
Matahari sudah meninggi saat Wayan merasakan sesuatu menjilati wajahnya. Makluk itu mengacuhkan teriakan kesalnya, malah makin menjadi dengan jilatan-jilatan yang berpindah ke telinga, ”Oke...oke...aku sudah bangun...”
Roket mengibaskan ekor saat majikannya membuka mata, menggongong kesal saat Wayan berusaha mengusirnya karena masih ingin tidur lebih lama. Anjing bandel itu menggigit resleting kantong tidur dan menariknya hingga terbuka, angin dingin berkesiut menerjang kaki dan perut Wayan yang mengerang kesal, kantuknya terusir sudah.
Dengan sebal lelaki itu bangun, mencuci muka dengan air dari botol persediaan, dan menyiapkan sarapan. Persediaan makanan tinggal tersisa untuk tiga hari lagi...empat hari jika dikonsumsinya secara hemat...setelah itu dia harus makan apapun yang disediakan oleh hutan.
Sembari menikmati roti dan keju dingin Wayan mengingat kembali pengalaman anehnya semalam. Dari percakapan mereka sepertinya mereka tengah menikmati suasana sirkus, ada penonton disebut...juga gajah...juga nada musik karosel yang dinyanyikan si wanita yang tidak asing bagiinya...tapi kenapa sirkus? Dan rasanya janggal karena dia tidak menemukan sirkus itu di dalam hutan selama pencariannya...
Yang jelas, malam ini dia harus memeriksa ulang tempat itu, dan kali ini dia tidak akan sendirian sebab Roket pasti bisa mencium sesuatu jika ada sesuatu yang ganjil. Kenyataannya lebih sulit menemukan lokasinya di siang hari ketimbang tadi malam. Baru pada pukul empat sore akhirnya Wayan berhasil menemukan kembali tempat dimana dirinya melihat kedua makluk itu.
Tempat itu berupa lapangan berumput tebal dimana rerumputan disana kelihatan lebih gemuk dan hijau karena mendapat porsi air dan ultraviolet yang tepat. Dan dia mengenali pohon besar yang menjadi tempat berlindungnya saat menguping pembicaraan pasangan itu.
”Apa yang kamu temukan kawan?”
Roket menggeram dan setelah menggonggong beberapa kali sang anjing berlari ke belakang semak. Tak sempat berpikir panjang Wayan berlari mengikuti. Keduanya masuk ke semak dan bersembunyi disana beberapa detik sebelum terdengar suara riuh tawa.
”Kamu harus datang sekali-kali menjenguk, bunda.”
Itu suara wanita yang didengar Wayan malam sebelumnya. Kelihatannya jumlah mereka sore ini lebih banyak dari semalam. Dia melongok berusaha melihat ke arah asal suara.
”Yeah...” suara ini belum pernah didengar Wayan.
“Mumpung kamu masih disini.”
“Okelah. Aku akan cari waktu yang tepat buat itu.”
”Janji, ya...”
”Iya..iya...”
”Kamu sih nggak akan pernah tahu bagaimana dia menepati janji.”
Suara ini suara wanita yang lain, bukan yang pertama.
”Oh, aku tahu. Meski jarang bertemu dengannya aku tahu bagaimana adatnya. Jadi aku harus minta janjinya atas nama kuburan ayahnya...”
”Sungguh mengerikan.”
Wayan mengangguk, suara lelaki ini suara yang didengarnya semalam. Berarti ada dua pria dan dua perempuan. Sayang dia kesulitan melihat mereka dari tempat persembunyiannya.
”Tapi hanya itu yang akan membuat El menepati janji.”
”Aku tidak harus melakukan itu. Pokoknya kamu akan kukabari.”
Dengan menggendong Roket, Wayan bergeser ke kerumunan semak yang dahannya rendah dan tak terlalu rimbun. Dirasakannya tubuh Roket menegang sehingga diberangusnya moncong sang anjing agar jangan sampai bersuara. Dari balik tempat persembunyiannya dilihatnya keempat sosok itu. Dua diantaranya asing tapi yang dua lagi dikenalnya jelas. Kedua orang itulah yang sedang dicarinya. Mirna dan Yudi!
Speak of the devil...
Dicari tidak ketemu...tidak dicari malah muncul...
Terdengar bunyi derum mobil mendekat. Wayan melongo ketika Mirna dan Yudi berlaku seolah ada mobil disana. Keduanya seperti menggeser pintu, naik lalu duduk di jok, sementara yang terlihat oleh Wayan adalah keduanya duduk dalam posisi mengambang dan sama sekali tidak ada mobil dalam pandangannya. Ajaibnya, keduanya seperti tidak menyadari hal itu, atau mungkin juga Wayan yang tidak mampu melihat kendaraan ajaib tersebut.
”Jaga dia baik-baik, bung! Karena dia saudaraku tersayang.”
”Datanglah ke rumah El. Kalau bukan untuk bunda kamu bisa melakukannya untukku.”
”Dengan resiko kamu akan didamprat olehnya?”
”Ayolah, El...”
”Oke...oke...nanti kita tentukan waktunya. Bye sis.”
”Makasih ya buat makan siangnya. Itu makan siang terenak.”
”Mampirlah lagi kapanpun kamu mau.”
