Ksatria Panji

Ksatria Panji
SELEKSI PENERIMAAN MURID BAGUAN I


"Tuan, kenapa anda turun?" Tanya Tetua berjenggot panjang yang sebelumnya melayani Satria.


"Tidak ada hanya salah orang" Satria berusaha untuk tetap tenang.


Dum... dum... dum... Terdengar dentuman genderang tanda ditutupnya Gerbang Arena dan dimulainya seleksi penerimaan murid baru.


Ribuan peserta telah berkumpul di Arena. Keributan pun masih terdengar karena mereka masih bicara satu sama lain hingga Seorang Tetua berjubah putih dan berjanggut panjang mulai berbicara.


"Ehm, ehm ah apa kabar kalian semua"


Meski hanya kata-kata sederhana, suaranya menggelenggar di seluruh Arena bahkan beberapa orang dibagian depan menutup telinga dan merasakan sakit dikepala mereka.


Semua peserta di Arena pun terdiam dan tidak berani bicara lagi sehingga Arena pun sepi tanpa ada suara. Beberapa peserta merutuk dalam hati mereka.


'ahh sial telingaku sakit sekali'


'dasar pak Tua, aku hampir muntah darah'


'Ahh sial hidungku berdarah'


"Hahaha itu lebih baik, tidak perlu banyak keributan, Cakra mulailah pembukaan seleksi penerimaan murid baru" Pak Tua tadi langsung pindah kesamping sambil tersenyum manis dan menyisir jenggot putihnya perlahan.


"Cih, pak Tua itu mulai lagi"


"Dasar pak tua, setiap ada seleksi penerimaan murid baru dimana pun dia pasti Sok pamer"


"Iya mentang-mentang Pakil Patriak"


Tetua-terua yang duduk di kursi Arena pun berbisik-bisik diantara mereka.


Wakil Patriak pun langsung menuju diatas Arena dan duduk di sebelah Pria tampan berbaju putih keemasan.


"Berani sekali kau datang terlambat"


Satria menghirup aroma teh dan meminumnya serta tatapannya pun tetap lurus ke depan.


"Dan masih ingin pamer?" Lanjut Satria.


Wakil Patriak sedikit gelisah dan senyum paksa terukir di wajahnya "Ahh, Patriak maafkan aku, aku harus mengikuti seleksi penerimaan murid baru dipulau lain, aku mendengar kau datang kesini dan aku segera kesini"


Wakil Patriak menyatukan tangannya meminta maaf berkali-kali pada Patriak Satria.


"Baiklah aku maafkan", Ujar Satria dengan pelan. Wakil Patriak pun bernafas lega sebelum Satriamelanjutkan kata-kata nya , "Setelah sampai di kediaman ada sebuah buku dengan judul Legenda Bunga Poeny Merah, salinkan 100x untukku, kau tidak keberatan kan?


"Tapi Patriak... .." Wajah Wakil Patriak langsung berubah jadi murah dan kusut. "Rendra, apa itu kurang, bagaimana dengan 200x?". Tanya Satria lagi.


"Hahaha, tidak-tidak itu sudah cukup Patriak, ahh terima kasih terima kasih"


Terlihat jelas senyum dan tawa yang di paksakan dari Wakil Patriak.


'Ahh baru saja aku mau pamer malah diberi


hukuman'


Hal itu membuat Tetua yang sebelumnya berbisik-bisik menutup mulut mereka menahan tawa. Wakil Patriak mendapati mereka dan melototi mereka, mereka pun diam dan kembali ekspresi acuk tak acuh.


"Ahh, Tuan ini teh di sediakan khusus untuk anda dengan cemilan manis, pasti anda suka". Tetua berjanggut yang sebelumnya melayani Satria kini membawakan teh dan cemilan untuk Wakil Patriak.


"Hahahaha, bagus-bagus ini memang kesukaanku". Rendra pun menepuk-nepuk punggung Tetua itu seolah-olah mereka sudah saling lama kenal.


Terdengar suara dari Arena tanda pembukaan seleksi penerimaan murid yang di pandu oleh Cakra.


"Hari ini adalah hari penting untuk kalian,


dari 10 ribu orang dari sini Kami hanya Kami akan menerima 500 orang sebagai murid. Berikan dan tunjukan kekuatan kalian yang paling maksimal"


"Untuk tes pertama adalah mengetes apakah kalian memiliki ilmu Kanuragan atau tidak. Di Sebelah kiri saya adalah batu cahaya yang berfungsi untuk mengetes Ilmu Kanuragan kalian , semakin bercahaya Ilmu kalian Maja itu akan semakin baik"


"Untuk tes kedua adalah Tarung bebas.


Untuk tes terakhir bila kalian kalah, kalian akan langsung didiskualifikasi dari seleksi penerimaan murid dan harus mengulangi lagi tahun depan"


Kembali suara riuh dan ribut dari peserta mulai menggema di Arena.


"Baiklah dengan ini penerimaan murid baru di buka, silahkan kalian berbaris didepan Batu Bahaya"


Beribu-ribu orang berbaris menunggu giliran mereka, Batu Cahaya juga dijaga Oleh Tetua yang memiliki paras cukup tampan, kali ini tanpa jenggot, hanya sedikit kumis, usianya pun terlihat sedikit baru menginjak 30an.


