
"Laras," teriak Desi kepada anak sambungnya. Laras yang tengah berganti pakaian, terkejut karena mendengar teriakan mama sambungnya itu.
Dok...
Dok...
Dok....
Desi yang tak sabaran, memilih menghampiri kamar Laras dan menggedor pintu kamar putri sambungnya dengan sangat keras.
"I-iya Ma," jawab laras terbata, setelah ia membuka pintu kamarnya.
"Sedang apa kamu? kenapa sarapan belum siap?" tanyanya dengan mata melotot.
"Maaf Ma, Laras kesiangan! jadi, Laras tidak bisa menyiapkan sarapan!"
Sebelum mendapat amukan dari Desi, laras segera meninggalkan Desi yang sudah bersiap menyemburkan sumpah sarapahnya.
Laras tak peduli dengan itu, karena yang terpenting sekarang adalah segera sampai di kantor tempat dirinya magang.
Jika tidak, maka dia akan dipecat. Sementara Desi sudah mengumpati Laras dengan segala nama binatang yang ia keluarkan.
Laras menghembuskan nafas kasarnya, Ia menatap keluar jendela bus yang ditumpanginya. Sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
Sebenarnya dia masih memiliki seorang ayah. Namun, ayahnya sama sekali tidak menganggapnya ada. Mungkin bagi ayahnya, dirinya sudah mati bersama dengan ibunya.
Dulu ia belum tau sebab ayahnya tak menganggapnya ada? namun, seiring berjalan nya waktu, ia mengerti kenapa ayahnya begitu tak menginginkan nya.
Ternyata ayahnya menyalahkan nya karena ibu kandungnya meninggal setelah melahirkan nya. Oleh sebab itulah, ayahnya tidak pernah mau menganggapnya.
Dulu sebelum menikah dengan Desi, Tomi sang ayah lebih memilih mengacuhkan nya. Namun, setelah Tomi menikah dengan Desi, ayahnya semakin membencinya dan lebih menyayangi kakak sambungnya Tania.
Aneh bukan? anak sendiri ditelantarkan dan bahkan ayahnya tak segan memukul atau mencaci dirinya jika ia tak sengaja menyinggung Tania.
"Neng, sudah sampai!" ucap kernet bus sembari mencolek pundak Laras, membuatnya Laras terlonjak kaget dan berhasil membuyarkan lamunan nya.
"Ah, iya Pak! makasih," serunya segera berdiri dan turun dari bus yang ia tumpangi.
Laras segera berlari menuju kantornya, karena memang sudah sangat terlambat baginya. Karena terlalu terburu-buru ia tidak memperhatikan sekitar dan,
Brugh...
"Awh," pekik laras yang terjatuh hingga tubuhnya terlentang diatas lantai yang dingin.
Ia mengelus pinggangnya yang terasa sakit, ternyata Laras tak sengaja menabrak seseorang dan membuatnya terjatuh. Laras mendongak karena lelaki itu tak terjatuh seperti dirinya. Lalu ia menatap lelaki yang tak sengaja ia tabrak, tengah menatapnya dengan wajah datarnya.
"Pak Dirga!" kedua bola mata laras membola saat melihat siapa yang sudah ia tabrak. Lelaki yang ia tabrak adalah pemilik perusahaan dimana dirinya bekerja.
"Matilah aku," gerutunya dalam hati.
"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya sang asisten sembari membantu laras untuk berdiri, sementara Dirga hanya menatap datar pada Laras.
"I-iya, saya baik," jawab Laras terbata.
"Pak Dirga maafkan saya, saya tidak sengaja!" Laras membungkukkan tubuhnya sembari meminta maaf.
Sementara Dirga hanya acuh dan lebih memilih pergi meninggalkan Laras sendirian. Dikta segera mengikuti langkah Dirga, sebelum lelaki itu mengeluarkan taringnya.
"Nona, lain kali berhati-hatilah!" ucap Dikta sebelum meninggalkan Laras sendirian.
Laras menatap kepergian kedua orang penting di tempatnya bekerja, hingga mereka menghilang di balik pintu lift yang perlahan tertutup.
Sesaat tatapan mata Laras bertemu dengan kedua netra coklat milik Dirga sebelum pintu itu tertutup rapat. Meski terkesan dingin, namun tak dapat dipungkiri lelaki itu sangat tampan dan mempesona.
