Laras Yang Terbuang

Laras Yang Terbuang
#4


Dirga berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat. Ia memijit pelan pelipisnya berharap bisa mengurangi rasa sakit di kepalanya.


Setelah berjuang mengenyahkan pusing di kepalanya, akhirnya dia bisa membuka matanya. Seketika matanya melotot saat mendapati seorang wanita cantik yang tengah tidur di sampingnya.


Dirga segera melepas pelukan nya dan menatap tajam pada wanita yang mulai bergerak dalam tidurnya, mungkin merasa terganggu, akibat gerakan Dirga.


"Siapa kau?" tanyanya dengan nada membentak.


Sementara Laras, berusaha membuka matanya dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia melihat Dirga dengan wajah menahan amarahnya.


Hiks... Hiks....


Laras kembali menangis saat teringat, bagaimana Dirga semalam memaksanya untuk melayani lelaki itu.


Ia kehilangan mahkota yang selama 20 tahun ia jaga dengan baik, direnggut paksa oleh atasan nya sendiri.


"Jangan berpura-pura! aku tahu kau sengaja menyodorkan tubuhmu!" tuduhnya.


"Saya bukan wanita seperti itu Tuan! Anda sendiri yang menyeret dan memaksa saya untuk melayani Anda semalam!" bela Laras.


Ia tak Terima dengan tuduhan yang Dirga lontarkan! tega sekali lelaki yang ada dihadapan nya ini, menuduhnya! setelah lelaki itu merenggut kehormatan nya dengan paksa.


"Aarrggghhh, tidak mungkin aku melakukan hal konyol itu!" teriaknya frustasi.


Dirga terdiam, kepinga-kepingan bayangan semalam menari di kepalanya. Dia beranjak dari tempat tidur dan lebih memilih untuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia membiarkan Laras yang tengah menangis begitu saja.


Laras menangis meratapi nasibnya. Kini, dia sudah kehilangan kehormatan nya sebagai wanita. Sekarang, dia tak tahu harus berbuat apa?


Ceklek....


Setelah beberapa saat pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Dirga yang sudah terlihat segar.


"Bangunlah dan bersihkan dirimu! aku tunggu di ruang tamu!" setelah mengatakan hal itu, lelaki itu berjalan keluar kamar dan menuju ruang tamu miliknya.


Setelah yakin lelaki itu keluar kamar, Laras segera menuju kamar mandi dan membasuh seluruh tubuhnya dengan air dingin, berharap semua kemalangan yang ia alami semalam hanyalah mpi belaka.


Sementara itu, Dirga mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja sembari memikirkan kejadian semalam dan langkah apa yang harus ia ambil.


Bahkan Dirga kini merutuki kebodohan nya, karena sudah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.


Tetapi mau bagaimana lagi, semalam dirinya benar-benar hilang kendali akibat obat sialan itu.


Kemarin setelah ia mengantar Karina pulang ke rumahnya, Dirga langsung pergi kesalah club untuk menemui klien nya.


Entah kenapa klien nya ingin bertemu dengan nya ditempat seperti itu? Dirga yang memang tidak memiliki pikiran buruk sekalipun, mengiyakan saja dan bertemu orang itu.


Namun, siapa sangka? klienya memberinya minuman yang sudah bercampur obat perangasang. Beruntung Dirga cepat menyadari dengan perubahan suhu tubuhnya dan memilih cepat pergi dari tempat tersebut.


Namun siapa sangka, dijalan ia tak sengaja bertemu dengan gadis itu dan melakukan nya dengan cara memaksa.


Ya, Dirga sangat ingat jelas. Dia memaksa gadis itu untuk melayaninya, Dan kini dia harus mengambil tindakan agar hal ini tidak bocor dan menjadi bencana baginya.


Selain citra perusahaan nya akan hancur, hubungan nya dengan Kirana pasti akan kandas jika wanita itu tahu dengan apa yang sudah ia lakukan.


