Ksatria Panji

Ksatria Panji
Pertemuan Kedua Di Malam Ini


Ahhh,,, sial" Teriak Sakya mengejutkan orang-orang di sebelahnya. Dia kemudian melihat kaca dan melihat tampilan wajahnya yang buruk.


Sakya, Panji, Cayya, Galih, dan Oni sedang duduk di tanah dengan terengah-engah kehabisan nafas dan tenaga dalam akibat menghancurkan Boneka Kayu.


"Lihatlah wajahku jadi jelek, kenapa kita harus memukul Boneka Kayu itu membabi buta, kalau tidak penampilanku tidak akan seperti ini," Keluh Sakya sambil memperbaiki rambut dan Pakaiannya yang mewah. 


Yang lain hanya menggelengkan kepala dan tertawa. "Dan kau kenapa kau sangat cepat memukul boneka kayu itu, membuatku sangat marah, lihatlah penampilanku ini" Sakya kemudian menunjuk Panji lagi dengan kipasnya setelah itu secepat kilat dia mengarahkan kipas dan mengibaskannya ke wajahnya. 


"Jangan kekanak-kanakan" Ujar Cayya sambil menarik rambut Sakya dengan cukup keras membuat Sakya Kaget dan menghardiknya, "Jangan tarik rambutku brengsek, rapikan dengan benar". Dia memukul Cayya Pelan dengan Kipas yang di pegangnya. 


"Ahh sudahlah jangan pedulikan dia" Oni angkat bicara mengalihkan Tatapan Panji dan Galih dari Sakya.


"Owh ya bagaimana kita akan tidur malam ini" Tanya Galih. 


"Mau apa lagi, tentu saja mendirikan tenda disini seperti yang lain," Jawab Sakya sambil menunjuk menggunakan Kipasnya ke beberapa Peserta yang mulai mendirikan tenda di sekitar mereka. 


"Tapi aku tidak bawa Tenda," Kata Oni


"Aku juga" Jawab Galih dan Panji serempak.


Cayya hanya melihat Sakya dengan tatapan berbinar dan serakah. "Kenapa kau melihatku begitu?" Tanya Sakya yang sepertinya sudah tau maksud pandangan Cayya. 


"Keluarkan Kantong Penyimpanan Hartamu" Kata Cayya dengan memerintah. "Apa-apaan aku juga tidak punya tenda" Kata Sakya, tampak dia terlihat berbohong dari ekspresi wajahnya. 


"Baiklah kalau kau tidak punya, mau bagaimana lagi kita semua hanya orang miskin, dan kita akan tidur di tanah yang dingin ini" Cayya yang sedang mengikat rambut Sakya mengedipkan matanya ke galih, Panji, dan Oni yang ada di depannya. Merekapun mengerti arti kedipan itu. 


"Ya kau benar, karena aku sangat miskin aku sudah terbiasa tidur di tanah ini" Oni pun berbaring di tanah dan mengusap-usap pipinya ke tanah.


"Aku teringat ibu tiriku, yang menyuruhku tidur di luar saat dingin nya malam, aku juga pernah tidur di tanah", tambah Galih sambil berguling di dekat Oni. 


"Aku juga terbiasa tidur di luar saat itu aku tidur di pohon, kemudian nenek sekar akan memukulku dengan Sapu dan menyuruhku tidur dengan benar, tapi sangat di sayangkan nenekku telah meninggal, aku jadi sebatang kara"


Mereka semua lalu menatap Panji dan bertanya, "Kisahmu itu benar?"


"Tentu saja", jawab panji dengan cepat. 


"Cukup dengan kisah menyedihkan kalian" Sakya memberi tanda dengan tangannya untuk menyuruh mereka berhenti bercerita yang sedih-sedih. 


Ketika akan mengeluarkan Kantong Penyimpan Harta terdengar suara dari Senior Brama bahwa ujian akan di hentikan sementara dan di lanjutkan besok pagi, mereka dapat beristirahat dan makan.


