KUYANG

KUYANG
Episode 13


Kejadian sore tadi berakhir anti-klimaks dengan pulangnya Pak Wayan, walau begitu entah kenapa Yudi merasa aneh...ada bagian kecil yang kerap mengusik pikirannya. Bukan hanya soal keganjilan kenapa Wayan bisa berada di tambang itu melainkan juga jeritan perempuan yang didengarnya. Dia jelas-jelas mendengar jeritan itu...


Berbeda dengan benda berambut yang melayang dalam kegelapan itu...mungkin itu hanya halusinasinya, bagaimana pun matanya tidak dapat melihat dengan baik di tempat gelap tersebut sehingga besar kemungkinan salah lihat bisa terjadi...tapi jeritan itu sesuatu yang lain. Telinganya bisa membedakan dengan baik antara suara wanita dan pria, dan yang berteriak itu jelas wanita. Lucunya dia tidak menemukan seorang wanita pun di dalam lorong itu meski sudah dicarinya dengan teliti ke segala penjuru, malahan yang ditemukannya adalah Wayan yang jatuh pingsan dengan benjol di kepala.


Yudi yakin, seandainya dia tidak mengikuti suara jeritan misterius itu pasti si tua Wayan masih meringkuk di dalam lorong. Tidak mudah menemukan tempat dimana orang itu pingsan, dan pastinya tidak ada orang yang sudi berjalan-jalan di dalam situ, kecuali dirinya – dimana itu juga karena tugas – dan akan memberikan bantuan seperti yang dilakukannya. Mendadak Yudi teringat pada kecelakaan yang menimpa teman Wayan, si pak tua Seto, yang juga hilang di dalam hutan pada pertengahan Januari dan baru ditemukan beberapa hari kemudian. Jangan-jangan bila dia tidak menemukan Wayan sore tadi pria itu juga akan mengalami nasib yang sama. Pemikiran itu membuat Yudi merinding sendiri.


Yudi sendiri merasa sedikit menyesal menemukan pria itu, mungkin ada baiknya kalau orang tua itu ditinggalkannya di dalam lorong itu, kalau mengingat bagaimana sikapnya yang menjengkelkan. Dunia ini tentu akan lebih baik tanpa orang-orang seperti Seto atau Wayan yang merencanakan pembunuhan seenaknya. Untungnya kecelakaan sudah memanggil salah satu dari mereka, dan takdir secara kejam mengharuskannya menjadi penolong yang datang secara kebetulan bagi Wayan. Mudah-mudahan Wayan ingat apa yang sudah dilakukannya sore tadi dan berhenti bersikap menyebalkan bila dia harus bertemu dengannya di waktu-waktu mendatang.


Diingatnya pesan dari Siska yang masuk ke pagernya setelah selesai memasukkan hasil pengecekan ke dalam format laporan di komputer kantor. Karena kebetulan masih di meja dan telepon kantor tak dipantau pada jam-jam seperti sekarang, pemuda itu memutar nomor interlokal untuk menghubungi rumah Siska di Jakarta. Tidak sampai tiga kali nada sambung telepon menyala dan telepon sudah diangkat. Yudi mengenali suara di balik sambungan yang adalah suara Siska sendiri, agaknya gadis itu memang sudah menunggu teleponnya sedari lama, benar-benar tak sabar untuk segera bicara dengannya, itu membuat Yudi penasaran untuk mengetahui hal apa yang begitu mendesak ingin dibicarakan Siska.


”Apakah kamu sedang sendirian sekarang?” tanya Siska ketika Yudi menanyakan.


”Iya, aku lagi sendirian di ruangan. Memangnya kenapa?”


Jawaban itu diikuti helaan nafas lega dari Siska, ”Syukurlah! Aku juga lagi sendirian di rumah. Aku menunggu sampai orangtuaku keluar kota.”


”Memangnya ada urusan apa yang mendesak banget ingin kamu bicarakan?”


Siska diam sejenak sebelum bertanya dengan nada ragu, ”Sebelumnya aku ingin kamu jawab dengan jujur, okay?”


Pertanyaan itu membuat Yudi tercengang, ada sebersit kekuatiran jangan-jangan Siska mengetahui perasaannya pada Mirna, mungkin gadis itu mencari-cari penyebab kenapa dirinya makin jarang menelepon akhir-akhir ini dan punya cewek lain sebagai jawaban yang masuk akal. Pemuda itu menyahut pelan, ”Kamu tiba-tiba bikin aku takut. Ada apa sih?”


”Kamu harus janji untuk bicara jujur...karena...aku...” gadis itu berhenti berkata-kata sejenak karena terdengar tarikan nafas panjang dari sambungan. ”...aku janji tidak akan marah karena aku...sayang sama A’a.”


”Baiklah, aku janji. Katakan ada apa?”


”Aku ingin tahu apa yang kita lakukan sewaktu kita pulang dari diskotik itu?”