Lamunan Dirga buyar, saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia menatap tajam pada sosok gadis yang sudah menghabiskan semalam dengan nya.


Gadis itu menunduk dan memilin ujung kemeja kebesaran yang tengah ia pakai. Dirga mengerutkan keningnya saat melihat kemeja miliknya yang di pakai oleh gadis yang tak ia kenal itu.


"Maaf Tuan, baju saya sudah tidak layak pakai! jadi, saya meminjam baju Anda!" ucapnya takut-takut.


"Sudahlah, duduk ada hal yang jauh lebih penting dari pada kemeja itu!" kata Dirga dengan nada dingin.


"Berapa yang kau mau?" tanya Dirga dengan nada datar.


Laras mendongak dan menatap Dirga, entah keberanian dari mana, sehingga Laras berani menatap tepat di manik mata hitam milik lelaki itu.


"M-maksud Tuan?" tanya Laras yang memang tidak mengerti arah pembicaraan lelaki itu.


Dirga menghembuskan nafas kasar dan menatap tajam pada Laras. Ia bisa melihat wajah sembab gadis yang ada dihadapan nya ini.


Ada rasa bersalah yang menghinggapi, tetapi dia tidak boleh lemah! dia harus tegas, jika tidak, maka dia akan dimanfaatkan oleh gadis yang tak. ia kenal itu.


"Dengar, untuk kejadian semalam, saya tidak sengaja! dan saya ingin kamu melupakan nya, anggap semalam tidak pernah terjadi apa-apa! dan sebagai gantinya, saya akan memberimu berapun yang kau mau!" ucapnya panjang lebar.


Laras menggeleng kuat, ia seolah tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut pria yang ia kagumi ini.


"Apa uang anda dapat mengembalikan kesucian saya Tuan?" tanya Laras dengan wajah datar.


Bahkan, sekuat tenaga ia menahan air matanya untuk tidak keluar. Ah, ia benar-benar tak menyangka, seorang Dirga bisa beranggapan jika uang akan bisa menyelesaikan semua masalah.


"Uangku memang tidak bisa mengembalikan kesucian mu, tetapi dengan uang itu kau bisa membeli apapun yang kau mau! aku rasa itu impas!" jawabnya enteng.


"Simpan saja uang anda Tuan, karena saya bukan wanita seperti yang anda pikirkan! saya permisi!"


Tanpa menunggu jawaban, Laras ingin segera meninggalkan tempat yang sudah membuat nya hancur. Entah, apa yang akan terjadi padanya nanti.


Yang jelas, ia tak terima jika Dirga menginjak-injak harga dirinya.


"Saya harap kau akan menutup mulut! jika sampai hal ini bocor, maka kau akan tahu akibatnya!"


Laras tak menjawab ucapan Dirga, dia lebih memilih untuk segera pergi dari tempat itu. Dirinya benar-benar hancur, hatinya sakit.


Lelaki yang ia puja dan dia suka secara diam-diam, ternyata memiliki sifat pengecut yang tak ingin mengakui kesalahan nya.


Seandainya waktu dapat ia putar, maka ia lebih memilih untuk tinggal di rumah dan mengikuti perintah ibu tirinya.


Ya, lebih baik ia mendengar cacian dari ibu tirinya dari pada dia kehilangan mahkota yang sudah ia jaga matian-matian.


Dirga menghembuskan nafas lelah, setelah yakin Laras pergi, ia berjalan menuju kamarnya. Dirga melihat isi kamarnya yang sudah acak-acakkan, bahkan baju wanita itu masih tertinggal di sana.


Memang baju Laras sudah tak dapat di pakai, karena semalam Dirga merobeknya. Dirga termenung saat melihat bercak darah di seprai miliknya.


"Ternyata dia masih perawan!" gumamnya sembari tersenyum getir.


Dirga tak menyangka, jika dia akan merusak seorang gadis. Ada rasa bersalah saat mendapati kenyataan, kalau ia menggagahi seorang gadis yang bahkan belum tersentuh oleh siapapun.