"Ah, si dingin yang tampan!" kagumnya pada sosok yang sudah hilang dari pandangan nya.
"Kau mau bekerja atau melamun?" sentak Bu Rita atasan Laras.
Di perusahaan ini Laras bekerja di bagian administrasi! baru satu bulan ia bekerja di sini. Selama bekerja tak ada kendala yang berarti baginya.
"Laras, lain kali saya tidak ingin melihatmu terlambat lagi!" tegur Rita saat Laras akan mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya.
"I-iya Bu, maaf, " ucap Laras.
Setelah mengatakan hal itu, Rita pergi keruangan nya meninggalkan Laras dan rekan nya yang lain.
"Kenapa terlambat?" tanya Ani teman Laras. Karena tidak biasanya Laras terlambat.
"Biasalah, maraton drakor," jawab Laras sembari meringis, menunjukkan gigi-gigi putihnya yang rapi.
Anin hanya menggeleng dan melanjutkan pekerjaan nya. Begitu juga Laras, ia tak ingin terkena omelan lagi.
Laras mulai fokus bekerja, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
"Ras, ayo ke kantin," ajak Ani dan diangguki oleh Laras.
Mereka berjalan menuju kantin bersama sembari mengobrol ringan. Hingga perhatian mereka teralihkan saat ada seorang wanita cantik yang tengah berjalan sembari memamerkan senyum manisnya.
Karena hampir semua karyawan menyapa wanita itu, membuat Laras menjadi penasaran. Laras yang memang pertama kali melihat wanita cantik itu.
"An, siapa dia? cantik sekali," puji nya dan masih menatap pada wanita yang tengah berjalan menuju lift.
"Kau tak mengenalnya?" tanya Ani heran. Karena hampir semua karyawan disini mengenal wanita itu. Laras hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Dia itu tunangan nya Pak Dirga! bahkan mereka sebentar lagi akan menikah, memang pasangan yang sangat serasi! cantik ama ganteng. Duh, aku juga mau punya suami seperti Pak Dirga!" celetuk Ani yang memang mengagumi atasan nya itu.
Sudah menjadi rahasia umum, banyak pekerja wanita yang mengagumi Dirga. Bahkan tak jarang dari mereka rela menyerahkan diri mereka pada bos tampan nya itu.
Namun, Dirga sama sekali tak tertarik dengan hal itu semua. Meskipun Dirga dikenal sebagai lelaki dingin dan arogan tak bisa mengurangi rasa kagum mereka.
"Benar kan Ras?"
Laras tersentak dari lamunannya, lalu mengangguk saja. Ia sedikit kecewa karena ternyata Dirga sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah.
"Sepertinya aku memang harus membuang rasa ini," gumamnya dalam hati.
Sementara itu Karin sudah sampai di depan ruangan kekasihnya, di sana ia di sambut oleh Dikta.
"Selamat siang Nona Karin, Tuan sudah menunggu Anda," Dikta menyambut dan membukakan pintu untuk Karin tunangan tuan nya.
"Terima kasih," ucap Karin dengan ramah.
Karin segera masuk kedalam dan mendapati tunangan nya yang masih saja fokus pada berkas-berkasnya.
"Sayang," panggilnya.
Dirga langsung menghentikan pekerjaan nya dan mengalihkan perhatian nya pada pemilik suara yang sudah sangat ia rindukan.
Dirga segera beranjak dan merentang kan kedua tangannya menyambut kedatangan sang kekasih dengan senyuman manis.
Karin langsung menghambur memeluk sang kekasih yang sangat dicintai dan dia rindukan ini. Sudah hampir dua minggu mereka tidak bertemu.
Karin yang berprofesi sebagai dokter dan harus ditugaskan di luar kota selama dua minggu, membuat mereka harus berpisah selama itu.
Ya, dua minggu bagi keduanya waktu yang cukup lama. Karena memang keduanya saling mencintai.
Hubungan mereka tidak hanya satu atau dua bulan. Mereka sudah menjalin hubungan selama hampir lima tahun.
Sebenarnya Dirga sudah mengajak Karin untuk menikah satu tahun lalu. Tetapi, Karin yang masih ingin menggapai cita-citanya, harus menunda pernikahan mereka.
Akhirnya mereka memutuskan untuk bertunangan terlebih dahulu dan rencanannya bulan depan mereka baru akan menikah.