Mereka berlima kemudian di datangi oleh Pria berjubah Hijau. "Bisakah aku bergabung dengan kalian, aku sendirian,"


Ketika Sakya akan menolak,  Panji malah menyetujui permintaan Si Pria berjubah hijau tadi.


"Ahh sial tambahan beban lagi" Kata Sakya berbisik lirih ke Cayya dan mendapat sikutan dari Cayya. "Diamlah, congormu yang pedas itu tidak bisa berhenti ya lihatlah keadaan, dia adalah orang baru, kendalikan dirimu" Omel Cayya. 


Sakya pun mengeluarkan Kantong Penyimpan Hartanya dan akan mengeluarkan tenda. "Ahh kau mau mendirikan tenda ya, bagaimana kalau Pakai tendaku saja, tendaku luas dan muat hingga 10 orang"


Mendengar itu mereka berlima pun bersemangat. Sakya pun menyimpan kembali Kantong Hartanya.


Ketika Pria itu mengeluarkan Kantong Penyimpanan Harta, Sakya meliriknya sedikit dan cukup terkejut. "Wah kantong penyimpanan emas, kau pasti cukup kaya ya" kata Sakya sambil membenarkan kipasnya.


"Tidak tidak sebenarnya aku mengambilnya dari ayahku dan membawanya kemari," ujarnya sambil tertawa.


Si Pria berjubah hijau pun mengeluarkan tenda otomatis yang cukup besar dari kantong penyimpanan. Benar saja di dalam tenda sangat mewah dan muat hingga 10 orang. Ada beberapa perabotan untuk memasak juga, beberapa kursi untuk duduk dan 6 buah kasur Lantai. Semua di persiapkan dengan baik. 


Setelah itu mereka mulai menyiapkan makanan, tidak ada kecurigaan apapun dari mereka kepada si Pria berjubah hijau karena makanan pun mereka sendiri yang menyiapkan jadi mustahil jika terjadi sesuatu. 


"Hei kalian semua, kita melupakan satu hal" Kata Panji membuat mereka semua menoleh seakan menanyakan apa yang mereka lupakan. 


"Bukankah kita belum memperkenalkan diri secara resmi", ujar Panji. "Aku tidak mengetahui kalian asalnya dari mana"


Mereka pun mendesah tapi kemudian berpikir ada benarnya juga jadi mereka memperkenalkan diri secara Resmi. 


"Aku Sakya Banaspati dari Keluarga Linggar di Desa Barito di bawah kepemimpinan Kerajaan Borneo"


"Aku Cayya Mandaspati dari Keluarga Linggar di Desa Barito di bawah kepemimpinan Kerajaan Borneo"


"Aku Oni Bola'ang dari Keluarga Bola'ang di Desa Bolang di bawah Kepemimpinan Kerajaan Celebes"


"Aku Damar Abimanyu dari Keluarga Abimanyu di desa Kendal di bawah Kepemimpinan Kerajaan Java," Ucap Pria Berjubah hijau yang memberikan Tenda gratis itu. 


"Aku Panji Asmaraningrat dari desa sukabumi di bawah Kepemimpinan Kerajaan Java"


"Kau tidak punya keluarga?" Tanya Damar dengan polosnya dan mendapat pelototan dari Sakya yang tidak dia mengerti.


"Yah, aku hanya punya nenek yang membesarkan ku, orang tua ku tlah meninggal setelah aku lahir" Wajah panji sedikit muram dan sedih kemudian dia melanjutkan, "Kami hanya rakyat miskin di desa tidak punya keluarga besar"


Suasana pun menjadi sedikit canggung. "Ahh maafkan aku panji aku tidak tahu, " Ucap damar dengan tulus. "Tidak apa aku hanya mengingat nenek ku saja sehingga aku agak sedikit sedih"


"Baik, cukup dengan cerita sedih ini, ayo kita makan,  banyak kan lauknya ini aku yang masak loh" ujar Sakya berusaha mengalihkan mereka. 


"Wah kau memang cocok menjadi seorang istri bukan suami heheeh" Kata Damar dengan santai sambil tersenyum.


