Laras Yang Terbuang

Laras Yang Terbuang
#3


Laras menatap ayahnya dengan air mata yang menetes dengan derasnya. Tatapan matanya penuh luka, ketika menatap sang ayah.


"Berani sekali kau berteriak didepan Mamamu, mana sopan santunmu!" bentak Tomi, bahkan ia juga menunjuk wajah Laras dengan jari telunjuknya.


"Kenapa Ayah selalu membela mereka, aku ini anak kandung Ayah! dalam diriku mengalir darah Ayah, tetapi kenapa Ayah tidak pernah mau mendengarku?" ucapnya dengan tangan masih memegang pipi bekas tamparan sang ayah.


Ia menatap ayahnya penuh luka dan kecewa. Ayah melihat tatapan mata Laras, segera memalingkan wajahnya menghindari tatapan penuh luka anak yang tak diakuinya.


"Kamu memang anakku, tetapi kamu yang sudah menyebabkan ibu mu meninggal!" ucapnya tanpa mau melihat wajah Laras.


Sebenarnya Tomi tak ingin menyakiti hati Laras, tetapi setiap kali melihat wajah Laras, mengingatkan nya pada mendiang istrinya yang kesakitan kemudian meninggal setelah tepat kelahiran Laras.


"Jika aku tahu, kelahiranku bisa membuat ibu meninggal, maka lebih baik aku tak dilahirkan didunia ini Ayah! semua ini bukan kemauan ku." Laras menjeda kalimatnya.


"Jika Ayah tak menginginkanku, kenapa dulu Ayah membiarkan aku hidup, kenapa tak membunuhku saja?" tanya Laras dengan nada frustasi.Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya.


"Cukup, berhenti membuat drama dan segera lakukan pekerjaanmu!" titah Tomi tegas.


Laras segera menghapus air matanya dengan kasar, ia mengambil nafas dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan.


"Maaf aku lelah dan malam ini aku ijin untuk menginap di rumah temanku!"


Tanpa mendengar jawaban dari ayahnya, Laras segera pergi meninggalkan rumah yang tak bisa ia sebut sebagai rumah.


Selama ini, ia selalu diam dan menurut! tetapi tidak untuk kali ini, dia benar-benar sudah lelah. Biarlah, dia dianggap tidak sopan atau apapun itu.


Toh, selama ini apa yang dia lakukan selalu salah di depan ayahnya. Jadi, biarkan untuk kali ini dia memberontak.


"Laras!" panggil Tomi dengan suara menahan amarah. Kedua tangan nya mengepal sembari terus berteriak menyebut nama anaknya itu.


Tetapi Laras lebih memilih abai dan melanjutkan langkah kakinya pergi meninggalkan rumah. Kali ini, dia butuh waktu sendiri, dia butuh ketenangan.


"Dasar anak pembangkang!" umpat Tomi kesal.


"Sudahlah Yah, biarkan saja dia! nanti juga pasti akan pulang! memangnya dia mau kemana?" ucap Desi berusaha menenangkan sang suami.


Tomi menghembuskan nafas kesal, ia lebih memilih untuk segera masuk kedalam kamarnya. Ia ingin mengguyur tubuhnya, berharap bisa menenangkan pikiran nya yang sedang kacau.


Dalam hati kecilnya, ia ingin sekali memeluk tubuh ringkih anaknya. Sebagai seorang ayah, ia sangat menyayangi Laras.


Tetapi bayang-bayang Andini yang merintih kesakitan demi melahirkan putrinya kedunia dan berujung istri tercinta merenggang nyawa, membuatnya membenci kelahiran Laras.


Seandainya waktu itu Andini mau mengugurkan Laras, mungkin saat ini Andini masih bersama dengan dirinya.


Ya, Andini istrinya mengidap suatu penyakit di saat dirinya hamil. Dokter menyarankan untuk menggugurkan kandungan itu, tetapi Andini tetap kekeh ingin mempertahan kehamilan nya dan mempertaruhkan nyawanya demi anak mereka.


Tomi sangat tidak setuju akan hal itu, anak bisa dia dapatkan kembali jika Andini sudah sembuh. Tetapi, Lagi-lagi Andini tetap pada pendirian nya.


