
Mendung sepanjang pagi itu cukup memberi alasan bagi Yudi buat menampik ajakan Mirna. Gadis itu harus pergi ke kantor setelah cutinya habis. Itu berarti dia tidak punya waktu luang lagi untuk menemani Yudi di rumah ini dan itu sangat melegakan bagi Yudi. Dia tidak ingin MIrna dipecat gara-gara meluangkan waktu terlalu banyak baginya. Sebaliknya, hal itu digunakan Mirna yang ingin mengambil kesempatan dengan berusaha mengajak Yudi ikut ke kantor, daripada pemuda itu sendirian di rumah.
”Kamu bisa jalan-jalan ke kota sehabis mengantarku ke kantor,” ujar Mirna.
”Kalau aku ikut denganmu, jangan-jangan kamu malah berubah pikiran di tengah jalan dan batal ke kantor,” kata Yudi tertawa.
”Kamu takut ketahuan orang kantor kalau kamu masih disini?” ujar Mirna yang lalu menambahkan dengan hati-hati. ”Rahasiamu aman kok sayang. Tidak ada yang tahu kalau kamu belum ke Jakarta dan menginap di rumahku.”
Yudi menolak dengan halus, beralasan dirinya kurang enak badan dan ingin tinggal di kamar. Wajah gadis itu berubah kecewa tapi diputuskannya pergi sendiri. Jadi setelah sarapan Yudi mengantar gadis itu ke teras depan, di mana mobil mewahnya sudah menunggu.
”Benar kamu nggak mau berubah pikiran?” tanya Mirna sebelum menutup pintu mobil.
”Pergilah, aku akan baik-baik saja di rumah...lagi kepingin istirahat...”
”Kalau begitu kita bicara lagi setelah aku pulang nanti, ya?” ucap Mirna. ”terutama soal keinginan kamu buat pergi ke Jakarta menemui Siska.”
”Tentu.”
Yudi naik ke kamarnya yang ternyata telah dirapikan dan tampak segar dan baru, seperti tidak pernah ditiduri malam sebelumnya. Entah siapa yang membereskannya, yang pasti bukan Mirna sebab gadis itu turun bersamanya untuk sarapan, juga bukan Bunda Mawar sebab wanita itu belum dilihatnya turun dari lantai atas. Lagipula membereskan kamar anak perempuannya sepertinya bukanlah kebiasaan wanita itu. Jadi besar kemungkinan pembantu pria itulah yang mengerjakannya saat Yudi sarapan bersama Mirna.
Usai mandi dibereskannya barang-barang untuk dimasukkan ke ransel. Yudi tidak ingin ada barangnya yang tertinggal dan dia melakukannya pagi ini karena tidak ingin terburu-buru. Diraihnya jaket untuk mengambil tiket pesawat buat memeriksa jadwal keberangkatan. Jam sepuluh pagi...
Dia tidak ingin terlambat seperti beberapa hari lalu. Hanya karena bangun kesiangan, ditolak akibat terlambat beberapa menit tentu sungguh menyesakkan. Jadi lebih baik bersiap sebelum waktunya. Akan lebih baik bila dia besok berangkat sekitar setengah delapan pagi. Mungkin agak kepagian, tapi itu lebih baik daripada menyesal, apalagi dia belum tahu seberapa jauh jarak rumah Mirna ke bandara.
Ketika sedang mengembalikan tiket ke saku jaket tangannya menyentuh benda asing di dalam sana. Benda itu menyerupai botol tester parfum dengan cairan berwarna kehijauan di dalamnya. Cairan itu tidak terlalu pekat, padahal di dasarnya terdapat endapan yang lumayan tebal.
Benda apa ini? Cairan apa pula yang ada didalamnya?
Dia belum pernah melihat benda ini lalu kenapa benda ini ada di saku jaketnya?
Yudi tahu siapa pria berwajah tirus itu...Wayan...sosok yang dibuntutinya ke hutan dan yang mayatnya dikubur disana. Tapi kenapa orang itu tiba-tiba muncul di benaknya sebagai ahli kimia, padahal pria itu sepengetahuannya adalah ahli peledak tambang?
