
"Ah sial ke mana anak itu pergi. Dia semalaman tidak tidur bersama kita pergi ke mana dia" ujar Sakya sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok Panji.
Terlihat dari kejauhan sosok pria berbaju hitam merah yang mulai mendekat. "Itu dia Panji" Oni si kepala botak menunjuk ke satu arah. Mereka semua pun melihat ke arah yang ditunjuk Oni.
"Maafkan aku teman-teman aku ketiduran", ucapan Panji yang sedang terengah-engah karena keletihan berlari.
"Panji Kenapa kau lama sekali datangnya nya, Kami habis dimarahi oleh istrimu" Galih menunjuk kearah Sakya yang wajahnya terlihat kesal.
"Asal kau tahu kami pagi-pagi buta disuruh mencarimu" , Timpal Damar mengiyakan apa yang dikatakan Galih.
"Kalian berdua berhenti bicara sembarangan Aku hanya mengkhawatirkan Panji" ujar Sakya yang masih terlihat kesal.
"Berhenti berdebat kalian lihat di sebelah sana seleksi sudah dimulai" Cayya melihat kearah senior Brama yang mulai berbicara di depan semua peserta seleksi.
Mereka semua pun mendekati dan mengikuti arah yang dituju Cayya dan peserta lainnya.
Beberapa peserta seleksi mulai bertarung kembali dengan Boneka Kayu, sedangkan beberapa Peserta yang Lolos menunggu di Area Tombak untuk mengikuti ujian tombak.
Panji kemudian menghampiri Senior Brama dan menanyakan beberapa hal.
"Senior kenapa kau Semalam mengarahkanku ke hutan kecil di sana" Tanya Panji dengan Penasaran.
"Hutan kecil apa yang kau maksud? "
"Bukankah semalam Senior berdiri di depan tendaku dan mengatakan bahwa ada sebuah hutan kecil yang indah di kelilingi kunang-kunang di atas arena, ah ada rumah bambu juga di sana"
"Atas arena? Hutan kecil? Rumah bambu?" Senior Brama mulai berpikir dengan keras. Wajah Brama kemudian berubah jadi menakutkan dan bergetar.
"Apa yang kau lakukan di sana?, Coba ku lihat tubuhmu" Senior Brama kemudian membalik-balikkan badan Panji membuat teman-teman di sekitarnya terheran-heran.
"Ahh syukurlah seperti nya kau tidak apa-apa, tapi apa yang kau lakukan di sana kau membuatku cemas" Ujar Brama.
"Ahh, iya aku juga bertemu dengan Seorang Senior memakai Pakaian Putih keemasan, ah ya ada mahkota kecil di kepalanya, kemudian ikat pinggang sutra keemasan mengelilingi pinggangnya, dia murid inti atau seorang Tetua, jika seorang Tetua bukankah dia terlalu muda" Tanya Panji
Brama kemudian memegang pundak Panji dengan wajah yang sedikit kesal dia bertanya "Apa yang kau maksud Pria menawan yang duduk di atas Arena sana" Panji dan teman-temannya pun melihat ke atas Arena dari kejauhan.
"Iya benar itu dia" Brama kemudian mencengkram kedua pundak Panji lalu mengatakan, "Apa kau bodoh, Dia itu Patriak Kita bersyukur tulang-tulang mu tidak patah, dia sangat membenci orang yang mendekati rumah bambunya"
"Pernah beberapa murid tidak sengaja mendekati rumah itu, Tulang-tulang mereka patah dan mereka tidak bisa bangun selama 3 bulan, Kau pasti di kerjai seseorang"
"Itu mengerikan" Sakya memeluk tubuhnya dan merasakan takut jika yang patah tulang itu adalah dia. Membayangkannya saja dia tidak sanggup.
"Tapi siapa yang berani mengerjai Patriak" Tanya Cayya pelan-pelan. Brama kemudian melihat kekiri dan kekanan, merasa situasi aman dia pun bercerita, Galih oni dan Sakya pun makin mendekat.
"Siapa lagi kalau bukan wakil Patriak, Pria berjenggot yang duduk di sebelah Patriak kita itu dia bisa berubah wujud menjadi siapa saja, ehh jangan menoleh dulu nanti dia curiga, dia sangat sensitif jika ada orang yang bergosip" Seketika Oni dan Sakya tidak jadi memutar leher mereka setelah mendapat penjelasan dari Brama.
"Dia sangat jahil sekali, murid-murid sering di jebaknya ke rumah bambu itu dan tentu saja mereka akan babak belur, apa lagi beberapa murid itu sombong dan tidak pernah mengenal Patriak mereka"
"Lagi pula siapa yang akan menyangka Patriak kita selalu tetap memiliki penampilan muda yang menawan itu"
"Tahukah kalian kalau Usia Patriak itu sudah 120 tahun,, lalu,,,,,,, lalu,,,,, " Tanpa Brama Sadari Pria berjenggot memukul pundaknya.
Panji dan kelima temannya mulai menjauh dan bersikap aneh "Ahh senior Brama sepertinya Aku akan ke toilet"
"A aa aku juga sepertinya sakit perut"
"Ahh ya aku akan ikut mereka"
"Aku juga kebelet"
"Kami undur diri ya Senior Brama"
"Hei, hei mau kemana Kalian aku belum selesai bercerita" Pukulan pada pundaknya pun mengeras "Aduh sakit apa kau…… " Ketika Brama menoleh dan melihat siapa yang menepuknya nyalinya langsung menciut.