"Sebentar lagi giliran kita" Kata Cayya sambil menoleh kebelakang melihat ke 4 orang temennya ditambah dengan Panji diurutan terakhir.


Sementara diatas Arena Para Tetua sangat bosan karena tidak melihat pertunjukan yang spektakuler.


"Seperti biasa Cakra yang membuka seleksi kali ini, di antara murid inti dia memang yang paling berbakat" kata Seorang Tetua.


"Tapi ini membosankan, kita berlima kemari ingin melihat hal-hal yang luar biasa, tapi lihatlah ratusan orang Cahaya yang keluar dari batu hanya biasa-biasa saja" keluh yang lainnya.


"Iya kalau ku ingat beberapa tahun yang lalu ada seseorang murid yang langsung meleburkan Batu Cahya jadi bubuk karena Ilmu Kanuragannya yang sangat tinggi"


"Ya benar, itu menggegerkan perguruan kita, namanya Syailendra kan"


"Iya dia sudah jadi murid inti sekarang"


Kata Wakil Patriak yang tiba-tiba muncul di belakang kelima tetua tersebut. Jika mereka adalah manusia biasa mungkin kakek-kakek yang bergosip sekarang telah mengalami serangan jantung.


"Hei lihat itu, Sinar Batu Cahaya menyilaukan sekali, siapa itu?" Kata salah satu tetua menunjuk kearah Batu Cahaya yang Bersinar Terang.


"Cayya, Cahayanya menyilaukan sekali Ilmu kanugaraganmu pasti tinggi" kata si botak Oni dengan penuh semangat.


"Bagus kau lulus dengan baik,


Selanjutnya". Tetua itu tersenyum sebentar dan kembali ke ekspresi datarnya.


Berikut giliran Sakya. Dia meletakkan tangannya ke Batu tersebut kemudian Cahaya yang lebih menyilaukan bahkan lebih dari Cayya mulai bersinar mengisi Seluruh Arena.


"Bagus sangat bagus, kau lolos,


Selanjutnya". Sakya mengibaskan kipasnya dengan sikap sedikit sombong.


Beberapa peserta di Arena mulai ribut kembali . "Wahh, hebat 2x berturutan Batu Cahaya bersinar sangat terang"


"Kelihatan nya mereka berlima satu kelompok"


"Ya aku penasaran bagaimana yang selanjutnya apa akan bersinar juga atau tidak"


"Kau lihatkan, Ilmu Kanuragan ku tinggi"


Ucap Sakya Ketus kepada Panji. Panji hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Baiklah baiklah kau yang terbaik" . Dia tidak ingin berdebat lebih lanjut.


"Ckckck jika kau begitu hebat tidak mungkin kau begitu mudah dikalahkan Oleh Panji dipasar tadi" Oni kemudian mengingatkan tentang kekalahan mereka dipasar.


"Kau.... "Sakya menunjuk Oni dan berlagak akan marah tapi dia melalui mereka dengan wajah masam. "Ehm" Kata Sakya sembari memalingkan wajahnya karena malu.


"Jika Sakya membuat Arena ini terang benderang apa Panji akan meledakkan Batu Cahaya ?". Bisik Galih pada Oni yang kemudian dijawab, "Mungkin saja."


Tiba giliran Galih dan Oni. Mereka pun lolos dengan baik mesti tak seterang Cayya, tapi cukup terang untuk mengalahkan ratusan orang yang sebelumnya di Tes.


Kemudian giliran Panji yang akan mengetes Ilmu Keanuragaannya. Dia menarik nafas untuk menenangkan Pikiran dan Hatinya.


Dia kemudian meletakkan tangannya di Batu tersebut, kemudian terjadi keanehan pada Batu bukan putih terang yang keluar tapi perlahan keluar warna Abu kehitaman sedikit demi sedikit.


Wajah Patriak Sakya berubah, dia langsung menghentikan jarinya kearah Batu Cahaya yang sedang berubah warna, seketika warna Batu Cahaya kembali Putih Terang semakin terang dan...


BOOOOM!!!! Batu Cahaya langsung meledak, mengagetkan semua orang di Arena.


"Tetua Dinata, kita harus ambil Batu Cahaya yang


baru" Ucap Cakra, "Segera ambil" jawab tetua dinata


"Baik Tetua" Tak lama Batu Cahaya yang baru pun tiba.


"Gila dia memecahkan Batu Cahaya"


"Ilmu Kanuragannya pasti tinggi sekali"


"Mereka berlima datang dari mana sih, bisa sehebat itu?"


Peserta mulai ribut lagi setelah Batu Cahaya itu pecah. Wajah tetua di atas Arena pun penuh dengan ekspresi Terkejut dan Heran, dan ada beberapa tetua yang mulutnya terbuka lebar saking kagetnya.


Tetua Dinata pun berkata, "kau lolos dengan nilai terbaik" Panji pun terlihat puas dan segera menghampiri ke empat temannya. Mereka pun terkejut dengan meledakan Batu Cahaya .


Sementara itu Tetua Dinata menatap Patriak Satria dan sedikit memicingkan mata, kemudian dibalas dengan annggukan oleh Patriak.


Setelah itu , Panji kemudian melihat Pria yang tadi menyapanya sedang duduk diatas Arena. Mereka pun bertatapan cukup lama.