"Kau ini banyak komentar makan saja sana" Telinga dan wajah Sakya sedikit kemerahan dan ada sedikit senyum tersungging di wajahnya. Entah apa yang ada di pikirannya. 


Mereka pun makan dengan lahap setelah itu mereka beristirahat di atas tempat tidur yang telah di siapkan damar. 


Kelima temannya telah tidur bahkan Oni ngorok dan melepaskan tangannya kemana-mana membuat Panji tidak bisa tidur.


"Ahh sial aku tidak bisa tidur, sebaiknya aku jalan-jalan keluar saja".


Tepat saat panji membuka Tirai Tendanya dia di kejutkan oleh Senior Brama yang entah muncul dari mana. 


"Astaga Senior kau benar-benar mengejutkan ku, hampir aku mengambil seruling dan memukulmu"


"Hah kau ini, mau kemana malam-malam begini semua peserta yang lain sudah tidur kau sendiri saja yang masih terbangun?" Tanya Senior Brama sambil menepuk-nepuk punggung Panji hingga dia terbatuk. 


"Haha tidak apa Senior hanya mencari udara segar agar mata cepat mengantuk"


"Kemari aku akan memberitahukan mu suatu tempat yang bagus" Senior Brama pun meminta Panji untuk mendekat. Panji pun mendengar arahannya sambil melihat sebuah tempat yang di tunjuk oleh Brama. 


"Terima kasih Senior saya akan Pergi sekarang" Panji pun langsung bergerak ke arah yang di tunjuk oleh Brama"


"Kata Senior Bromo di atas sini ada hutan kecil yang indah, ahh itu dia" Tidak jauh di atas Arena, terdapat sebuah Hutan kecil yang di hiasi banyak serangga bercahaya, kunang-kunang tentunya. 


Sayup-sayup terdengar Alunan melodi kecapi yang merdu. Begitu merdu hingga menarik perhatian, jiwa Panji semakin tenang, dia pun terus menerus mendekati arah Alunan melodi Kecapi. 


Dia kemudian mengambil Serulingnya dan memainkannya mengikuti Alunan melodi kecapi, semakin dekat. 


Sang Pemain Kecapi pun tahu siapa yang datang sejak Panji menginjakkan Kakinya Di Hutan kecil milik Sang Pemain Kecapi. 


Terlihat di kejauhan sebuah pondok kecil, Panji melihat Sosok pria menawan yang tadi pagi menemuinya. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Pria itu di sini. Dia telah mengganti bajunya dengan warna putih yang lembut. 


Ikat kepala berwarna putih masih terikat di rambutnya, dia sedang memejamkan mata, sejenak Panji terpaku akan pemandangan di depannya. 


Seorang Pria rupawan yang sedang bermain kecapi di sebuah pondok di kelilingi kunang-kunang di dalam hutan yang indah. 


Dia kemudian akan pergi tapi suara pria itu menghentikannya, "Mainkan Serulingmu bersamaku".


Panji pun berbalik dan mendekat mengucapkan permintaan maafnya "Maafkan Aku senior aku…. "


Sebelum melanjutkan perkataannya, Satria membuka matanya perlahan dan berkata, "Duduk lah di dekatku dan mainkan Serulingmu"


Panji tidak bisa menolak, dia kemudian duduk di tepian pondok bambu, Mata Pria rupawan tersebut terpejam kembali dan tangannya menjepit senar Kecapi yang menghasilkan nada yang harmonis dengan Seruling yang di tiup oleh Panji. 


Permainan musik berlangsung cukup lama hingga Panji kehilangan kesadarannya dan hampir terjatuh, untungnya di tangkap dengan sigap oleh Satria. Dia kemudian membopongnya dan membawanya ke atas ranjang di rumah Bambu, membaringkan Panji di sana. 


"Melodi tadi di sebut melodi penidur penenang jiwa, jika kau kelelahan melodi ini sangat bagus untuk membuatmu cepat tidur" Ucap Satria dengan lembut di sebelah Panji yang tengah tertidur pulas. 


*******