Derum mobil hantu itu mengeras, Mirna bersama Yudi, yang duduk mengambang, terlihat melaju. Wayan sempat mengintip lewat kaca pembesarnya dan mendapati dirinya masih tetap tidak bisa melihat kendaraan misterius macam apa yang mengangkut keduanya. Namun dari kaca itu Wayan mengetahui bahwa pria dan wanita yang masih berdiri melambai ke arah ’mobil’ Mirna bukan siluman atau kuyang. Saat dia tengah berpikir hendak melakukan langkah berikutnya, Roket terlepas dari genggamannya. Anjing itu tidak sabar untuk melepaskan diri darinya dan merangsek ke arah kedua orang itu.
Keduanya tak bereaksi saat anjing tekel itu mencapai tempat mereka dengan kecepatan luar biasa lalu meloncat untuk menggigit salah satunya. Gigi tajam Roket hanya menemui udara kosong. Roket menggonggong ribut dengan bingung, tak mengerti bagaimana sasarannya bisa lenyap begitu saja. Namun Wayan segera menyadari arti semua ini...
Kedua tokoh tadi merupakan sosok ilusi yang dibuat si kuyang untuk menipu Yudi. Buat menunjukkan seolah dirinya tidak sendirian di tempat ini. Wayan belum tahu kenapa si kuyang melakukan itu namun dia harus segera mengikuti kemana perginya Yudi dan Mirna.
***
Pelajaran dan latihan yang diberikan kakeknya membuat inderanya bekerja secara instingtif. Sepertinya ada jarum yang tertanam dalam tubuhnya yang siap memberitahu kemana perginya Kuyang saat ia berhasil mendapatkan jejak mereka. Wayan tak tahu bagaimana jarum itu bisa ada disana tapi itu muncul dengan sendirinya saat kakeknya menghadapkan dia pada pertarungannya yang kedua dengan Leak.
Dia ingat kekalahan pertamanya yang menyakitkan. Kakeknya waktu itu menertawainya dengan mengatakan gaya tarungnya mudah ditebak. Memangnya apa yang dia harapkan dari petarung pemula yang masih hijau? Namun lelaki itu tetap melindungi Wayan dari kematian. Dan ketika dia memaksa buat Wayan menemukan sendiri Leak yang harus diburunya pada perburuan kedua, saat itulah ’jarum’nya berfungsi. Meskipun pertarungan itu tak sukses karena sang Leak berhasil kabur, Wayan merasakan kemenangan yang begitu besar.
Jarum itu bergetar keras, memberitahunya bahwa dirinya semakin dekat dengan tempat kuyang itu berada. Di kelokan yang terakhir didapatinya sebuah rumah berdiri di tengah hutan. Rumah yang tidak biasa, di wilayah yang juga tidak biasa....
Wayan meneguk ludah…disanakah Mirna dan Yudi berada?
Getaran dalam tubuhnya memastikan hal tersebut...
Rumah itu memang tidak lazim dari segala segi, baik wujud maupun keberadaannya. Seperti sarang elang di atas pohon beringin, rumah itu sungguh tidak proporsional. Dibangun degan gaya campuran antara gaya Victoria yang mendapat sentuhan minimalis, bangunan macam ini lebih cocok berada di kompleks perumahan elit daripada di tengah hutan antah-berantah. Dan jika rumah itu memang rumah manusia Wayan yakin pemililknya telah menjadi santapan empuk hewan pemangsa. Tanpa pagar yang mengelilingi mustahil hewan buas di dalam hutan ini kesulitan menerobos ke dalamnya.
Itu juga yang akan memudahkannya masuk ke dalam sana. Wayan berjalan celingukan, memastikan tidak ada siapapun yang memergokinya di luar, atau melihatnya dari dalam rumah. Suasana yang hening mendatangkan perasaan tak enak baginya. Dan benar saja, baru empat meter mendekati rumah itu tiba-tiba laki-laki itu terpental ke belakang.
Lelaki itu sempat menyilangkan tangan buat melindungi wajahnya namun lengan jaket dan celananya hangus terbakar. Dia tak ingat apapun saat terlempar, hal terakhir yang didengarnya hanya teriakannya. Spontan dia berguling buat memadamkan api. Dikedipkannya mata beberapa kali, berharap api yang membakarnya hanya ilusi seperti halnya pasangan yang menemani Yudi dan Mirna.
Namun bau hangus dan nyeri di seluruh tubuhnya itu memang nyata. Apa yang dialaminya saat ini bukanlah ilusi. Tangannya yang gemetaran berusaha mengambil kaca pembesar dari kantung celana, kaca yang jadi andalan untuk melihat makluk siluman, yang juga bisa digunakannya untuk melihat perintang yang menghalanginya mendekati rumah itu.
”Percuma kamu pakai alat itu!”
Wayan terkejut dan menengok ke belakang. Seorang wanita cantik bergaun serba hitam dengan rambut panjang berwarna serupa berdiri anggun. Wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan Mirna. Sesaat dia merasa pasti bahwa itu Mirna, tetapi gadis itu pasti akan langsung mengenalinya, atau mungkin dia pura-pura tak mengenalinya karena kedoknya sudah ketahuan oleh Wayan. Tangan kiri wanita itu berpaku di pinggang sementara yang lain memainkan rambutnya yang indah. Senyum manis menghias wajahnya. Namun senyum itu bukan senyum bidadari melainkan senyum jahat yang penuh nafsu membunuh.
***