Dia berusaha mengingat lebih banyak namun kabut menutupi seperti bentangan cadar di wajah wanita Timur Tengah. Sedikit-banyak dia sudah dapat merangkai beberapa hal yang terasa ganjil, meski belum utuh sepenuhnya, tapi dia mengerti kenapa dia harus tetap tutup mulut. Tidak ada gunanya mengumbar cerita bahwa dirinya telah menemukan mayat Wayan yang terbunuh oleh Mirna.
Gadis itu tidak tampak seperti keindahan yang ditampilkannya. Mungkin sikap cinta kepada dirinya tulus, namun ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu darinya. Selama Yudi belum bisa merasakan kepercayaan itu, maka dia juga tidak berminat memberikan hal itu dalam porsi yang setara. Memberitahukan pembunuhan Wayan merupakan hal yang salah, termasuk juga menceritakan soal botol berisi cairan hijau ini...
Satu hal yang diingatnya samar-samar, botol ini berisi cairan berbahaya...sejenis racun tetapi tidak membawa efek pada semua orang...hanya bereaksi pada beberapa makhluk yang unik...hanya saja dia tidak tahu unik yang bagaimana yang dimaksud... jadi untuk sementara lebih baik botol ini disimpannya dulu baik-baik. Bila jatuh ke tangan yang salah akibatnya bisa fatal.
Tiba-tiba Yudi merasa ada sesuatu melintas di depan pintu kamar. Dia menengok ke belakang namun sosok itu keburu menghilang. Mungkin itu Bunda Mawar yang lewat karena hendak turun ke lantai bawah. Kalau wanita itu sudah bangun dan mulai melakukan kegiatan di sekitar rumah, rasanya kurang bijaksana bila dia membiarkan pintu tak tertutup. Yudi tidak mau wanita itu berkomentar macam-macam, apalagi selama dirinya ada di rumah ini sementara Mirna sibuk di kantor.
Pintu kamar bukan hanya ditutup tapi juga dikuncinya agar wanita itu jangan sampai tiba-tiba masuk ke dalam dan memergokinya. Baru saja pintu itu ditutup dan Yudi hendak kembali membereskan barang-barang yang tersisa, tiba-tiba dirasakannya serangkum angin dingin meniup lehernya. Bulu kuduknya berdiri dan saat menoleh sang pemuda tertegun mendapati pintu kamar yang tadi dikuncinya kini dalam keadaan membuka.
”Yudi...” tahu-tahu ada suara lirih memanggil dari balik pintu.
”Halo?” Yudi menyahut. ”Siapa disana?”
Yudi melongokkan kepala melalui ambang pintu, celingukan mencari orang iseng yang membuka pintunya barusan, dan saat itu dilihatnya ada bayangan menuruni tangga yang tidak jauh dari kamar. Dia memanggil, ”Hei...” namun sosok itu terus turun, tak mengindahkan panggilannya. Karena penasaran Yudi lalu menghampiri tangga dimana bayangan tadi turun, mengikuti ke lantai satu dan seperti sudah diduga hanya ruangan kosong yang dijumpainya.
Rumah itu masih tetap sepi. Yudi mendongak ke lantai atas kalau-kalau sosok yang dilihatnya tadi naik ke atas, bukannya ke bawah seperti yang dikiranya. Dari sudut mata ditangkapnya kembali bayangan misterius yang bergerak dari sudut ruangan dekat persimpangan menuju dapur. Dengan mengendap-endap, Yudi menghampiri dan ketika dirinya tak terlalu jauh dari dapur, terdengar pintu menuju gudang anggur mengeluarkan bunyi decitan berisik. Kedengarannya ada seseorang yang baru saja membuka pintu itu dan turun ke ruangan di bawah sana..
”Haalllooo?” Yudi memanggil kembali.
Bau apek yang menggantang menyambut manakala Yudi memasuki gudang anggur. Keremangan ruangan ini sepertinya tidak berubah baik di siang atau malam hari. Yang membedakan hanya nyala lampu neon berdaya sepuluh watt di plafon yang menyala malas hanya setelah waktu menunjukkan lebih dari pukul lima sore. Setelah dua puluh langkah melewati deretan rak berisi botol, sampailah dia ke sebuah pintu dimana di bagian mukanya terdapat empat undakan kecil yang menjulur seperti lidah anjing yang asyik menjilati hidungnya.
”Haloo?” sapa Yudi. ”Apakah Bunda Mawar di bawah sini?”
***