KUYANG

KUYANG
Episode 23


Meskipun pertunjukan utama di tenda sirkus sudah selesai bukan berarti kegembiraan di tempat itu terhenti. Penonton yang memadati tenda berpindah ke lapangan yang semula kosong. Stand makanan dan keterampilan segera diserbu pengunjung. Para petugas yang menjaga stand sibuk meladeni permintaan pembeli, berbagai makanan seperti jagung bakar, pop-corn, gulali, gorengan, dan es krim bertebaran begitu pula halnya dengan stand permainan yang menawarkan beragam permainan keterampilan seperti lempar bola, memasukan cincin rotan ke botol, atau memancing belut. Musik dari pengeras suara memainkan lagu melayu dengan volume memekakan sebagai pengiring yang makin menggairahkan suasana.


”Jadi bagaimana rasanya naik gajah?” tanya Yudi saat mereka berada di gerobak es krim. Menunggu pesanan mereka dibuat.


”Awalnya tidak enak diangkat seperti itu tapi setelah duduk diatas lehernya...itu rasanya luar biasa. Tak heran para Maharaja India menggunakan hewan itu sebagai kendaraan karena diatasnya serasa...tak terkalahkan...tak mungkin ada yang mampu menghalangi jalanmu.”


Yudi menatap Mirna, ”Malam ini kamu bintang pertunjukannya. Tidak ada keraguan.”


Mirna cekikikan, ”Bukannya karena gajah itu sudah melakukan tugasnya dengan baik?”


”Itu karena mereka menyukai perpaduan kalian. Gajah dan sang ratu gajah.”


”Menyebalkan,” Mirna tertawa dan mencubit Yudi. "Itu perumpamaan yang nggak enak tahu. Ratu gajah bikin aku kedengarannya gendut."


”Silakan,” si penjual es krim menyela. Dua es krim strawberry-coklat dengan ketinggian menakjubkan berpindah ke tangan kedua pemuda itu, yang dinikmati sembari berkeliling sirkus itu untuk melihat-lihat.


”Halo, Mirna...” sapa pria gondrong berwajah kasar yang tiba-tiba hadir di dekat mereka. Yudi mengerutkan kening saat lelaki itu memeluk dan mencium pipi Mirna, gadis itu malah terpekik girang lalu balas memeluk dan mencium pemuda tersebut ”Bagaimana kabar bunda?”


”Seperti biasa, sibuk dengan lukisannya.”


”Kesibukan yang membunuh waktu, kan?” komentar pemuda itu lalu melirik Yudi.


Mirna menyadarinya lalu menggamit Yudi untuk memperkenalkan keduanya, ”Kenalkan ini sahabatku, Yudi. El ini kakak tiriku.”


”Kakak tiri? Kenapa kalian tidak tinggal serumah?”


El tersenyum masam, ”Ayah kami berbeda. Dia membawaku setelah keluar dari rumah itu. Mungkin karena tak cocok lagi dengan bunda atau mungkin karena...ayahnya menggantikan kedudukan ayahku...”


Keluarga aneh, Yudi membatin. Dia bertanya lagi dengan hati-hati sebab tidak ingin memicu hal-hal sensitif, ”Dan kamu tidak ...marah karenanya?”


El tertawa, ”Marah? Kenapa harus marah? Orangtuaku berpisah baik-baik. Ayahnya datang dengan baik-baik. Hubunganku dengan Mirna tentunya tidak putus begitu saja. Kami punya ibu yang sama dan itu cukup buat menyatukan kami.”


”Dan kamu memilih tinggal di desa ini agar dekat dengan Mirna?” tanya Yudi.


”Tidak. Aku ikut rombongan sirkus ini kemanapun mereka pergi. Kebetulan saja kami mampir kemari dan aku senang karenanya.”


”Senang melihatmu lagi. Sudah cukup lama sejak kita berpisah,” kata Mirna.


”El bekerja di sirkus ini sebagai penjaga stand dart. Tunjukkan standnya pada kami, El,” kata Mirna.


”Tentu! Dengan lima ribu rupiah kita akan melihat semahir apa pacarmu ini,” El mengedipkan mata pada Mirna.


