KUYANG

KUYANG
Episode 59


JAKARTA, ENAM BULAN KEMUDIAN


Pasangan muda itu memasuki ruang tamu berupa ruangan dengan satu meja dengan tiga kursi, sebuah sofa dibungkus kulit tiruan yang sudah sobek disana-sini, dan pigura berisikan sertifikat dari berbagai instansi pemerintah dan gambar berbagai kegiatan kursus keperawatan.


Seorang wanita setengah baya bertubuh gemuk dengan rambut keriting dan kaca mata tanduk sedang duduk di belakang meja yang nampak membuatnya makin terbenam di dalam tumpukan pekerjaannya. Wanita itu mendongak pada pasangan yang baru masuk itu dan tersenyum, meski senyumnya tetap saja menyiratkan harinya yang muram.


”Ya?”


”Kami sudah menelpon untuk mencari baby sitter tadi pagi,” kata si lelaki. Dia pria bertampang lesu, mata sipit, dan memakai t-shirt polo yang kedodoran.


”Oh, tuan Tanuwijaya?” si wanita gemuk menyipitkan mata.


”Ya .”


”Perlu pengasuh untuk anak berapa tahun?”


”Ibu kan bisa lihat sendiri,” sergah si wanita dengan tidak sabar sembari menggoyang- goyangkan bayi berusia dua tahun yang sedang terlelap dalam buaiannya.


”Hmm, ya ya...” wanita gemuk itu mengangguk tanpa gairah. ”Tunggu sebentar.”


Dia menekan tombol dan lima menit kemudian tiga gadis berpakaian serba putih masuk ke dalam. Tanpa dikomando mereka berbaris di sofa kulit jelek itu seperti kriminal yang menunggu sesi foto di markas kepolisian. Ketiganya berusaha menampilkan senyum untuk memikat hati pasangan muda itu, berharap dengan begitu sang calon majikan tertarik mengambil mereka sebagai perawat dari si bayi lucu dalam gendongan si wanita judes.


Si wanita gendut memperkenalkan keempatnya dengan sambil lalu, sembari mengerjakan sesuatu di meja yang nampaknya seperti buku teka-teki silang, ”Paling ujung kiri Siti, dia asli Lampung. Sudah pernah bekerja di daerah Tangerang dan memegang anak umur dua dan tiga tahun."


"Sebelahnya Yeti, satu daerah dengan Siti hanya berbeda kampung. Dia belum pernah bekerja sebagai perawat tapi punya anak kecil di kampung jadi saya yakin ia mampu menangani segala urusan yang berhubungan dengan si kecil."


"Yang nomor tiga, Tini, asalnya dari Malang. Dia sudah berpengalaman selama tiga tahun ini sebagai baby sitter di tempat kami. Kerjanya bagus dan mahir bahasa Inggris dan Mandarin bila dibutuhkan.”


”Apa hanya mereka ini yang anda punyai?” tanya si wanita judes memperhatikan ketiga gadis itu seperti pedagang budak sedang menilai barang dagangannya. Dari ujung rambut ke ujung kaki dengan seksama.


Siti terlalu jerawatan, rasanya sulit membayangkan dia bisa merawat bayi dengan baik bila merawat wajahnya sendiri gagal. Yeti penampilannya terlalu lusuh...lebih mirip pembantu daripada pengurus bayi. Sementara Tini...mmm...insting kewanitaannya memberitahu kalau gadis ini bukan tipe jujur. Baginya, ada saja yang tidak memuaskan dari mereka...


”Sebentar...” si wanita gendut mendongak karena baru menyadari bahwa ada satu orang lagi yang belum hadir di tempat tersebut. ”...mana si orang baru?”


”Dia  masih di toilet, bu...”


Wanita gendut itu mendengus, ”Suruh dia kemari segera...”


Pintu tempat dimana ketiga gadis tadi masuk terbuka dan seorang gadis berusia kurang lebih dua puluh tahun menyelinap dari baliknya. Sama seperti ketiga gadis lain dia mengenakan seragam baby sitter putih, hanya potongannya lebih ketat, agaknya sengaja dibuat pas dengan tubuhnya yang sintal dengan potongan dada besar.


”Saya sudah disini...” ujarnya dengan anggun lalu duduk di ruang kosong di antara ketiga gadis itu. Saat melintasi pasangan muda itu harum tubuhnya memenuhi ruangan, bahkan mengalahkan parfum dari si ibu bayi sendiri. Duduknya cukup nyaman, seakan begitu yakin dengan dirinya sendiri, kelihatan jelas kalau dia tidak menganggap para baby sitter lain. Dia memang kelihatan seperti ratu diantara rakyat jelata, apalagi saat ia duduk dan mengangkat kaki kirinya untuk disilangkan ke lutut kanan.