”Aku mengantamu pulang karena kamu lumayan mabuk waktu itu.”


”Selain itu?”


”Maksudnya?”


”Apa ada yang kita lakukan selain itu?”


”Kurasa tidak ada...” Yudi terpaksa bohong kali ini sebab dia punya firasat kemana arah pembicaraan ini tertuju. ”..karena seingatku aku juga lumayan mabuk di rumahmu.”


Siska mengerang, ”Sudah kuduga....itu yang terjadi...”


”Memangnya ada apa sih?” Yudi makin memburu karena tak tahan dengan pertanyaan misterius Siska.


Pertanyaan itu malah dijawab dengan isak tangis Siska yang berlangsung cukup lama. Yudi hanya diam, tak berani menegur atau apapun selain menunggu Siska pulih dan memberikan jawaban laksana petir di siang bolong, ”Aku hamil...” gagang telepon itu nyaris lepas dari pegangan Yudi, apa yang dikuatirkannya akhirnya terjadi.


***


BONTANG, MARET 1999, MINGGU KEDUA


Setelah mengambil tiket di kantor travel pagi ini, hal berikut yang dilakukan Yudi adalah meminta cuti ke bagian personalia yang kemudian memberikan form untuk diisi. Yudi sudah memikirkan alasan yang akan dipakainya dalam kolom alasan cuti semalaman, dan menengok ayahnya yang sakit keras sepertinya merupakan alasan terbaik. Sebuah kebohongan terbaik, sebab sebenarnya ayahnya sudah pergi entah kemana sejak usianya remaja. Jika laki-laki brengsek itu benar-benar sakit keras itu justru menyenangkan buatnya. Untunglah perusahaan tidak tahu orangtuanya sudah bercerai dan dia tidak perlu menjelaskannya di form pendaftaran.


Form itu harus ditanda-tangan oleh atasan, dan Yudi sudah bisa menebak respon dari bossnya begitu menerima form tersembut. Dipandanginya Yudi dengan masam, ”Seminggu? Apa itu tidak terlalu lama?”


Sejujurnya itu waktu tercepat yang dia minta, namun karena tak mau menceritakan alasan sebenarnya kepada sang atasan sehingga dia menjawab dengan diplomatis, ”Keluarga saya sebenarnya berharap saya bisa tinggal lebih lama.”


”Orang sekarat tidak bisa menunggu, pak!” Yudi berkilah dengan lihai. ”Dokter bilang ke keluarga saya, minggu ini adalah minggu kritis. Itu pun dengan harapan ayah saya meninggal sebelum saya kembali.”


Sang pengawas lapangan diam saja, hanya bisa memasang tampang masam karena alasan keluarga yang sakit memang sulit dibantah, maka dengan terpaksa dia membubuhkan juga tanda tangan ke kertas form, ”Usahakan kamu tiba sesuai ketentuan. Jadwal produksi ini bisa semakin mulur. Rick sudah tidak ada disini. Minggu depan kamu yang menyusul.”


”Ya, saya mengerti, pak! Saya pastikan semuanya terkendali sebelum saya cuti,” Yudi menerima kembali formnya lalu melambaikan benda itu seperti merayakan kemenangan besar. Sementara sang supervisor pergi ke tempat lain Danu datang menghampiri.


”Ngapain ambil cuti sekarang? Kok cepat banget?”


Yudi segera menjawab dengan alasan yang sudah dipersiapkannya sebelumnya, Danu memang teman baiknya tetapi ada beberapa hal yang ingin dia simpan dari Danu dan salah satunya adalah kesalahannya menghamili Siska. Danu tidak perlu tahu hal itu...tidak... sampai waktu yang dirasakannya tepat, ”Ayah gue sakit.”


”Ya, ampun. Sakit apa?”


”Komplikasi. Darah tinggi dan diabetes,” Yudi menjawab seraya memberikan form yang sudah ditandatangani atasan mereka, setelah itu berkata dengan melebih-lebihkan demi membuat situasinya terdengar gawat. ”Dan sekarang dokter bilang jantungnya sudah kritis.”


”Astagfirullah! Mudah-mudahan ayah kamu kuat sebelum kamu pulang menemuinya...”


”Jadi kamu ngedoain ayah gue mati?” Yudi menanggapi dengan pura-pura tersinggung padahal di dalam hatinya tertawa pada alasan tak masuk akal itu.


”Oh...eh..bukan...maksud gue...mudah-mudahan ayah kamu sehat begitu kamu pulang.”


”Nah, itu lebih baik.”


”Apa kamu sudah kasih tahu Mirna soal ini?”


Pertanyaan Danu bagai memojokkan Yudi, andai saja sahabatnya itu tahu masalah sebenarnya maka pertanyaan itu semakin menusuk hatinya, ”Belum! Apa harus?”


”Aku pikir hubungan kalian sudah begitu serius dan...”