"Memang nya mau dimana lagi aku, lihat mereka" Teriak Wakil Patriak sambil menunjuk orang-orang yang telah berjatuhan Pingsan Karena melawan Boneka Kayu yang melewati batas waktu
"Cepat urus mereka jangan hanya bergosip saja" Teriak Wakil Patriak membuat telinga Brama cukup sakit.
"Heh dasar penggosip" umpat Wakil Patriak.
Flashback Kemarin Malam
"Iya di sana" unjuk Senior Brama. "Terima kasih Senior karena memberitahu tempat yang bagus"
"Ya, ya pergilah," Senior Brama melambai-lambaikan tangannya menyuruh Panji untuk Pergi ke hutan yang telah di tunjuknya
Ketika Panji tlah pergi dan masuk kehutanan Senior pun berubah wujud menjadi Wakil Patriak dan tertawa "Heehehehhe nikmatilah pertemuan kalian" Dia pun melesat Pergi dengan cepat.
Tidak berapa lama alunan melodi Kecapi dan Seruling yang berhenti membuat Wakil Patriak penasaran apa yang sedang terjadi, dia kemudian pergi kehutan kecil dan mengendap-endap akan mengintip.
Dia melihat Panji di gendong dan di tidurkan di dipan bambu yang telah di alas kasur dan selimut.
Satria kemudian menoleh pada wakil Patriak "Terima kasih Wakil Patriak" ucap Satria dengan lembut. Kemudian dia melihat kembali wajah Panji yang tertidur Pulas.
Pagi pun menyinari sebagian rumah Bambu membuat Satria terbangun di atas dipan yang letaknya tidak begitu jauh dari Panji yang sedang berbaring.
Dia pun membersihkan diri dan berganti pakaian, Wakil Patriak di minta untuk menemani Panji dan mengantarnya ke Arena jika dia telah bangun, Sementara Satria melesat cepat ke Arena.
Kembali ke Arena Tombak
Hari menjelang siang, kini semua peserta yang lolos berdiri di Arena Lapangan tombak.
"Gila panas banget ni, kenapa orang-orang belum pada selesai sih? " Gerutu peserta yang telah menunggu dari pagi.
Sementara Panji bersama teman-temannya duduk bersama di dekat rerumputan dan bebatuan sambil mendengar melodi Seruling yang di mainkan Panji.
Beberapa peserta lain pun ikut mendengarkan melodi yang mengalun lembut dari Seruling bambu.
"Semuanya silahkan berdiri dan berbaris lah," Teriak seorang Pria yang mengenakan seragam inti Perguruan Harimau putih.
Setelah semua Peserta berdiri dia pun berujar, "Selamat untuk Kalian yang telah terpilih sampai babak ini dari 2500 orang yang lolos, kalian akan di seleksi hingga mendapat 500 orang terbaik, untuk itu gunakan kemampuan kalian semaksimal mungkin"
"Sebelum memulai tes, Kalian harus mengenalku dulu, Aku Sagra murid inti Perguruan Harimau Putih. Didepan Kalian di sebut Aula Tombak Besi. Ada 100 Tombak untuk setiap 100 orang. Kalian hanya perlu naik ke Aula Besi tersebut sambil memegang tombak yang di bagikan ke kalian"
"Setelah itu kalian duduk bersila dan mengatur nafas kemudian Pejamkan mata kalian, Sukma kalian akan masuk ke Alam Aula Besi secara otomatis"
"Yang Perlu kalian lakukan adalah bertarung menggunakan tombak yang ada di tangan kalian melawan Monster, hewan buas, dan Mayat hidup di dalam"
"Semakin banyak kalian membunuh semakin baik, Tapi ingat kalian tidak boleh memaksakan diri, karena setiap serangan yang kalian dapatkan di Alam Aula Besi akan berdampak pada tubuh asli kalian"
"Dari 2500 Orang kami akan memilih 1.500 orang terbaik untuk masuk ke babak Tarung Bebas. Belum terlambat untuk kalian mundur sekarang. Apa ada yang mau mengundurkan diri?" Tanya Sagra dengan keras. Tapi tak ada satu pun yang bergerak membuat dia tersenyum puas.
"Baik Sebelum di mulai aku akan memberitahu beberapa hal lagi, untuk setiap 1 menit di dunia nyata adalah 1 jam di Alam Aula Besi. Kalian akan mendapat jatah waktu 10 menit untuk setiap orang, yang berarti 10 jam disana. Semakin lama kalian di sana semakin banyak monster yang bisa kalian bunuh"
"Ingat untuk tidak memaksakan diri, jika situasi sangat tidak memungkinkan, Kalian dalam keadaan sekarat, Kalian bisa tekan tombol merah di bawah tombak kalian, dan secara otomatis kalian akan kembali ke Sini, Kalian Paham?
"Paham" Jawab semua peserta Serempak.
"Ehh senior itu berarti kami tidak akan bertemu teman-teman kami kah"
"Ya itu benar, kalian akan terlempar ke tempat yang berbeda dan tidak akan bertemu satu sama lain" jawab Sagra
*******