Tanpa sepengetahuan istrinya, si lelaki menatap gadis itu tanpa bergeming. Air liurnya seperti hendak menetes. Setengah berharap bahwa gadis inilah yang akan dipilih istrinya, karena memang untuk urusan begini dia tidak pernah melibatkan diri, sengaja memberikan wewenangnya kepada istrinya. Dan si wanita itu nampaknya bukan tidak tahu hal ini. Dia menatap lurus ke pasangan tersebut dengan senyumnya yang menawan.


Gadis itu memperkenalkan dirinya sendiri. ”Saya belum pernah kerja di Jakarta. Saya baru datang dari Balikpapan. Tapi saya sering merawat bayi dan anak kecil disana. Khususnya bayi-bayi ekspatriat...jadi saya mampu bicara Inggris apabila tuan dan nyonya menghendaki.”


Wanita gendut itu mengibaskan tangan agar gadis itu tidak bicara lagi. Dia kesal karena haknya buat memperkenalkan diambil alih , ”Ya..ya...nanti saya akan jelaskan semua tentang kamu. Jadi bagaimana bapak dan ibu ?”


Si Ibu bayi memperhatikan gadis terakhir ini. Berpikir sebentar. Kemudian suaranya memecah keheningan, ”Coba katakan pada saya satu hal...”


”Ya?” tanya gadis itu dengan alis terangkat.


Ibu bayi itu ragu sejenak karena gadis ini lebih cocok sebagai foto model dari pada pengasuh bayi. Namun dia menyukai semua yang ada pada gadis itu. Dia memang mencari yang seperti ini, kecuali ada satu hal yang masih mengganjal hatinya, ”Kenapa lehermu merah begitu? Apa kamu dijenggut pacar kamu waktu tidur di ranjang?”


Pertanyaan itu kedengaran vulgar, membuat salah satu dari baby-sitter di belakangnya cekikikan. Namun gadis itu tersenyum anggun lalu menggaruk lehernya, ”Maaf, saya alergi pada udara Jakarta. Mungkin saya perlu waktu buat menyesuaikan diri dengan panas disini. Tapi kalau Ibu tidak berkenan, saya bisa memakai syal untuk menutupinya atau...”


”Saya mengerti,” baby sitter cantik itu mengangguk. ”Saya tidak penyakitan dan saya juga tidak suka pacaran dengan pembantu tetangga. Saya kemari untuk bekerja, bukan buat main-main...” diam-diam matanya melirik sang suami, yang dilirik hanya bisa tersipu-sipu. Gadis itu lalu bertanya lagi. ”Anda sedang hamil lagi...empat bulan?”


”Kok kamu tahu?” tanya si wanita.


”Saya pintar menebak. Di samping itu saya tahu rasanya.”


”Jadi bagaimana,bu?” sela si wanita gendut karena basa-basi ini dianggapnya terlalu bertee-tele.


”Saya mau ambil dia...” Ibu itu mengangguk sementara di pihak lain suaminya menjerit kesenangan dalam hati. ”Oh, ya...siapa namamu?”


Gadis itu berhenti di pintu dan berbalik, rambutnya yang panjang terlempar ke belakang, dijawabnya pertanyaan calon majikan barunya dengan senyum manis, ”Mawar...”


***


JAKARTA, OKTOBER 2004


Semua kenangan itu kemudian mengabur dan meninggalkan pikiran kosong yang buram dan pahit. Mengembalikan dirinya ke alam nyata berupa sekumpulan batu nisan dan gundukan tanah yang berbaris membisu. Matahari tidak lagi berada di titik puncak namun dia masih enggan meninggalkan tempat ini. Tetap memeluk batu nisan muda yang masih segar...sesegar kenangannya yang pahit...sesegar usia anaknya yang harus pergi meninggalkan dunia dalam usia yang belum terhitung waktu...


Lidah Yudi kelu. Tahu bahwa dia tidak dapat melantunkan doa fasih seperti yang Siska telah lakukan tapi gumpalan emosi di dadanya telah memberikan suatu dorongan untuk mengatakan sesuatu yang berasal dari lubuk hati terdalam.