”Hei, jangan suka sok tahu soal hubunganku dengan siapapun, ya?” Yudi menyela dengan wajah serius.


Begitu seriusnya ucapan itu hingga Danu sampai kaget mendengar nada yang tidak biasa dari sahabatnya. Dia menanggapi dengan pendek, ”Sori, terserah kamulah.”


Setelah menyerahkan form itu kepada bagian personalia lewat salah satu Office Boy, Yudi menghabiskan sisa hari itu dengan menuntaskan berbagai pekerjaan yang bisa dilakukan, yang sebenarnya tidak terlalu berat karena sebagian besar sudah dilakukannya minggu lalu, sehingga yang dilakukannya hanya membuat beberapa catatan kecil di atas kertas cetak biru mesin. Setidaknya, kesibukan ini mengalihkan perhatiannya dari Siska untuk beberapa saat.


Manusia itu makluk aneh. Mereka dapat mengeluarkan imajinasi tinggi dan daya upaya dalam situasi terdesak. Dan kurang mendesak bagaimana lagi situasinya bagi Yudi bila pacarnya memberitahu bahwa dirinya sudah hamil dua setengah bulan. Itu membuat Yudi mau tidak mau bertindak cepat untuk segera menikahi Siska, jangan sampai kehamilannya justru  mendatangkan aib bagi gadis pujaannya tersebut, meski hal itu rasanya sudah terlambat.


Berdasarkan rencana yang disusunnya, Yudi sudah membuat serangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan dalam upacara adat perkawinan ala Jawa, dan jujur saja daftarnya membutuhkan waktu lebih dari seminggu agar dapat menyelesaikan tiap aktivitas hingga selesai, mulai dari prosesi memberitahu orangtuanya demi memintakan restu, mengajukan lamaran ke orangtua Siska, dan mengikat gadis itu dengan upacara pernikahan sebagai istrinya. Kelihatannya sepele tetapi Yudi mengerti bagaimana tidak mudahnya tiap bagian dari rencananya dilakukan sebab itu tergantung keputusan pihak lain, yang sialnya bila tak disetujui maka mustahil dia bisa meneruskan tahap berikutnya.


Apapun rintangannya Yudi tidak berniat gagal. Kandungan Siska sudah dua setengah bulan. Waktu menuju batas sembilan sepuluh hari tinggal menghitung jari. Kasus khusus tentunya memerlukan jalur khusus, dan meskipun demi membangun jalur itu perlu menabrak kesana-kesini Yudi sudah siap mengerjakan apapun tanpa memusingkan soal tata krama atau norma kesopanan sebab ada deadline waktu yang harus dipenuhi.


Sudah hampir seminggu – dua minggu bahkan – pikirannya terus berkecamuk dengan masalah Siska, belum lagi Siska yang bersikap nyaris menuntut dan hampir-hampir mencekik lehernya dengan desakan yang tidak perlu, seperti misalnya pesan pager yang dikirim kesekian kalinya hari ini untuk mengingatkan Yudi agar tidak lupa membeli tiket pesawat ke Jakarta.


Pemuda itu sudah mengirim teks balik yang memberitahu bahwa dia sudah mendapatkan tiket dan akan berangkat besok, yang mana membuat Siska berhenti beberapa saat, sebelum kemudian mengirim pesan lanjutan tentang topik lain, yakni bagaimana memberitahukan soal kehamilan diluar nikah ini kepada orangtua Siska dengan cara yang paling baik supaya mereka bisa menerima dengan lapang dada.


Rasanya tidak ada orangtua yang bisa menerima kabar soal kehamilan putri mereka yang belum menikah tidak disertai dengan kemarahan. Hampir mustahil. Yudi memahami itu sehingga dia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Sayangnya tidak demikian halnya dengan Siska. Gadis itu nampak sekali kepanikannya sehingga secara tidak langsung hal itu ikut mempengaruhi Yudi. Dia bahkan harus mengulang pekerjaannya dari awal sebab salah melihat bagan mesin yang diperiksa.


”Tenangkan dirimu, Yudi...” pemuda itu berkata pada dirinya sendiri demi mengurangi kalut di pikiran. ”...kamu memang bikin kesalahan fatal. Setidaknya kamu mempersiapkan segala sesuatunya demi memperbaiki kebodohanmu.”


Setelah mengerjakan lampiran dokumen terakhir untuk sore itu dan melakukan pembagian kerja kepada semua orang saat dirinya pergi, Yudi mengemas semua barangnya kembali ke dalam ransel. Bersama dengan beberapa karyawan yang juga masih ingin kembali ke ruangan di sore itu, diantaranya ada Danu, Yudi menaiki bis yang menjemput mereka dari tambang untuk kembali ke mess. Dia tidak banyak bicara selama perjalanan, cukup senang karena tak seorangpun di kendaraan yang berniat ngobrol dengannya hingga dia bisa menghabiskan sisa perjalanan dalam ketenangan.


***