
Tomi tengah duduk sendiri termenung di ruang kerjanya. Bahkan, ia mengusir Desi saat mengikutinya, ia hanya ingin sendiri dan tak ingin seorangpun menganggu nya untuk saat ini.
Setelah memukuli putrinya, ada rasa bersalah di dalam hatinya. Memang ini bukan pertama kalinya dia memukul Laras, tetapi tidak separah hari ini.
Memang dia sangat kecewa dengan Laras, bagaimana tidak? anaknya itu tidak bisa menjaga kehormatan nya, bahkan dengan suka rela memberikan tubuhnya pada pria asing.
Anak? sejak kapan ia mengakui Laras sebagai anaknya? meski begitu, ia tetap kecewa dengan Laras, harusnya Laras bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak membuat malu dirinya.
Meski Laras mengaku telah diperkosa, tetapi ia tak percaya. Bagaimana bisa ia percaya, sementara di foto itu Laras terlihat mesra dengan lelaki yang tak dikenalnya.
"Apa yang harus aku lakukan pada Laras?" gumamnya menatap sendu pada foto mendiang istrinya yang ada di tangannya.
"Seandainya kamu masih hidup, pasti ini tidak akan terjadi!" gumam nya lagi.
Perhatian Tomi beralih pada ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Ia segera mengambil benda pipih itu dan mengangkatnya saat seseorang yang sedari tadi ia tunggu menelponnya.
"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan informasi yang saya butuhkan?" tanya Tomi tanpa basa-basi.
"Sudah Pak," jawabnya mantab.
"Katakan siapa lelaki itu?"
Tangan Tomi langsung mengepal kuat saat mengetahui siapa lelaki bre-ng-sek itu! Tomi segera memutuskan sambungan telpon nya secara sepihak.
Setelah itu, ia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar untuk menuju kamar Laras.
Brak....
Tomi membuka kasar pintu kamar Laras, membuat sang pemilik kamar terlonjak kaget saat mendengar suara keras itu.
"A-ayah," panggil Laras takut.
Ya, Laras takut saat melihat ayahnya masuk kedalam kamarnya dengan wajah memerah menahan amarah.
Apakah ayahnya itu akan memukulinya lagi? jika iya, maka dia tidak akan sanggup. Mengingat tubuhnya yang masih terasa lemas, bahkan bekas tamparan dan pukulan ayahnya masih sangat terasa sakit sampai saat ini.
"Ayah, ada apa?" tanya Desi yang sudah berada di samping sang suami.
Ini pertama kalinya Desi melihat suaminya semarah ini. Wajar jika suaminya marah, mengingat kelakuan Laras yang menjijikkan.
Ada rasa takut dan senang di saat melihat suaminya begitu marah pada Laras. Apalagi, jika suaminya ini mengusir Laras. Ia pasti akan membuat pesta nantinya.
Tomi tak menghiraukan pertanyaan Desi, dia lebih memilih melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ranjang Laras.
Ia menarik tangan Laras dengan sangat kasar, membuat wanita itu tersentak dan berdiri. Tanpa banyak bicara, Tomi menyeretnya agar Laras mengikuti langkahnya.
"Ayah, ayah mau bawa aku kemana?" tanya Laras.
Tomi masih diam saja, ia lebih memilih melanjutkan langkah kakinya sembari menyeret Laras.
"Ayah, mau kemana? Laras mau dibawa kemana?" kali ini, Desi yang bertanya.
Lagi-lagi Tomi hanya diam dan membisu, bahkan ia mendorong tubuh Laras dengan kasar, agar masuk kedalam mobilnya.
Kemudian Tomi mengikuti dan duduk di belakang kemudi. Ia segera menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya tanpa menanggapi pertanyaan sang istri.
Sementara Desi, dia kesal karena suaminya tidak mengatakan apa-apa. Padahal, dia sudah bertanya, tapi suaminya itu mengabaikan semua pertanyaan nya.
"Dasar, anak sama ayah sama saja!" gerutunya.
"Tapi, mau dibawa kemana Laras? apa dia akan membuangnya? jika iya, maka aku harus merayakan nya!" gumamnya dengan senyum mengembang di wajahnya.
"R-rumah siapa ini ayah?" akhirnya Laras berani membuka suaranya saat melihat rumah yang sangat asing baginya.