”Ayah tahu Ayah tidak bisa mengubah apa yang terjadi...” pemakaman itu nampak bisu seolah tegang, ingin mendengarkan apa yang keluar dari mulutnya. Bukan doa, bukan penghiburan, tapi sebuah kesaksian yang lebih kuat tentunya.


”Ayah tahu Ayah bersalah dalam hal ini...” air matanya menitik. Dia belum pernah menangis sejak mendengar berita kematian itu, tapi disini, di tempat dimana anaknya beristirahat dalam kekekalan ini, semua pertahanannya runtuh. Dia tertangkap oleh kesedihan yang mengoyak. Suasana sekeliling yang diam membisu diisi oleh kesiur angin yang memberi penghargaan, semangat atas keberanian lelaki itu mengutarakan keberadaan dirinya.


”Tapi Ayah ingin kamu damai bersama Tuhan disana, tidak perlu kuatir sebab Ayah akan melakukan apa yang seharusnya Ayah lakukan...sesuatu yang benar...menghancurkan iblis yang membunuh kamu...”


Dia melepaskan tangis terakhirnya. Heran mendapati bagaimana hal tersebut mampu membersihkan kepenatan hatinya. Kesegaran baru muncul dan ada sedikit kekuatan untuk bangun dari tempat itu.


Anaknya tahu bahwa itu bukan salahnya. Dia telah memaafkan ketololan ayahnya. Yudi tidak tahu apakah dia akan jatuh pada jurang yang sama namun yang jelas dia akan lebih waspada, hasil dari pelajaran ini sangat menyakitkan...kematian dari jiwa yang paling tidak diinginkannya tetapi di lain pihak ternyata juga mendapat cinta dan perhatiannya...


”Beristirahatlah dalam damai. Ayah akan membuatmu bangga.”


Yudi melangkah keluar dari area pemakaman, sedikit gontai. Sinar matahari memang tak lagi menyakitkan kulitnya seperti beberapa bulan sebelumnya, namun sekali ini dia menyematkan topi ke kepala untuk mencegah sang sinar dari menyilaukan pandangan. Begitu meninggalkan gerbang pemakaman dan menginjakkan kaki di trotoar yang menghubungkan pemakaman tersebut dengan jalan raya, lampu lalu lintas pun berubah hijau.


Mobil-mobil menuter tanpa belas kasihan pada rombongan motor yang dengan acuhnya mengambil tempat di depan mereka. Mendorong kendaraan beroda dua itu untuk bergegas. Laju kendaraan membuat para pedagang asongan terpaksa naik ke trotoar. Seorang anak dua belas tahun yang mengenakan kaos tipis berlogo salah satu partai peserta kampanye mendekati Yudi dan mengacungkan koran dagangannya.


”Koran sore, pak..” serunya seolah Yudi salah satu orang tuli di dalam mobil yang selalu berpura-pura tidak mendengarnya. ”...berita terbaru artis Mia Jayanti kehilangan bayinya.”


Diraihnya selembar uang dari kantong dan menyerahkannya kepada si bocah penjual koran, ”Ambil kembaliannya.”


”Terima kasih, pak!” sahut anak itu dengan mata berbinar.


Yudi membentangkan lembaran koran itu. Membaca artikel dari berita yang disebutkan tersebut. Sepuluh menit kemudian dia menghela nafas panjang, ini kehilangan bayi yang keempat kalinya dalam enam bulan ini. Sungguh sebuah kebetulan yang sempurna!


Selesai membaca, dibuangnya koran itu ke keranjang sampah. Dari pengalamannya, tidak ada sesuatu yang bernama kebetulan. Lelaki itu tahu bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan. Ada sesuatu di balik seluruh kejadian itu, dan sesuatu itu adalah urusannya yang belum selesai...


Rentetan peristiwa yang terjadi bukanlah sebuah akhir...malah ini adalah awal...awal era baru dari sebuah perang besar...dia tahu dirinya kini harus mengambil peran menggantikan apa yang telah dilakukan Wayan. Untuk itulah darah pemburunya terpanggil. Seperti ucapan Mirna yang masih terngiang di telinganya, darah pemburunya yang membuat Bunda Mawar kesulitan menguncinya.


Yudi sadar harus menyiapkan diri lebih baik lagi. Perang ini tidak akan mudah sebab ada hal-hal baru yang telah dipelajari si iblis. Namun apapun itu Yudi tidak akan gentar, sebab dia yakin kemampuannya pun telah meningkat. Dia tidak akan membiarkan iblis itu mencatatkan sebuah legenda kelam baru di kota ini, dengan menjatuhkan korban-korban lebih banyak lagi...


END