"Papa tidak peduli, kalian setuju atau tidak! yang jelas, kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau perbuat Dirga!"
Mendengar hal itu, Dirga maupun Mawar hanya diam dan tak bisa dibantah. Mereka hanya bisa pasrah dan mau tidak mau menuruti ucapan Deni.
Di ruang keluarga rumah Dirga, berkumpul empat orang. Mereka saling diam dengan pikiran nya masing-masing.
Dirga menatap tajam pada Laras yang hanya menunduk tak berani menatap mereka yang berada satu ruangan dengan nya.
Jika bisa, Laras ingin pergi saja dari tempat yang terasa sangat mencekam ini. Apalagi, Laras seolah merasakan aura kebencian yang ditujukan kepadanya.
Laras benar-benar ragu, apakah setelah menikah dengan Dirga dirinya akan bahagia atau malah sebaliknya?
Ah, sudahlah! bagaimana pun kedepan nya, dia akan menerimanya. Karena, yang terpenting dirinya bisa bebas dari rumah sang ayah, meski dirinya akan semakin menderita nanti.
"Tuan, pak penghulunya sudah datang!" ucap sopir Deni yang ditugaskan untuk mencari penghulu.
"Baiklah, ayo mulai sekarang dan cepat selesaikan!" jawab Deni dengan nada datar.
"Pa, kita bisa mencari solusi yang lain selain menikah!" Dirga berusaha untuk membujuk sang papa.
"Tidak! apa kau tak berpikir, bagaimana kedepannya? jika dia hamil, apa kau tega membuang darah dagingmu sendiri Dirga?" tanya Deni dengan nada geram.
Ya, Deni memikirkan bagaimana nasib Laras nanti. Jika wanita itu hamil, tanpa seorang suami pasti banyak yang akan mencemooh nya.
Dan anak yang tidak bersalah, pasti akan terkena imbasnya juga. Ia hanya tidak ingin anaknya ini akan menyesal di kemudian hari.
Dan juga, Deni tidak ingin anaknya ini menjadi seorang pengecut dengan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan nya.
Ia tidak bisa membayang hidup dengan seorang wanita yang sama sekali tak ia cintai. Apalagi, dirinya juga harus kehilangan karina wanita yang sangat cintai.
"Tidak ada yang tahu, bagaimana kedepan nya! jadilah lelaki yang bertanggung jawab! papa tidak ingin mendengar alasan lain lagi, nikahi dia atau papa tidak akan pernah mau menganggapmu anak lagi!" tegas sang papa.
Dirga hanya menghembuskan nafas kasar, jika papanya sudah mengatakan hal itu, dia tidak bisa melakukan apapun selain menuruti perintah sang papa.
Acara pernikahan dimulai, Dirga mulai mengucapkan ijab kabul. Tidak ada yang istimewa dalam pernikahan ini.
Laras hanya menunduk, entah apa yang akan terjadi setelah pernikahan yang tak diinginkan ini. Yang jelas, Laras harus menyiapkan mentalnya untuk menghadapi kebencian dari keluarga Dirga bahkan dari suaminya sendiri.
Ya, kini dirinya sudah sah menjadi istri Dirga. Kata sah menggema di seluruh ruangan yang sangat luas ini.
Setelah menikahkan Dirga dan Laras, pak penguhulu dan beberapa warga yang menjadi saksi segera pamit.
Begitu juga dengan ayah Laras, ia berdiri dan menatap satu persatu keluarga dari suami anaknya ini.
"Tugas saya sudah selesai, saya harap kalian bisa menjaga anak saya! dan kamu Laras!" Tomi menunjuk Laras menatap tajam pada wajah anaknya.
Laras menatap sendu pada ayahnya yang tengah menatapnya dengan tajam. Mata itu, selalu menatapnya dengan penuh kebencian, apa tidak ada rasa kasih sayang sedikitpun untuknya dari tatapan mata sang ayah?
"Mulai sekarang, hubungan antara ayah dan anak sudah tidak ada lagi! jangan pernah kau menginjakkan kakimu di rumahku lagi! jika bertemu di jalan, anggap saja kita saling tidak kenal."
Mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut ayahnya, membuat dada Laras menjadi sesak.
Rasanya ia sangat sulit untuk bernafas, hatinya begitu sakit. Apalagi, saat mendengar langsung ucapan sang ayah yang tak mau mengakuinya secara langsung, membuat hatinya benar-benar sakit dan hancur.
Ah, bukankah sejak ia lahir ayahnya sama sekali tak menginginkannya? tetapi, kenapa begitu sakit saat mendengar saat ayahnya mengucapkan kalimat itu?
Tomi segera membuang muka dan tak ingin melihat wajah sendu sang anak. Tanpa kata, ia segera pergi meninggalkan rumah menantunya itu.
Sementara orang-orang yang ada di sana hanya diam terpaku, melihat adegan itu. Dirga menatap iba Laras yang sedari tadi diam membisu menatap kepergian sang ayah.
Ia sangat yakin, saat ini hati Laras pasti sangat terluka. Tapi, bukankah ini kesalahan nya sendiri? Dirga segera menepis rasa iba nya terhadap Laras.
Bukankah, karena wanita itu dirinya harus kehilangan Kirana dan menikah dengan nya. Dasar, wanita licik! pikirnya.
"Aku rasa itu hukuman yang pantas untukmu!" sinis Mawar dan memilih segera meninggalkan ruang tamu.
Deni menghembuskan nafas kasar. Ia mengerti dengan istrinya yang belum bisa menerima Laras sebagai menantunya.
Tetapi lambat laun, ia yakin Mawar pasti bisa menerima Laras di keluarga ini. Deni mendekati Laras dan berdiri tepat dihadapan Laras.
Laras mendongak menatap ayah mertuanya, dia berusaha menyiapkan hati untuk menerima segala cacian yang akan dilontarkan oleh lelaki yang berstatus sebagai mertuanya.
"Tenanglah, masih ada kami yang akan menerimamu di keluarga ini! Papa minta maaf atas apa yang telah terjadi denganmu, anggaplah kami ini keluargamu!"
Deni menatap lekat wajah Laras yang sudah memerah, Laras berusaha mati-matian untuk tidak menangis.
Deni, juga melihat ada bercak darah di ujung bibir Laras dan lebam di kedua pipi Laras. Ia yakin, Tomi lah pelakunya.
Tanpa sadar, air mata Laras jatuh di salah satu pipi Laras. Baru pertama kali ia mendengar kalimat yang begitu menenangkan. Apakah benar dirinya diterima di keluarga ini? atau, Deni hanya merasa kasihan terhadapnya dan melontarkan kalimat itu hanya untuk memenangkan nya?