Sehingga membuat Tomi tidak bisa menolak sang istri. Dulu sebelum meninggal Andini sudah berpesan untuk menjaga dan merawat Laras dengan baik.


Tetapi saat melihat wajah Laras, ia tak bisa melupakan kejadian mengerikan itu. Dan sampai sekarang, dirinya begitu membenci Laras dan menyalahkan nya atas kematian Andini.


"Maafkan aku Andini, aku tak bisa menjaga anak kita dengan baik! entah dimana anak itu sekarang?" gumamnya.


Jujur, dia sangat mengkhawatirkan Laras. Tetapi egonya lebih besar, sehingga ia segera membuang rasa itu.


Sementara itu, Laras berjalan dengan gontai menyusuri jalanan. Ia tak tahu akan pergi kemana?


"Aku harus kemana? ibu, kenapa dulu kau tak membawaku ikut bersamamu?" gumam Laras dengan sendu.


Ckitt....


Terdengar suara mobil yang berhenti secara mendadak, sehingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.


Laras menoleh ke asal suara, betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan nya.


Hanya berjarak beberapa centi saja. Jika mobil itu tidak berhenti, maka sudah dipastikan tubuhnya akan terpental karena tertabrak mobil yang entah berasal dari mana?


"Hei, apa kau mau bunuh diri?" ucap sang pemilik mobil dengan nada marah.


Laras tersentak kaget dan melihat ke arah pria itu.


"Tuan Dirga," Laras terkejut saat melihat siapa pemilik mobil yang hampir menabraknya.


Tiba-tiba saja tubuh Dirga terhuyung, Laras yang melihat itu segera menangkap tubuh Dirga yang hampir terjatuh.


"T-tuan baik-baik saja?" tanya Laras dengan nada kawatir.


Dirga merasa aneh dengan tubuhnya saat tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Laras, seketika menarik Laras dengan paksa dan memasukkan nya ke dalam mobil.


"Apa yang Anda lakukan Tuan?" tanya Laras dengan panik.


"Diam!" bentaknya dan segera memasuki mobilnya.


Di tengah-tengah kesadaran nya, Dirga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah siapa yang sudah berani menjebaknya, ia pastikan setelah ini dia akan memberi perhitungan pada orang itu.


Ya, tadi Dirga tengah bertemu dengan salah satu klien nya. Awalnya tidak ada yang aneh, hingga setelah Dirga meminum minuman dari klien nya, kepala menjadi pusing, suhu tubuhnya menjadi panas.


Tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan, ia segera pergi meninggalkan tempat itu. Susah payah untuk dirinya meninggalkan tempat itu.


Karena terdapat beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaganya. Beruntung Dirga bisa mengelabui dan pergi dari tempat itu.


Hingga ia tak sengaja hampir menabrak seorang wanita yang tengah berdiri di tengah jalan. Untung saja ia segera menginjak rem mobilnya, sehingga wanita itu tak tertabrak mobilnya.


Diga mengumpat dan turun menghampiri wanita itu. Tetapi dirinya yang sudah mulai tak bisa menopang tubuhnya tiba-tiba terhuyung dan wanita itu segera menangkapnya.


Tubuhnya merespon, saat wanita itu menyentuh tubuhnya. Tangan nya saling bersentuhan dan seperti ada sengatan listrik mengalir ditubuhnya.


Tanpa pikir panjang, ia menarik wanita itu dengan paksa tanpa mau mendengar wanita itu yang tengah memberontak.


Dirga langsung melempar tubuh kurus itu diatas ranjang empuk miliknya. Ya, Dirga membawa Laras ke apartemen nya.


Dirga sudah kehilangan akal sehatnya, gairah menggebu tengah menguasai nya. Ia mengabaikan Laras yang tengah ketakutan menatapnya.


"T-tuan apa yang Anda lakukan?" tanya Laras dengan nada bergetar.


Ia melihat Dirga yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Seolah ingin melahap Laras hidup-hidup.


Dirga langsung menarik kaki Laras agar mendekat. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik.


"Puaskan aku malam ini!" bisiknya dengan suara beratnya.