Stand dart yang dijaga El tidak terlalu besar, ukuran tendanya cuma sekitar satu kali satu meter, dengan sasaran berupa papan dart sebagai pusatnya di tengah tenda. Di bagian bawah papan dart terdapat meja yang dipenuhi berbagai macam hadiah yang akan diberikan kepada pemenang permainan. Tiap hadiah diklasifikasikan dengan nomor, makin kecil nomor hadiah yang didapatkan semakin tinggi nilainya sebab nomor kecil berada di tempat yang sulit pada papan dart. Kaus suvenir yang juga barang dagangan digantung di sisi kiri dan kanan stand. Kaus yang menurut Yudi tidak menarik buat dibeli karena desainnya yang menampilkan foto El dalam berbagai pose menggelikan, siapa juga yang mau membeli kaos narcis begitu?


Pria itu memberikan tiga anak panah pada Yudi setelah mendapat uangnya, ”Tiga kali kesempatan. Kita akan memilih angka terendah untuk ditukarkan dengan hadiah. Ancang-ancangnya di belakang garis putih.”


Berdiri di belakang garis yang ditunjuk, Yudi mencari posisi nyaman dan menatap lurus ke papan dart untuk menghitung berbagai kemungkinan sudut tembak sementara Mirna bertepuk tangan menyemangati, ”Ayo, Yud. Kamu bisa.”


Lemparan pertama berakhir di lingkaran hitam pada angka 100. Yudi merengut karena itu diluar perkiraannya. Awal yang mengecewakan. El berdecak seperti sedang menyindir tapi Mirna tidak berhenti memberi semangat. Yudi bersiap dengan panah kedua, dan kali ini lemparannya lebih baik karena mengenai lingkaran kuning dengan angka 50. Mirna bertepuk tangan karena tembakannya tadi begitu tipis ke angka 10 di sisi kanan, atau bulatan tengah bertuliskan ’Bulls Eye Zero’ di sebelah bawah.


”Ayo Yud. Dapatkan Bulls Eye Zero-nya,” ujar Mirna.


”Tidak terlalu gampang, kan? Nyaris saja! Ayo, lemparan terakhir, bung...” ujar El dengan nada setengah mengejek.


Yudi menarik nafas sebelum mengambil ancang-ancang, begitu dirasakannya arahnya benar dilemparkannya anak panah terakhir, harapan terakhirnya untuk menjaga kehormatannya di depan Mirna. Panah ketiga terbang di udara beberapa saat sebelum menancap di papan dart, sedikit di bawah anak panah kedua. Mirna bersorak diikuti Yudi, lelaki itu menghampiri Mirna dan memeluknya. ”Berhasil! Tepat di tengah.”


”Nanti dulu. Yang kamu dapatkan itu 75, lho,” El menggaruk-garuk kepala.


”Kok bisa?” protes Yudi. ”Aku mengenainya tepat di bawah panah kedua.”


”Coba kemari...” El mempersilakan keduanya mendekat ke papan dart. ”Lihat baik-baik.”


”Maaf, Mirna. Tidak boleh ada hangky-pangky.”


”Tidak bisa diberi kelonggaran?” Yudi berusaha membantu Mirna.


El tersenyum pada kedua pelanggannya yang keras kepala, ”Nilai 50 hadiahnya lumayan, kok. Kalian bisa memilih antara boneka beruang, sendal berhias pernik-pernik kemilau, atau setoples kembang gula?”


Pilihan yang mudah. Yudi memilih boneka beruang yang kemudian diberikannnya kepada Mirna. Gadis itu memeluk boneka barunya dengan sumringah. El mengedipkan mata pada Yudi, ”Kelihatannya kamu baru membuat tuan putri bahagia.”


”Sudah,ah! Kita melihat-lihat yang lain dulu, ya...”


”Jangan lupa mampir kesini besok ya...” El melambai.


Keduanya mendatangi stand berikut sambil memperhatikan kergembiraan penduduk desa yang tengah menikmati suasana sirkus, pada arena tembak yang jadi ajang taruhan, pada sepasang kekasih yang duduk di sudut terpencil ditemani sebungkus jagung bakar dan jus jeruk, pada anak-anak yang berlari tertawa-tawa dikejar petugas stand pemancingan belut yang hendak mencegah mereka agar tidak tercebur, dan banyak lainnya yang membuat Yudi dan Mirna saling melempar pandangan dan tertawa bersama...


Penduduk desa ini begitu hidup...berjiwa...tidak pusing apakah mereka memiliki pakaian yang sesuai dengan trend, atau rumah mewah, atau pekerjaan bergaji puluhan juta, dan memang beginilah seharusnya kehidupan manusia. Menikmati hidup, bersenang-senang, tanpa harus merasa takut akan hari esok. Menikmati semua ini bersama Mirna menjadi momen indah yang terpotret utuh dalam ingatan Yudi, ini kenangan yang tak akan pernah dilupakannya.