Tanpa berniat menjawab pertanyaan Laras, Tomi segera turun dari mobilnya dan berteriak memanggil nama lelaki yang sudah menodai anaknya semalam.
"Dirga! keluar kau!" teriaknya begitu mengglegar.
Mata Laras melotot kala mendengar nama atasan nya di sebut sang ayah. Ia segera keluar dari mobil dan segera mendekati ayahnya.
"Ayah, untuk apa ayah membawaku kesini! ayo kita pulang dan bicarakan hal ini baik-baik!" bujuk Laras.
"Tidak, sebelum dia mau bertanggung jawab terhadap mu!" tegasnya.
"Dirga!" teriak Tomi lagi.
"Ayah! lebih baik kita pulang saja!" Laras mencoba membujuk sang ayah, tetapi Tomi tetap tak mendengarkan dan masih saja terus berteriak memanggil nama Dirga.
Laras benar-benar tak menyangka, jika ayahnya tahu siapa yang sudah menodainya semalam. Sekarang dirinya harus membawa sang ayah pergi dari sini, sebelum sang pemilik atau lelaki yang bernama Dirga keluar dan menemui mereka.
Sementara empat orang yang tengah duduk di ruang keluarga, merasa terganggu karena suara berisik dari luar.
Bahkan, mereka juga mendengar jelas bahwa orang yang ada di luar tengah berteriak menyebut nama Dirga.
"Duh, siapa yang teriak-teriak?" ucap Mawar mama Dirga kesal dirinya benar-benar merasa terganggu, apalagi kini ia tengah berkumpul dengan keluarganya membahas pernikahan Dirga dan Kirana.
"Lebih baik kita keluar dan lihat siapa yang sudah membuat onar!" Ajak Deni ayah Dirga.
Mawar, Dirga dan Kirana setuju mendengar saran dari Deni. Tanpa menunggu lama mereka semua keluar untuk melihat siapa yang sudah membuat onar di rumah mereka.
"Siapa Anda dan kenapa berteriak di rumah saya?" tanya Deni saat melihat Tomi dan Laras berasa di depan rumah nya.
"Saya ingin bertemu dengan Dirga dan meminta pertanggung jawaban nya atas apa yang sudah ia lakukan pada anak saya semalam!"
"Apa maksud Anda?" tanya Deni tak mengerti.
Dirga menatap Laras dengan tatapan tajamnya, bukankah dia sudah mengatakan untuk merahasiakan hal ini? tetapi kenapa wanita itu malah datang ke rumahnya dengan ayahnya?
Ya, Dirga menebak dia adalah ayah dari Laras. Mendengar bagaimana lelaki itu berbicara dengan menyebutkan anak.
"Anak anda sudah mengambil kesucian anak saya! jadi, saya harap anak anda mau bertanggung jawab, kalau tidak, maka saya akan melaporkan nya pada polisi!" ancam Tomi sembari menatap tajam pada Deni dan Dirga secara bergabtian.
"Tidak mungkin anak saya melakukan hal itu! mungkin anak Anda yang dengan suka rela menyerahkan diri! dasar mu-ra-han!" ucap Mawar yang tak terima dengan tuduhan lelaki yang baru saja ia temui ini.
"Ayah, lebih baik kita pulang saja ayah!" lirih Laras, sungguh ia merasa sangat sakit hati mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh wanita yang ia tebak adalah ibu dari Dirga.
"Ayah tidak akan pergi, sebelum lelaki itu mau bertanggung jawab!" tegas Tomi.
"Dirga, apa itu benar?" tanya Kirana dengan sendu berharap apa yang ia dengar hanyalah kebohongan semata.
"Maafkan aku Kirana, tetapi semalam aku melakukan nya dengan tidak sadar!" Dirga meraih tangan Kirana dan mencoba meyakinkan calon istrinya, bahwa ini semua hanyalah kecelakaan.
"Dirga apa maksudmu? jangan bilang, kau sudah merusak gadis itu!" tanya Deni dengan nada tegasnya.
"Iya Pa," jawab Dirga mengakui kesalahan nya semalam.
Kirana menggeleng kuat, ia benar-benar tak percaya jika calon suaminya ini, tega mengkhianatinya.
"Kamu tega Dirga! pernikahan kita batal." Tegas Kirana dan segera meninggalkan rumah Dirga dengan lelehan air mata yang membasahi wajah cantiknya.