Malam makin larut sementara bintang-bintang menghiasi langit tanpa berkedip. Tidak memprotes pada bulan yang belum kelihatan karena sibuk bertandang ke istana awan. Udara yang dingin membuat tubuh Mirna menggigil hingga Yudi berinisitiatif melepas jaketnya dan memakaikan itu pada Mirna. Pakaiannya yang tipis mustahil menahan udara yang menusuk seperti ini. Mirna menatap dengan pandangan berterimakasih, boneka beruang terdekap di pinggangnya sementara tangannya yang sebelah segera menggandeng Yudi. Tanpa terasa mereka telah mengelilingi tempat itu dua kali, dan tahu-tahu Mirna menguap hingga menulari Yudi, ”Udah, ah! Aku ingin pulang.”


”Memang sudah waktunya,” kata Yudi memandang arlojinya. ”Kita kan janji sama Bunda tidak akan pulang malam-malam.”


Keduanya kembali ke mobil yang meninggalkan tempat tersebut beberapa menit kemudian. Duduk bersama Mirna dalam kegelapan di jok belakang kendaraan, Yudi merasa seperti sepasang kekasih yang baru saja pulang kencan. Entah apa reaksi Bunda Mawar bila melihat keadaan mereka berdua saat ini, mungkin dia tersenyum gembira karena wanita itu kelihatan sekali ingin Yudi menjadi pacar Mirna. Dia ingin mengobrol soal itu pada Mirna tapi sesuatu dalam hatinya menahannya sehingga yang keluar dari bibirnya adalah topik yang lain, ”Lelaki yang menyenangkan! Si El itu…”


”Kami jarang bertemu tapi dia selalu bisa bikin aku ketawa.”


”Bagaimana kamu bisa tahu kalau kalian saudara tiri?”


”Bunda yang cerita.”


”Bunda Mawar yang bilang?” tanya Yudi meyakinkan.


”Itu bukan sesuatu yang aib, kok!” kata Mirna. ”Dan kami, aku dan El, saling mengerti keadaan kami.”


”Bagaimana kamu ketemu El? Bunda yang mengenalkannya padamu?”


Mirna tertawa kecil, ”Tentu saja tidak. Bunda sama sekali tidak mau ketemu dengannya. Aku kenal El saat Ayah mengajakku menghadiri pemakaman ayahnya.”


”Ayahmu mengajak kamu menghadiri pemakaman ayah El? Berarti ayahmu kenal dengan ayah El?” Yudi bertanya kebingungan.


”Tentu. Ayah kan sahabat ayah El. Mereka tahu satu sama lain..”


”Perpisahan yang tidak mudah,” komentar Yudi.


”Sangat tidak mudah. Karena itu aku benci perpisahan. Bagaimana dengan kamu, yud?”


Dia menoleh ke Mirna yang memandangi dengan matanya yang indah, ”Aku juga.”


”Dan aku tidak ingin berpisah dari kamu,” ujar Mirna.


”Aku juga merasakan hal yang sama, Mir! Hanya saja aku...”


Mirna memotong perkataan Yudi dengan senyuman, Yudi merasakan dirinya tak mampu menolak pandangan gadis cantik itu, ”Jangan pikirkan yang itu dulu. Aku ingin menikmati momen ini bersamamu...walau singkat...boleh kan?”


Yudi hanya terdiam saat tangan Mirna meremas tangannya dan sebuah dorongan yang tak bisa ditolaknya membuat Yudi memeluk Mirna, ”Tentu...”


”Seandainya ini bukan sementara. Seandainya kita bisa selamanya...” gumam Mirna


Yudi mengelus pipi Mirna, menatap ke dalam matanya yang menyerupai telaga dengan air yang paling jernih. Dia ingin lari sejenak dari beban dan perasaan yang mendakwanya buat bertanggung-jawab ke dalam telaga itu, berenang-renang menyusurinya, untuk merasakan kesejukan dan kesegarannya. Hidungnya berada begitu dekat dengan leher Mirna yang jenjang dan menyerbakan harum tubuhnya yang memikat. Wangi itu semakin mematri hatinya dan melekat semakin kuat seiring makin dekatnya jarak indra penciumannya. Dijelajahinya leher itu dan mengendusi rakus wanginya sebelum pada akhirnya bibirnya mendarat di bibir Mirna.


***